Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Selalu Ingkar Janji


__ADS_3

Langit malam baru saja menghentikan tangisnya. Halaman rumah yang luas itu masih dipenuhi tetesan-tetesan air pada tiap pucuk rumputnya.


Sementara tanah kecokelatan di bawah rumput hijau menguarkan aroma petrichor yang terlalu pekat hingga membumbung ke udara, menciptakan kabut putih samar yang nyaris tak tertangkap oleh netra manusia.


Warna di antara hitam nan pekat masih menyelubungi beberapa sudut langit malam ini, membiaskan muram hingga ke bumi yang baru saja ditinggalkan hujan.


Jendela kaca yang terbangun di sebelah kiri tempat tidur itu ternoda embun yang menghalangi pemandangan. Gorden tipis berwarna putih tulang itu menyempurnakan halangan sepasang biner di balik jendela untuk meraih apa yang hujan sisakan di halaman rumahnya.


Hujan malam ini memang tak menyisakan apa-apa, kecuali aroma petrichor yang terbawa angin dan menyapa ventilasi, sebelum akhirnya terhirup oleh organ respirasi.


Sosok cantik dengan kulit seindah boneka porselen yang baru saja dihasilkan perajin ternama yang bahkan belum dibuka dari pembungkusnya.


Sosok yang menyatakan dengan bangga bahwa dia adalah Pembenci Petrichor Nomor satu di dunia, siapa lagi dia jika bukan Viona.


Bukan lagi rahasia jika Viona sangat membenci aroma tanah basah yang baru saja ditinggalkan oleh hujan. Jika kebanyakan orang menyukai hujan berikut petrichor yang hujan tinggalkan. tetapi, tidak dengan Viona


Entah apa alasannya sampai-sampai Viona sangat membenci aroma tanah dan udara setelah hujan. Membencinya sepenuh hati. Membencinya dengan satu alasan yang dia sendiri tak mengerti, sama halnya dengan dia yang tak mengerti mengapa orang-orang memuja aroma aneh bahkan memberi nama untuk kabut samar yang mencemari udara dan organ respirasinya itu.


"Kesal karena hujan turun tiba-tiba?" tegur seseorang dari arah pintu.


Viona menoleh dan mendapati Kevin sedang bersandar pada pintu kamarnya sambil bersidekap dada. Otot-otot lengannya terlihat jelas, tidak terlalu besar namun terlihat kuat ketika di sentuh. Viona memperhatikan penampilan Pamannya, dia memakai celana hitam dan singlet putih yang kemudian dibalut Vest berwarna hitam juga.

__ADS_1


Kemudian Viona meninggalkan tempatnya dan menghampiri Kevin. "Paman, Kau dari mana saja? mengapa tiba-tiba menghilang dan aku tidak jusa menemukanmu di mana-mana? Bahkan ponselmu juga tidak bisa dihubungi, apa kau tidak tahu bagaimana cemasnya aku?!" dan Viona langsung mengomeli Kevin habis-habisan. Dia membuat perhitungan dengan pria itu.


"Aku pergi untuk ke rumah lamaku. Tiba-tiba aku merindukan kedua orang tuaku, jadi aku pergi ke sana." Jawab Kevin sambil beranjak dari posisinya lalu melewati Viona begitu saja.


Kevin berdiri di balkon kamar Viona, memandang langit malam yang tertutup oleh awan hitam pekat dan tebal. Viona menghampiri Kevin kemudian berdiri di sampingnya.


Viona menatap Kevin dengan cemas. "Paman, kau baik-baik saja?" tanya Viona memastikan. Dia melihat kesedihan di mata hitam pria itu.


Kevin mengubah posisinya, dia dan Viona saling berhadapan. "Aku tidak apa-apa dan baik-baik saja." Ucap Kevin. Dia mencoba meyakinkan pada Viona jika dirinya baik-baik saja, meskipun pada kenyataannya tidak, dia tidak baik-baik saja.


"Paman, berbohong. Aku tahu jika kau tidak baik-baik saja," ucap Viona sambil mengunci manik kanan milik Kevin. Mungkin Kevin bisa membohongi semua orang, tetapi dia tidak bisa membohongi Viona. "Katakan kepadaku, Paman. Apa yang terjadi dan mengapa kau terlihat sesedih ini?" tanya Viona. Dia benar-benar ingin tahu.


Kevin menggelengkan kepala. Dia bingung bagaimana harus memberi tahu Viona. Karena bagaimanapun juga, masalahnya saat ini tidak ada hubungannya dengan dia. Kevin hanya terlalu larut dalam rasa sakit pada masa lalu.


Viona menghela napas. "Ya, cuaca malam ini benar-benar tidak bersahabat sama sekali. Padahal malam ini adalah malam bulan purnama, sudah lama aku tidak melihat bulan bulat sempurna," ujar Viona.


"Lalu mengapa sampai selarut ini kau masih belum tidur? Apa yang membuatmu terjaga sampai tengah malam begini?" tanya Kevin penasaran.


"Paman, aku menunggu Paman pulang. Bagaimana aku bisa tidur dengan nyenyak sementara Paman belum pulang dan tidak ada kabar." Ujar Viona menuturkan.


Kevin merengkuh tubuh wanita itu ke pelukannya dan memeluknya dengan erat. Meletakkan dagunya di atas kepala Viona. "maaf, sudah membuatmu cemas. Paman tidak akan melakukannya lagi, Paman tidak akan membuatmu cemas lagi," bisik Kevin meyakinkan.

__ADS_1


"Paman selalu berjanji, tetapi tak ada satu pun dari janji itu ada yang kau tepati. Kau selalu membuat dirimu berada dalam bahaya, dan membuat diriku cemas setiap saat. Kapan Paman akan berhenti menempatkan dirimu sendiri dalam bahaya?" ucap Viona tanpa mengakhiri kontak mata di antara mereka berdua.


Kevin mengakhiri kontak mata itu lalu berbalik badan. "Jika aku berhenti sekarang, maka tidak akan bisa melindungimu. Karena hanya dengan jalan ini saja, baru aku bisa melindungimu." Ucap Kevin sambil menutup rapat-rapat mata kanannya.


Kemudian Kevin berbalik badan, posisinya dan Viona kembali berhadapan. "Ini sudah larut malam sebaiknya kau segera tidur, Paman juga akan tidur sekarang." Kevin menepuk kepala Viona dan pergi begitu saja. Meninggalkan wanita itu sendirian di kamarnya.


Viona menghela napas panjang. Kemudian dia kembali ke kamarnya dan pergi tidur. Matanya sudah tidak bisa untuk diajak kompromi lagi, dia akan tidur lebih awal kali ini.


xxx


Kevin terus bolak-balik dalam posisi berbaringnya. Jam dinding sudah menunjuk pukul 01.00 dini hari, tapi dia tetap belum bisa menutup matanya apalagi pergi tidur. Kevin bangkit dari berbaringnya lalu pergi ke balkon kamarnya.


Langit terlihat lebih cerah dari sebelumnya, bintang-bintang mulai bertaburan diatas sana, satu persatu menunjukkan eksistensinya. Yang sebelumnya tenggelam di dalam kabut hitam.


"Paman, jika suatu hari nanti aku menemukan seseorang yang benar-benar tulus mencintaiku, apa kau akan memberikan restumu pada kami?"


Ucapan Viona malam itu kembali terngiang di kepalanya. Kevin benar-benar tidak bisa melupakan kata-katanya, dan ucapan Viona malam itu selalu mengganggu pikirannya. Ada perasaan tidak rela ketika mendengar wanita itu mengatakan kalimat tersebut.


Kevin tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, yang jelas dia benar-benar tidak rela Viona dekat dengan pria manapun termasuk Daniel, yang sudah bersahabat lama dengannya.


Kevin menghela nafas panjang. "Sebenarnya apa yang terjadi pada diriku? Bukankah seharusnya aku merasa bahagia jika Viona menemukan seseorang yang benar-benar mencintainya, tapi kenapa yang aku rasakan malah sebaliknya? Aku merasa tidak rela dia bersama pria lain. Mungkinkah jika aku benar-benar telah jatuh cinta padanya? Jatuh cinta pada keponakanku sendiri!!"

__ADS_1


xxx


Bersambung.


__ADS_2