Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Seandainya


__ADS_3

Suara dering pada ponselnya mengalihkan perhatian Kevin dan Viona. Kevin melepaskan rangkulannya pada wanita itu untuk melihat siapa yang menghubunginya, pria itu memicingkan mata kanannya melihat nomor asing tertera di layar ponselnya yang menyala terang.


Penasaran Siapa yang menghubunginya, Kevin pun nerima panggilan tersebut.


"Kevin, bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali tidak bertemu,"


Deggg...


Kevin saat mendengar suara orang yang menghubunginya. Suara itu sangat familier dan tidak asing baginya, lalu pandangannya bergulir pada Viona yang menatapnya penasaran. Seolah-olah bertanya 'Paman, siapa yang menghubungimu?' kurang lebih begitulah arti tatapan tersebut.


Kevin mengakhiri kontak mata mereka dan fokus pada orang yang menghubunginya. "Siapa kau sebenarnya? Dan untuk apa kau menghubungiku?" tanya Kevin tanpa basa-basi.


"Aku yakin kau tidak melupakanku, kau masih mengingatku dengan sangat baik adikku yang hebat. tetapi mengapa kau berpura-pura melupakanku?" ucap orang yang menghubungi Kevin.


Kevin mengepalkan tangannya mendengar apa yang dia katakan. Tentu Kevin mengetahui siapa yang menghubunginya, meskipun dia tidak yakin jika itu benar-benar dia.


Suaranya, caranya berbicara, benar-benar mirip orang itu. Tetapi Kevin tidak berani berasumsi, apalagi menerka-nerka apakah dia benar-benar orang itu atau bukan.


"Temui aku secara langsung jika kau benar-benar bukan seorang pengecut!!" ucap Kevin menantang.


"maaf, Kevin. tetapi aku rasa belum saatnya muncul di hadapan kalian berdua, karena aku masih menunggu waktu yang tepat untuk memberikan kejutan manis kepadamu dan dia, hahaha." orang itu kemudian mengakhiri panggilannya begitu saja. Dan ketika kevin mencoba untuk balik menghubunginya, nomor itu sudah tidak aktif lagi.


Dan sementara itu, kebingungan terlihat jelas diraut wajah Viona melihat ekspresi Kevin yang tiba-tiba berubah serius. Dia penasaran siapa yang menghubungi Pamannya, sampai-sampai membuat Kevin terlihat tidak senang.


"Paman, siapa yang menghubungimu?" tanya Viona penasaran.


Kevin menoleh, dan membalas tatapan Viona. Kemudian dia menjalankan kepala. "Bukan siapa-siapa, hanya orang iseng saja. Ayo masuk, di sini sangat dingin, jangan sampai kau masuk angin karena terlalu lama terpapar angin malam." Ucapnya dan dibalas anggukan oleh Viona.


Tiba-tiba wanita itu menghentikan langkahnya. Viona mengangkat kedua tangannya dan mengulurkan pada Kevin. Isyarat supaya Kevin menggendongnya, pria itu menghela napas. Kemudian Kevin mendekati Viona lalu mengangkat tubuhnya bridal style dan membawanya masuk ke dalam.


"Paman, jika suatu hari nanti aku menemukan seseorang yang benar-benar tulus mencintaiku, apa kau akan memberikan restumu pada kami?" tanya Viona, matanya terkunci pada mata kanan milik Kevin.

__ADS_1


"Tergantung, dia bisa menerima ujian dariku atau tidak. Jika tidak, jangan harap aku akan memberikan restuku pada kalian berdua." Ujar Kevin.


"What! Ujian, memangnya ujian seperti apa yang akan kamu berikan padanya?" tanya Viona penasaran.


Kevin mengangkat bahunya. "Entah, bahkan Paman sendiri tidak tahu, karena belum memikirkannya." jawabnya.


Pertanyaan Viona membuat mood Kevin menurun drastis. mengapa harus membahas tentang jodoh segala? Kevin selalu sentimental ketika Viona sudah membahas tentang jodoh, jodoh dan jodoh. Seperti ada perasaan tidak rela jika dia sampai dimiliki oleh orang lain. Dan hal tersebut sangat mengganggunya.


"Dasar aneh," ucap Viona mencibir.


Viona menyadarkan kepalanya pada dada bidang Kevin yang tersembunyi dibalik kemeja hitamnya. Kedua tangannya memeluk leher pria itu dengan erat , dia selalu menemukan kenyamanan dalam pelukan Kevin, dan Viona sangat berharap bisa memeluk pamannya ini setiap hari.


xxx


Setelah mengantarkan Viona ke kamarnya. Kevin tidak langsung pergi tidur, dia pergi ke ruang kerjanya untuk membahas sesuatu yang sangat penting dengan Frans. Dan hal itu berhubungan dengan seseorang yang menghubunginya tadi.


"Tuan, Anda memanggil saya?" ucap Frans setibanya dia di depan Kevin.


"Ada masalah penting apa, Tuan? Tidak biasanya Anda terlihat panik seperti ini," tanya Frans. Tentu saja Frans bertanya-tanya karena belum pernah dia melihat Kevin sepanik itu, karena Kevin adalah orang paling tenang yang pernah dia kenal. "Apa terjadi sesuatu?" tanya Frans memastikan.


"Seseorang tadi menghubungiku. Aku ingin kau melacak posisi dia saat ini," Kevin menyerahkan ponselnya pada Frans, dan dia meminta dia supaya melacak keberadaan orang yang menghubunginya tadi.


Sebenarnya Kevin bisa melakukannya sendiri, tetapi dia tidak memiliki terlalu banyak waktu untuk melakukannya, itulah mengapa dia meminta bantuan pada Frans untuk melacaknya. Karena hanya Frans satu-satunya orang Kevin yang memiliki kemampuan sepertinya.


"Baik, Tuan. Tuan, jika saya boleh tahu memangnya siapa yang menghubungi Anda?" tanya Frans penasaran.


Kevin menggeleng. "Aku tidak bisa memastikannya, dan aku juga tidak terlalu yakin dia orang itu. Mungkin kita bisa menemukan sebuah petunjuk setelah nomor itu berhasil terlacak. Untuk itu segara lacak keberadaannya supaya kita bisa memastikannya." Ujar Kevin dan dibalas anggukan oleh Frans.


"Baik, Tuan."


Kevin mengepalkan tangannya. Cepat atau lambat dia pasti bisa menemukan orang itu , Kevin benar-benar ingin memastikan orang itu benar dia atau bukan.

__ADS_1


.


.


Seorang pria muda terlihat memasuki sebuah bangunan mewah yang memiliki dua lantai. Kedatangannya di sambut oleh beberapa pelayan , dengan angkuh dia melewati pelayanan-pelayanan itu tanpa menyapa mereka sedikit pun, bahkan senyum pun tidak.


Langkah pria itu terhenti di depan bercat putih dengan sebuah ukuran yang cantik. Pria itu mengambil napas panjang dan menghalangi, dengan mantap dia membuka pintu di depannya.


"Pa, untuk apa kau memanggilku kemari? Apa ada sesuatu yang penting ingin kau sampaikan kepadaku?" itu pada paruh baya yang sedang bermain catur sendirian tersebut.


"Duduklah dahulu, Marco." Pinta paruh baya itu tanpa menatap lawan bicaranya. Tertuju pada bidak catur di depannya. "Bagaimana? Apa kau sudah berhasil menemukannya?" kemudian dia mengangkat kepalanya dan menatap Marco.


Marco mengangguk. "Sudah, Pa. Aku pernah bertemu satu kali dengannya, dan dia sangat cantik. Di pertemuan pertama itu aku langsung tertarik adanya padanya." ujar Marco.


"Bagus sekali Marco, kau memang Putraku. Kau harus bisa mendekatinya dan membuatnya jatuh cinta kepadamu, apa kau bisa melakukannya?" tanya pria itu memastikan.


Marco mengangguk. Tentu saja bisa, Pa. Memangnya wanita mana yang tidak bisa aku Taklukan dengan pesona yang aku miliki, pasti akan membuatnya bertekuk lutut kepadaku. Jadi Bapak Tenang saja kau bisa mengandalkanku," ucap Marco dengan penuh percaya diri.


Pria itu mengangguk. "Bagus bagus, memang jawaban seperti ini yang aku inginkan. Lakukan tugasmu dengan baik dan jangan membuat Papa kecewa, atau kau akan tahu sendiri akibatnya," ucap pria itu memperingatkan.


"Aku pasti berhasil, Pa. Dan aku akan membuat Papa bangga kepadaku," ucap Marco memberi janjinya.


"Bagus sekali, kau boleh pergi sekarang." Pinta pria itu. Marco membungkuk lalu meninggalkan kamar ayahnya dan meninggalkannya sendirian.


Marco mengepalkan tangannya, salat matanya berubah tajam dan dingin. Dia bersumpah pada dirinya sendiri, jika Marco akan membuat Wanita itu jatuh cinta dan bertekuk untuk di bawah kakinya. Marco akan menjerat dia dengan pesonanya.


"Lihat saja. Aku pasti bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku!!"


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2