
Kevin terus mengayunkan kakinya mengikuti langkah kaki Viona. Mereka berdua sedang berjalan-jalan menikmati keindahan kota Beijing.
Mereka berdua sedang menikmati keindahan pemandangan Beijing pada saat malam hari. Jalan yang selalu populer di setiap musimnya, karena menawarkan pemandangan malam kota Beijing yang indah bagaikan gugusan bintang yang memenuhi langit malam.
"Ge, kapan kita akan kembali ke Seoul?" tanya Viona di tengah langkahnya. Sebenarnya dia merindukan suasana di kota Seoul.
"Entah, aku sendiri belum tahu. Mungkin dalam waktu dekat ini, memangnya kenapa?" tanya Kevin dan menatap Viona penasaran.
Wanita itu menggeleng. "Tidak apa-apa, cuma bertanya saja." jawab Viona. Sebenarnya Viona ingin sekali mengatakan pada Kevin jika dia sangat merindukan Seoul. Tapi bisa-bisa dia malah diomeli oleh Kevin karena yang ngotot ingin ikut adalah Viona sendiri.
"Kau merindukan rumah?" Viona mengangkat kepalanya setelah mendengar pertanyaan itu. Kevin menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Selama beberapa detik, viona terus memandangi mata itu lalu menganggukkan kepala.
"Ya," dia menjawab singkat.
"Ya sudah, nanti kita pulang. Atau kau ingin pulang duluan?" tanya Kevin memberi penawaran.
Viona menggeleng. "Tidak mau, kita pulang sama-sama saja." Jawabnya.
"Ya, sudah." Kevin menepuk kepala berhelaian coklat milik Viona dengan lembut.
Dia bisa memahami betul Apa yang dirasakan oleh Viona. Seoul adalah rumahnya, kampung halamannya, jadi wajar jika Viona merindukannya. Dan Kevin berencana untuk membawanya pulang ke Seoul dalam waktu dekat.
Mereka berhenti di sebuah kedai makanan. Melihat makanan tradisional China Membuat Viona jadi tertarik untuk mencobanya. Harganya cukup murah tetapi rasanya sambat lezat, membuat Viona tidak cukup merasakan satu porsi saja.
"Bibi, ini sangat enak. Tolong berikan satu porsi lagi untukku," pinta wanita itu pada Bibi pemilik kedai .
"Baik, Nona." Jawab Bibi itu sambil menganggukkan kepala.
Kemudian Bibi pemilik kedai memberikan satu porsi lagi pada Viona dan langsung dinikmati olehnya. "Ge, Apa kau ingin mencobanya? Ini rasanya sangat enak," tanya Viona memberi penawaran.
Kevin menggeleng. "Kau makan saja. Aku masih kenyang." Dan menolak tawaran Viona. Wanita itu hanya menganggukkan kepala mendengar jawaban suaminya. Dia tidak ambil pusing dengan pernikahan Kevin, lagi pula dirinya juga tidak akan rugi dan makanannya tidak berkurang.
__ADS_1
"Ge, ternyata suasana malam di sini tidak jauh berbeda dengan di Korea. Di China juga banyak makanan-makanan enak. Kalau begini aku jadi betah lebih lama di sini," ucap Viona dan mengalihkan perhatian Kevin.
"Jadi kau tidak ingin pulang?" tanya lelaki itu.
Viona menggeleng. Jika banyak makanan enak begini aku bisa mempertimbangkannya untuk cepat-cepat pulang atau tidak." Jawab Viona. Bagi Viona, di dunia ini tidak ada yang lebih indah dan lebih menarik di bandingkan makanan-makanan enak serta tempat-tempat yang mengagumkan.
"Baiklah kalau begitu, aku akan lebih sering membawamu jalan-jalan dan mencoba makanan-makanan lezat khas negeri ini." Ucap Kevin yang segera di balas anggukan antusias oleh Viona.
Mereka lanjut jalan-jalan lagi. Viona menolak untuk pulang karena masih ingin menikmati keindahan malam kota Beijing.
xxx
Frans menghampiri Hwan di ruangannya sambil membawa dua cup kopi yang salah satunya dia berikan pada kakak angkatnya tersebut. Hwan terlihat lelah,mungkin karena pekerjaan kantor yang menumpuk.
Untungnya ada Frans yang keberadaannya cukup membantu, meskipun agak payah tetapi dia masih bisa diandalkan untuk pergi ke sana-kemari serta melakukan ini dan itu.
"Ge, minum dulu kopinya. Wajahmu terlihat pucat, sebaiknya kau pulang dan beristirahat." ucap Frans menyarankan.
Hwan menggeleng. "Aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu Terlalu mencemaskan, aku baik-baik saja. Lagi pula pekerjaanku hampir selesai, aku akan pulang setelah ini." jawab Hwan menimpali.
Frans tidak bisa melarang apalagi memaksa Hwan supaya cepat pulang. Dia mengenal bagaimana sifat dan watak kakak angkatnya tersebut, Hwan sama keras kepalanya seperti Kevin. Jadi Frans memilih mengalah dari pada harus berdebat dengannya.
xxx
Dion mematikan semua CCTV yang ada di kediaman Qin. Entah apa lagi yang dia rencanakan kali ini. Sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu yang kurang baik.
Rumah dalam keadaan sepi. Kakek Qin sedang berada di luar kota, dia berangkat sore tadi karena besok ada pertemuan yang sangat penting. Hwan dan Frans masih di kantor, sedangkan orang yang paling membuatnya kerepotan keluar dari siang tadi dan belum kembali sampai detik ini.
"Kali ini tidak ada yang bisa menghentikan aku lagi. Seluruh aset keluarga ini akan menjadi milikku, aku hanya perlu mencari dan menemukan di mana tua Bangka itu menyimpan semua dokumen-dokumen pentingnya." Ujar Dion dengan lirih.
Dion memasuki kamar Kakek Qin. Tidak lupa dia memperhatikan sekitar untuk memastikan apakah aman atau tidak, dan saat situasi benar-benar aman Dion segera masuk ke dalam.
__ADS_1
Namun tanpa dia sadari, seseorang melihat yang dia lakukan, dan orang itu pun segera menghubungi Kevin dan melaporkan perbuatan Dion padanya. Dan orang itu adalah orang yang diperintahkan oleh Kevin untuk mengawasi setiap gerak-geriknya.
"Baik , Tuan Muda. Saya mengerti," kemudian orang itu memutuskan sambungan teleponnya setelah mendapatkan perintah dari.
Dengan langkah tanpa suara, dia berjalan menuju kamar Tuan Qin. Diam-diam dia membuka pintu di depannya lalu mencabut kunci yang tertancap di lubangnya dan menutup pintu itu kembali kemudian menguncinya dari luar.
Karena terlalu sibuk, sampai-sampai Dion tidak menyadari jika ada orang yang masuk dan mengunci pintunya.
"Akhirnya aku menemukannya. Sekarang tidak ada lagi yang bisa berbuat seenaknya padaku termasuk si cacat itu!!" Dion mencium dokumen tersebut dengan penuh suka cinta.
Dengan tenang, Dion berjalan kearah pintu. Namun ketika dia hendak membuka pintu tersebut malah tidak bisa, pintunya terkunci dari luar dan hal itu membuatnya sangat panik. Dion menyapukan pandangannya, dia mencoba mencari jalan untuk keluar namun tidak menemukannya. Karena satu-satunya akses jalan malah tertutup teralis besi.
"Sial!! Kenapa aku malah terjebak di sini?!" Dion mengeram marah. Dia semakin panik dan mulai Berkeringat dingin.
Satu-satunya jalan adalah lewat atap, tetapi dia tidak bisa menjangkaunya karena terlalu tinggi. Dion terus mondar-mandir tidak jelas sambil menggigit ujung kukunya. Kebiasaan yang selalu dia lakukan ketika sedang panik ataupun cemas.
Otaknya sedang berpikir keras. Dia sedang mencari cara supaya bisa keluar dari tempat ini, namun Dion menemui jalan buntu karena tidak menemukan ide apapun.
Dion terkejut bukan main saat listrik tiba-tiba saja padam. Dia tidak tahu apa yang terjadi, namun Dion merasa ada yang tidak beres.
Cklekkk....
Sontak Dion menoleh setelah mendengar suara decitan pintu di buka. Dia melihat bayangan seorang pria memasuki ruangan dengan sebuah senjata api di tangan kanannya. Dion yang ketakutan terus mundur ke belakang saat langkah orang itu semakin dekat.
"Si...Siapa kau? Ma..Mau apa kau? Jangan mendekat." Teriak Dion menuntut.
Listrik kembali menyala dan sekarang Dion bisa melihat jelas wajah orang yang menghampirinya. Dia ternyata adalah Kevin, amarah Dion semakin memuncak melihat kedatangannya. Dia berteriak dan menghujani Kevin dengan berbagai kata-kata kasar yang sebenarnya tidak pantas untuk di dengar.
"Ma..Mau apa kau?" kaget Dion ketika Kevin mengacungkan ujung senjata api miliknya tepat di kening Dion.
Lelaki itu menyeringai tajam. "Menyingkirkan benalu dari rumah ini!!"
__ADS_1
xxx
Bersambung