Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Menenangkan Diri


__ADS_3

Kevin membuka pintu kamarnya dan mendapati Viona sudah tertidur pulas. Tidak mengherankan, karena ini sudah hampir harusnya malam. Setelah menanggalkan kemeja lengan panjang itu dari tubuhnya, kevin menghampiri Viona kemudian berbaring di sampingnya.


Sebuah tangan yang melingkari perut ratanya membuat Viona sedikit terusi. Perlahan kelopak matanya terbuka, dia menoleh ke belakang dan yang pertama tertangkap oleh Netral Hazel-nya adalah Kevin yang sedang menatapnya.


"Ge, kau sudah pulang?" ucap Viona sambil merubah posisinya, iya dan Kevin sekarang saling berhadapan.


"Hn, aku baru tiba. Maaf karena sudah membuatmu terbangun," bisik Kevin penuh Sesal.


Viona menggeleng. "Tidak apa-apa, tidak perlu minta maaf. Ge, pasti kau belum makan malam. Ayo, aku akan meminta pelayan untuk memanaskan makanannya. Aku akan menemanimu makan malam, karena aku sendiri juga belum makan malam." Ucap Viona. Kemudian wanita itu bangkit dari tempat tidurnya. Rambut panjangnya yang sebelumnya tergerai, iya sanggul seadanya. Supaya tidak berantakan


"Kau belum makan malam?" tanya Kevin memastikan.


Viona menggeleng. "Aku sengaja menunggumu supaya kau tidak sendirian. Lagipula aku tadi belum lapar," jawab Viona.


Kevin memakai kembali kemejanya lalu melenggang keluar meninggalkan kamar mereka. Sebenarnya dari tadi Kevin juga sudah lapar, tetapi dia menahannya dan tidak makan malam di luar. Dia terlalu malas untuk makan sendirian dan kebetulan Kevin memang kurang berselera.


.


.


Di dapur, dua pelayan sedang menyiapkan makan malam untuk majikannya. Mereka berdua adalah Denada dan wanita bernama Ling-Ling. Kebersamaan mereka berdua diselingi obrolan obrolan ringan yang hampir semua di dominasi oleh Denada.


"Oya, Memangnya di rumah ini ada berapa Tuan Muda?" katanya Denada pada Ling-Ling.


"Ada tiga. Namun cucu kandung Tuan besar Hanya dua. Yakni Tuan Muda Kevin dan Tuan Muda Frans, sedangkan Tuan Muda Hwan hanyalah cucu angkatnya." jelas pelayan itu.


Denada terdiam selama beberapa detik. Dia jadi penasaran siapa yang bernama Kevin diantara mereka bertiga, dia sudah bertemu dengan ketiganya namun belum mengetahui nama masing-masing. Untuk itu Denada amat sangat penasaran.


"Kenapa melamun? Cepat selesaikan pekerjaanmu. Sebentar lagi Nona dan Tuan Muda Kevin akan segera turun untuk makan malam." Ucap pelayan itu mengingatkan.


Denada segera tersadar. Dia menganggukkan kepala dan segara menyelesaikan pekerjaannya. Untungnya dia sempat les memasak dan cara menyajikan makanan yang benar ketika berada di luar negeri. Jadi Denada tidak perlu bersusah payah untuk mempelajari lagi semuanya.


"Kevin, akhirnya kita bertemu. Lihat bagaimana aku akan menghancurkan mu seperti kau menghancurkan hidup kakakku!!" ucap Denada membatin.


Derap langkah kaki seseorang yang datang sedikit menyita perhatiannya. Denada menoleh dan mendapati dua orang sedang menuruni tangga. Matanya tak lepas sedikit pun pada sosok tampan dalam balutan pakaian hitam lengan terbuka tersebut, dan dia adalah orang yang sama yang membuatnya merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama.


Pelayan yang bersamanya segera membungkuk menyambut kedatangan mereka berdua. Denada ikut membungkuk juga. "Tuan Muda, Nona, makan malam Anda berdua sudah siap." Ucap pelayan itu dengan sopan. Keduanya mengangguk, sedangkan Denada tidak berkata apa-apa, dia terus menunduk sambil sesekali melihat ke arah laki-laki itu yang pastinya adalah Kevin.

__ADS_1


"Siapa dia?" tanya Denada setengah berbisik.


"Dia adalah Tuan Muda Kevin, cucu sulung Tuan Besar," jawab Ling-Ling.


Pupil mata Denada membulat seketika. Itu artinya orang yang ingin dia hancurkan adalah dia, laki-laki yang sudah membuatnya jatuh cinta. Denada menggeleng, tidak bisa... dia tidak bisa melakukannya. Bagaimana mungkin Denada bisa melakukan hal tersebut pada orang yang dia sukai, dan sepertinya dia harus mengurungkan niatnya untuk menghancurkan Kevin.


"Ja..Jadi dia yang bernama, Kevin Zhang? Jie-Jie, maaf.. Karena aku tidak bisa membantumu. Dia adalah pria yang aku sukai." Ucapnya membatin.


Dari Kevin, pandangan Denada kemudian bergulir pada sosok wanita yang duduk bersebelahan dengannya. Dia teramat sangat penasaran dengan hubungan mereka berdua, apalagi mereka terlihat dekat dan akrab. Kembali dia bertanya siapa Viona dan apa hubungannya dengan Kevin.


"Kalau dia siapa dan apa hubungannya dengan, Tuan Muda Kevin?" tanya Denada.


"Dia Nona Viona, istri Tuan Muda." Jawab Ling-Ling.


Lagi-lagi Denada membulatkan matanya. "What, dia sudah menikah?!" Denada terkaget-kaget setelah tahu jika Kevin ternyata sudah menikah. Dan pekikan kerasnya mengalihkan perhatian dua orang yang sedang menyantap makan malamnya, siapa lagi jika bukan Kevin dan Viona.


Ling-Ling buru-buru meminta maaf pada mereka berdua, meskipun bukan dia yang membuat kesalahan. Kemudian Ling-Ling menarik Denada meninggalkan meja makan.


"Apa-apaan kau ini, kenapa kau malah berteriak? Apa kau ingin terkena masalah, sebaiknya pergi saja ke kamarmu biar aku yang menunggu Tuan Muda dan Nona menyelesaikan makan malamnya." Ucap Ling-Ling dan meninggalkan Denada begitulah saja.


Sementara itu, keheningan menyelimuti kebersamaan kevin dan Viona yang sedang menyantap makan malamnya. Tidak ada obrolan di antara mereka berdua, yang terdengar hanya suara piring dan sendok yang saling bersentuhan. Sesekali Viona menatap Kevin yang sedang menyantap makan malamnya.


Sadar sedang diperhatikan, kevin mengangkat kepalanya dan menatap Viona penuh tanya. "Ada apa?" tanya Kevin dengan bingung.


Viona menggeleng. "Tidak apa-apa," dan menjawab singkat. Keheningan kembali menyelimuti kebersamaan mereka berdua, tidak ada obrolan lagi setelah perbincangan singkat itu. Mereka menyantap makan malamnya dengan tenang.


Tiba-tiba Denada menghampiri mereka berdua sambil membawakan jus yang kemudian dia berikan pasa Kevin. Jelas-jelas Kevin tidak memintanya dan itu adalah inisiatif dia sendiri.


"Tuan Muda, saya bawakan jus segar untuk Anda." Ucap Denada, dia bicara dengan sopan untuk membuatnya terkesan.


Bukan Kevin yang mengambilnya, tapi Viona. "Apa Ini jus stroberi?" tanya wanita itu memastikan.


Denada menganggukkan kepala. "Benar, Nona. Ini adalah jus stroberi dan saya membuatnya untuk, Tuan Muda," jawab Denada.


Viona menghela nafas. "Gege, alergi pada stroberi, dan meminum jus ini sama artinya dengan bunuh diri. Jadi sebaiknya biar aku saja yang meminumnya." Ucap Viona lalu meneguk jus itu setengah dari isinya. Sontak Kevin menoleh dan menatap Viona dengan bingung, dia bertanya-tanya memangnya sejak kapan alergi pada stroberi? Sedangkan Denada tidak bisa menghentikan apalagi melarang Viona untuk meminum jus tersebut.


"Lain kali tidak perlu membuatkan apapun untuknya tanpa di minta. Dan satu lagi, sebaiknya berhenti cari muka apalagi berusaha untuk menarik perhatiannya. Dia sudah menikah dan memiliki istri, jadi jangan bersikap murahan dengan menggoda suami orang lain. Aku yakin kau adalah wanita yang berpendidikan!!" Ujar Viona menegaskan.

__ADS_1


Viona bisa menangkap maksud terselubung Denada. Dia tahu jika wanita itu memiliki maksud lain ketika membawakan jus untuk suaminya. Itulah kenapa Viona buru-buru mengambil jus tersebut dan mengatakan pada Denada jika Kevin alergi pada stroberi, padahal kenyataannya tidak. Dan itu hanya akal-akalan Viona saja.


"Aku sudah selesai," Kevin meletakkan sendoknya sambil bangkit dari kursinya. Padahal makanan di piringnya masih banyak, sikap Denada membuatnya kehilangan selera.


"Ling-Ling, bereskan mejanya dan cepatlah istirahat." Pinta Viona dan di balas anggukan oleh Ling-Ling.


"Baik, Nona."


Denada tidak ikut membantu. Kevin sudah pergi, jadi untuk apa dia berpura-pura lagi. Lebih baik pergi tidur daripada bekerja yang belum tentu mendapatkan apresiasi darinya. Dan apa yang dia lakukan tadi adalah semata-mata untuk mendapatkan muka di depan Kevin yang senarnya hanya sia-sia saja, karena sedikit pun Kevin tidak melirik padanya.


"Denada, kau mau kemana? Bantu aku meneteskan meja dulu baru pergi," seru Ling-Ling.


Denada menoleh. "Tidak mau, bereskan saja sendiri." Ucapnya dan pergi begitu saja. Denada menolak membantu dan meminta Ling-Ling supaya menyelesaikannya sendiri. Ling-Ling hanya menghela napas dan menggelengkan kepala melihat tingkah dan kelakuannya. Ling-Ling membereskan meja sendirian. Dan setelah pekerjaannya selesai, dia bergegas pergi ke kamarnya untuk istirahat.


.


.


Viona menutup kembali pintu kamarnya lalu menghampiri Kevin yang sedang duduk di tepian tempat tidur sambil memangku laptopnya. Pandangan Viona kemudian bergulir pada jam yang menggantung di dinding dan waktu menunjuk angka 23.00 malam.


Tanpa berkata apa-apa, Viona mengambil laptop itu dari tangan Kevin. "Ge, ini sudah larut malam. Sebaiknya kita tidur sekarang. Jangan sampai kau jatuh sakit karena keseringan begadang." Ucap Viona sambil meletakkan laptop itu di tempat semula.


Kevin menggeleng. "Nanti saja, aku masih belum mengantuk. Sebaiknya kau saja cepat tidur. Ada beberapa email yang harus aku periksa, dan aku akan tidur setelah ini." Ujar Kevin..


Viona mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Setelah ini kau harus tidur," ucap Viona lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Dipandangnya punggung Kevin yang tersembunyi dibalik kemeja hitamnya dan menghela napas, hanya dengan melihat punggung itu, Viona tahu jika suaminya sedang dalam keadaan rapuh. Kevin masih belum merelakan kepergian Kakeknya, dia masih syok lebih tepatnya.


Viona menutup matanya dan lekas tidur. Tubuhnya sangat lelah dan sulit untuk diajak kompromi. Sejak kepergian Tuan Lu, Viona menjadi kurang istirahat dan akhir-akhir ini dia merasa jika badanya kurang fit. Dan tidak butuh waktu lama bagi Viona untuk segera tidur dan pergi ke alam mimpi.


Kevin menoleh, dia bangkit dari duduknya dan mengambil selimut yang ada di bawah kaki Viona lalu menyelimutinya sampai sebatas dada.


Satu kecupan mendarat mulus di keningnya, sudut bibirnya tertarik keatas melihat wajah polos Viona yang sedang tertidur pulas. Sepertinya dia benar-benar lelah, Kevin merasa amat sangat bersalah karena membiaskan Viona ikut larut dalam kesedihan karena kepergian Tuan Lu.


xxx


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2