
"Viona,"
"Paman, aku sangat-sangat mencintaimu." ucap Viona sambil mengunci mata kanan milik Kevin.
"Begitupun sebaliknya."Jawab pria itu lalu mencium singkat bibir Viona dengan penuh kelembutan. "Aku memiliki kejutan untukmu. Berbalik dan lihatlah." Bisik Kevin sambil memutar tubuh Viona.
Sebuah cahaya yang dihasilkan oleh lilin-lilin kecil yang bertaburan indah diatas rerumputan hijau. Bagaikan jutaan bintang yang memenuhi langit malam, benar-benar indah.
Setetes air mata Viona mengalir dari sudut matanya, dia terharu. Keindahan yang Viona lihat malam ini membuatnya bahagia hingga dia lupa bagaimana caranya untuk bernapas. Pelukan dari belakang menghangatkan punggungnya, membuat air mata Viona semakin deras.
"Kau menyukainya?" Kevin berbisik pelan di telinga Viona dan seketika menggetarkan hatinya.
"Ya," Viona mengangguk. "Kapan Paman melakukannya?" Viona memutar tubuhnya, posisinya dan Kevin saling berhadapan.
"Tidak penting bagaimana aku melakukannya, yang terpenting kau menyukainya." Segera Viona menganggukkan kepalanya dengan senyum tersungging di sudut bibirnya.
Pandangan Viona kembali pada taburan cahaya lilin yang terlihat seperti jutaan bintang di langit, dia benar-benar terharu dengan apa yang Kevin lakukan untuknya.
"Kau membuatku ingin menangis, Paman. Aku benar-benar terharu." Ucap Viona dengan mata berkaca-kaca.
Kemudian Kevin membawa Viona ke dalam pelukannya dan memeluknya dengan erat. "Aku melakukannya supaya kau selalu mengingat jika ada seseorang yang benar-benar tulus mencintaimu," Kevin berbisik sambil mengeratkan pelukannya.
"Aku tahu," lirih Viona sambil membalas pelukan Kevin.
Viona tidak bisa mendeskripsikan seperti apa kebahagiaan yang ia rasakan saat ini . Kejutan yang Kevin berikan mungkin memang tidak seberapa, namun sangat bermakna bagi Viona. Sangat sulit untuk mempercayai lelaki dingin seperti kutub utara macam Kevin bisa menyiapkan kejutan semanis ini.
"Aku sudah menyiapkan makan malam untuk kita." Ucap Kevin sambil melepaskan pelukannya.
Kevin mengulurkan tangan kanannya pada Viona. Sambil bergandengan tangan, mereka menghampiri meja bundar yang penuh dengan makanan lezat dan mewah. Lilin-lilin kecil mengelilingi meja tersebut. Suasana yang begitu hangat dan romantis.
__ADS_1
Viona menyapukan pandangannya. Taman belakang Villa telah di sulap menjadi tempat dinner romantis oleh Kevin. Dia tidak tahu bagaimana Kevin melakukannya, dan tidak pernah terbayangkan oleh Viona jika Kevin terpikir untuk melakukannya.
"Paman, aku benar-benar penasaran bagaimana kau melakukannya. Apa kau menyiapkannya sendirian?" tanya Viona penasaran.
Kevin menggeleng. "Tentu saja tidak, Frans dan anak buahnya yang membantuku menyiapkan semua ini."
"Paman, terima kasih." Ucap Viona sambil menarik sudut bibirnya.
"Untuk apa?" tanya Kevin kebingungan.
"Untuk semuanya. Aku sangat beruntung memilikimu di sisiku." ucap Viona dengan senyum yang sama.
Kevin tersenyum tipis. Dia meraih tangan Viona lalu menggenggamnya. "Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan. Dan semua ini aku lakukan karena aku mencintaimu,"
Masih di tempat yang sama namun di lokasi berbeda. Frans tengah menyaksikan momen romantis tersebut. Lelaki itu pun hanya bisa gigit jari , dia benar-benar iri pada pengantin baru tersebut. Melihat Kevin dan Viona yang begitu bahagia membuat Frans ingin memiliki pasangan juga.
"Ini tidak bisa dibiarkan!! Aku tidak seharusnya diam saja. Aku harus melakukan sesuatu, masa iya kalah dari kakakku padahal jauh lebih tampan diriku kemana-mana daripada dia. Dan jangan panggil aku Frans jika tidak bisa mendapatkan jodoh secepatnya!!" Ujar Frans sambil mengepalkan tangannya. Dia mencoba memberikan semangat pada dirinya sendiri.
xxx
Kata menyerah tidak pernah ada dalam kamus Cintia. Meskipun pernah terusir dari kediaman Zhang, Cintia tetap berusaha menemukan cara untuk masuk ke kediaman Zhang kembali. Dan tentu saja kali ini Cintia akan meminta bantuan dari orang dalam yang bisa dia manfaatkan.
"Ijinkan aku masuk," pinta Cintia pada dua pria yang berjaga di pintu gerbang.
"Maaf, Nona. Kami telah menerima perintah untuk tidak membiarkan Anda masuk kembali ke rumah ini, jadi sebaiknya silakan pergi." pinta salah satu dari kedua pria itu.
"Aku memiliki uang di dalam koper ini. Jika kalian berdua mengijinkan aku masuk ke dalam, semua uang di dalam koper ini akan menjadi milik kalian. Bagaimana? Apa kalian setuju?" tanya Cintia memberikan penawaran, dia mencoba untuk bernegosiasi dengan kedua penjaga tersebut.
Keduanya saling bertukar pandang, mereka sama-sama mengangguk. "Silahkan bawa pergi saja uang-uang itu, karena kami tidak membutuhkannya. Kami berdua tidak kekurangan uang sama sekali, jadi jangan coba-coba untuk menyogok kami. Silakan pergi sebelum kami mengusir Anda dengan tidak sopan!!"
__ADS_1
"Kalian menolak uang-uang ini? Dasar orang-orang bodoh. Karena hanya orang bodoh yang menolak uang, sialan kalian berdua!!" ucap Cintia dan pergi begitu saja.
Hari ini dia memang gagal untuk masuk ke kediaman Zhang. Gagal, tapi bukan berarti Cintia menyerah. Dia pasti akan menghalalkan segala cara untuk bisa masuk ke dalam sana.
"Jangan pernah panggil aku Cintia, jika tidak bisa masuk kembali ke sana!!"
xxx
"Paman, apa kita benar-benar akan kembali ke Seoul malam ini juga?" tanya Viona memastikan. Dia menemani Kevin yang sedang berkemas.
Kevin mengangguk. "Ya," dan menjawab singkat.
"Memangnya tidak bisa di tunda ya?" tanya Viona dengan tatapan memohon. Kevin menggeleng. "Tapi kita kan belum mendapatkan hasil yang memuaskan,masa sudah mau pulang?" lanjut Viona dengan kecewa.
Viona sangat berharap sudah ada kehidupan di dalam perutnya ketika mereka kembali ke Seoul. Tapi sepertinya dia tidak bisa memenuhi harapannya tersebut karena Kevin memutuskan untuk pulang malam ini. Viona sedikit kecewa tapi dia tidak bisa memaksa.
"Tidak perlu kecewa, nanti kita bisa kembali lagi. Tapi untuk sekarang kita harus pulang," ucap Kevin.
"Baiklah," Viona menganggukkan kepala. Kevin tersenyum tipis. Jari-jari besarnya menepuk kepala Viona dengan lembut. "Kalau begitu aku bantu, ya." seru Viona menawarkan diri. Dia hendak membantu Kevin berbenah, tapi di tolak olehnya.
"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri. Sebaiknya kau duduk manis saja," pinta Kevin.
"Tapi barang-barang ku, aku juga harus membereskannya." Seru Viona.
"Biar Paman saja. Kita akan melakukan perjalanan jauh, jadi jangan sampai kau kelelahan." Ucap Kevin menimpali.
Viona tersenyum lebar mendengar ucapan Kevin. Dia begitu memperhatikannya. Viona mendekati Kevin dan memeluknya dari samping sambil mencium pipinya. Kevin menanggapinya dengan mengusap kepala berhelaian coklat miliknya. Dia tidak merasa risih sama sekali, apalagi terganggu dengan sikap manja Viona. Yang ada Kevin malah menyukainya.
xxx
__ADS_1
Bersambung