
Ini adalah hari kedua Viona dan Kevin berada di Swiss. Dan mereka memutuskan untuk pergi jalan-jalan menikmati keindahan salah satu negara yang berada di benua Eropa tersebut. Dan tujuannya adalah Danau Jenewa.
Tak hanya terkenal sebagai salah satu danau dengan pemandangan paling Indah, destinasi wisata Swiss satu ini juga termasuk salah satu danau terbesar di Benua Eropa. Mengunjungi tempat wisata populer di Swiss satu ini, Viona ingin berjalan-jalan santai di taman-taman indah yang berada di tepian danau.
Selain itu, banyak juga kafe-kafe dan restoran yang berjejer di kawasan tepian danau. Dan Viona sudah sangat tidak sabar untuk segera pergi ke sana. sedangkan Kevin tak begitu antusias, dia hanya mengikuti kemana Viona pergi.
Setibanya di danau. Vio a benar-benar terpukau dengan keindahan Danau Jenewa. Ternyata media sosial tidak membohonginya. Selain indah, Danau itu juga begitu romantis, terlebih lagi jika mengunjungi Danau tersebut bersama dengan pasangan. Untungnya Viona mengajak Kevin untuk ikut bersamanya.
Pemandangannya memang sangat luar biasa dan begitu sejuk terasa di mata. Viona menutup rapat-rapat kedua matanya dan menghirup udara yang terasa begitu segar dan alami. Wanita itu merasa begitu damai dan lepas, dia tidak ingat kapan terakhir kali merasakan perasaan seperti ini.
"Ge, tutup matamu, tarik napas dalam-dalam dan rasakan ketenangannya." Viona memberi interupsi pada Kevin, kedua matanya tertutup rapat dan tangannya terlentang. Viona sedang menikmati angin sejuk yang berhembus dengan lembut.
Kevin menoleh, menatap sisi wajah Viona. Angin cukup kencang membuat sebagian anak rambut menutupi wajah cantiknya. Dengan lembut, Kevin menyingkap anak rambut tersebut dan menyingkirkannya dari wajah Viona lalu menyelipkannya ke belakang telinga.
"Kau lakukan sendiri saja, aku tidak berminat." Ucapnya menimpali.
Viona membuka kembali matanya dan menatap Kevin dengan sebal. "Huh, dasar menyebalkan. Tidak mau ya sudah," ucapnya lalu beranjak dari hadapan Kevin. Viona mencoba mengambil pose dan memotret dirinya sendiri dengan camera ponselnya, namun sayangnya dia tidak bisa mendapatkan hasil yang bagus, hal itu membuatnya kesal sendiri.
"Ck, kenapa jelek semua...".Keluh Viona sambil melihat satu persatu hasil jepretannya. kemudian dia memberikan ponsel itu pada Kevin. "Ge, cepat bantu aku mengambil foto. Tapi harus bagus dan jangan mengecewakanku.."
Kevin menghela napas. Dia mengambil ponsel itu dari tangan Viona kemudian membantunya mengambil foto. Tentu saja Viona memiliki alasan kenapa dia meminta bantuan pada Kevin untuk mengambil foto, karena Viona tahu dia memiliki kemampuan. Dan semua foto jepretan tangan Kevin tidak pernah gagal.
"Ge, bagaimana hasilnya. Aku ingin melihatnya," Ical Viona sembari menghampiri Kevin. Wanita itu tersenyum.puas setelah melihat hasilnya. "Perfek, ini benar-benar sempurna dan aku menyukainya. Ge, bagaimana kalau kita mengambil foto bersama?" Viona memberi usul. "Ayo,"
Dia tidak perlu mendapatkan persetujuan dari Kevin, bahkan tanpa persetujuan darinya ,Viona tetap mengambil foto bersama. Tapi sayangnya foto itu tidak sesuai harapannya, Fiona menghela nafas. Kemudian Dia memberikan ponselnya pada Kevin dan meminta dia saja yang memotret mereka berdua.
"Sudah," Kevin mengembalikan ponsel itu pada Viona. Wanita itu tersenyum lebar, hasil fotonya seperti yang dia inginkan.
__ADS_1
"Nah, ini baru sempurna. Ge, aku lapar. Bagaimana kalau kita makan dulu?" usul Viona dan dibalas anggukan oleh Kevin. Bukan cuma Viona saja yang lapar, tetapi Kevin juga.
.
.
Setelah perjalanan selama kurang lebih 15 menit. Akhirnya mereka berdua sampai juga di sebuah restoran yang cukup besar dan juga memiliki kesan mewah.
Restoran itu bergaya klasik namun juga terdapat unsur tradisional dan modern juga pada restoran itu. Itu adalah salah restoran yang paling ramai dan banyak di kunjungi, restoran milik pasangan asal asia yang sudah lama menetap di Swiss. Mereka berdua memasuki restoran tersebut dan duduk di meja dekat jendela , yang merupakan pilihan Viona.
Tidak berselang lama. Seorang wanita berseragam pelayan menghampiri meja mereka untuk mencatat pesanan pasangan muda tersebut.
"Ge, kau ingin memesan apa?" tanya Viona sambil melihat-lihat buku menu.
Kevin tak langsung menjawab dan terus melihat menu yang ada di buku. Dan setelah berkutat cukup lama, akhirnya Kevin memutuskan untuk memesan tiga jenis makanan berbeda. Pelayan itu pun melenggang pergi setelah mencatat pesanan mereka.
"Rencananya malam ini, tapi sepertinya cuaca kurang mendukung. Jadi ku putuskan untuk pulang besok pagi saja." Jawab Kevin.
Viona mengangguk. "Tapi sebelum pulang kita harus pergi berbelanja dulu. Aku tidak ingin pulang dengan tangan kosong, setidaknya kita dapat dua atau tiga helai pakaian." Ucapnya.
"Terserah kau saja. Yang penting kau senang, dengan begitu kau tidak.perlu mengadukan ku pada calon anak kita sebagai ayah yang kejam," ujar Kevin. Viona terkekeh mendengarnya.
"Tidak perlu kesal apalagi diambil hati. Lagipula bukan sepenuhnya salahku juga, tapi salahmu. Siapa suruh kau sangat menyebalkan, anggap saja itu sebagai ujian hidup." Tutur Viona sambil terkekeh.
Kevin menghela napas sambil memutar jengah matanya. Orang hamil memang tidak bisa disalahkan, meskipun dia salah tapi tetap saja yang salah adalah orang lain, karena dia selalu benar.
Dan kedatangan pelayan menginterupsi obrolan mereka berdua. Viona tersenyum saat pelayan itu membungkuk hormat sebelum melenggang pergi.
__ADS_1
"Ge, kelihatannya makanan milikmu sangat lezat. Boleh aku mencobanya?" tanya Viona penuh harap. Kevin mengangguk. Dengan cepat dia mengambil sendoknya lalu mencicipi makanan milik Kevin. "Uh, aku tidak suka. Aroma bawangnya sangat kuat dan ini membuatku ingin muntah."
Viona bergidik sendiri. Dia paling benci makanan dengan aroma yang menyengat. Selezat apapun makanan itu, jika aromanya menyengat maka rasa itu tetap tidak enak bagi Viona, karena itu sangat-sangat menyiksanya.
"Siapa yang memintamu untuk mencobanya." Jawab Kevin dengan sedikit sinis.
Viona menatap suaminya itu dan berdecak sebal. Dia tidak tau obat apa yang salah diminum oleh Kevin sampai-sampai dia bersikap begitu menyebalkan. Atau mungkin Kevin kesal karena dia memaksanya untuk bangun padahal dirinya masih mengantuk? Ya, Viona yakin itu masalahnya. Tetapi Viona tidak mau ambil pusing dan terlalu memikirkan. Lebih baik sekarang dirinya menyantap sarapannya dengan tenang.
Kevin menghela napas untuk kesekian kalinya. menghadapi wanita hamil benar-benar menguras emosinya, apalagi ketika penyakit anehnya kumat, bisa-bisa Kevin malah dibuatnya pusing tujuh keliling. Selanjutnya mereka berdua menyantap sarapannya dengan tenang. Tidak ada lagi obrolan di antara Kevin dan Viona, mereka sama-sama fokus pada makanan pesanan mereka.
xxx
Tubuh Sonny semakin kurus hari ke hari. Tekanan mental yang terlalu berat membuat berat badannya menurun drastis. Tak hanya itu saja, rambutnya juga mengalami kerontokan parah dan membuatnya nyaris botak. Belum genap lima bulan dia berada di rumah sakit jiwa, namun kesehatan mentalnya benar-benar terganggu. Bahkan untuk bersikap normal Sonny mulai tidak bisa.
Pria itu menoleh saat mendengar suara pintu di buka. Perawat masuk ke dalam ruangan Sonny dan membawakan makan siang untuknya, perawat itu melihat sarapan Sonny masih utuh dan tidak tersentuh sama sekali.
"Kenapa kau tidak mau makan makananmu lagi? Apa kau benar-benar ingin mati di sini?!" ucap perawat itu sambil menatap Sonny dengan kesal.
Ini sudah kesekian kalinya Sonny tidak menyentuh makanannya, ia selalu membiarkan makanan yang disiapkan oleh perawat tetap utuh dan tak tersentuh sama sekali. kemudian pria itu mengangkat kepalanya dan menatap perawat di depannya dengan pandangan memelas.
",Aku ingin pulang, Aku ingin keluar dari sini, ini bukan rumahku, ini bukan tempat tinggal ku, karena rumahku sangat besar dan memiliki tiga lantai. Sedangkan tempat ini sangat kumuh, jelek dan tidak ada bagus-bagusnya sama sekali. Aku ingin keluar, jadi cepat biarkan aku pergi dari tempat ini!!" pinta Sonny memohon.
Perawat itu menghela napas. "Jangan banyak permintaan, sebaiknya habiskan saja saya datang dan makan siangmu. Jika kau tidak mau menghabiskannya, jangan harap aku akan mengantarkan makan malam untukku!!" perawat itu kemudian berbalik dan pergi begitu saja. Daripada terus mendengar ocehan Sonny, lebih baik dia melanjutkan pekerjaannya, karena masih banyak hal yang lebih penting yang bisa dia lakukan daripada mengurusi pria tersebut.
Dan selepas kepergian perawat itu, di dalam ruangan tertutup itu hanya menyisakan Sonny seorang diri. Pria itu menyadarkan punggungnya pada tembok dan menghela napas. Sonny tak henti-hentinya berdoa kepada Tuhan supaya dia segera membantunya keluar dari tempat terkutuk ini, karena itu bukan tempatnya dan tidak seharusnya di sana dia berada.
xxx
__ADS_1
Bersambung