Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Sekali Saja


__ADS_3

Kevin tak melepaskan sedikit pun pandangannya dari Viona yang sedang asik bermain air pantai. Meskipun hanya sendirian, wanita itu terlihat sangat girang. Begitu sederhana sumber kebahagiaannya. Hanya bermain-main dengan ombak yang menuju tepian, tetapi Viona sudah sangat bahagia.


"Paman, kemarilah ayo main bersama," seru Viona sambil melambaikan tangannya pada Kevin.


Namun ajakannya di tolak oleh pria itu."Kau saja, aku cukup melihatmu dari sini." Sahut Kevin menimpali.


Viona menghela napas. "Dasar Paman menyebalkan, tidak asik!!" seru Viona sambil menghembuskan nafas kecewa. Namun dia tidak mau terlalu ambil pusing. Viona kembali asik dengan dunianya, sedangkan Kevin terus memandanginya.


Kevin melihat jam yang melingkari pergelangan tangan kirinya dan waktu menunjukkan angka 17.49 petang. Pria itu bangkit dari duduknya sambil membersihkan pasir yang ada di celananya.


"Sudah hampir petang, ayo pulang." seru Kevin dengan suara dingin dan datar.


Viona melihat ke arah matahari terbenam lalu menganggukkan kepala. Dia meninggalkan pesisir pantai dan menghampiri Kevin yang sedang mengulurkan tangan padanya. Dengan senang hati Viona menerima uluran tangan itu lalu memeluk lengannya.


"Paman, sebelum pulang kita makan malam dulu ya." Ucap Viona di tengah langkahnya. Dan Kevin menanggapinya hanya dengan anggukan saja.


Viona terlalu malas untuk makan malam di rumah. Selera makannya langsung hilang ketika melihat wajah Cintia. Dan jika bukan karena dia ingin memberinya pelajaran, Viona tentu tidak sudi mengijinkannya untuk tinggal di kediaman Zhang.


xxx


Berkali-kali Cintia melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya. Sudah terhitung 10 jam sejak kepergiannya, Kevin masih belum kembali sampai saat ini. Yang membuat Cintia semakin kesal adalah fakta jika Viona juga sedang tidak ada di rumah. Hingga dia berpikir jika mereka berdua sedang bersama.


Cintia tidak tahu hubungan seperti apa yang sebenarnya di miliki oleh mereka berdua. Karena mereka tidak terlihat seperti keponakan dan Paman, yang dia lihat hubungan mereka lebih dekat dari sekedar Paman dan keponakan.

__ADS_1


"Sampai kapan kau akan terus bermalas-malasan? Sebaiknya kembali bekerja sebelum Tuan dan Nona. Tuan paling tidak suka melihat ada orang yang tidak menyelesaikan pekerjaannya!!" tegur salah seorang pelayan ketika melihat Cintia yang sedari tadi hanya bermalas-malasan saja.


Sontak Cintia menoleh dan menatap wanita itu dengan tajam. "Memangnya kau pikir dirimu itu siapa bisa mengaturku seenak jidatmu. Dan asal kau tahu saja jika aku bukan pembantu di rumah ini, jadi jangan sembarangan memerintah diriku dengan seenak jidatmu!!"


"Aku tidak peduli kau itu siapa. Tapi selama kau bekerja di sini sebagai pelayan, di mataku kau itu sama saja dan tidak ada bedanya dengan yang lainnya. Jadi jangan bersikap kurang sopan apalagi sok berkuasa. Sebaiknya kembali bekerja jika ingin mendapatkan jatah makan malam!!" ucap pelayan itu dan pergi begitu saja.


Dari sekian banyak pelayan, hanya dia satu-satunya yang berani pada Cintia. Bahkan dia tidak segan-segan untuk memarahi dan memerintahnya. Dan sikapnya yang tegas dan juga sedikit gelak membuat Cintia benar-benar tersudut karenanya.


"Dasar pelayan sialan. Aku adalah calon nyonya disini, jadi seharusnya kau itu lebih menghargai diriku. Dasar menyebalkan!!"


xxx


"Viona, kau kenapa? Kenapa wajahmu terlihat pucat? Apa kau sedang kurang enak badan " tanya Kevin sambil menatap Viona dengan jelas.


"Mungkin kau masuk angin. Atau sebaiknya kita pergi ke dokter saja?" ucap Kevin memberi usul.


"Lagi-lagi Viona menggeleng. "Tidak perlu. Aku hanya kurang enak badan biasa, jadi tidak perlu cemas. Istirahat sebentar mungkin akan membaik," ujar Viona.


"Kau yakin?" tanya Kevin memastikan.


Viona mengangguk. "Ya,"


Kevin menepuk kepala Viona dengan lembut sambil tersenyum. "Ya sudah, terserah kau saja. Sebaiknya sekarang kau istirahat, aku keluar dulu," ucap Kevin dan di balas anggukan oleh Viona.

__ADS_1


Viona beranggapan jika dia hanya lelah setelah melakukan perjalanan jauh Minggu lalu. Dan yang dia butuhkan sekarang adalah banyak istirahat, Viona yakin setelah istirahat sebentar pasti kondisinya membaik lagi.


.


.


"Kevin,"


Kevin menghentikan langkahnya setelah mendengar seseorang memanggil namanya. Pria itu lantas menoleh dan mendapati Cintia berjalan menghampirinya. "Ada perlu apa kau memanggilku?" tanya Kevin dengan nada bicara yang kurang bersahabat.


"Tidak ada apa-apa. Aku cuma ingin memintamu mencicipi masakanku , ini adalah makanan kesukaan dan masaknya untukmu. Jadi coba cicipi sedikit saja," pinta Cintia. Dia menyodorkan sendok pada Kevin namun di tolak olehnya.


"Aku tidak lapar," ucapnya dan pergi begitu saja.


Cintia menatap kepergian Kevin dengan nanar. Sedih terlihat jelas dari biner matanya. Sudah lebih dari satu Minggu dia tinggal satu atap dengannya, tapi sekalipun Kevin tidak pernah melirik dirinya apalagi bersikap manis padanya.


"Kevin, harus dengan cara apa lagi aku bisa memiliki kembali hatimu?" ucap Cintia berbisik.


Apakah Cintia akan menyerah? Maka jawabannya adalah tidak. Cintia tidak akan menyerah begitu saja, dia pasti akan memikirkan cara untuk mendapatkan hati Kevin bagaimana pun caranya. Meskipun sangat sulit, Cintia akan tetap menghalalkan segala cara untuk mendapatkan hatinya.


xxx


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2