
Sebuah sedan berwarna hitam berhenti di halaman luas sebuah Villa. Sang sopir turun lebih dulu untuk membuka pintu di jok belakang.
"Kita sudah sampai," pria itu menoleh pada wanita yang duduk nyaman disebelah kirinya. "Ayo turun," ucap Kevin dan dibalas anggukan Viona.
Kevin turun dari pintu sebelah kanan diikuti Viona yang kemudian keluar dari pintu sebelah kiri. Setelah melakukan perjalanan panjang dan melelahkan, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan.
"Ayo masuk," Kevin menggenggam tangan Viona dan mengajaknya untuk masuk ke dalam.
"Paman, jadi Villa ini milikmu?" tanya Viona memastikan, Kevin mengangguk. "Memangnya kapan kau membelinya? Kenapa aku tidak pernah tahu?" dia menatap Kevin penasaran.
"Sekitar satu tahun yang lalu. Dan sebenarnya Villa ini Paman beli untukmu, bulan depan kau berulang tahun dan rencananya Paman akan memberikannya dihari ulang tahunmu sebagai kado." Ujar Kevin dan membuat Viona membelalakkan matanya.
"Paman, jadi kau membeli Villa ini untukku?" Viona menatap Kevin tak percaya.
"Jika bukan untukmu, lalu untuk siapa?" jawab Kevin sambil menyentil kening Viona. Keduanya melanjutkan langkahnya memasuki Villa.
Mata Viona terpaku setelah melihat bagian dalam Villa. Villa milik Kevin sangat luas dengan desainnya yang elegan. Banyak pilar-pilar berdiri kokoh, mulai dari serambi depan sampai belakang, semuanya berwarna putih gading dan lantai marmer berwarna krem yang kontras.
Ada tangga melingkar yang menghubungkan dua lantai, karena Villa ini di desain modern, tentu saja ada liftnya juga. "Ini sangat luar biasa, Villa ini sangat bagus dan aku menyukainya."
Kevin tersenyum. "Baguslah kalau kau menyukainya," dia menepuk kepala Viona dengan senyum yang sama.
Tiba-tiba Kevin menghentikan langkahnya dan membuat Viona ikut berhenti juga. "Ada apa, Paman?" tanya Viona sambil menatap Kevin dengan bingung.
"Ada yang tidak beres dengan Villa ini. Entah kenapa aku merasa jika tempat ini sering dipakai sebagai tempat pesta, ada aroma alkohol yang cukup menyengat dan aku tadi juga melihat beberapa botol wine tergeletak dihalaman depan." Ujar Kevin.
Viona menutup matanya dan mengendus-endus seperti seekor anjing yang membantu kepolisian memecahkan suatu kasus. "Tidak ada, aku tidak mencium aroma apa-apa. Mungkin itu hanya perasaan Paman saja," ucap Viona sambil menggelengkan kepala.
"Itu karena indera penciumanmu kurang tajam. Aku akan menyelidikinya sendiri, sebaiknya sekarang kita istirahat saja, pasti kau sangat lelah." ucap Kevin melihat mata sayu Viona. Terlihat jelas jika dia benar-benar lelah.
__ADS_1
Namun langkah mereka kembali terhenti saat seorang wanita setengah baya menghampiri Kevin dan Viona. Wanita itu adalah istri dari pria yang menjemput mereka di bandara tadi, dan dia sering membantu suaminya untuk mengurus Villa.
"Tuan Muda, makan malam sudah siap. Sebaiknya Anda berdua makan malam dulu sebelum istirahat." ucap wanita itu sambil membungkuk sopan di depan Kevin dan Viona.
"Nanti saja, kami akan istirahat sebentar. Dia sangat lelah, dan aku akan menemaninya untuk istirahat terlebih dulu." Ucap Kevin menimpali. Tanpa menghiraukan wanita itu, Kevin membawa Viona pergi ke lantai dua untuk istirahat.
Wanita itu kemudian berbalik dan melenggang pergi. Masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan sebelum pergi istirahat. Dia dan suaminya tinggal di rumah sederhana yang terletak di belakang Villa, dan rumah itu merupakan fasilitas yang diberikan oleh Kevin untuk mereka berdua.
.
.
"Huuaaa... Akhirnya bertemu juga dengan kasur yang empuk."
Viona melemparkan tubuhnya keatas kasur king size yang berada di kamar utama dan Kevin hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kekanakan wanita itu.
"Viona, berhentilah bersikap kekanakan, ingat umur." ucap Kevin seraya meletakkan koper miliknya dan Viona di sudut ruangan.
"Kalau begitu Paman yang akan tidur di kamar lain, kau boleh menempati kamar ini," ucap Nathan.
Viona menggelengkan kepala. "Tidak mau, aku inginnya kita berbagi kamar, bukannya terpisah dan tidur sendiri-sendiri, aku takut." jawab Viona menimpali.
Kevin memicingkan matanya menatap Viona penuh tanya. "Kau yakin?" wanita itu menganggukkan kepala.
"Memangnya kenapa? Lagipula aku sangat mempercayai Paman, tidak mungkin Paman akan melakukan sesuatu yang buruk padaku, jadi apa yang perlu aku khawatirkan?" tandas Viona sambil menatap ke dalam manik kanan milik Kevin.
Pria itu menghela napas. "Terserah kau saja, Paman juga tidak bisa melarangmu yang sangat keras kepala ini. Sebaiknya cepat tidur, setelah kau bangun kita sarapan sama-sama," ucap Kevin dan dibalas anggukan oleh Viona.
"Baiklah, Paman. Aku tidur dulu, sebaiknya Paman juga istirahat," saran Viona, Kevin mengangguk sambil menepuk kepala wanita itu.
__ADS_1
"Iya-iya, Paman tau."
.
.
"Wah, banyak sekali makanannya, kebetulan aku memang sedang lapar." seru seorang pemuda melihat banyaknya makanan lezat yang tersusun diatas meja makan.
Tanpa basa-basi pemuda itu menarik kursi di depannya lalu menyantap makan-makan lezat itu dengan lahap, tanpa peduli makanan-makanan itu dimasak untuk siapa, karena yang dia tahu makanan itu sudah pasti untuk dirinya.
"Doori, apa-apaan kau ini? Memangnya Siapa yang mengijinkanmu menyentuh makanan-makanan itu?!" seorang pria paruh baya memasuki ruang makan sambil marah-marah saat melihat putranya menyantap makan malam yang seharusnya untuk Kevin dan Viona.
Pemuda itu menoleh sekilas kearah ayahnya lalu kembali menyantap makanannya, dia tidak menghiraukannya sama sekali.
"Doori, apa kau tuli?! Makanan itu bukan untukmu, tetapi untuk Tuan Muda dan Nona," bentaknya emosi.
"Aarrkkkhh!! Kau ini terlalu berisik, diamlah dan jangan mengoceh lagi. Sebaiknya sediakan uang untukku, aku butuh uang,"
Seorang wanita paruh baya menghampiri ayah dan anak yang sedang bertengkar itu setelah dia mendengar keributan dari arah ruang makan.
"Tio, apa-apaan kau ini? Kenapa kau malah memarahi putramu sendiri? Bukan salah dia jika memakan makanan-makanan ini, tapi salahkan mereka yang mengulur makan malamnya. Doori, jangan dengarkan ayahmu, sebaiknya kau makan saja." pinta wanita itu membela putranya.
"Sabrina, kau yang apa-apaan. Kenapa kau malah membelanya? Jelas-jelas putramu yang bersalah, tapi kau terus saja membelanya. Apa menurutmu yang kau lakukan ini benar? Jangan sampai kita berdua di pecat karena ulah putramu ini!!" amarah pria itu benar-benar meledak karena kelakuan putra dan istrinya yang sama-sama keterlaluan.
Dia tidak tau bagaimana harus menjelaskan pada Kevin nantinya jika dia sampai melihat hal memalukan ini. Dan siap tidak siap, ia harus siap jika akhirnya Kevin memecatnya karena ulah mereka berdua.
.
.
__ADS_1
Bersambung.