
Ketukan pada pintu mengalihkan perhatian Kevin dan Viona. Selang beberapa detik, pintu terbuka dan seorang perawat memasuki kamar inap Kevin. Viona bangkit dari duduknya dan membarika. ruang pada perawat tersebut untuk memeriksa keadaan suaminya.
Pandangan Viona tidak lepas sedikitpun dari perawat itu. Entah kenapa dia merasa jika perawatan tersebut lihat sedikit aneh, dari sikap dan gerak-geriknya yang tampak mencurigakan.
"Tunggu!!" seru Viona melihat suster itu hendak menyuntikkan sesuatu ke dalam infus Kevin. "Cairan apa itu?" tanya Viona sambil menatap Suster itu dengan curiga.
"Ini adalah vitamin yang harus disuntikkan langsung ke infus." jawab suster tersebut.
"Tidak perlu!! Suamiku tidak membutuhkan vitamin apapun karena kondisinya sudah stabil dan dia baik-baik saja." ucap Viona.
"Sebaiknya anda tidak usah ikut campur Nyonya!! Saya adala seorang perawat, jadi tentu saja lebih tahu dan lebih paham apa yang baik dan tidak untuk pasien!!" tukas perawat itu menegaskan.
"Tapi aku ada istrinya!! Dan aku yang lebih berhak untuk mengambil keputusan di sini, lagipula suamiku baru di periksa setengah jam yang lalu dan perawat yang memeriksanya juga sudah memberikan suntikan vitamin padanya, jadi aku rasa kau tidak perlu lagi melakukannya!!" ujar Viona menegaskan.
"Tapi~" ucap Perawat itu menggantung ucapannya.
"Atau begini saja. Aku akan mengijinkanmu menyuntikkan cairan itu ke dalam infus suamiku dengan satu syarat. Kau harus menyuntikkan dulu cairan itu ke tubuhmu sendiri, dengan begitu aku akan percaya itu racun atau bukan!!" ujar Viona. Dia memberikan pilihan pada perawat tersebut.
Seketika perawat itu pun menjadi panik syarat yang diberikan oleh Viona. Karena jika dia menyuntikan cairan itu ke tubuhnya sendiri, bisa-bisa malah dirinya sendiri yang mati karena racun tersebut.
"Kenapa kau tampak pucat? Apa ada masalah dengan cairan merah itu? Jika itu memang bukan racun, seharusnya kau tidak perlu secemas itu." ujar Viona dengan seringai yang sama.
Tiba-tiba wanita itu berlutut di depan Viona. "Nona, tolong maafkan saya. Saya tidak bermaksud untuk meracuni suami Anda. Saya melakukannya juga karena terpaksa , nyawa orang tua saya dalam bahaya. Jika saya tidak mau menuruti perintahnya, mereka akan dibunuh." Akhirnya perawat gadungan itu memberitahu alasannya ingin membunuh Kevin.
"Siapa yang menyuruhmu?" setelah cukup lama bungkam, akhirnya Kevin mulai buka suara.
"Pria bernama Glenn, dia yang memerintah saya." Jawab perawat gadungan itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Isabelle. "Tuan, mohon kerjasamanya. Saya harus mendapatkan bukti jika Anda benar-benar sudah tewas. Karena jika saya kembali tanpa bukti, dia bisa mencelakai orang tua saya." Ucap Isabelle memohon.
__ADS_1
Kevin menatap mata perempuan itu dan menghela napas. Dia bisa melihat jelas rasa putus asa tersirat dari mata hitamnya, dan dari mata itu juga dia tahu jika Isabelle sangat tertekan, mungkin karena keadaan kedua orang tuanya yang masih ada di tangan Glenn.
"Memangnya bukti apa yang kau inginkan?" tanya Kevin penasaran.
"Tolong Anda pura-pura meninggal dan ijinkan saya mengambil foto lalu menunjukkan pada dia. Selain itu, saya juga harus mendapatkan foto ketika menyuntikkan cairan merah ini ke infus Anda." Tutur Isabelle.
"Kalau begitu lakukan," pinta Kevin.
Sontak Viona menoleh. "Paman, kenapa kau membantunya? Jelas-jelas dia berusaha untuk mencelakaimu. Tapi kenapa kau malah bersikap baik padanya? Bagaimana jika yang dia katakan itu tidak benar? Bisa saja itu hanya alibinya untuk menutupi semua kebohongannya." Ujar Viona.
"Kau hanya perlu percaya padaku. Dan jika dia berani berulah, maka dengan tanganku sendiri aku akan menghabisinya!!" jawab Kevin membalas tatapan Viona.
"Terserah!!" ucapnya dan pergi begitu saja. Viona benar-benar kesal pada Kevin , bisa-bisanya dia bersikap lunak pada orang yang berusaha untuk mencelakainya.
Kevin menghela napas. "Kau pergilah dulu. Nanti aku pasti akan membantumu." Pinta Kevin dan dibalas anggukan oleh Isabelle. Dia harus berbicara pada Viona dan memberitahu dia alasan kenapa mauembantu Isabelle.
.
.
Pupil mata itu membulat sempurna setelah dia mendengar suara yang begitu familiar masuk dan berkaur di telinganya. Sontak Viona menoleh dan mendapati Kevin menghampirinya. "Paman, kenapa kau meninggalkan kamarmu?" seru Viona sambil berdiri dari kursinya.
"Karena aku harus membukukmu yang sedang ngambek!!" balas Kevin sambil melangkah mendekati wanita itu.
"Siapa yang ngambek. Aku tidak ngambek cuma sedikit kesal padamu." Jawab Viona sambil memanyunkan bibirnya.
Kevin menarik lengan Viona dan membawa wanita itu ke pelukannya. "Aku tahu kau sangat mencemaskanku, tapi aku melakukannya juga bukan tanpa pertimbangan. Dia hanya berani mengirim orang-orangnya saja, jika tahu aku benar-benar mati dia pasti akan muncul dengan sendirinya. Dengan begitu aku bisa menghabisinya." Ujar Kevin menjelaskan maksud dan tujuannya membantu Isabelle.
__ADS_1
Viona mengangkat kepalanya dari pelukan Kevin dan menatap pria itu. "Jadi bukan karena Paman memaafkannya?" tanya Viona memastikan.
Kevin menggeleng. "Tentu saja bukan. Dasar bodoh!!"ucapnya sambil menyentil kening Viona dengan gemas.
Viona nyengir kuda menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapi. Rupanya dia sudah salah paham pada Kevin. Viona pikir Kevin benar-benar melepaskan dan memaafkan wanita itu. Dan sepertinya Viona belum mengenal Kevin dengan sangat baik , buktinya dia tidak ngerti maksud dan tujuannya.
"Hehehe, maaf Paman aku pikir kau sengaja membantunya. Lalu di mana wanita itu sekarang? Apa dia sudah pergi?"
"Hm, aku memintanya untuk datang lagi. Karena dibandingkan membantunya, masih ada hal yang lebih penting yang harus aku lakukan terlebih dahulu." Ucap Kevin.
Viona memicingkan matanya dan menatap Kevin penasaran. "Apa itu?" tanya wanita itu memastikan.
"Membujukmu yang sedang ngambek," jawab Kevin dan membuat Viona tertawa pelan. Wanita itu mengalungkan kedua tangannya pada leher Kevin sambil mengunci manik matanya yang dingin.
"Paman , bisa saja. Kau membuatku malu saja." Ucapnya dengan tersipu.
"Bukankah memang begitu kenyataannya." Ucap Kevin.
Kevin memiringkan kepalanya dan bibirnya bergerak menuju bibir ranum Viona yang tipis, kelopak tertutup seketika saat merasakan benda lunak dan basah menyentuh permukaan bibirnya disusul pagutan-pagutan lembut yang semakin lama semakin menuntut. Tak hanya memagut bibir Viona, tetapi Kevin juga melumattnya.
Namun ciuman mereka tidak berlangsung lama. Kevin segera mengakhiri ciuman mereka saat sadar posisi mereka saat ini, mereka berdua berada di tempat umum dan menarik perhatian banyak pasang mata. Akhirnya dia memutuskan untuk mengakhiri ciumannya.
"Nanti kita lanjutkan lagi. Di sini terlalu banyak orang." Ucap Kevin dan dibalas anggukan oleh Viona.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju ruang inap Kevin. Dia seorang pasien , jadi tidak seharusnya kelayapan tidak jelas seperti ini.
xxx
__ADS_1
Bersambung