Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Hukuman Untuk Penyusup


__ADS_3

Seorang pria yang memakai pakaian pelayan terlihat mendatangi sebuah ruangan Awah tanah di kediaman Zhang. Dia membawa kopi dan cemilan yang kemudian diberikan pada para penjaga.


Tanpa curiga sedikit pun,para penjaga itu mengambil kopi dan cemilan yang dibawakan oleh pelayan tersebut. Mereka berpikir jika Frans yang memerintah pelayan itu untuk mengantarkannya. Namun tak berselang lama setelah meminum kopi dan memakan cemilan tersebut, para pelayan itu pun tak sadarkan diri.


Kesempatan tersebut pun ia manfaatkan untuk membebaskan Marco setelah dia berhasil menemukan kunci ruangan tempat Marco di sekap.


"Tuan Muda, buka matamu. Ini aku." Ucap pria itu mencoba membangunkan Marco.


"Ricky,"


"Sttt, jangan keras-keras. Kita harus segera pergi dari sini sebelum mereka bangun." Ucap pria itu 'Ricky' sambil melepaskan ikatan pada tubuh Marco.


"Memangnya kalian mau pergi kemana?" sahut seseorang dari belakang.


Sontak mereka berdua menoleh dan mendapati Kevin datang bersama Frans serta beberapa anak buahnya, membuat Ricky terkejut bukan main. Bahkan ikatan itu belum sepenuhnya terlepas. "Ka..Kalian, bagaimana bisa kalian datang kemari?" tanya Ricky dengan panik.


"Tentu saja bisa, karena ini rumahku." Jawab Kevin menimpali.


Kevin memberi kode pada anak buahnya untuk menangkap Ricky, dia mencoba untuk melarikan diri namun tidak bisa karena jalan untuk melarikan diri telah diblokir, dia terjebak dan tidak bisa pergi kemana-mana. Marco menoleh dan menatap Kevin dengan tajam.


"Lepaskan dia, cukup aku saja yang kau tahan disini!! Dia tidak bersalah dan juga tidak tahu apa-apa. Lepaskan dia, kau tidak perlu menahannya. Biarkan dia pergi," pinta Marco memohon.


Kevin menyeringai dan menatap Marco dengan sinis. "Melepaskannya, apakah bermimpi? Mana mungkin aku melepaskan seorang penyusup yang berani menyusup ke kediaman Zhang dan masuk ke dalam kamarku tanpa ijin. Bahkan dengan lancang dia berani membuat tidur anak buahku dan mencoba untuk membebaskanmu, jadi bagaimana mungkin orang seperti dia aku lepaskan begitu saja!!" ujar Kevin menuturkan.


Marco mengepalkan tangannya. Dia benar-benar berurusan dan mencari masalah dengan orang yang salah, jika saja tidak mengusik Kevin mungkin nasibnya tidak seperti ini. Bodohnya dia tidak mencari tahu dulu siapa orang yang akan dia lawan.


"Apa yang harus aku lakukan supaya kau melepaskannya? Dia tidak ada urusannya dengan semua kejahatan yang sudah aku lakukan. Katakan saja, apa yang harus aku lakukan supaya kau bisa membebaskan dia?!"


"Tuan Muda," seru Ricky tertahan.

__ADS_1


"Diamlah!! Jangan mengganggu negosiasiku dengannya," Marco melirik Ricky dengan tajam.


Dia sedang bernegosiasi dengan Kevin supaya pria itu mau melepaskan Ricky. Karena jika Ricky bisa lepas maka dia bisa mendapatkan bantuan untuk bebas dari sini. Marco sedang berusaha membujuk Kevin supaya mau bernegosiasi dengannya.


"Aku menolak untuk bernegosiasi denganmu. Apa kau menganggap aku ini bodoh dan tidak tahu apa yang sebenarnya kau rencanakan?!" Kevin menyeringai dan menatap Marco dengan sinis. Rupanya Kevin bisa membaca isi pikiran Marco dan mengetahui semua rencana-rencananya. "Bunuh mereka berdua!!" pinta Kevin. Dia menjatuhkan perintahnya, Marco dan Ricky akan dieksekusi secara bersamaan.


"Baik, Tuan."


Tidak ada gunanya juga kevin tetap menahan mereka. Toh mereka juga tidak akan berguna untuknya, jadi lebih baik dihabisi daripada diri biarkan tetap hidup namun menyusahkan. "Frans, ayo pergi."


"Baik, Ge." keduanya kemudian berjalan beriringan meninggalkan ruang bawah tanah. Bahkan Kevin tidak perduli dengan teriakan Marco yang memohon supaya mereka tidak di habisi.


Kevin adalah orang yang tidak mudah untuk merubah keputusannya. Apalagi jika keputusan yang dia ambil sudah final. Lagipula membaurkan hukuman pada mereka yang berani membuat masalah dengannya adalah hal yang wajib dilakukan, supaya orang lain berpikir ulang sebelum mencari masalah dengan Kevin. Itu adalah peringatan keras bagi semua orang.


xxx


Tubuh paruh baya itu membeku di tempat saat dia membuka bingkisan yang dikirimkan oleh Kevin padanya. Dua mayatt dalam satu peti, dan dia mengenali betul siapa mayatt-mayatt tersebut.


Dia baru saja kehilangan dua orang penting dalam hidupnya, putra angkatnya dan juga tangan kanannya. Keduanya tewass dengan cara yang sama. Pria itu mengepalkan tangannya dengan kuat, matanya berkilat tajam penuh amarah, dendam kesumat terlihat jelas dari sepasang Netral hitamnya.


"Kevin Zhang," dengan geram dia menyebut satu nama 'Kevin. "Berani-beraninya kau membunuh orang-orangku, tunggu saja aku pasti akan memghabisimu!!"


Paruh baya itu menutup kembali peti di depannya lalu memerintahkan anak buahnya supaya menguburkan mereka dengan layak. Dia bersumpah akan membalaskan dendam Marco dan Ricky, Kevin harus membayar mahal semua yang dia lakukan hari ini.


xxx


"Apa, ke Dubai?"


Viona menganggukkan kepala. Dia menderita Daniel jika akan berlibur ke Dubai bersama dengan Kevin dan Frans. Saat ini mereka berdua sedang berada di cafe langganan, Daniel menghubungi Viona dan mengajaknya untuk bertemu. Daniel merindukannya tapi dia tidak berani mendatangi langsung kediaman Zhang karena takut pada Kevin.

__ADS_1


"Malam ini aku, Paman dan Frans akan berangkat. Akhirnya impianku untuk melihat Burj Khalifa menjadi kenyataan. Maaf ya Daniel, kali ini aku selangkah lebih maju darimu. Biasanya kau selalu mendahuluiku untuk melihat tempat-tempat luar biasa, tapi kali ini aku yang lebih dulu." Ujar Viona sambil menatap Daniel dengan senyum penuh kemenangan .


Daniel merengutkan wajahnya. "Tidak adil, kenapa kau harus pergi duluan sedangkan aku belum? Viona, bawa aku bersamamu ya. Aku juga ingin melihat Burj Khalifa." Rengek Daniel memohon.


"Tidak masalah, asal kau meminta ijin langsung pada Paman. Jika dia mengijinkannya maka kau bisa pergi bersama kami, bagaimana?" ucap Viona sambil menatap Daniel dengan seringai andalannya.


Mendengar kata 'Paman' yang baru saja disebutkan oleh Viona, membuat nyali Daniel menciut seketika. Jangankan untuk ikut, melihat tatapannya saja sudah membuatnya merasa seperti uji nyali. Bisa-bisa Kevin akan menjadikannya sebagai samsak jika sampai ikut pergi bersama mereka.


Daniel menggeleng. "Oh tidak, lebih baik aku pergi sendiri saja. Lagipula masih banyak waktu untuk aku bisa pergi ke sana. Aku juga tidak kekurangan uang untuk pergi berlibur dan melihat Burj Khalifa." ujarnya.


Viona tertawa geli mendengar jawaban Daniel. Jelas-jelas alasannya menolak ikut karena Kevin, masih saja beralasan jika dia bisa pergi sendiri dan memiliki banyak uang. Benar-benar alasan yang sangat konyol.


"Viona, bagaimana kalau setelah ini kita jalan-jalan? Itung-itung pemanasan sebelum kau pergi ke Dubai malam ini," usul Daniel dengan mata berbinar-binar.


"Boleh, tapi kita tunggu Paman datang dulu. Mungkin sebentar lagi dia akan sampai disini, jadi kita bisa jalan-jalan bertiga." Jawab Viona.


Daniel menggeleng. "Tidak jadi. Mungkin lain kali saja, kalau begitu aku pergi dulu. Aku lupa harus mengantarkan temanku periksa gigi, aku pergi dulu." Ucapnya dan pergi begitu saja. Dan tawa Viona pun pecah seketika melihat kelakuan Daniel. Dia setrauma itu pada Kevin sampai-sampai takut untuk bertemu dengannya. Benar-benar konyol.


"Apa yang kau tertawakan?" tegur seseorang yang berjalan mendekati Viona.


Sontak dia mengangkat wajahnya "Paman!!" dan berseru melihat siapa yang datang. "Kau sudah datang. Duduklah, aku akan memesankan makanan untukmu."


"Apa yang kau tertawakan? Sepertinya aku tadi melihat temanmu itu, dia keluar dari ini apa kalian diam-diam bertemu di belakangku?" tanya Kevin sambil menatap Viona penuh selidik.


"Jangan berlebihan, Paman. Lagipula aku dan dia hanya berteman." Ucap Viona menimpali.


Kevin menghela napas. Dia tidak bisa marah pada Viona. Kemudian dia menoleh dan melihat keluar. Daniel masih belum pergi dan sedang melihat mereka berdua, matanya langsung membelalak melihat Kevin menoleh dan menatapnya dengan tajam. Buru-buru dia pergi meninggalkan cafe. Daniel tidak mau membeku karena tatapan dingin Kevin.


xxx

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2