Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Ketakutan Hwan


__ADS_3

Tuan Lu menghampiri Hwan yang sedari tadi terus termenung di balkon kamarnya. Lelaki tua itu tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Hwan saat ini, sampai-sampai dia betah berlama-lama di sana.


Tuan Lu mengambil napas panjang. Lelaki tua tersebut mengayunkan kedua kakinya dan menghampiri Hwan. "Hwan, apa yang sedang kau pikirkan? Paman, perhatikan dari tadi kau terus saja melamun dan berdiri di sini. Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tegur Tuan Lu.


Sontak Hwan menoleh ke belakang. "Paman," dan bergumam pelan. Dia sedikit terkejut melihat kemunculan Tuan Lu.


"Ada apa, Nak? Jika ada apa-apa, jangan ragu-ragu untuk cerita pada, Paman. Paman, pasti akan mendengarnya dengan baik."


Alih-alih menjawab. Hwan malah menundukkan kepala. Dan sikapnya membuat Tuan Lu semakin bingung. "Apa setelah ini Paman akan membuang ku? Kau telah menemukan kedua cucumu yang kau cari selama ini, itu artinya aku sudah tidak dibutuhkan lagi." Ucap Hwan dengan suara serak seperti menahan tangis.


Bukan karena dia takut menjadi miskin, tetapi karena Hwan takut memiliki keluarga lagi. Keluarganya tidak menginginkan Hwan, dan hanya Tuan Lu yang peduli dan menyayanginya. Jika lelaki tua itu membuangnya, lalu dengan siapa dia akan hidup.


"Bodoh!! Apa yang kau katakan, Hwan? Memangnya siapa yang ingin membuang mu? Sementara Paman sudah menganggap dirimu sebagai bagian dari keluarga ini. Aku telah menemukan mereka atau tidak, tidak akan ada yang berubah. Jadi jangan berpikir yang tidak-tidak lagi,"


Hwan sedikit lega setelah mendengar apa yang Tuan Lu katakan. Namun tetap saja ada yang mengganjal artinya, Hwan tetap saja merasa takut dan cemas.


"Bagaimana jika mereka berdua justru tidak menyukaiku? Bagaimana jika mereka berpikir buruk tentang diriku? Paman, memikirkannya saja susah membuatku merasa tidak nyaman. Aku benar-benar takut mereka tidak mau menerimaku di keluarga ini." Tutur Hwan sambil menggigit bibirnya.


Tuan Lu menggelengkan kepala. "Itu tidak akan terjadi, Hwan. Paman, berani menjamin jika kau dan mereka pasti bisa berteman dengan baik. Secepatnya Paman akan membawa mereka kemari. Sudah, jangan berpikir yang tidak-tidak. Ini sudah lewat tengah malam, jadi sebaiknya kau cepat tidur." Pinta Tuan Lu dan di balas anggukan oleh Hwan.


Tuan Lu menepuk pundak Hwan dan pergi begitu saja. Hwan masih tetap bertahan di sana. Kembali dia mengalihkan pandangannya pada langit malam bertabur bintang. Dia berharap bisa melihat bintang jatuh supaya bisa membuat permohonan, meskipun dia sendiri tidak begitu yakin, tetapi tidak ada salahnya untuk mencobanya.


"Aku tidak meminta apapun. Aku hanya ingin kehidupan yang lebih baik." Ucap Hwan membatin.


Hwan sangat berharap jika kedua cucu Tuan Lu bisa menerima dirinya. Seperti Tuan Lu yang menerimanya dengan tangan terbuka.

__ADS_1


xxx


"Sial!! Semua ini gara-gara, Paman!!"


Rasanya Viona ingin mengutuk Kevin karena sudah membuatnya kesulitan berjalan pagi ini setelah semalam di gempur habis-habisan olehnya. Viona merasakan nyeri pada paha dalamnya, saat berjalan rasanya sangat perih. Alhasil Viona harus terkurung di dalam kamar supaya tidak menjadi bahan ejekan Frans.


"Lapar," Viona terus saja mengeluh sambil memegangi perutnya yang keroncongan. Dia ingin sekali keluar kamar, namun lagi-lagi ia mengurungkan keinginannya tersebut saat memikirkan konsekuensinya nanti.


Buru-buru Viona bersembunyi di bawah gulungan selimut tebalnya saat mendengar suara decitan pintu di FTV dari luar. Pura-pura sakit dan kurang enak badan adalah pilihan terbaik untuk mencari aman.


"Bangunlah, ini aku tidak perlu bersembunyi." Buru-buru Viona membuka selimutnya setelah mendengar suara familiar yang berkaur di telinganya. "Aku membawakan sarapan untukmu." ucap orang itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Kevin.


Kevin mengambil tempat di samping Viona dan menatapnya dengan serius. "Vi, ada hal penting yang ingin aku katakan padamu." Ucap Kevin dan membuat perhatian Viona teralihkan padanya.


"Kita adalah suami istri, dan tidak seharusnya kau memanggilku dengan sebutan Paman lagi. Bagaimana pun juga status kita sekarang sudah berbeda." Kevin menatap Viona dengan serius. Memang tidak seharusnya Viona tetap memanggil Kevin dengan sebutan Paman setelah mereka berdua menikah.


Viona terdiam beberapa saat. Ia mengangkat kepalanya dan membalas tatapan Kevin. "Lalu kau ingin supaya kau memanggilmu bagaimana?"


"Panggil nama saja, itu lebih baik. Toh jarak usia kita juga tidak terlalu jauh. Aku lebih nyaman jika kau memanggilku dengan sebutan nama dibandingkan harus memanggil Papa, Daddy, Sayang atau sejenisnya. Karena panggilan itu membuatku sedikit geli." tutur Kevin panjang lebar.


"Kalau begitu mulai sekarang aku akan memanggilmu Gege, seperti Frans memanggilmu." Viona berucap dengan mantap.


Kevin mengangguk. "Ya, itu lebih baik."


Gege sendiri berarti Kakak. Panggilan yang lumrah bagi pasangan di China. Memang lebih baik Viona memanggil Kevin dengan sebutan Gege daripada Paman. "Cepat makan sarapanmu, nasi dan lauknya keburu dingin." ucap Kevin dan di balas anggukan oleh Viona.

__ADS_1


Kevin paham betul bagaimana kondisi Viona saat ini. Makanya dia membawakan sarapan ke kamar untuknya. Pagi ini Viona kesulitan berjalan setelah percintaan mereka semalam. "Habiskan sarapanmu, aku keluar dulu." Kevin menepuk kepala Viona dan pergi begitu saja. Selanjutnya Viona menyantap sarapannya dengan tenang.


.


.


Frans mengerutkan dahinya melihat Kevin datang sendirian. Tidak terlihat batang hidung Viona sama sekali sejak pagi. "Ge, di mana Vio Nunna? Kenapa dia tidak ikut turun, apa dia tidak lapar?" tanya Frans sambil menatap Kevin penasaran.


"Viona, sedang tidak enak badan, jadi aku memintanya untuk istirahat di kamar. Aku baru saja mengantarkan sarapan untuknya,"


"Kurang enak badan? Tetapi semalam Dia terlihat baik-baik saja, atau mungkin Viona Nunna sedang masuk angin?" tanya Frans.


Kevin mengangkat bahunya. "Mungkin saja." Jawab Kevin dan melewati Frans begitu saja. Frans berbalik badan dan menatap Kevin yang baru saja mendaratkan pantatnya di sofa dengan pandangan menyelidik. Entah kenapa dia tidak begitu yakin dengan jawaban Kevin. "Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Kevin melihat tatapan Frans.


"Ge, benarkah Vio Nunna sedang kurang enak badan? Kenapa aku tidak yakin, ya? Jelas-jelas dia tadi itu baik-baik saja. Masa iya tiba-tiba jadi kurang enak badan, sangat mencurigakan." Tutur Frans.


Kevin menoleh dan menatap Frans dengan tatapan dingin. "Maksudmu apa?" tanya Kevin. Nada bicaranya dingin dan datar.


Buru-buru Frans menggelengkan kepala. "Bu...Bukan apa-apa, Ge. Jangan salah paham, aku ke kamar dulu." Ucapnya dan pergi begitu saja. Baru saja melihat tatapannya sudah membuat Frans merinding, apalagi melihat kemarahannya bisa-bisa Frans mati berdiri.


Kevin menghela napas. Sepertinya Frans menaruh curiga padanya. Dia ragu dengan jawaban yang Kevin berikan , dan pasti Frans mencurigai sesuatu.


xxx


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2