
"Dion, apa yang terjadi pada wajahmu? Kenapa kau bisa babak peluk seperti ini?" tanya Tuan Lu dengan terkejut.
Tuan Lu sangat-sangat terkejut saat melihat wajah Dion, salah satu pelayan yang kepercayaannya datang dengan wajah babak belur seperti baru di pukuli. Keningnya dililit perban juga hidungnya.
Dengan ekspresi penuh kesakitan dia menghampiri Tuan Lu.
"Tuan Besar, tolong saya. Tuan Muda Kevin lah yang telah membuat saya seperti ini. Dia menghajar dan membuat saya babak belur. Semalam saya melihatnya keluar dari ruang kerja Anda secara sembunyi-sembunyi. Karena sikapnya sangat mencurigakan, saya langsung menegurnya. Tapi dia malah murka dan menghajar saya sampai seperti ini.", Ujar Dion.
Tentu saja yang Dion katakan hanyalah omong kosong. Dia mengarang cerita untuk membuat nama baik Kevin menjadi buruk di mata Tuan Lu. Tentang dirinya yang masuk ke dalam ruang pribadi Tuan Lu tidak boleh terbongkar , karena akibatnya akan sangat fatal.
"Omong kosong apa yang sebenarnya kau katakan?! Berani-beraninya kau memfitnahku dan mengatakan kebohongan tentang diriku?!" seru Kevin. Dia sedang menuruni tangga bersama Viona. Kevin telah mendengar semuanya yang dikatakan oleh Dion, dan tentu saja dia tidak terima pria itu memfitnahnya.
Buru-buru Dion sembunyi di belakang Tuan Lu. Dia bersikap seolah-olah ketakutan dan trauma saat melihat kedatangan Kevin, Dion mencoba mencari perlindungan pada Tuan Lu.
"Tuan Besar, tolong saya. Saya tidak ingin dihajar lagi oleh Tuan Muda, sa..saya takut." Ucap Dion sambil mencengkram kemeja Tuan Lu.
Lalu pandangan Tuan Lu bergulir pada Kevin dan menatapnya penuh tanya. "Kevin, jelaskan pada Kakek sebenarnya apa yang terjadi dan kenapa kau menghajar Dion sampai babak belur seperti ini? Kakek, tidak akan mempermasalahkan kau yang sudah masuk ke ruang kerja Kakek tanpa izin. Tapi tolong beri Kakek alasan kenapa kau sampai menghajarnya," pinta Tuan Lu.
Alih-alih menjawab. Kevin malah menunjukkan sebuah rekaman pada Tuan Lu. "Kakek, bisa lihat kebenaran itu di sini!!"
Wajah Dion langsung memucat saat Kevin menunjukkan sebuah bukti Video saat dirinya memasuki ruang kerja Tuan Lu secara diam-diam. Sontak Tuan Lu menoleh dan menatap Dion dengan tajam.
__ADS_1
"Jelaskan apa maksudnya video ini, Dion? Kenapa kau memasuki ruang kerjaku saat tengah malam sambil mengendap-endap? Memangnya apa yang kau cari di sana?" Tanya Tuan Lu meminta penjelasan.
Dion langsung berlutut dan meminta maaf pada Tuan Lu. Namun permintaan maafnya tentu tidak bisa diterima begitu saja olehnya. Apalagi rekaman CCTV menunjukkan jika Dion masuk dengan sengaja dan gelagatnya sangat mencurigakan. Dan karena yang dia cari tidak ada, makanya Dion buru-buru keluar namun aksinya justru di pergoki oleh Kevin.
Awalnya dia ingin menjebak Kevin dan menjadikannya sebagai tersangka, namun yang ada justru dia sendiri yang terjebak dan tidak berkutik lagi. Kevin memiliki semua bukti yang memberatkannya.
"Kakek, aku akan memberimu dua pilihan. Menyerahkannya pada polisi atau kau ingin supaya aku saja yang turun tangan untuk mengatasinya?" tanya Kevin memberi pilihan.
Di belakang Kevin. Terlihat Viona yang mencoba memberikan kode pada Tuan Lu, wanita itu menggelengkan kepala sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada seolah-olah berkata.'Kak, Jangan serahkan dia pada Gege." Kurang lebih itulah arti isyarat Viona.
Viona tidak tahu nasib buruk apa yang akan menimpa Dion jika Kevin yang menanganinya, karena bisa-bisa dia akan kehilangan nyawanya mengingat seberapa kejinya Kevin dalam menghabisi mereka berani membuat masalah dan mencari gara-gara dengannya.
"Kita serahkan saja dia ke kantor polisi. Biar mereka saja yang menangani masalah ini dan kau tidak perlu turun tangan." Ucap Tuan Lu memberi jawaban.
"Ge, kau mau kemana?" seru Viona melihat Kevin berjalan kearah pintu keluar.
"Cari angin segar sekalian sarapan di luar." Jawab Kevin tanpa menghentikan langkahnya.
"Ge, aku ikut, nunggu aku!!" seru Viona dan buru-buru mengejar Kevin. Dion membuatnya kehilangan selera sampai-sampai Kevin tidak berselera untuk sarapan di rumah, itulah kenapa dia memutuskan untuk sarapan di luar saja.
Frans dan Hwan datang tak lama setelah kepergian Kevin dan Viona. Mereka berdua telah rapi dan siap untuk pergi ke kantor. "Kek, kenapa Mereka pergi? apa mereka tidak ikut sarapan bersama kita?" tanya Frans melihat kepergian Kevin dan Viona.
__ADS_1
Tuan Lu menggeleng. "Mereka akan sarapan di luar. Sepertinya Kevin kehilangan seleranya. Sudahlah tidak perlu menghiraukan mereka berdua, ayo masuk kita sarapan sama-sama." Ajak Tuan Lu yang dibalas angkutan oleh mereka berdua. sarapan kali ini tanpa Kevin dan Viona karena mereka memutuskan untuk sarapan di luar.
xxx
"Ge, sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang sudah dilakukan oleh pelayan itu dan kenapa dia malah memfitnah dirimu?" tanya Viona penasaran. Dia tidak tahu menahu tiba-tiba sudah terjadi keributan pagi ini.
Kevin mengangkat wajahnya dan menatap Viona dengan pandangan datar. "Semalam aku memergokinya keluar dari ruang kerja, Kakek. Karena gelagatnya sangat mencurigakan, makanya aku interogasi dia. Tapi dia tidak mengaku dan aku melepaskannya. Siapa yang menduga dia akan bertindak sejauh itu dan memfitnahku." Jelas Kevin.
Viona menghela napas. "Apa orang itu benar-benar sudah bosan hidup sampai-sampai berani mencari masalah denganmu? Ge, aku rasa penjara terlalu ringan untuknya. Bagaimana jika kita mencatat laporannya dan menjemputnya pulang, pasti akan lebih menyenangkan jika mengajaknya bermain secara langsung." Ungkap Viona.
Kevin menoleh. "Apa kau memiliki rencana untuk hal ini?" tanyanya memastikan.
Viona mengangguk. "Tentu saja punya, bukan Viona namanya jika tidak memiliki banyak ide-ide cemerlang. Bukankah begitu?" Viona memuji dirinya sendiri.
Bukannya kesal, Kevin justru terhibur dengan ocehan Viona yang tampak membosankan itu. Akan tetapi, ocehan Viona justru menjadi sebuah booster alami untuk mengembalikan semangat Kevin ketika dia mulai lelah
"Sudah, berhenti memuji dan membanggakan dirinya sendiri. Sebaiknya segera habiskan sarapanmu sebelum makanannya semakin dingin," pinta Kevin.
Viona memanyunkan bibirnya dengan kesal. Kenapa Kevin malah mengomelinya? Memangnya ada yang salah dengan kata-katanya? Atau karena dia terlalu banyak bicara? Viona mengangkat bahunya dengan acuh dan menghiraukan Omelan Kevin. Dia lanjut menyantap sarapannya dengan tenang, begitupun dengan Kevin.
Dan tidak ada lagi obrolan diantara mereka berdua. Mereka berdua sama-sama diam dalam suasana yang hening dan tenang.
__ADS_1
xxx
Bersambung