
Di sini mereka sekarang. Kevin dan Viona berada di salah satu ruangan VIP di club' ini. Ruangan itu di desain khusus untuk pengantin baru yang hendak melakukan malam pertama.
Banyak kelopak-kelopak mawar tersebar di lantai. Tepat di tengah-tengah ruangan kelopak mawar ditata dan berbentuk hati dengan dikelilingi lilin-lilin kecil yang tentu tidak sedikit jumlahnya, begitupun dengan diatas kempat tidur. Bedanya tidak ada lilin di sana hanya kelopak mawar merah dan putih.
Viona sampai tertegun dan tidak bisa berkata apa-apa. Dia terharu sekaligus bahagia. Pandangannya lalu bergulir pada Kevin yang berdiri disampingnya. Pria itu tersenyum kecil.
"Bagaimana, Sayang? Apa kau menyukainya?" tanya Kevin dan dibalas anggukan oleh Viona. Kembali dia menyeka air matanya.
"Paman, kau membuatku terharu. Aku sangat-sangat terharu," ucapnya lalu berhambur ke dalam pelukan Kevin dan memeluknya dengan erat.
Kevin tersenyum tipis. Pria itu mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Viona. "Yang penting kau bahagia." Ucap Kevin berbisik. Dia menutup matanya lalu mengeratkan pelukannya pada Viona. Tidak ada yang lebih penting bagi Kevin selain kebahagiaan Viona.
Pria itu memiringkan kepalanya sambil menangkup pipi Viona dengan kedua tangannya lalu meraup bibir ranum itu dan mellumatnya. Mata mereka berdua sama-sama tertutup rapat, kepala mereka sama-sama berputar dan bergerak seirama. Kedua tangan Viona yang sebelumnya terkulai disisi tubuhnya sekarang memeluk pinggang Kevin ketika pria itu semakin memperdalam ciumannya.
Posisi mereka tidak lagi berdiri. Kevin merubah posisi mereka dengan menempatkan Viona di bawah Kungkungan tubuhnya.
__ADS_1
Keadaan sudah tidak lagi aman, helaian demi helaian kain yang melekat di tubuh masing-masing sudah tertanggalkan dan berserakan di lantai. Mereka dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun.
Sepasang kaki putih nan jenjang itu terus bergerak ketika Kevin menciumnya semakin liar. Suasana di dalam kamar itu begitu panas, bahkan AC yang dihidupkan sekali pun tidak memberikan Efek sama sekali. Suasana di kamar itu benar-benar panas.
Kevin mengakhiri tautan bibirnya lalu menarik diri sesaat untuk menatap Viona, senyum lembut terpatri di bibir Kiss Ablenya. "Mulai detik ini kau adalah milikku selamanya, Viona." Ucap Kevin dan kembali memagut bibir Viona seperti tadi.
Dia tidak ingin menundanya lagi. Kevin akan memulai puncaknya sekarang. Dia benar-benar sudah tidak sabar untuk segera miliki Viona sepenuhnya. "Kau sudah siap?" tanya Kevin sambil memposisikan sosis beruratnya di kenikmatan milik Viona.
Wanita itu mengangguk. "Ya," dan menjawab singkat.
"Malam ini aku akan memanjakanmu, dan sepanjang malam akan ku buat kau terus menyerukan namaku." Bisik Kevin dan kembali memagut bibir Viona seperti tadi. Namun kali ini lebih singkat dari ciuman mereka yang sebelumnya.
Kedua mata Viona membulat sempurna ketika merasakan rasa sakit yang begitu luar biasa. Dan gerakan Kevin terhenti detik itu juga. Dia mengangkat kepalanya dan menatap Viona dengan tatapan tak percaya.
"Viona, kau masih Virgiin?!" kaget Kevin.
__ADS_1
Viona menggigit bibir bawahnya dan mengangguk. "Ya," juga menjawab singkat.
"Bagaimana bisa? Bukankah kau bilang jika kau dan mantan suamimu telah melakukannya, bahkan kau pernah ragu untuk memulai hubungan denganku karena kau takut aku kecewa jika kau bukan virgiin lagi." ujar Kevin sambil menatap Viona dengan tatapan tak terartikan.
Viona menghela napas. "Aku tidak ingat betul apa yang terjadi malam itu. Kami berdua sama-sama mabuk berat ketika malam pertama, dan yang aku ingat saat bangun semua pakaian kami berserakan di lantai jadi ku pikir aku dan dia telah berhubungan." Terang Viona.
"Apa selama kalian bersama tidak pernah berhubungan sama sekali?" tanya Kevin memastikan.
Lagi-lagi Viona menggelengkan kepala. "Dia selalu menolak ketika aku mengajaknya berhubungan. Dia selalu beralasan lelah setiap kali aku ingin melakukannya. Pernah sekali , aku nekat memberinya obat dan berharap dia akan teranggsang. Dia memang teranggsang tapi sosisnya tidak mau berdiri." Tutur Viona menjelaskan.
Dan dengan mendengar penjelasan Viona. Kevin tahu alasan kenapa mantan suami Viona selalu menolak ketika diajak berhubungan olehnya. Itu karena dia seorang Impotten.
Kevin tersenyum lebar. "Pada akhirnya tetap aku yang menjadi pemenangnya. Sepertinya tuhan memang tidak mengijinkanmu untuk dimiliki orang lain, bahkan alam pun tidak mendukungnya. Malam ini kita pecah telor." Ucap Kevin dan kembali memagut bibir Viona seperti tadi. Namun kali ini lebih singkat dari ciuman mereka yang sebelumnya.
Dan selanjutnya bukan hanya bibir mereka saja yang menyatu, tapi jiwa dan raga juga. Malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi Kevin dan Viona.
__ADS_1
xxx
Bersambung