
"Hwan, berhenti!!"
Hwan menghentikan langkahnya setelah mendengar seseorang memanggil namanya. Lantas ia menoleh ke belakang dan mendapati seorang pria dengan balutan setelan jas rapi berjalan menghampirinya.
Pria itu memperhatikan penampilan Hwan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Banyak yang berubah padanya, mulai dari cara dia berpakaian sampai tatanan rambutnya, dia tidak cupu lagi seperti dulu.
"Jadi ini benar-benar dirimu? Kau banyak berubah sampai-sampai aku tidak mengenalimu," ucap pria itu sambil meniti penampilan Hwan yang jauh berbeda dari yang dia tahu.
"Ini berkat kalian semua. Jika kalian tidak mengusirku keluar dari rumah, aku tidak akan bisa menjadi seperti sekarang ini," jawab Hwan.
"Oh, sudah merasa hebat kau sekarang? Jangan kau pikir dengan merubah Penampilanmu jadi seperti ini, maka kau layak berada di tengah-tengah keluarga Wang. Asal kau tahu saja. Seperti apapun kau merubah Penampilanmu, dirimu tetap tidak akan layak untuk masuk ke dalam keluarga terhormat seperti Keluarga Wang karena kau hanyalah anak yang tidak diinginkan!!" ujar pria itu panjang lebar.
Hwan menatap pria itu dengan garam. "Memangnya siapa yang ingin masuk ke dalam keluarga Wang kalian? Sejak kalian mengusirku keluar, aku sudah bukan bagian lagi dari keluarga Wang. Karena sejak saat itu aku memutuskan semua hubungan dengan keluarga hebat kalian, lagi pula Sekarang aku sudah mendapatkan keluarga yang jauh lebih baik yang bisa menghargai diriku." Ujar Hwan panjang lebar.
"Baguslah kalau begitu. Dengan begitu kau tidak perlu merepotkan keluarga Wang lagi,"
Gyutt ...
Hwan mengepalkan tangannya dengan kuat. Rasanya dia ingin sekali menghajar dia di depannya itu, dia sudah sangat keterlaluan dan ucapan yang keluar dari mulutnya selalu pedas dan tajam. Namun Hwan harus bisa menahan diri supaya tidak terpancing emosi.
"Jika sudah tidak ada kepentingan lagi, aku pergi." Ucap Hwan dan pergi begitu saja.
Dia terlalu malas untuk berurusan dengan orang-orang yang berasal dari keluarga Wang.
xxx
Kevin menghampiri Tuan Lu yang sedang duduk di beranda belakang Villa miliknya. Di tangannya memegang dua cangkir kopi panas yang salah satunya kemudian dia berikan padanya. Dan kedatangan Kevin sedikit mengalihkan perhatiannya.
"Nak," seru Tuan Lu sambil tersenyum tipis.
"Saya bawakan kopi panas untuk Anda, udara malam ini lumayan dingin." Ucap Kevin dengan datar.
"Terimakasih, Nak." ucap Tuan Lu. Dia menerima cangkir berisi cairan hitam panas itu dengan senyum yang sama. Kemudian Kevin duduk di sebelah Tuan Lu.
Untuk sesaat keheningan menyelimuti kebersamaan mereka berdua. Tidak ada obrolan antara Kevin dan Tuan Lu. Keduanya sama-sama diam dalam keheningan, sampai salah satu diantara mereka berdua membuka suara dan mengakhiri keheningan.
__ADS_1
"Sebenarnya kedatangan Kakek ke negeri ini bukan hanya untuk liburan saja, tetapi juga untuk mencari kedua cucu Kakek yang telah lama hilang. Tapi Kakek tidak tau kemana harus mencari mereka di negara yang luas ini, apalagi tidak ada informasi apapun tentang mereka berdua selain negara dan kota yang mereka tinggali."
Namun tidak ada tanggapan dari Kevin. Dia sendiri bingung harus bagaimana untuk menanggapi cerita Tuan Lu. Apalagi Kevin bukanlah tipe orang yang mudah tertarik pada cerita ataupun kisah hidup orang lain.
Tuan Lu tersenyum. "Sepertinya Kakek sudah terlalu banyak bicara. Maaf karena sudah membuatmu tidak nyaman." Ucap Tuan Lu penuh sesal.
"Ini sudah larut malam, sebaiknya Anda segara istirahat. Angin malam tidak terlalu baik untuk kesehatan,"
Tuan Lu mengangguk. "Setelah ini Kakek akan pergi istirahat. Jangan terlalu sungkan, Nak. Kau bisa memanggilku dengan sebutan Kakek, seperti cara istrimu memanggilku. Oya, kita belum saling mengenalkan diri, aku adalah Joseph Lu." Tuan Lu memperkenalkan dirinya pada Kevin.
"Aku, Kevin Zhang dan istriku Viona Zhang."
Pupil mata Tuan Lu sedikit membulat. "Kau Kevin Zhang, CEO dari Zhang Empire?" pekiknya terkejut. Kevin mengangguk membenarkan. "Akhirnya kita bertemu secara langsung dan bertatap muka, padahal selama ini perusahaan kita saling bekerja sama." Ujar Tuan Lu.
Meskipun perusahaan mereka saling bekerja sama. Namun sekalipun Tuan Lu belum pernah bertemu langsung dengan sang CEO, hanya perwakilannya saja yang sering dia temui. Karena Kevin belum pernah datang langsung ke China begitupun sebaliknya.
"Tidak di sangka jika CEO dari perusahaan besar seperti Zhang Empire ternyata masih sangat muda, dan senang bekerjasama dengan perusahaanmu." Ucap Tuan Lu sambil mengukir senyum di bibirnya. Kevin hanya menyikapinya dengan anggukan kecil.
Kemudian Kevin pamit untuk istirahat. Dia meninggalkan lelaki tua itu begitu saja dan pergi ke kamarnya di lantai dua. Mungkin Viona sudah tidur.
xxx
"Ma, apa kau sudah bertemu dengan, Baby Zhang? Tolong jaga dia untukku dan jangan biarkan Papa menindasnya," ucap Viona dengan mata berkaca-kaca.
Setiap kali mengingat tentang calon anaknya yang gugur sebelum dia dilahirkan, pasti Viona akan langsung menangis. Seharusnya enam bulan lagi mereka bertemu, tapi dia tidak mau bertahan dan memilih untuk meninggalkannya. Itu membuat Viona sangat hancur dan terpuruk.
Viona selalu merasa bersalah. Dia menyalahkan dirinya atas gugurnya janin itu, meskipun pada kenyataannya bukan dia yang bersalah tetapi tetap saja Viona selalu menyalahkan dirinya. Dia menganggap jika tidak becus sebagai seorang Ibu. Sampai-sampai membuat calon anaknya gugur.
"Apa yang kau lakukan di sana, Vi? Udara di luar sangat dingin, sebaiknya kau masuk ke dalam."
Mendengar ada yang bicara dengannya. Lantas Viona menoleh dan mendapati Kevin berjalan menghampirinya. Wajah tampannya terlihat datar seperti biasanya. "Sebentar lagi, Paman. Aku masih ingin di sini." Jawab Viona menimpali.
"Aku tidak mau mendengar penolakan, Viona Zhang!!" ucap Kevin sambil menekan di setiap katanya.
"Iya iya, tapi sebentar lagi. Daripada kau memaksaku untuk masuk ke dalam. Sebaiknya temani aku sebentar," pinta Viona sambil menarik Kevin untuk berdiri di sampingnya.
__ADS_1
Kevin menoleh dan menatap Viona. Kemudian mengalihkan pandangannya pada langit malam, melihat apa yang sejak tadi Viona lihat.
"Paman, apa kau melihat bintang yang paling terang di sana? Aku yakin itu adalah perwujudan calon anak kita. Dan bintang terang di sebelahnya adalah Mama. Sepertinya mereka telah bertemu," ucap Viona sambil menunjuk dua bintang yang paling terang di langit.
Namun tidak ada tanggapan dari Kevin. Dia hanya diam sambil mengikuti arah tunjuk Viona. Sepertinya Viona belum bisa melepaskan kesedihannya dan merelakan kepergiannya. Buktinya saja dia selalu membahas tentang calon anak mereka setiap saat.
Kevin melepaskan pelukan Viona pada lengan terbukanya dengan paksa. "Aku tidak mau mendengar alasan apapun lagi, masuk sekarang!!" pinta Kevin menuntut, seolah-olah perkataannya adalah hal yang mutlak dan tidak boleh di bantah.
"Tapi~"
"Masuk sekarang!!" kali ini dengan suara tegas dan nada sedikit meninggi. Bukan maksud Kevin ingin melukai perasaan Viona, tapi jika tidak begitu dia tetap tidak mau masuk ke dalam mengingat seberapa keras kepalanya Viona.
Kedua mata Viona tampak berkaca-kaca. "Kenapa Paman malah membentak ku?" ucapnya dengan suara parau. Bulir-bulir air mata berjatuhan dari pelupuk matanya dan kemudian membasahi kedua pipinya.
Kevin menghela napas. "Berhenti bersikap cengeng, Viona Zhang!! Sudah cukup aku menahan diri selama dua Minggu ini, aku selalu berusaha bersikap sabar tapi kesabaranku juga ada batasnya. Aku tahu kau terpuruk, dan aku juga tahu kok masih sedih karena kehilangan dia. Tetapi tidak seharusnya aku bersikap seperti ini, Viona. Kau selalu mengatakan telah merelakannya pergi, tapi sikapmu tidak menunjukkan hal itu." Kevin menutup mata kanannya dan mengambil jeda dalam ucapannya.
"Kau pikir hanya kau saja yang terpuruk dan merasa kehilangan? Aku juga, tapi aku berusaha untuk bersikap tegar dan menerima kenyataannya. Bangkit Viona, bangkit. Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini?!" ujar Kevin panjang lebar.
Kevin benar-benar telah hilang kesabaran. Jujur saja Kevin benci Viona yang seperti ini, dia lebih menyukai Viona yang ceria dan bar-bar bukan yang selalu diselimuti kesedihan. Dan setelah menahan diri selama dua Minggu, akhirnya Kevin melupakan semua yang terpendam di hatinya.
Air mata Viona jatuh semakin deras setelah mendengar apa yang Kevin katakan. Sepanjang dia mengenal Kevin, ini pertama kalinya dia semarah itu padanya. Dan Viona akui itu memang kesalahannya. Viona sadar jika dia sudah bersikap berlebihan, dia cengeng dan menyebalkan, tapi apa perlu Kevin harus bicara dengan nada setinggi itu padanya? Dan itu membuat perasaan Viona terluka.
"Tidurlah, jangan membantah lagi." Pinta Kevin dan pergi begitu saja. Meninggalkan Viona sendiri di balkon kamarnya.
Kevin perlu waktu untuk menenangkan dirinya. Emosi yang meluap-luap membuat kepalanya jadi sedikit pening. Bukan hanya Viona, bahkan Kevin sendiri tidak menyangka jika dirinya bisa sampai lepas kendali dan berbicara sekasar itu pada Viona. Tapi jika dia tidak melakukannya, Viona tidak akan sadar dan dia akan terus terpuruk.
"Paman," lirih Viona setengah bergumam. Wanita itu menekan dadanya yang terasa sesak. Rasanya sangat menyakitkan ketika Kevin membentak dan berbicara dengan nada tinggi padanya.
Viona berbalik badan. Pandangannya kembali lurus pada langit malam. Sejenak dia menutup matanya lalu menyeka sisa air mata yang membasahi wajah cantiknya. "Benar apa yang Paman katakan. Aku memang harus bangkit, duniaku tidak akan berakhir setelah kehilangan dia." Ucap Viona pada dirinya sendiri.
Wanita itu kemudian melenggang pergi meninggalkan balkon dan kembali ke dalam kamar. Tiba-tiba kedua matanya terasa berat dan sulit untuk diajak kompromi, Viona hendak tidur lebih cepat malam ini. Apalagi dua Minggu terlahir dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dan malam ini dia harus rela tidur tanpa Kevin di sampingnya.
xxx
Bersambung
__ADS_1