
Seorang wanita berpakaian serba hitam berdiri di hadapan sebuah makam lalu meletakkan beberapa tangkai bunga Lilly di atas pusara.
Makam Ibunya.
Sepasang mutiara berbulu mata lentik itu tertutup, kedua tangannya saling bertautan, dan bibirnya terus bergerak. Samar-samar, terdengar bisikan doa yang keluar dari pita suaranya. Wanita itu terus memanjatkan doa kepada Tuhan, tak peduli seberapa terik sinar matahari yang menerpa tubuhnya.
Angin berhembus, membuat helaian coklat panjangnya yang terurai itu bergoyang pelan. Sampai akhirnya, setelah menit kelima, wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Viona membuka kelopak matanya. Lalu pandangannya bergulir pada pria yang berdiri disampingnya.
"Paman, aku sudah selesai, ayo pergi." ucap Viona seraya beranjak dari makam ibunya.
"Kau tidak ingin berdoa di makam ayahmu?" Kevin menghentikan langkah Viona dengan menggenggam pergelangan tangannya.
Viona menggeleng. "Untuk apa? Aku rasa itu tidak ada gunanya, dia sangat membenciku jadi mana mau dia menerima doa dariku. Sudahlah, Paman. Ayo kita pulang saja, bukankah kita berdua masih harus bersiap-siap untuk pergi ke Jeju Island," ucap Viona dan pergi begitu saja.
Kevin menghela napas. Dia juga tidak bisa memaksa Viona supaya singgah di makam ayahnya. Ada problem yang membuat hubungan ayah dan anak itu menjadi retak.
.
.
Derap langkah kaki seseorang yang datang sedikit mengalihkan perhatian Jimmy yang sedang duduk termenung diatas kursi rodonya. Pria itu menoleh ke belakang dan mendapati Rico berjalan menghampirinya. Tak ada tanggapan dari Jimmy, dia hanya menoleh sekilas lalu kembali menatap ke depan.
"Tuan, kenapa sarapannya tidak disentuh sama sekali?" tanya Rico melihat makanan yang ada diatas meja itu masih utuh.
"Aku tidak lapar," Jimmy menjawab singkat.
Rico menghela napas sambil mengepalkan tangannya dengan kuat, dia benar-benar sudah habis kesabaran dengan sikap Jimmy yang menurutnya sangat berlebihan. Dengan kasar Rico menarik pakaian Jimmy. "Rico, apa-apaan kau ini?!" bentak Jimmy dengan emosi.
__ADS_1
"Cukup, Jimmy!! Berhenti melakukan tindakan memuakkan seperti ini!! Kau pikir dengan kau bersikap seperti ini maka kakimu bisa berfungsi kembali? Terima saja kenyataan jika sekarang kau menjadi ORANG YANG CACATT!!" teriak Rico tidak kalah kencang dari Jimmy.
"Kau cari mati, ya? Berani-beraninya kau berteriak padaku!! Kau pikir dirimu itu siapa, hah?! Ingat batasan, Rico. Kau itu hanya bawahan tapi kenapa sikapmu begitu berani padaku? Kau ingin aku pecat?!" Jimmy kembali berteriak di depan Rico.
"Pecat ya pecat saja, lama-lama muak juga bekerja dengan orang sepertimu yang tidak bisa menerima kenyataan. Bukankah kalian berdua sudah sama-sama impas, kau membuat mata kirinya buta. Seharusnya kau itu bersyukur karena dia masih mengampuni nyawamu. Jimmy, aku sudah tidak bisa lagi bekerja dengan orang sepertimu, aku keluar jaga dirimu baik-baik," Rico mengembalikan kunci mobil miliknya pada Jimmy, karena itu adalah mobil pemberiannya.
"BAGUS SEKALI, PERGI SAJA SEJAUH-JAUHNYA DAN JANGAN HARAP AKU MAU MENERIMAMU KEMBALI!!" teriak Jimmy dengan emosi.
Rico mengepalkan tangannya. Dia terus melanjutkan langkahnya, sebenarnya Rico juga tidak tega jika harus meninggalkan Jimmy sendirian, tapi hal itu dia lakukan semata-mata hanya untuk membuat Jimmy sadar.
Lalu apakah Rico mengkhianati Jimmy? Maka jawabannya tidak, karena Rico adalah tipe anak buah yang setia.
.
.
Setelah menempuh perjalanan lebih dari satu jam, Kevin dan Viona akhirnya tiba di Jeju Internasional Airport Mereka berdua dijemput oleh pria setengah baya yang merupakan penjaga di Villa milik Kevin.
Kevin mengangguk. "Ya, setibanya di Villa kita bisa langsung istirahat. Terus terang saja Paman sangat lelah, hampir sekujur tubuh rasanya sakit semua." ujar Kevin.
"Paman, kau tenang saja nanti malam aku pijitin biar tidak capek lagi," ucap Viona sambil memijit lengan kiri Kevin dengan kedua tangannya.
"Kedengarannya tidak buruk. Perjalanan kita masih lumayan panjang, sekitar satu jam lagi baru tiba di Villa, jika kau lelah sebaiknya tidur saja. Setelah tiba, Paman akan membangunkanmu." Kevin menggenggam tangan kanan Viona yang memijat lengannya.
Wanita itu mengangguk. Kebetulan sekali aku sedikit mengantuk. Kalau begitu aku mau berbaring paha, Paman," ucap Viona lalu berbaring di paha Kevin. Menjadikan paha pria itu bantalan kepalanya. Usapan lembut jari-jari Kevin pada kepalanya mengantarkan Viona ke alam mimpi.
Suasana di dalam mobil menjadi sangat hening setelah Viona tertidur pulas. Tidak ada obrolan antara Kevin dan sopir yang mengemudikan mobilnya. Dan sang sopir tidak berani memulai obrolan dengan Kevin, karena dia takut salah bicara.
__ADS_1
"Maaf, Tuan Muda. Kita langsung ke Villa atau~"
"Kita mampir dulu ke pusat perbelanjaan. Dia belum makan apa-apa dari siang," Kevin menyela ucapan paruh baya itu.
"Baik, Tuan Muda."
Viona sejak siang belum makan apa-apa, dia bahkan melewatkan makan siangnya karena bilang belum lapar. Jadi Kevin berinisiatif membelikan sesuatu untuknya, jangan sampai Viona kelaparan.
Perhatian Kevin sedikit teralihkan oleh suara dering ponselnya. Nama Frans tertera menghiasi layar ponselnya yang menyala terang, tanpa membuang banyak waktu, Kevin pun segera menerima panggilan itu.
"Ada apa kau menghubungiku,Frans? Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Kevin tanpa basa-basi.
"Tuan Muda, Rico datang dan ingin bertemu dengan Anda,"
Kevin mengerutkan dahinya. "Untuk apa? Apa dia datang untuk mencari mati?
"Saya sendiri tidak tau, Tuan Muda. Karena dia tidak mengatakan apapun hanya bilang ingin bertemu dengan Anda,"
"Suruh dia datang kembali beberapa hari lagi. Dan selama aku tidak ada, handle semuanya. Jika kau kewalahan sebaiknya hubungi Tao dan suruh dia datang ke Seoul untuk membantumu," pinta Kevin.
"Baik, Tuan Muda. Kalau begitu saja tutup dulu telfonnya."
Kevin menyimpan kembali ponselnya di saku Long Vest yang dia kenakan. Dia agak penasaran kenapa Rico tiba-tiba datang dan ingin bertemu dengannya. Untuk saat ini Kevin harus menahan rasa penasarannya, dan dia akan mendapatkan jawabannya setelah kembali ke Seoul.
Untuk sekarang dia ingin menikmati liburannya bersama Viona, Kevin tidak ingin membuat Viona tidak nyaman karena masih mengurusi pekerjaan diwaktu mereka liburkan. Karena bagi Kevin tidak ada yang lebih penting dibandingkan kebahagiaan Viona.
.
__ADS_1
.
Bersambung.