Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Season 2: Aku Mohon Bertahanlah


__ADS_3

Perkelahian semakin sengit ketika teman-teman dan anak buah Aiden turut bergabung dengannya. Jumlah musuh semakin banyak dan membuat keadaan di lokasi tempat Luna disekap semakin mencekam.


Aiden menghajar dan menghabisi mereka dengan brutal, tanpa ampun. Entah sudah berapa banyak nyawa yang melayang dengan sia-sia ditangannya. Sementara Luna, dia tidak diijinkan lagi oleh Aiden untuk terlibat dalam perkelahian, dan sekarang menjadi penonton saja.


Beberapa luka tampak menghiasi tubuh dan wajah Aiden serta teman-temannya. Tapi bukan luka yang fatal apalagi sampai menyebabkan bahaya bagi mereka. Melihat Aiden terluka membuat Luna menjadi sangat cemas.


"Kau harus mati di tanganku, karena ulahmu sekarang adikku menjadi orang yang tidak berguna." Ujar Ramon penuh amarah.


"Oh, itu karena dia? Jangan salahkan aku, tapi salahkan Dia yang sudah berani mencari masalah denganku," jawab Aiden.


"Kau memang ancaman besar, untuk itu kau harus dimusnahkan!!" geram Ramon.


Ramon kembali melayangkan serangannya pada Aiden dengan membabi-buta. Dia ingin membalaskan dendam adiknya yang sekarang lumpuh karena ulah Aiden, meskipun bukan sepenuhnya salah Aiden karena dia dulu yang mencari masalah dengannya.


Menghadapi Ramon yang diliputi amarah membuat Aiden sedikit kewalahan, tapi bukan berarti dia tidak bisa mengatasinya. Melihat Aiden yang begitu mahir dalam bela diri membuat Ramon harus berusaha lebih keras lagi supaya bisa mengalahkannya.


Ramon kembali melayangkan serangannya pada Aiden untuk kesekian kalinya. Kali ini dia melancarkan tusukan jari tangan terbuka ke arah ulu hati dan pusar Aiden. Aiden yang mendapat serangan bertubi-tubi dari Remon tak menjadi gugup karenanya. Dia melempar tubuh ke belakang dan bersalto beberapa kali untuk menjauhkan diri.


Aiden berhasil memupuskan serangan lawannya. Hal ini membuat Ramon semakin geram dibuatnya. Semakin membabi buta, Kian kalap. Karena tak menyangka kalau lawan yang dia serang, tak selemah seperti yang diperkirakan.


Walaupun begitu, Ramon tak menjadi putus asa. Malah sebaliknya, dia semakin ganas menyerang. Namun hasil yang dia peroleh tak beda jauh, dia tetap tidak bisa mengatasi Aiden karena pria itu mampu mengandaskan setiap serangan Ramon tanpa kesulitan sama sekali.


Aiden memang bermaksud untuk melampiaskan amarahnya akibat ulah Ramon yang menculik Luna. Maka, selama beberapa waktu lamanya, dia tak memberikan perlawanan sama sekali. Aiden hanya terus mengelak ke sana kemari untuk mempermainkan lawannya.


Ramon pun kalap ketika serangan-serangan yang dia lancarkan terus-menerus menghantam tempat kosong. Dia seperti menyerang bayangan sendiri. Kenyataan yang dia terima ini, membuat dada Ramon seperti hendak meledak. Dia tersiksa bukan main oleh deraan amarah yang bergejolak di dalam dada. Amarah yang tak terlampiaskan, ditambah lagi dengan rasa tersinggung dan jengkel karena ketidakberhasilan menyarangkan serangan-serangan.


Amarah yang menggelegak di dalam dada Ramon semakin merajalela ketika Aiden masih sempat keluarkan ejekan-ejekan yang memanaskan hati dan telinga mereka. Dan hal itu terus dilakukan oleh Aiden sambil terus mengelak.


"Dengan kemampuan seperti ini kau hendak memberikan pengajaran padaku? Seekor kecoa pun tak akan mampu kau robohkan dengan seranganmu itu bajingan, apalagi seorang manusia." ujar Aiden.


"Kalau kau bukan seorang pengecut, bertarunglah secara benar. Ataukah kau hanya bisa mengelak ke sana kemari" sambut Ramon, keras.


"Baiklah kalau itu yang kau inginkan, akan aku turuti," timpal Aiden.


Usai berkata demikian, pria dalam balutan kemeja hitam itu, tegak di tempatnya. Berdiri diam. Padahal, saat itu dari arah depan lawannya sedang lancarkan pukulan keras. Aiden benar-benar membuktikan ucapannya. Kali ini dia tidak mengelak. Ketika serangan-serangan lawan menyambar dekat, dia buka kesepuluh jari-jari tangannya.


Dengan kecepatan gerakan yang sukar untuk diikuti mata Ramon yang jelas bukan lawan seimbang baginya, pria beriris hitam itu telah mencengkeram pergelangan tangan lawannya. Ramon terperanjat bukan main melihat hasil serangan mereka.


Aiden menarik sudut bibirnya. Seringai lebih tepatnya.


Aiden dengan cepat menghantamkan kakinya ke perut Ramon sehingga dia terhuyung mundur sambil meringis memegangi perutnya.

__ADS_1


Namun Aiden belum selesai, ia mendaratkan pukulannya dengan cepat di pelipis Ramon dan di lanjutkan kembali dengan tendangannya yang menghantam dada pria itu secara bertubi-tubi.


Dia ingin segera menyelesaikan pertarungan itu selekas mungkin, segera memburu lawan-lawannya dengan serangan ganasnya. Namun dengan sisa-sisa tenaganya, pria itu menghindar dengan melompat mundur.


Meski sempat bernafas lega karena berhasil menghindar, tapi itu hanya sesaat, karena pada saat itulah Aiden mendaratkan serangannya di dada dan pelipis Ramon. Kali ini lebih keras.


Dia kembali terlempar dan jatuh akibat hantaman keras Aiden. Aiden menatap Ramon dengan tatapan tajam dan mematikan.


"Itulah akibatnya jika kau berani mengusik ketenanganku apalagi sampai melibatkan, Luna." Ucapnya lalu beranjak dan meninggalkan Ramon begitu saja. Aiden menghampiri Luna untuk memastikan keadaannya.


Diam-diam Ramon mengeluarkan senjata dari balik pakaian yang ia kenakan. Dengan sisa tenaga yang dia miliki. Ramon berlari kearah Aiden dan bermaksud untuk menusuknya, namun hal tersebut disadari oleh Luna.


Pupil mata Luna membulat sempurna. Dengan segara dia membalik tubuh Aiden. "GE, AWAS!!" sambil berteriak dan...


JLEPP...


Senjata ditangan Ramon menusuk perut Luna. Aiden yang terkejut segera menahan tubuh Luna yang hampir saja roboh, Sepertinya Aiden masih belum menyadari apa yang terjadi sampai dia merasakan basah pada tangannya.


Aiden mengangkat tangannya dengan gemetar, pupil matanya membulat sempurna dengan lirih Dia berkata... "Da...Darah..."Gumam Aiden dengan lirih.


Tranggg...


Aiden membawa tubuh Luna untuk bersimpuh diaspal. Air mata tampak bercucuran dari matanya, rasa takut menggerogoti perasaan Aiden akan kondisi Luna.


"Luna, tetap buka matamu dan jangan berani-berani untuk tidur." Pinta Aiden mencoba mempertahankan kesadaran Luna.


"Ge, a..aku sudah tidak sanggup lagi. A...Aku,"


"Aku bilang diam!!" bentaknya menyela ucapan Luna. Aiden benar-benar panik dan takut. Lalu pandangannya bergulir pada teman-temannya. "APA YANG KALIAN LIHAT? CEPAT SIAPKAN MOBIL, KITA HARUS SEGERA MEMBAWANYA KE RUMAH SAKIT!!" bentaknya emosi.


Kau mengangguk lalu pergi begitu saja. Dia mengambil mobilnya sebelum mendapatkan amukan dari Aiden. Aiden harus segera membawa Luna ke rumah sakit sebelum terlambat. Aiden tidak akan membiarkan hal buruk menimpanya.


.


.


"Luna, aku mohon bertahanlah!" bisik Aiden dengan suara parau nya.


Aiden menggenggam tangan Luna yang terasa dingin dengan erat seolah-olah tak pernah ingin melepaskannya. Air matanya tak terbendung lagi melihat tubuh sang adik yang terbaring lemah dalam keadaan tidak berdaya. Pikiran Aiden sedang kacau sehingga dia tidak bisa berpikir dengan jernih. Dia terlalu takut melihat keadaan Luna yang jelas-jelas tidak baik-baik saja.


"Maaf Tuan, Anda tidak diijinkan masuk," kata Suster sambil menahan tubuh Aiden.

__ADS_1


Kemudian Luna dibawah masuk ke dalam ruang operasi oleh Dokter dan para tim medis yang menanganinya. Mereka harus melakukan tindakan cepat untuk menyelamatkan nyawanya.


Aiden tak sedikit pun meloloskan pandangannya sampai Luna yang terbaring lemah diatas kereta dorong hingga sosoknya tidak tertangkap lagi oleh mata hitam dinginnya. Pria itu menjatuhkan tubuhnya pada ubin rubah sakit yang dingin, salah satu tangannya bertumpu pada lututnya


"AAARRRKKKHHHH....!" Aiden menggeram sambil mengacak kasar rambut keperakannya. Dia bangkit dari posisinya lalu berbalik dan memukul tembok sampai berulang-ulang, seolah tidak peduli dengan bau anyir yang keluar dari kepalan tangannya yang terkelupas .


Aiden membutuhkan pelampiasan. Semua hanya mampu terdiam dan tidak ada yang berani menghentikan Aiden, termasuk Henry. Semua yang ada di ruangan itu memandang Aiden dengan sendu. Mereka memahami betul apa yang dirasakan oleh Aiden sekarang.


"Aiden, cukup," seru Alex yang baru saja tiba di rumah sakit bersama Tuan William dan Eric. Eric dan Alex menahan tubuh Aiden yang semakin tidak terkendali.


"Hentikan, Gege mohon. Kau melukai dirimu sendiri," ujar Eric sambil menarik Aiden kebelakang.


"Eric, Lepaskan aku, lepaskan!" teriak Aiden seperti orang kerasukan. "Aaarrrkkkhhhh...." Aiden kembali menggeram dan memukul tembok itu sekali lagi, membuat lukanya semakin banyak mengeluarkan darah.


"Cukup nak, berhenti menyakiti dirimu sendiri. Luna pasti sedih melihatmu seperti ini," nasehat Tuan Williams sambil mengusap punggung putra angkatnya itu dengan gerakan naik turun.


Deen Williams dapat merasakan kepedihan hati Aiden saat ini, karena ia pun merasakan hal yang sama.


"Ini semua salahku, jika aku bisa lebih menjaganya, pasti hal semacam ini tidak akan terjadi dan saat ini pasti dia baik-baik saja. Aku sungguh kakak yang tidak berguna, padahal aku sudah berjanji untuk selalu menjaga dan melindunginya." Aiden menjatuhkan tubuhnya pada kursi ruang tunggu, pria itu membungkuk dalam posisi duduknya. Tangannya mengusap kasar wajahnya yang tampak sembab.


Alex menghela nafas, laki-laki itu menghampiri Aiden kemudian duduk disampingnya. "Dengarkan aku, Ai!"


Alex mengambil jeda. Mata hitamnya terkunci pada manik dingin milik Aiden "Aku tau, apa yang menimpa Luna sangat menyakitkan untukmu. Tapi aku tidak ingin kau bersikap seperti ini, kau boleh merasa sedih dan marah atas apa yang menimpa dia, tapi jangan sampai kau menyakiti dirimu sendiri apalagi terus menyalahkan dirimu seperti ini. Luna, akan sedih melihatmu seperti ini," ujar Alex memaparkan.


Aiden tidak memberikan respon apa-apa. Pria itu mendongak menatap langit-langit rumah sakit dengan pandangan hampa. Cairan bening kembali menggenang di pelupuk matanya.


"Apa!! Baiklah, kami akan segera kesana," Henry memutuskan sambungan telfonnya lalu menghampiri Aiden, Alex dan Eric. "Ai, aku baru saja mendapatkan telfon dari pihak kepolisian. Mereka memberi tau jika Ramon sudah berhasil ditangkap," ujar Henry sambil menatap bergantian ketiga pria dihadapannya.


Sontak saja Aiden bangkit dari posisi duduknya. "Ge, Kai, kalian ikut aku. Yang lain tetaplah disini," pinta Aiden. Aiden menggepalkan kedua tangannya, mata hitamnya yang dingin berkilat penuh amarah.


"Ramon, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Kau harus membayar mahal untuk apa yang sudah kau lakukan pada Luna,' ujar Aiden membatin.


"Ric, sebaiknya kau ikut dengan mereka, aku takut Aiden tidak bisa menahan dirinya," ujar Alex yang segera dibalas anggukan oleh Eric.


"Baiklah Ge, kalau begitu aku pergi dulu,"


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2