
"Cintia," panggil seorang wanita dengan nada tak yakin.
Merasa namanya di panggil. Cintia pun menoleh dan pupil matanya membulat sempurna melihat siapa yang memanggilnya. Buru-buru dia berbalik badan dan melenggang pergi. Namun segara dihentikan oleh orang yang memanggilnya tadi.
"Tunggu!!" serunya sambil menahan pundak Cintia. Kenapa kau lari saat aku memanggilmu? Kau benar-benar, Cintia?" dia bertanya memastikan.
Cintia menyentak tangan wanita itu sambil menggelengkan kepala. "Bukan, aku bukan Cintia. Kau salah orang," ucapnya dan pergi begitu saja.
Tidak mungkin dia mengakui dirinya sebagai Cintia dengan keadaannya saat ini. Bisa-bisa wanita itu menertawainya dan menghinanya habis-habisan melihat keadaannya yang sangat mengenaskan. Penampilan yang berantakan sambil membawa koper besar.
"Wow!! Kau pikir bisa membohongiku? Mataku tidak bisa ditipu. Dan aku tahu kau ini Cintia, ngomong-ngomong apa yang terjadi padamu? Sang primadona kampus kenapa sekarang terlihat sangat mengenaskan." Ucap orang itu meremehkan.
"Diam kau Amelia, jika tidak ingin aku robek mulutmu!?" ucap Cintia dengan emosi.
Amelia tertawa keras. Akhirnya Cintia mengakui sendiri dirinya setelah mengelak dan mengaku sebagai orang lain.
"Mengaku juga kau akhirnya. Aku mengenalmu dengan sangat baik, Cintia. Kau pikir bisa mengelabuhiku hanya dengan kau mengatakan jika ini bukan dirimu. Tapi ngomong-ngomong apa yang terjadi padamu? Apakah keluargamu sudah jatuh miskin? Bahkan Dulu aku pernah mendengar kau berkencan dengan pria kaya dan tampan, apa mungkin sekarang dia sudah membuangmu makanya kau jadi seperti ini." ujar Amelia panjang lebar.
Cintia mengepalkan tangannya dan menatap Amelia dengan sinis. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, wanita itu melenggang pergi meninggalkan Amelia sendirian. Cintia tidak ingin semakin dipermalukan akhirnya dia pun memilih untuk pergi.
Benar-benar sial nasibnya. Terusir dari kediaman Zhang, dan sekarang malah bertemu dengan orang yang dulu sering dia hina dan dia rendahkan ketika masih sekolah. Roda benar-benar telah berputar, begitulah nasib mereka berdua sekarang.
xxx
Nasib sial benar-benar dialami oleh Frans. Ikut pergi ke Mall sepertinya akan menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya. Bagaimana tidak, dia harus mengikuti kemanapun Viona pergi sambil membantunya membawakan semua barang-barang belanjaannya. Bahkan di kedua tangannya sudah penuh dengan belanjaan kakak iparnya.
"Nunna, kenapa hanya aku saja yang kau siksa? Seharusnya kau juga meminta Kevin Gege membantumu membawakan barang-barang ini." Keluh Frans melayangkan protesnya.
Viona menghentikan langkahnya lalu berbalik badan dan menatap Frans dengan sebal. "Diamlah, Frans. Berhenti mengoceh , kau itu kebanyakan protes. Tidak mungkin juga aku meminta Paman untuk membantuku membawa semua belanjaan belanjaan ini," ujar Viona.
__ADS_1
"Memangnya kenapa tidak mungkin? Oh, ayolah Nunna, kau itu terlalu pilih kasih. Apa mentang-mentang Kevin Gege adalah suamimu makanya kau tidak mau membebani dia dengan semua belanjaanmu yang segunung ini?!"
Viona menggeleng. "Bukan karena itu bodoh!! Apakah lupa status Paman selain suam? Dia adalah seorang bos mafia besar, dan seorang bos tidak mungkin membantu wanita membawakan barang-barangnya bahkan itu istrinya sekalipun. Selain itu, kau juga perlu banyak olahraga supaya pertumbuhanmu bisa berkembang dengan baik, mengerti." Ujar Viona panjang lebar. Dia menepuk kepala Frans sambil tersenyum lebar.
Frans memanyunkan bibirnya. "Benar-benar alasan yang konyol. Nunna, kau sangat menyebalkan!!" seru Frans dengan frustasi.
Kevin menggelengkan kepala sambil menghela nafas. Ada saja sesuatu yang mereka ributkan setiap hari, detik dan menit. Dan itu membuat kepala Kevin menjadi pening. Bagaimana tidak, karena dia selalu menjadi pendengar yang setia.
"Sudah cukup kalian berdua, berhenti membuat keributan lagi!!" seru Kevin menengahi perdebatan Frans dan Viona. "Sini, biar aku yang membawanya. Viona , sudah cukup belanjanya, kita pulang." Kevin mengambil setengah belanjaan Viona dari Frans lalu membawa wanita itu meninggalkan pusat perbelanjaan.
Jika disatukan, Viona dan Frans seringkali membuat Kevin naik darah. Mereka selalu saja ribut dan tidak jarang membuatnya uring-uringan tidak jelas. Kesabaran Kevin benar-benar diuji ketika menghadapi adik dan istrinya yang tingkahnya melebihi bocah.
xxx
"Kau yakin jika yang kalian lihat itu adalah, Kevin Zhang?" seorang pria menatap satu persatu anak buahnya dan menatapnya penasaran. Mereka menganggukkan kepala.
Seringai terlihat jelas di bibirnya setelah mendengar apa yang anak buahnya katakan. "Ini benar-benar kabar yang sangat menggembirakan. Akhirnya, setelah bertahun-tahun penantianku, hari ini datang juga. Cari tahu dimana dia tinggal, aku ingin memberikan kejutan manis untuknya." Ucap pria itu dan di balas anggukan oleh anak buahnya.
"Baik, Tuan."
Dendam lama yang dia miliki terhadap Kevin akhirnya bisa segera terbalaskan. Sudah bertahun-tahun dia menunggu saat ini tiba. Dan selama bertahun-tahun dia mempersiapkan dirinya dengan matang untuk balas dendam. Kevin telah merenggut semua yang dia miliki. Harta, kekuasaan dan harga diri. Dan dia akan menuntut balas untuk semua itu.
xxx
Frans menghampiri Kevin di ruang pribadinya. Dia memiliki informasi penting yang harus disampaikan padanya. Frans mendapatkan kabar dari anak buahnya jika ada musuh lama Kevin di kota ini. Dan orang itu berencana untuk membalas dendam.
Berkecimpung di dunia bawa yang berhubungan dengan gangster dan mafia, sudah pasti Kevin memiliki musuh dimana-mana. Hidupnya tidak akan bisa tenang selama mereka masih berkeliaran di luar dan berniat untuk balas dendam. Salah satunya adalah orang yang itu, orang yang memiliki dendam kesumat pada Kevin.
"Ge, ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu. Ternyata Glenn ada di kota ini dan dia berniat untuk balas dendam padamu. Ge, kau harus segera melakukan sesuatu sebelum dia bertindak lebih jauh. Aku yakin dia tidak akan tinggal diam, dia pasti merencanakan sesuatu untuk balas dendam padamu." Tutur Frans.
__ADS_1
"Awasi terus pergerakannya, dan kirim anak buahmu untuk masuk ke sana. Kita harus bisa mengetahui rencananya." Ucap Kevin dan dibalas anggukan oleh Frans.
"Baik, Ge. Aku mengerti. Kalau begitu aku keluar dulu," ucapnya dan pergi begitu saja.
Kevin menghela napas panjang. Niatnya datang kemari untuk berlibur malah bertemu masalah yang bisa dikatakan cukup pelik. Kevin mengayunkan kedua kakinya bergantian meninggalkan ruangan itu dan pergi menemui Viona di kamarnya.
.
.
"Vi, kau sedang apa?" tegur Kevin melihat Viona yang berputar-putar di depan cermin.
"Melihat apakah sudah ada tanda-tanda aku hamil atau belum." Jawab Viona dengan polosnya.
Kevin mendengus geli mendengar jawaban Viona."Dasar konyol, kita saja baru melakukannya sekali dan itu pun baru kemarin malam. Jadi tidak mungkin langsung jadi, jangan mengada-ada." Ucapnya menimpali.
Viona terkekeh pelan. Dia mendekati Kevin dan langsung memeluknya. "Itu artinya kita harus lebih bekerja keras lagi supaya cepat mendapatkan hasilnya." Ucap Viona kemudian mengecup singkat bibir Kevin.
"Apa kau begitu menginginkannya?" Kevin membelai pipi Viona dengan lembut, matanya mengunci bibir ranum tipisnya.
Viona mengangguk. "Tentu saja, karena menjadi seorang ibu adalah impianku." Jawabnya
"Kalau begitu ayo kita lakukan, dan sepanjang malam aku akan membuatmu terus menyerukan namaku." Ucap Kevin lalu mengangkat dagu Viona dan mencium bibirnya.
Itu adalah pembukaan awal untuk adegan demi adegan yang akan mereka lakukan selanjutnya. Karena malam ini mereka akan saling berbagi kehangatan dengan curahan kasih sayang yang begitu besar. Malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi Kevin dan Viona.
xxx
Bersambung
__ADS_1