Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Viona Di Culik


__ADS_3

Terik matahari yang menyengat bumi dengan panasnya, tidak membuat Denada menyerah untuk menemukan keberadaan Kevin dan Viona. Dia tidak tahu Kemana perginya mereka berdua, sampai-sampai sulit untuk ditemukan. Sudah hampir satu jam Denada berkeliling kota, namun batang hidung mereka berdua tidak kunjung terlihat juga. Dan hal itu membuatnya sangat frustasi.


Wanita itu beberapa kali menggeram , menahan emosi. "Sial!! Sebenarnya Ke mana perginya mereka berdua, kenapa sulit sekali ditemukan?!" ucapnya dengan emosi.


Sampai akhirnya dia melihat sepasang suami-istri yang baru saja keluar dari pusat perbelanjaan. Mereka terlihat sangat mesra, si wanita memeluk lengan pria yang berjalan di sampingnya. Dan pemandangan itu membuatnya naik darah.


"Sial!! Sebenarnya apa sih hebatnya wanita itu, sampai-sampai dia lebih memilihnya dibandingkan aku? Cantikan juga aku, cerdasan juga aku , dia itu tidak sebanding denganku, tapi kenapa Kevin lebih nyaman bersamanya?! Sepertinya aku harus menyingkirkan dia dari dunia ini untuk selama-lamanya, baru aku bisa bersama dengan pria yang aku cintai," Denada menyeringai. Senyum culas tampak di sudut bibirnya.


Denada sedang merencanakan hal gila untuk memisahkan Viona dari Kevin, dia berencana menyingkirkan wanita itu dari dunia ini untuk selama-lamanya, karena hanya itu satu-satunya cara agar Kevin dan dia berpisah. Karena jika wanita itu masih hidup, tidak menutup kemungkinan Kevin akan tetap bersamanya.


Wanita itu berbalik dan melengos pergi. Denada akan melakukan rencana gilanya itu hari ini juga. Dia tidak akan menunda, apalagi mengulur banyak waktu untuk melakukannya. Karena lebih cepat lebih baik.


xxx


Degg...


Tiba-tiba Kevin menghentikan langkahnya dan membuat Viona ikut berhenti juga. Wanita itu menatap suaminya dengan bingung. "Ada apa, Ge?" tanya Viona sambil menggenggam lengan Kevin.


Sontak Kevin menolak dan menatap Viona dengan pandangan yang sulit di jelaskan. Kemudian dia menggeleng. "Tidak apa-apa, hanya saja perasaanku sedikit tidak enak, aku merasa sesuatu yang buruk akan segera terjadi." Ucap Kevin menimpali.


Viona menggeleng. Dia meraih jari-jari suaminya lalu menggenggamnya. "Tidak, itu tidak akan terjadi. Sebaiknya buang jauh-jauh pikiran buruk mu itu, semua akan baik-baik saja percaya padaku." ucapnya sambil tersenyum lebar. Kevin hanya memberikan anggukan tipis.


"Kau tunggu di sini, aku ambil mobil dulu." Ucap Kevin dan di balas anggukan oleh Viona.


Tidak lama setelah kepergian Kevin. Seseorang tiba-tiba menghampiri Viona dan langsung memukul tengkuknya. Terlalu cepat sampai-sampai Viona tidak bisa memberikan perlawanan apapun, jangankan untuk melawan, untuk bersuara saja dia tidak sempat. Dan setelah tidak sadarkan diri, Viona di tarik masuk ke sebuah Van hitam.

__ADS_1


Kevin tiba di mana dia meninggalkan Viona, namun sayangnya dia tidak ada. Berpikir Viona pergi ke toilet, Kevin pun memutuskan untuk menunggunya.


Satu menit...


Lima menit...


Dua puluh menit...


Enam puluh menit...


Lama dia menunggu namun yang ditunggu tidak kunjung datang. Membuat perasaan Kevin semakin gusar dan tidak karuan. Dia mencoba menghubungi Viona, kevin sangat terkejut saat mendengar ponsel itu berbunyi di sekitar tempatnya berada. Kevin mencoba mencarinya, dan ternyata ponsel itu jatuh tidak jauh dari tempatnya berada.


"Ponsel Viona, lalu bagaimana perginya dia?" ucap Kevin bertanya-tanya.


Tiba-tiba seorang anak kecil menghampiri Kevin dan bertanya padanya. "Apa kau mencari kakak cantik yang tadi berdiri di sini?" tanya anak itu dan dibalas anggukan oleh Kevin.


Anak kecil itu kemudian menganggukkan kepala dan menjawab... "Ya, aku melihatnya. Tidak lama setelah kau pergi, aku melihat seseorang datang dan membuatnya pingsan. Kakak cantik itu kemudian dimasukkan ke dalam mobil hitam. Mobil itu melaju kearah Utara. Meskipun aku melihatnya, tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena aku hanya seorang anak kecil dan tidak memiliki daya untuk melawan orang dewasa." Ucapnya penuh sesal.


Kevin menggeleng. "Tidak apa-apa, satu informasi darimu sangat berarti untukku. Terimakasih atas bantuannya, kalau begitu aku pergi dulu." Kevin memberikan sejumlah uang padanya lalu pergi begitu saja. Kevin mengepalkan tangannya, dia bersumpah akan menghabisi siapa pun yang berani menempatkan Viona dalam bahaya.


xxx


Mobil itu terus melaju kencang pada jalanan yang legang. Sesekali si pengemudi melihat ke belakang dan wanita itu masih tidak sadarkan diri. Dia mengarahkan mobilnya kearah laut dan rencananya ia akan membuang wanita yang sedang tidak sadarkan diri itu di sana.


Tiba-tiba wanita itu tertawa keras. Bahagia terlihat jelas di kedua matanya. "Akhirnya, setelah ini tidak ada lagi yang bisa menggangguku dengan, Kevin. Wanita sialan kau akan mati di tanganku!!"

__ADS_1


"Benarkah?" sahut seseorang dari arah belakang.


Pupil mata Denada membulat sempurna setelah mendengar suara familiar tersebut. Sontak dia menoleh ke belakang dan mendapati Viona yang sedang menyeringai lebar kearahnya. "Ka..Kau, tidak pingsan?!" kaget Denada.


Viona melepaskan ikatan tangan dan kakinya. Ikatan itu begitu mudah di lepaskan olehnya. Kemudian Viona menghampiri Denada yang masih fokus menyetir lalu mencekik leher wanita itu dengan tali yang Denada pakai untuk mengikat kaki dan tangannya.


"A...Apa yang kau lakukan? Le..Lepaskan!! Apa kau ingin membunuhku?"


"Bukankah memang ini yang kau inginkan, aku tidak Sudi jika harus mati sendirian, jadi sebaiknya kita mati sama-sama saja supaya ini setimpal!!" ucap Viona, tatapannya tajam dan penuh dengan intimidasi.


"Ka..Kau gila, ya?! Le.. Lepaskan aku. Aku tidak ingin mati, le..lepaskan brengsek!!" bentak Denada dengan suara tertahan.


Laju Mobil itu mulai tidak terkendali karena Denada tidak lagi fokus mengemudi. Mobil itu meliuk kesana-kemari, Denada berusaha melepaskan cekikan tali itu dari lehernya, namun tidak bisa. Cekikan Viona terlalu kuat sehingga Denada kesulitan untuk melepaskannya.


Denada mulai kehilangan kesadarannya, dia terbatuk-batuk akibat kesulitan untuk bernapas. Bahkan untuk meraih setir mobilnya tidak bisa. Tangan Denada kanan terulur ke depan, sedangkan tangan kirinya berusaha meraih setir mobil, mencoba mempertahankan supaya laju mobilnya tetap seimbang. Namun usahanya sia-sia, Denada benar-benar tidak berdaya.


Pupil mata Denada membulat sempurna saat melihat sebuah pohon besar di depannya. Dia sudah tidak bisa menghindar lagi.


Tidak ingin terjadi kecelakaan fatal, Viona segera mengambil alih kemudi, dia mencondongkan tubuhnya ke depan sambil sedikit mendorong Denada ke samping. Viona segera menarik tuas rem dengan tepat waktu sehingga kecelakaan fatal yang tidak diinginkan tidak sampai terjadi.


Wanita itu menubrukkan punggungnya dengan jok mobil dengan sedikit keras sambil menghembuskan napas panjang. Dia pikir hidupnya akan berakhir dengan sangat mengenaskan, tetapi Tuhan masih menyayanginya.


"Ge, aku pikir sudah tidak bisa bertemu lagi denganmu...."


xxx

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2