Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Season 2: Luna Diculik


__ADS_3

Aiden langsung kembali ke hotel setelah menyelesaikan urusannya. Dia tidak ingin membuat Luna menunggunya terlalu lama, apalagi sampai kelaparan.


"Luna!!"


Namun setibanya di dalam. Aiden tidak menemukan batang hidung Luna di mana pun, termasuk balkon dan kamar mandi. Dia mencoba menghubungi ponselnya dan ternyata ada di kamar. Kemudian Aiden pergi menemui staf hotel untuk menanyakan tentang keberadaan Luna.


"Maaf Tuan, kami benar-benar tidak melihatnya. Mungkin saja Nona Luna sedang pergi keluar Atau mungkin pergi ke restoran untuk menyantap sarapannya."


Aiden menggeleng. "Tidak ada. Aku sudah melihatnya ke sana. Apa diantara kalian benar-benar tidak ada yang melihatnya sama sekali?" sekali lagi Aiden memastikan.


Orang-orang itu menggeleng. "Sungguh Tuan, kami benar-benar tidak melihatnya." Jawab mereka.


"CCTV, mungkin bisa membantuku menemukannya." Ucap Aiden.

__ADS_1


Manager hotel itu mengangguk. "Kalau begitu mari ikut saya." Kemudian dia membawa Aiden menuju ruang kontrol. Satu-satunya harapan Aiden dalam menemukan Luna adalah melalui rekaman CCTV. Dia terus berdoa dan berharap Luna baik-baik saja. Aiden tidak akan memaafkan dirinya jika hal buruk sampai terjadi pada Luna.


Akhirnya ada titik terang. Dari rekaman CCTV, Aiden bisa melihat Luna yang meninggalkan hotel dengan terburu-buru. Kira-kira 6 lebih seperempat Luna meninggalkan Hotel. Dia pergi dengan dijemput oleh sebuah sedan hitam. Aiden memang tidak tahu siapa yang menjemput Luna, tapi dia tahu nomor plat mobil tersebut.


Getar pada ponselnya menyita perhatian Aiden. Pria itu merogoh saku celananya untuk mengambil benda tipis yang kini berpindah dalam genggamannya. Ada satu pesan masuk dan itu sebuah pesan video.


Mata Aiden melebar melihat isi video tersebut. Di mana Luna yang disekap di dalam sebuah ruangan yang tidak layak di sebut sebagai tempat tinggal. Detik berikutnya, ponsel Aiden berdering di iringi getaran dan itu dari nomor yang sama.


Suara yang berasal dari telefon genggam yang menempel di telinga kanannya membuat Aiden mengepalkan tangannya. Otaknya berfikir dan mencari cara agar mereka tidak sampai melukai Luna. Dan Aiden tidak akan segan-segan menghabisi mereka semua jika Luna sampai kehilangan sehelai rambut saja.


'Datanglah seorang diri jika kau ingin gadis cantik ini selamat dalam keadaan utuh tanpa kurang apapun. Tapi jika kau berani membawa bala bantuan apalagi polisi, aku tidak bisa menjamin nyawanya masih melekat di tubuhnya.'


"Baiklah, aku akan datang sendiri." Tukas Aiden meyakinkan.

__ADS_1


Aiden menghubungkan ponselnya dengan laptopnya untuk melacak keberadaan Luna. Matanya terfokus pada titik merah kecil yang terus berkedip-kedip. Ia mencoba menemukan lokasi di mana Luna di sekab oleh para penculiknya.


'Tepati janjimu jika kau tidak ingin ada yang terluka, jika tidak? Maka akan fatal akibatnya.'


"Tentu aku mengerti, kau tidak perlu cemas." Sanggah Aiden sebelum sambungan telfon itu di putus oleh orang yang menghubunginya.


Sebisa mungkin Aiden menahan emosinya agar tidak meledak, jika dia sampai emosi dan marah, bisa-bisa keselamatan Luna berada dalam bahaya. Aiden tidak ingin mengambil resiko besar dengan membahayakan nyawa gadis itu, dan dia tidak akan mengampuni siapapun yang berani menyentuh apalagi melukainya.


Tanpa menghiraukan Manager hotel. Aiden pergi begitu saja, Luna sedang dalam bahaya dan menunggu untuk diselamatkan. Untuk itu Aiden tidak bisa membuang-buang waktu.


xxx


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2