Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Pertemuan Mengharukan


__ADS_3

"Barbara!!"


Tubuh wanita itu menegang setelah dia mendengar suara yang begitu familiar menyapu dan berkaur di telinganya. Sontak dia menoleh dan mendapati seorang lelaki tua yang sosoknya tak asing baginya berjalan menghampirinya. Pupil mata Barbara membulat, matanya berkaca-kaca menatap sosok yang sangat dia rindukan berdiri di hadapannya.


"David," dengan lirih Dia bergumam, menyebut nama lelaki itu. Barbara maju dua langkah ke depan. Dia mengangkat kedua tangannya dan memegang pipi David sambil mengunci manik mata hitamnya. "Benarkah ini dirimu?" tanya Barbara memastikan.


David Lu mengangguk. "Ya, ini aku." dan menjawab singkat.


Barbara tersenyum di tengah tangisannya lalu berhambur ke dalam pelukan mantan suaminya tersebut. "David, aku merindukanmu." Bisiknya dengan lirih. Kata rindu yang terucap dari bibir Barbara membuat sekujur tubuh David Lu gemetaran, tak menyangka jika Barbara akan mengatakan kalimat itu padanya.


David Lu semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Barbara. Melepaskan semua kerinduan yang terpendam selama 35 tahun. "Aku juga merindukanmu, sangat-sangat merindukanmu." Jawab David Lu setengah berbisik.


Dan pertemuan mengharukan itu disaksikan oleh dua pasang mata, yang tak lain dan tak bukan adalah putra dan putri mereka berdua, Teresa dan Jackie. Keduanya kemudian menghampiri sang ayah sambil menangis tangisnya. "Papa, tidak ingin kah kau memeluk kami juga?" teresa dengan suara parau menahan tangis.


Lalu David menggulirkan pandangannya pada kedua buah hatinya tersebut. Dia membuka kedua tangannya dan mempersilahkan mereka untuk masuk ke pelukannya. "Kemari Lah, Nak. Biarkan Papa memeluk kalian berdua," ucapnya dengan lirih. Si bungsu Jackie kemudian berlari menghampiri sang ayah dan memeluknya dengan erat.


Setelah menunggu selama 35 Tahun lamanya, akhirnya David Lu dipertemukan kembali dengan mantan istri dan kedua buah hati mereka. Kebahagiaan terlihat jelas di wajah tuanya yang penuh dengan guratan-guratan keriput yang hampir memenuhi seluruh bagian wajah dan kulit tubuhnya.


Frans dan Hwan yang menyaksikan hal tersebut sampai tidak kuasa untuk menahan air matanya agar tidak menetes, mereka menangis melihat pemandangan mengharukan di depannya. Akhirnya David Lu bisa bertemu dan berkumpul kembali dengan anak-anaknya.


"Ge, aku benar-benar terharu karena akhirnya Kakek bertemu kembali dengan keluarganya. Aku sampai-sampai ingin menangis." Ucap Frans yang mulai sesegukan.


Hwan menoleh dan menghela napas. Bagaimana bisa pria muda itu mengatakan jika dia ingin menangis padahal wajahnya sudah penuh dengan air mata. "Dasar konyol, lihat mukamu yang basah itu. Masih mau bilang ingin menangis," ucap Hwan sambil memberikan satu jitakan keras pada kepala Frans.


Lelaki itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Hwan menghela napas. Dia beranjak dari hadapan Frans dan pergi begitu saja, meninggalkan Frans dan menuju kamarnya. Dia lelah dan ingin segera beristirahat. Sadar ditinggalkan, Frans pun bergegas menyusul Hwan namun pergi ke kamarnya sendiri. Dia juga sudah lelah dan ingin segera beristirahat.

__ADS_1


Sedangkan David Lu masih saling melepaskan rindu dengan tiga orang yang paling berarti di dalam hidupnya. Dan David bersumpah serta berjanji pada dirinya sendiri, kali ini tidak akan melepaskan Mereka lagi apapun alasannya, jika masih ada kesempatan untuk kembali, David ingin memperbaiki hubungannya dengan Barbara dan memulai hubungan mereka kembali dari awal. Dia akan menebus semua kesalahannya di masa lalu.


xxx


Jam yang menggantung didinding menunjukkan pukul 01.00 dini hari, namun Kevin belum juga bisa menutup matanya. Pria itu masih tetap terjaga, dia masih enggan dan tidak bisa untuk menutup matanya meskipun rasa kantuk sebenarnya sudah menderanya sedari tadi.


Kevin melirik kearah Viona yang sedang terlelap. Rasa takut kembali menghinggapi perasaannya, dia benar-benar takut untuk kehilangannya.


Meskipun terkadang sikapnya pada Viona sangat dingin, namun bukan berarti Kevin tidak mencintai apalagi menyayanginya. Karena memang begitulah dia, Kevin tidak bisa berpura-pura menjadi orang lain hanya untuk mencintainya.


Kevin melihat pergerakan kecil Viona. Mata itu terbuka dengan sepuhnya. "Ge, kenapa belum tidur?" tanya Viona.


Wanita itu merubah posisinya, dan kini ia duduk berhadapan dengan Kevin. Salah satu tangan Viona menangkup sisi kiri wajah Kevin dan menatapnya dengan lembut. Dengan lembut, Kevin menarik tangan Viona dari wajahnya kemudian menggenggamnya.


"Aku belum mengantuk. Kenapa kau sendiri malah bangun?" tanya Kevin berbisik.


Kevin memegang wajah Viona tanpa melepas kontak matanya. Kemudian menarik wanita itu dan membawa Viona kedalam pelukannya. Viona mengangkat kedua tangannya, dan senang hati ia membalas pelukan suami tercintanya ini.


Keduanya sama-sama terdiam, menikmati kehangatan yang sama-sama mereka salurkan. Viona semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Kevin dan begitu pun sebaliknya. Pelukan Kevin masihlah sehangat dulu, hatinya menghangat dan rasanya sangat nyaman.


Viona ingin waktu berhenti detik ini juga, ia tidak ingin pelukan itu sampai terlepas. Viona takut, jika ia melepaskan pelukan itu maka ia tidak bisa merasakan kehangatan pelukan Kevin lagi.


Viona melepaskan pelukan itu, sejenak ia menatap mata hitam pekat milik Kevin sebelum memegang wajahnya dan menyatukan bibir mereka. Viona mellumat bibir Kevin dengan perlahan, atas dan bawah secara bergantian. Viona menggerakkan kepalanya, kedua tangannya memeluk pada leher Kevin.


Tak ingin kalah dari sang wanita, Kevin segara mengambil alih ciuman itu. Ia tidak suka di dominasi, dan kali ini ciuman dikuasai sepenuhnya olehnya. Dan Hal itu membuat Viona menggeram di tengah ciuman tersebut. Dia tidak suka Kevin mendominasinya, jelas-jelas dia yang ingin mendominasi

__ADS_1


Viona mengerang ketika lidah Kevin mengajak lidahnya menari, seperti tarian sensuall nan panas diiringi music erotiis yang memikat. Salah satu tangannya menarik pinggang Viona dan membunuh jarak diantara mereka. Tubuhh atas Viona yang berbalut piyama rumah sakit menyatu sempurna dengan dada bidang Kevin yang tertutup kemeja hitam.


Viona mencengkram baju belakang Kevin ketika pria itu semakin memperdalam ciumannya. Ciuman kali ini jauh lebih mengaiirahkan, tubuh Viona panas dingin menerima setiap sentuhan Kevin yang memabukkan. Tubuh Viona memberikan respon yang luar biasa, biibir mereka tidak lagi saling memagut.


Kevin menurunkan bibiirnya pada leher jenjang Viona yang muluss tanpa noda sedikitpun, lidah panjangnya menari erotiis diatas kulit seputih porselen itu hingga membuat sang empunya mengeram merasakan keniikmatan yang Kevin tawarkan. Setelah puas, biibir Kevin bergerak kearah telinga kiri gadis itu dan mengullumnya


"Eeungghh!!" Viona menggeram untuk yang kesekian kalinya, Kevin menyeringai ditengah aksi gilanya.


Setelah puas, Kevin menurunkan bibiirnya pada payuudaraa Viona. Lidahnya bermain-main disalah satu puttingnya dan putiing yang lain dimainkan oleh salah satu tangannya hingga membuat benda itu mengeras. Dessahan panjang tak bisa lagi Viona tahan ketika puntiingnya dikulluum oleh bibir Kevin


"Aaahhhh!!" wanita itu menjerit tertahan ketika Kevin menggigit ujung punttiingnya.


Sakit namum terasa nikmat, beberapa tanda kenikmatan Kevin tinggalkan disekitar punttiing Viona. Payyudaraa itu tidak besar namun begitu pas digenggaman Kevin. Setelah puas, Kevin kembali pada bibir Viona dan mellumattnya singkat. Bahkan jauh lebih singkat dari ciuman terakhir mereka.


Kevin menarik dirinya, mata hitam pekatnya mengunci manik Hazel milik Viona. Kvin tersenyum tipis, jari-jari besarnya menghapus sisa air liiur dibibir Viona.


"Sudah hampir pagi, sebaiknya kau segera tidur. Aku juga akan tidur!" Kevin mengecup kening Viona cukup lama, tangan kanannya menyentuh wajah wanita itu lalu membantunya untuk berbaring.


Kevin menarik selimut yang ada dibawah kaki Viona dan menyelimuti sang wanita sampai sebatas dada. Sekali lagi, kecupan sayang Kevin daratkan pada kening Viona sebelum ia kembali keranjangnya lalu membaringkan tubuhnya.


Mereka tidur dalam posisi berhadapan, mata mereka sama-sama terpejam dan dalam hitungan detik. Mereka sama-sama masuk kedalam mimpinya. Kevin akan terus memeluk Viona dan memberikan kehangatan yang nyata padanya. Kevin akan membiarkannya kedinginan, apalagi merasakan sepi tanpa ada dirinya.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2