
"Ahh, kenyang." Ucap Viona sambil mengusap perutnya.
Setelah mencuci mangkoknya dan mengembalikannya ke tempat semula. Viona kembali ke kamarnya dan mungkin saja Kevin sudah selesai mandi dan sekarang sedang berbaring santai di ranjang mereka.
Namun setibanya di kamar. Viona tidak melihat batang hidung Kevin , dia tidak tahu suaminya itu pergi ke mana. Viona pergi ke balkon, tetapi Kevin tidak ada di sana. Jika keluar pasti Viona melihatnya, tapi dia tidak melihat sang suami meninggalkan Villa.
"Kemana perginya, Paman? Omo, jangan-jangan dia di culik mahluk halus?" pupil mata Viona membulat sempurna.Viona menggeleng. "Itu tidak mungkin dan mustahil. Mana ada setan yang berani menculiknya, Paman adalah bapaknya setan jadi mereka pasti akan berpikir ulang sebelum menculik dia." Ujar Viona menggumam.
Wanita itu menyapukan pandangannya ke segala penjuru arah, mencoba mencari petunjuk tentang keberadaan Kevin saat ini. Sampai mata Hazel-nya melihat ada yang berbeda dengan eak buku yang berada di samping tempat tidur. Viona memiringkan kepalanya, entah kenapa dia merasa ada sesuatu di balik rak buku itu.
Dengan ragu, Viona mendorong rak kayu tersebut. Ajaib, dia menemukan sebuah ruangan di balik rak buku itu dengan sebuah pintu bercat coklat tua. Dan ternyata Kevin berada di ruangan dibalik pintu tersebut.
"Paman, apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Viona sambil melangkahkan kakinya menghampiri Kevin.
"Terjadi peretasan di perusahaan dan aku mencoba untuk mengatasinya. Tapi ternyata dia belut yang sulit di tangkap dan di tangani," tutur Kevin.
"Begitukah? Kalau begitu biar aku mencobanya." Ucap Viona. Kevin mendongak seketika. "Kenapa? Apa kau tidak yakin padaku? Biarkan aku mencobanya dan kau akan mengetahui kehebatanku." tukas Viona menambahkan.
Tanpa mengatakan apapun . Kevin bangkit dari kursinya lalu mempersiapkan Viona untuk menempati kursi tersebut, dia sangat penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh wanita itu selanjutnya. Viona terlihat begitu meyakinkan, dan semoga saja dia tidak mengecewakan.
"Sepertinya kita perlu berkenalan dulu pada mereka sebelum bertamu." Ucap Viona sambil meregangkan jari-jarinya.
Kevin menyipitkan matanya. "Perkenalan apa maksudmu?" tanya Kevin penasaran.
"Tunggu sebentar, aku akan segera kembali." Viona bangkit dari kursinya dan pergi begitu saja. Kevin tidak tahu kemana wanita itu hendak pergi, dan dia penasaran apa yang akan di lakukan oleh Viona setelah ini.
__ADS_1
Tidak sampai satu menit. Viona kembali dengan sesuatu di genggamannya. Dia mengangkat benda itu dan menunjukkannya pada Kevin. "Ini dia kawan kecilku, karya luar biasa yang telah aku ciptakan tanpa sengaja. Dan dia yang akan ikut berpartisipasi dalam 'pesta tanpa undangan' kita ini." Ujar Viona. Wanita itu menatap Kevin seraya menampilkan seringai tajamnya.
Iris hitam milik Kevin memandang dengan seksama benda apa yang dipegang oleh Viona sekarang, serta membiarkan otaknya berputar sejenak. "Untuk apa benda itu?"
"Tentu saja mempermudah permasalahan kita. Dan benda ini adalah virus—"
Kevin memotong pembicaraan Kevin. "Virus? Sekali dilihat itu juga sebuah kotak yang hanya berisi sebuah memory card yang berjenis micro SD." ucapnya Kevin mengomentari benda kecil itu.
Dengan geram, Viona memukul dada bidang Kevin. Kenapa tiba-tiba otaknya jadi agak sedikit tulalit begitu? Mungkin karena efek percintaan mereka tadi. Dan dengan sebuah kepala tangan.
"Aku juga tahu! Dan aku belum selesai menjelaskan. Jadi sebaiknya Paman diam dulu, jangan banyak komentar. Intinya jangan terlalu meremehkan benda kecil ini." Tuturnya.
Kevin menghela napas berat. "Maaf, silakan lanjutkan." pintanya datar.
Viona mengangguk. "Ini adalah virus hasil buatanku beberapa tahun yang lalu. Aku pernah memakainya sekali untuk meretas data-data perusahaan yang mencari gara-gara denganku. Dan berkat benda ini, perusahaan itu akhirnya gulung tikar dan mengalami kebangkrutan. Dan aku menciptakannya juga tanpa sengaja."
"Dengan kata lain, hanya dapat berada dalam satu tempat yakni software buatanku, yang menjadi wadahnya. Kemudian aku memasukkannya ke dalam memory card ini. Dan benda kecil ini benar-benar berguna untuk kita saat ini." ujar Viona panjang lebar.
Kevin menatap wanita itu dengan tatapan yang sulit di jelaskan. Satu kejutan lagi setelah sebelumnya mengetahui jika ternyata Viona sangat mahir dalam bela diri. Dan sekarang Kevin malah mendapatkan kejutan baru jika ternyata Viona adalah seorang ahli dalam dunia hacking.
Viona menggulung rambutnya keatas. Dia mulai fokus dengan layar komputer yang menyala disebuah ruangan yang gelap . Iris Hazel-nya memandang serius ke monitor. Jari-jari lentiknya dengan lincah menari diatas keyboard, sesekali tangan kanannya itu berpindah memegang mouse yang ada di sebelah keyboard.
Tiba-tiba jari-jarinya berhenti menekan tombol-tombol yang ada di keyboard.
"Finally," gumam Viona sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
Detik berikutnya, jarinya itu menekan tombol 'Enter' dengan semangat. Setelah menunggu loading yang cukup lama, monitor komputer itu memperlihatkan dua kata berwarna merah terang.
Hacking Success
Bibirnya pun menyeringai puas. "Paman, aku sudah menyelesaikannya. Ternyata yang mencuri data-data perusahaan adalah saingan bisnismu sendiri. Dia sengaja menyewa seorang hacker ternama untuk menyempurnakan rencananya. Tapi aku berhasil mengatasinya." tutur Viona.
"Kau benar-benar melakukannya?" Kevin menatap Viona tak percaya.
Wanita itu mengangkat bahunya. "Tentu saja. Kenapa, apa kau tidak percaya aku bisa melakukan sesuatu yang luar biasa?" tanya Viona sambil menatap Kevin dengan kecewa.
Kevin menggeleng. "Bukan seperti itu. Hanya saja aku heran dan bingung bagaimana kau bisa melakukannya, memangnya kapan kau mempelajarinya?" tanya Kevin penasaran.
"Saat aku masih kuliah di luar negeri. Bukankah wanita harus serba bisa supaya dia tidak hanya menjadi beban." Tutur Viona.
Viona hanya ingin Kevin bangga pada dirinya, karena pada akhirnya dia tidak hanya menjadi beban untuknya. Yang terpenting Viona ingin sejajar dengannya. Dan dia telah mewujudkan keinginannya tersebut.
Kevin tersenyum tipis. "Ternyata sekarang kau sudah dewasa, dan mengerti banyak hal. Viona, Paman benar-benar bangga padamu. Tidak salah Paman mendidik mu untuk menjadi wanita tangguh dan mandiri. Dan akhirnya hal itu berguna juga untuk dirimu." Ujar Kevin sambil menepuk kepala Viona.
"Tentu saja karena aku belajar dengan sungguh-sungguh, supaya aku bisa sepadan dengan Paman. Paman, adalah memotivasiku. Dan sejak kecil aku ingin seperti Paman, hebat dan mandiri." Tutur Viona.
Lagi-lagi Kevin tersenyum mendengar ucapan Viona. Gadis kecilnya telah tumbuh dewasa. Dan Kevin sangat bangga padanya. Dia bangga pada Viona."Ya, sudah ayo kembali ke kamar dan istirahat. Aku lelah dan kepalaku agak sedikit pusing." Ucap Kevin.
Viona tersenyum sambil menganggukkan kepala. Sebenarnya bukan Kevin saja yang lelah dan mengantuk tetapi Viona juga, apalagi dia baru saja di hajar Kevin habis-habisan. Untuk itu Viona ingin tidur lebih awal.
xxx
__ADS_1
Bersambung