Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Kenapa Harus Aku?!


__ADS_3

"Hwan,"


Hwan dan Menghentikan langkahnya setelah mereka berdua mendengar seseorang Memanggil nama 'Hwan' dengan lantang. Kemudian mereka berdua menoleh ke belakang dan mendapati Donny berjalan menghampiri keduanya.


Donny Wang, saudara Hwan dari ayah yang sama namun ibu yang berbeda."Hwan, hari ini adalah ulang tahun Papa, apa kau tidak ingin pulang untuk mengucapkan selamat padanya?" ucap Donny tanpa basa-basi.


Hwan menatap Donny dengan sinis. "Kenapa aku harus pulang? Aku sudah tidak hubungannya lagi dengan keluarga kalian, jadi untuk apa aku harus repot-repot datang hanya untuk sesuatu yang tidak penting?! Maaf, Donny. Tapi aku sangat sibuk. Ayo, Frans." Hwan beranjak dari hadapan Donny dan pergi begitu saja.


Hubungannya dengan keluarga Wang telah berakhir sejak dia di usir keluar dari rumahnya sendiri. Karena sejak saat itu, Hwan telah memutuskan hubungan dengan mereka.


Dia tidak ingin lagi terlibat hubungan dengan keluarga yang hanya memberinya tekanan batin , apalagi sekarang Hwan telah menemukan keluarga yang benar-benar bisa menghargai dan menerima dirinya. Meskipun bukan keluarga kandungnya, namun mereka lebih baik.


"Dasar anak durhaka!! Jangan mentang-mentang kau sekarang sudah memiliki kehidupan yang jauh lebih baik, maka kau bisa bersikap seperti ini. Jangan pernah lupa dari mana kau berasal. Tunas tidak akan tumbuh tanpa ada akar, jangan lupakan jika dia adalah ayahmu. Tanpa dia kau tidak mungkin hidup sampai sekarang!!" teriak Sonny dengan lantang.


Hwan dan Frans menghentikan langkahnya setelah mendengar apa yang Donny katakan. Hwan kemudian berbalik badan dan menatap Donny dengan pandangan sinis dan tajam.


"Aku tahu dan aku tidak lupa. Lagi pula tidak akan ada asap jika tidak ada api. Seorang anak tidak selamanya salah dan orang tua tidak selamanya benar. Jadi jangan pernah merasa jika diri kalian yang paling benar," ujar Hwan.


"Kau~"


"Mulai hari ini, kerjasama kita batal. Aku tidak ingin berkerjasama dengan perusahaan sampah milik kalian yang hobinya bermain curang curang dan curang!! Frans, ayo." Hwan dan Frans melanjutkan langkahnya dan pergi begitu saja.

__ADS_1


Donny mengepalkan tangannya dan atap kepergian Hwan dengan marah. Donny bersumpah akan membalas penghinaan hari ini berlipat-lipat. Dia ingin melihat bagaimana Hwan akan menghadapinya jika dia sudah bertindak dan mengambil langkah lebih jauh. Dan Donny yakin, jika Hwan tidak dapat berkutik sama sekali.


"Tunggu dan lihat saja bagaimana aku akan menghancurkan mu!!" ucap Donny dengan emosi. Kemudian Donny melenggang pergi meninggalkan Lu Corp.


Donny tidak akan membiarkan Hwan terus meremehkan dirinya. Dia pasti akan menemukan cara untuk menghancurkannya. Hwan akan hancur ditangannya.


xxx


Viona tidak dapat menahan air matanya ketika melihat seorang sepasang suami istri yang baru saja lewat di depannya. Bukan kemesraan mereka yang membuatnya menangis, melainkan karena si wanita sedang hamil. Terbesit rasa isi di hati Viona melihat orang lain lebih beruntung darinya. Mereka bisa mempertahankan kehamilannya sampai besar sementara dirinya tidak.


Air mata yang tadinya hanya menggenang di pelupuk matanya sekarang berjatuhan membasahi wajah cantiknya. Hatinya benar-benar sakit dan Viona tidak bisa menahannya. Dadanya rasanya begitu sesak sampai-sampai membuat Viona kesulitan untuk bernapas.


Alih-alih menjawab pertanyaan Kevin. Wanita itu malah berhambur ke pelukannya. "Ge, Kenapa Tuhan begitu kejam pada kita? Dia membiarkan orang lain melahirkan anaknya, sementara aku tidak. Kenapa dia harus merenggutnya dari kita, kenapa? Aku ingin anakku kembali, aku ingin anakku!!" tangis Viona semakin pecah dalam pelukan Kevin. Seketika pertahanan Kevin runtuh mendengar isakan Viona yang terdengar begitu menyayat hati.


Laki-laki itu menengadahkan wajahnya. Mencoba menghalau cairan bening yang hendak mengalir dari pelupuk matanya. Dia memahami betul apa yang Viona rasakan karena Kevin merasakannya juga, meskipun dia tidak sehancur Viona, karena Kevin sudah merelakannya.


"Jangan terus-terusan menyalahkan Tuhan. Dia lebih tau yang terbaik untuknya di bandingkan kita. Mungkin saja Tuhan tidak ingin dia terlahir di tengah konflik yang sedang terjadi. Tuhan lebih menyayanginya, dan saatnya tiba pasti dia akan mengembalikan dia pada kita. Jangan berkecil hati, percayalah jika Tuhan sedang menyiapkan rencana yang indah untuk kita." Ujar Kevin. Dia mencoba untuk menenangkan Viona.


Kevin tahu jika sampai detik ini Viona masih belum bisa melupakan tentang kejadian beberapa bulan yang lalu, di mana dia harus kehilangan janinnya yang baru beberapa Minggu. Padahal Viona sangat-sangat menantikannya tapi Tuhan malah mengambilnya dengan cara yang sangat kejam.


"Tapi kenapa harus dengan mengambilnya? Aku benar-benar tidak rela, Ge. Aku tidak rela," lirih Viona berbisik.

__ADS_1


Kevin tidak mengatakan apapun lagi, dia memilih untuk diam sambil terus memeluk Viona yang masih menangis. Kevin tidak bisa menganggapnya cengeng apalagi berlebihan, karena dia juga merasakan sakitnya seperti yang Viona rasakan.


Saat Viona mulai tenang, Kevin melonggarkan pelukannya dan menatap wanita itu dengan sendu. Dengan lembut, jari-jari besarnya menghapus air mata di pipi Viona. Kevin menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis.


"Lihatlah betapa Jeleknya dirimu saat sedang menangis," goda Kevin setengah mengejek. Alhasil sebuah pukulan mendarat mulus di dada bidang lelaki itu.


Viona merengut kesal. "Dasar menyebalkan, bisa-bisanya kau menyebutku jelek. Aku ini sangat cantik!!" ucapnya menegaskan.


Kevin tertawa. Dia tidak merasa bersalah sedikitpun meskipun sudah menyebut Viona dengan sebutan jelek. "Karena hanya orang jelek yang menangis." Jawab Kevin menimpali. Viona pun semakin kesal setelah mendengar yang baru saja Kevin katakan.


"Ge, kau sangat menyebalkan!!" ucapnya dan pergi begitu saja.


Kevin mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah Viona. Lelaki itu bangkit dari kursinya lalu bergegas menyusulnya. "Viona, tunggu aku."


"Tidak mau!!" jawab Viona sambil menjulurkan lidahnya. Kemudian wanita itu berlari dan Kevin mengejarnya. Mereka seperti anak kecil yang sedang kejar-kejaran karena berebut mainan.


Orang-orang yang melihatnya hanya bisa menghela napas dan menggelengkan kepala. Tidak sedikit pula ada yang merasa iri dengan tingkah mereka berdua.


xxx


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2