
Viona menghampiri David Lu yang sedang duduk termenung sendirian yang di beranda. Dari ekspresi yang dia Tunjukkan, Viona tahu jika lelaki tua itu teramat sangat kesepian, dia melihat ada kesedihan di dalam mata hitamnya.
"Kakek, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Viona dan mengalihkan perhatian pria tua itu.
David Lu menoleh, tertarik ke atas melihat kedatangan Viona. "Tidak ada, hanya melihat bintang. Kenapa sudah selarut ini kau belum tidur, Nak?" tanya David Lu.
"Aku belum mengantuk, lalu kenapa Kakek sendiri belum tidur?" Viona balik bertanya.
"Kakek, juga belum mengantuk. Tiba-tiba saja aku teringat pada keluargaku. Jika bukan karena keegoisan dan kebodohanku, mungkin sampai sekarang kami berempat masih berkumpul dan menjalani hidup dengan bahagia." Ujar David Lu sambil tersenyum simpul.
Viona terdiam. Dia terpikir sesuatu. "Lalu di mana mereka sekarang? Maaf, Kakek. Bukannya aku ingin berniat lancang, tapi hanya sedikit penasaran." Ucap Viona. Sebenarnya dia merasa tidak enak pada David Lu karena sudah melewati batasannya.
"Tidak apa-apa, Nak. Lagipula tidak ada salahnya orang bertanya. Kakek, sendiri tidak tahu di mana mereka sekarang, informasi terakhir yang Kakek dengar saat ini mereka ada di Inggris. Mantan istri kakek telah menikah lagi, sementara anak-anak tumbuh menjadi orang yang sukses." Ujar David Lu menuturkan, pandangannya menerawang.
"Apa Kakek merindukan mereka bertiga?" tanya Viona memastikan.
David Lu mengangguk. "Ya, tapi Kakek hanya berani merindukan anak-anak bukan, Barbara. Kakek, tidak berani merindukannya karena dia telah memiliki suami yang sempurna dan teramat sangat menyayanginya. Andaikan saja Kakek memiliki banyak uang, pasti aku sudah pergi mencari mereka."
"Tapi sayangnya Kakek tidak memiliki cukup uang untuk mencari dan menemukan mereka. Jikapun ada untuk pergi ke sana, tapi apa mereka mau mengakui Kakek sebagai ayahnya jika tahu Ayahnya hanyalah pria tua yang miskin. Itulah Kenapa Kakek nekat datang kemari dan ingin merebut kekayaan milik mendiang Kakekku, tapi akhirnya aku sadar jika itu bukan milikku." Tutur David Lu panjang lebar.
Viona merasa miris mendengar setiap kata yang keluar dari bibir David Lu. Dan hanya dengan sekali melihatnya, Viona tahu jika lelaki tua itu bukanlah orang jahat.
"Kau tenang saja. Jika kau bersedia, kami berdua yang akan mengantarmu untuk bertemu dengan mereka..." Sahut Kevin. Dia sudah mendengar semua obrolan Viona dan David Lu. Seperti halnya Viona, Kevin juga tahu jika David bukanlah orang yang jahat.
Kevin menghampiri mereka berdua kemudian duduk di samping kanan David Lu, dia diapit oleh Kevin dan Viona. David pun merasa terharu, ternyata dia tidak sendirian.
__ADS_1
"Aku ingin bertanya satu hal padamu. Sebenarnya apa yang terjadi di masa lalu, sampai-sampai kau Terusir keluar dari rumah ini hingga namamu dicoret dari daftar ahli waris sehingga semua harta milik keluarga Lu jatuh ke tangan Kakek Joseph?" tanya Kevin sambil menatap David penasaran.
Kevin ingin mengetahui apa yang terjadi di masa lalu, dia ingin mengetahui kebenarannya karena Kevin yakin ada kesalahpahaman sehingga Kakek buyutnya mengusir David keluar dari kediaman Lu dan mencoret namanya dari daftar ahli waris.
Alih-alih menjawab, David justru memilih diam sambil menundukkan kepalanya. Dia bingung harus menjawab apa dan menjelaskan bagaimana, karena dia takut mereka berdua tidak mempercayai ceritanya, juga kebenaran 35 tahun yang lalu.
"Kakek, kenapa kau diam saja? Gege, bertanya padamu. Apa kau tidak ingin mengatakan apapun pada kami?" Viona menatap David Lu dengan pandangan sendu.
David menggeleng. "Bukannya begitu. Hanya saja Kakek takut kalian tidak mempercayai apa yang akan Kakek katakan, karena cerita ini tidak sama dengan yang pernah kalian dengar. Karena kebenarannya hanya Kakek dan Kakek kalian yang mengetahuinya." Jawab David Lu.
"Ceritakan saja!!" pinta Kevin menuntut. Dia benar-benar ingin mengetahui kebenarannya.
David Lu mengambil napas panjang dan menghelanya. Akhirnya dia memutuskan untuk menceritakan pada mereka berdua, mereka mau mempercayainya ataupun tidak, tergantung bagaimana mereka menilainya.
Kata demi kata terucap dari bibir pria tua itu dengan lancarnya. Tanpa ada keraguan sedikit pun. Dia bercerita dengan begitu lancar, seolah-olah itu bukanlah sebuah scenario bernarasi yang telah di tulis dan di persiapkan sebelumnya untuk menciptakan kebenaran palsu seperti yang ada di drama-drama.
David Lu mengambil jeda sesaat. "Aku di cap sebagai suami dan ayah yang buruk. Semua orang membenciku dan menganggap ku tamak serta gila harta. Tapi hanya itu satu-satunya cara yang bisa aku lakukan untuk menyelamatkan keluargaku serta calon pewaris utama, Lu Corp."
"Tapi sayangnya pengorbananku ini tidak dihargai sama sekali oleh Kakak, bahkan setelah dia tahu apa yang telah aku lakukan untuknya, dia adalah orang yang pertama kali meminta pada ayah agar mengusirku. Dan itu adalah kebenaran yang tersembunyi selama 35 tahun," air mata tampak mengalir dari sudut mata David Lu, ternyata dia adalah korban. Karena penjahat yang sebenarnya adalah mendiang Joseph Lu.
Baik Viona maupun Kevin tidak melihat kebohongan di kedua mata pria tua itu. Dan mereka berdua tahu jika David mengatakan yang sebenarnya, bukan hanya sekedar mengarang cerita. Mengatakan kebohongan pun tidak ada gunanya, karena Joseph Lu sudah tiada.
"Kakek, begitu besar pengorbanan yang kau berikan untuk keluargamu, tapi sayangnya pengorbananmu tidak mereka lihat sama sekali. Hidup dalam kebencian orang lain pasti sangat berat untukmu, kau menanggung semuanya sendirian selama puluhan tahun tanpa ada yang mengetahui fakta yang sebenarnya terjadi." Ujar Viona dengan mata berkaca-kaca.
Wanita itu tidak kuasa untuk menahan air matanya agar tidak menetes. Dia merasakan betul kesedihan yang dirasakan oleh lelaki tua tersebut, pasti tidak mudah baginya hidup dengan menanggung kesalahan orang lain selama puluhan tahun. Namun dia rela menahan rasa sakit itu demi menjaga nama baik kakak dan keluarganya, yang sayangnya pengorbanannya tidak di hargai sama sekali.
__ADS_1
"Jangan menangis, Kakek baik-baik saja. Lagipula semua sudah berlalu dan tidak ada yang perlu untuk di sesali. Yang Kakek inginkan sekarang adalah hidup dengan tenang di masa tua ini tanpa ada beban apapun. Hapus air matamu, Nak. Kau jangan menangis untuk, Kakek," pinta David Lu sambil menyeka air mata Viona.
"KAKEK!!" tiba-tiba Frans berlari menghampiri lelaki tua itu dan langsung memelukmu. "Maafkan aku karena telah berprasangka buruk padamu, bahkan aku memperlakukanmu dengan tidak sopan ketika kau pertama kali datang. Jika saja kau mengatakannya dari awal, sikapku tidak akan sekurang ajar itu. Kakek, maafkan aku, aku bersalah padamu." Ucap Frans penuh sesal.
Frans benar-benar menyesali sikapnya pada David Lu. Dia sudah kurang ajar padanya dan memperlakukannya dengan sangat buruk, jika saja tapi mengatakannya dari awal, pasti sikapnya tidak akan seburuk itu. Namun yang menjadi pertanyaannya adalah, apakah benar-benar akan mempercayainya Jika ia mengatakan yang sebenarnya? Sepertinya tidak.
"Sudah, jangan menangis. Tidak ada yang perlu untuk disesali, lagi pula itu juga bukan salahmu karena Kakek juga bersalah," ucap David sambil mengusap punggung Frans.
Frans mengangkat kepalanya dan mengangguk. "Ya, benar sekali, Kakek juga bersalah. Siapa suruh kau datang dengan sikap tengil dan menyebalkan!! Tapi belum terlambat untuk meminta maaf, aku benar-benar minta maaf Kakek, aku bersalah padamu." Frans benar-benar menyesali apa yang telah ia lakukan kepada David Lu.
Untungnya saja David Lu mau memaafkannya dan tidak mempermasalahkan apa yang ia lakukan tadi, karena sebenarnya David bukanlah orang yang jahat apalagi pendendam.
"Makanya jangan asal menyimpulkan dan asal menuduh mengetahui kebenaran yang sebenarnya!!" ucao Viona menimpali. Diagram dan kesal sendiri dengan sikap Frans pada David Lu tadi.
Frans menekuk mukanya dan merengut kesal. "Nunna, kau jangan menyalahkan ku namanya juga tidak tahu. Coba saja kau yang tadi berada di posisiku dan bertemu dengan kakek untuk pertama kalinya, pasti kau juga sebal dengan sikap tengiknya tadi." ujar Friends menggerutu
Kevin menghela nafas, jika tidak dihentikan perdebatan mereka tidak akan selesai bahkan sampai besok pagi.
"Sudah cukup kalian berdua, tidak perlu berdebat lagi dan saling menyalahkan!! Dan untukmu, aku berjanji akan membersihkan nama baikmu dan segera mempertemukan mu dengan anak-anakmu. Viona, ini sudah larut malam cepat tidur!!" Viona menganggukkan kepala, wanita itu bangkit dari duduknya dan melenggang pergi meninggalkan ketika pria itu.
Tanpa mengatakan apapun. Kevin beranjak dari sana dan pergi begitu saja. Dia lelah dan ingin segera beristirahat, perjalanan panjangnya tadi benar-benar menguras tenaganya. Di tambah lagi dengan rasa pening pada kepalanya yang rasanya seperti terhantam batu besar. Benar-benar bukan hari menyenangkan baginya
.
.
__ADS_1
Bersambung