Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Mengikuti Kevin


__ADS_3

Deru suara mobil yang baru saja meninggalkan halaman membuat kedua mata Viona yang sebelumnya tertutup rapat sekarang terbuka kembali. Wanita itu menyibak selimutnya kemudian turun dari ranjangnya. Dahinya berkerut dan matanya memicing melihat mobil Kevin melaju pergi malam-malam begini.


Viona terdiam dan bertanya-tanya kira-kira ke mana suaminya itu akan pergi. Penasaran kemana dia akan pergi, Viona pun memutuskan untuk menyusulnya. Mungkin saja dia melakukan tindakan yang berbahaya.


"Nona, Anda mau pergi ke mana?" tegur seorang pelayan saat melihat Viona yang pergi dengan terburu-buru.


"Paman, jam segini kira-kira masih ada kedai makanan yang buka tidak? Tiba-tiba aku ingin sekali makanan tradisional China yang di jual kedai kaki lima," ujar Viona. Tidak mungkin dia mengatakan pada pria di depannya ini jika ia akan pergi menyusul Kevin.


Lelaki itu tampak berpikir. "Sepertinya masih. Dulu waktu istri Paman hamil dan ngidam makanan tradisional..."


"Oke oke, aku akan mencarinya sendiri." Ujar Viona menyela ucapan Laki-laki tersebut. Dia pergi begitu saja sebelum laki-laki itu menyelesaikan ucapannya.


Viona pergi menggunakan mobil milik Tuan Lu. Saat ini pemiliknya sedang berada di luar negeri dan kunci mobilnya di berikan pada Kevin. Viona segera tancap gas, mobil sedan hitam mewah itu melaju kencang pada jalanan malam yang legang.


Mobil itu melaju dengan kecepatan penuh supaya bisa mengejar Kevin yang sudah menjauh. Dia tidak ingin kehilangan jejak Kevin. Viona benar-benar ingin tahu dia pergi ke mana. Dan setelah berhasil menyusul, Viona memperlambat laju mobilnya agar tidak terlalu ketara jika dia sedang di ikuti.


Tapi Kevin bukanlah Frans. Yang kurang peka pada keadaan di sekitarnya. Kevin memperlambat laju mobilnya saat melihat mobil milik kakeknya melaju tepat di belakangnya dalam jarak yang tidak terlalu jauh.


Kevin tidak tahu siapa yang mengikutinya. Untuk memastikannya, dia menghentikan laju mobilnya dan membuat mobil itu ikut berhenti juga. Kevin turun dari mobilnya lalu menghampiri mobil tersebut dan dia sedikit terkejut saat mengetahui siapa yang ada di dalam mobil sedan hitam tersebut.


"Viona, kenapa kau mengikuti ku?" tanya Kevin tanpa basa-basi.


Wanita itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tersenyum tiga jari. Kemudian Viona turun dan menghampiri Kevin. "Jangan salahkan aku, tapi salahkan dirimu yang pergi secara diam-diam!! Siapa suruh kau pergi tanpa memberitahuku, apalagi di tengah malam seperti ini. Memangnya siapa yang tidak curiga?!" ujar Viona panjang lebar.


Kevin menghela napas. "Aku pikir kau tadi sudah tidur, jadi aku tidak membangunkan mu. Di rumah terlalu suntuk, jadi aku memutuskan untuk jalan-jalan sebentar." Jelas Kevin menuturkan.


"Benarkah? Aku pikir kau sedang merencanakan hal yang tidak tidak. Baguslah, kalau begitu aku lega mendengarnya. Ge, bagaimana jika kita jalan-jalan bersama?" usul Viona dengan mata berbinar-binar.


"Lalu bagaimana dengan mobil, Kakek?" tanya Kevin.

__ADS_1


"Tetap aku yang mengemudikannya, aku akan jalan duluan dan kau mengikutiku dari belakang." Jawab Viona.


Kevin menganggukkan kepala. "Baiklah kalau begitu,"


Jalan dan mencari angin segar sebenarnya hanya alasan Kevin saja. Karena dia pergi bukan untuk itu. Tapi tidak mungkin Kevin mengatakan alasan dia yang sebenarnya pada Viona. Kevin tidak ingin melibatkannya dalam bahaya.


Sepertinya Kevin harus mempercayakan semuanya pada orang-orangnya untuk menyelesaikan semuanya. Karena tidak mungkin Kevin meninggalkan Viona begitu saja.


.


.


Mobil yang Viona kemudikan berhenti di sebuah kedai makanan, membuat Kevin ikut berhenti juga. Wanita itu segera dan pergi ke kedai tersebut. Aroma lezat makanan yang dijual di kedai tersebut membuat perut Viona langsung keroncongan.


"Ge, ayo cepat. Aku lapar," ucap Viona sambil menarik lengan Kevin memasuki kedai tersebut.


"Pelan-pelan saja, tidak perlu terburu-buru." Ucap Kevin menasehati.


Kevin mendengus geli. Dia hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Viona yang seperti anak kecil. Kemudian dia mengikuti Viona dan masuk ke dalam kedai tersebut yang ternyata penuh dengan para laki-laki yang hampir semuanya adalah preman kota ini.


Melihat ada wanita cantik mendatangi kedai di tengah malam seperti ini. Tentu saja membuat mereka kegirangan. Salah satu dari orang-orang itu bangkit dari duduknya lalu menghampiri Viona, dia mencoba untuk menggoda dan mengganggunya.


"Nona cantik, apa yang kau bukan malam-malam begini di luar? Bagaimana kalau kau menemani Gege Gege tampan ini minum dan bersenang-senang..."


"HAHAHA!!!"


Gelak tawa di dalam kedai itu pecah seketika setelah laki-laki itu menyelesaikan kalimatnya. Mereka menganggap jika ucapan laki-laki itu adalah hal yang lucu. Tanpa mereka sadari jika ada sosok iblis yang sedang mengintai mereka semua. Dan sosok itu berdiri tepat di samping Viona, siapa lagi dia jika bukan Kevin.


Mata kanannya meniti mereka satu persatu, seperti sudah menyiapkan sebuah rencana untuk memberikan pelajaran pada mereka semua. Dan sementara itu, Viona yang di goda tampak tidak terima, wanita itu terlihat mengepalkan tangannya. Tatapannya tajam dan mengintimidasi.

__ADS_1


"Nona, kau begitu cantik. Belum pernah kami melihat wanita secantik dirimu," ucap laki-laki itu sambil mengangkat tangannya lalu mengarahkan pada wajah Viona, yang dengan sigap di tahan dan di hempaskan oleh Kevin.


"Jangan coba-coba untuk menyentuhnya!!" pintanya dengan tatapan super dingin dan tajam.


Laki-laki itu kemudian bangkit dari posisinya. Dia tidak terima dengan apa yang Kevin lakukan padanya. "Kau sudah bosan hidup , ya?! Atau mungkin kau ingin mata kananmu ku buat cacat seperti mata kirimu?!"


"HA-HA-HA..." tawa kembali menggema di dalam kedai tersebut. Orang-orang menertawakan Kevin. Lagi dan lagi, tidak menyadari jika seekor singa yang sedang kelaparan cara mengintai mereka semua. Dan singa itu bersiap untuk menerkam mereka satu persatu. "Lakukan saja Bos, beri pelajaran pada si cacat itu!!"


JLEBB...


Sebuah pisau melayang kearah orang itu dan menancap tepat di kusen jendela tepat di samping kanannya. Hanya berjarak beberapa centi saja dari kepalanya. Tubuh laki-laki itu gemetaran dan keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Dengan kaku dia menoleh ke samping , kurang sedikit, hanya sedikit saja kemungkinan nyawanya melayang.


Tidak hanya orang itu saja yang terkejut namun semua yang ada di kedai tersebut, termasuk laki-laki yang baru saja menggoda Viona. Dia menatap Kevin dengan ngeri. Pria itu membuatnya hampir terkencing di celana.


"Ba..Bagaimana kau melakukannya?" ucapnya dengan suara terbata-bata.


"Itu hanya peringatan kecil untuk kalian semua. sekali lagi kalian berani menggoda dan mengganggu wanitaku, Aku pastikan pelatih itu akan memutus urat leher kalian. Viona, ayo pergi." Kevin meraih tangan Viona dan membawanya pergi meninggalkan kedai.


Di tengah langkahnya Viona terus memperhatikan wajah Kevin yang memerah karena emosi. Dia sedang menahan amarahnya, dan Viona tidak untuk bertanya apalagi menyinggungnya. Dia tidak ingin mendapatkan masalah dari Kevin, jika saja dirinya tidak mengajaknya ke kedai. Kejadian seperti barusan pasti tidak akan terjadi dan Kevin tidak mungkin terpancing emosi.


"Ge, apa kau marah padaku?" tanya Viona dengan hati-hati.


Kevin menoleh dan menatap wanita itu dengan tajam. "Jangan pernah lagi mengajakku untuk makan apalagi masuk ke kedai lagi, aku tidak Sudi!!" ucapnya lalu mendahului Viona. Kesal terlihat jelas di raut mukanya.


"Yakk!! Ge, kenapa aku di tinggal sendirian? Ge, tunggu aku!!"


xxx


Bersambung

__ADS_1


xxx


__ADS_2