
"GE..."
Viona berseru kencang sambil Melambaikan tangannya pada Kevin. Mereka berdua sedang berada di wahana permainan, dan Viona sedang menaiki Wahana komedi putar. Jujur saja Kevin merasa sedikit malu karena Viona satu-satunya orang dewasa yang menaiki Wahana tersebut.
Tanpa mengatakan apapun, Kevin berbalik badan dan melenggang pergi meninggalkan wahana tersebut. Kebetulan ada kedai kecil tepat di samping wahana, dan Kevin akan menunggu Viona di sana.
"Aahhh..."
Tubuh wanita itu terhuyung kebelakang saat tanpa sengaja bertabrakan dengan Kevin. Karena terburu-buru, dia sampai tidak melihat seseorang berjalan arah dengannya. Untungnya dia tidak sampai jatuh dan berciuman dengan tanah.
Wanita itu mengangkat wajahnya dan hendak membuat perhitungan dengan Kevin, namun hal tersebut dia urungkan saat melihat wajah tampannya. Wanita itu tidak berkedip sedikitpun, terlihat jelas jika dia terpesona pada Kevin.
"Ya, Tuhan. Yang di hadapanku ini dewa atau manusia? Dia tampan sekali," ucapnya membatin.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Kevin memastikan.
Wanita itu menggelengkan kepala, meyakinkan pada Kevin Jika dia baik-baik saja. "Ya, aku tidak apa-apa. Oh ya perkenalkan, aku Denada." wanita itu mengulurkan tangannya pada Kevin dan memperkenalkan dirinya.
Alih-alih menerima uluran tangan itu, kevin malah mengabaikannya dan melengos pergi. Tentu saja hal tersebut membuat wanita itu melongo. Karena baru kali ini dia diabaikan oleh laki-laki.
"Wow, dia benar-benar luar biasa, baru kali ini seorang Denada diabaikan oleh laki-laki. Lihat saja nanti Bagaimana aku akan membuatmu bertekuk padaku!!" Denada mengibaskan rambut panjangnya dan melenggang pergi.
Kevin bukanlah tipe pria yang mudah tergoda oleh kecantikan wanita. Lagipula dia sudah memiliki yang sempurna, jadi untuk apa lagi mencari yang lain?! Dan dalam hidupnya, dia hanya akan mencintai satu wanita, yakni Viona.
Suara dering pada ponselnya menyita perhatian Kevin yang sedang menikmati kopinya, nama Viona tertera dan menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Kevin membaurkan ponselnya terus berdering, dia meninggalkan sejumlah uang di atas meja cafe lalu melenggang pergi. Dari jarak lima meter, Kevin melihat Viona yang tampak kebingungan mencarinya.
__ADS_1
"Viona," wanita itu menoleh setelah mendengar seseorang memanggil namanya.
"Ge, kau dari mana saja? Aku mencari mu kemana-mana, tapi kau tak ada!!" Viona melayangkan protesnya pada Kecil, kesal terlihat jelas di wajah cantiknya.
"Aku tidak dari mana-mana. Apa kau sudah puas bermain? Ayo pulang,"
Viona menggeleng. "Tidak sekarang!! Masih ada satu Wahana lagi yang ingin sekali aku naik, dan kali ini aku ingin menaiki Wahana ini bersamamu, dan kau tidak boleh menolaknya."
"Memangnya wahana apa yang ingin kau naiki?" tanya Kevin.
Viona tersenyum lebar sambil menunjuk kincir angin raksasa. "Itu," dan memberikan jawaban singkat. "Ge, mau dan aku tidak ingin mendengar alasan apapun!! Tidak ada penolakan, dan aku tidak ingin mendengar kata tidak!!"
Kevin menghela nafas. Dia menganggukkan kepala, menyetujui ajakan Viona. Setelah mendapatkan karcisnya, mereka berdua di persilahkan menaiki kincir angin tersebut. Dan Viona tampak begitu antusias. Kevin memandangnya dengan tatapan yang sulit di jelaskan. Dia amat sangat bersyukur memiliki istri sebaik, secantik, dan sepengertian Viona. Dia adalah permata terindah dari segala permata indah yang ada di bumi. Dan dia akan terus menjaganya.
Kevin menggenggam erat tangan Viona. Pemandangan dari atas benar-benar memukau. Semuanya tampak menjadi kecil saat merwka memandangnya dari ketinggian. Kevin melirik ke arah Viona, dia tampak senang saat ini. Hal ini membuatnya ikut tersenyum juga melihat kebahagiaannya. Karena melihatnya bahagia, sungguh merupakan kebahagiaan tersendiri baginya.
Kevin mengangguk. "Ya, bahkan bumi jadi terasa jauh saat kita berada di atas seperti ini," balas Kevin sambil menatap ke bawah.
"Kau percaya? Jika sepasang kekasih berciuman diatas kincir angin saat mencapai puncaknya, maka cinta mereka akan kekal!!" kata Viona sambil menatap Kevin yang duduk di depannya.
Pria itu menggeleng. "Aku belum pernah mendengarnya, jadi mana bisa aku percaya!!" jawabnya seperti biasa, datar.
"Saat masih kecil, aku memiliki sebuah impian. Ketika dewasa, aku ingin menaiki sebuah kincir angin bersama pasangan ku kemudian kami berciuman saat kincir itu tiba di puncaknya!" Viona tersenyum, wajahnya memerah, ia merasa geli dengan impian masa kecilnya dulu.
"Dan kau sudah mewujudkannya?" tanya Kevin dan di balas gelengan oleh Viona.
__ADS_1
"Belum," dia menjawab singkat. ,
"Kalau begitu biar aku yang mewujudkannya," ucap Kevin menimpali.
Kevin meraih wajah Viona lalu mencium bibinya tepat ketika kincir angin mencapai puncaknya. Namun sayangnya ciuman itu tidak berlangsung lama, Kevin mengakhiri ciumannya kurang dari setengah menit. "Aku sudah mewujudkan keinginan konyol mu itu, dan aku berharap cinta kita berlangsung selamanya," Kevin mendekatkan wajahnya dan menempelkan keningnya pada kening Viona.
"Ya, itu juga yang aku harapkan," balas Viona menimpali.
Mereka saling menjauh ketika kincir angin berhenti. Kevin mengulurkan tangannya membantu Viona untuk turun. Karena sudah larut malam, mereka pun memutuskan untuk pulang.
xxx
Frans bangkit dari duduknya saat mendengar deru suara mobil memasuki halaman kediaman Lu. Dia berlari keluar saat melihat Kevin keluar dari mobil tersebut. "GE..." dia berteriak dan menubruk tubuh Kevin. Dengan erat Frans memeluk sang kakak. "Ge, kau pergi ke mana saja? Apa Kau tahu aku mencemaskan mu dan sangat merindukanmu," ucap Frans.
"Aku hanya pergi beberapa hari saja, tapi kalian begitu heboh. Kalian memenuhi ponselku dengan pesan singkat dan puluhan panggilan tidak terjawab." Ucap Kevin sambil mengusap punggung Frans.
"Itu karena kami sangat mencemaskan mu. Kami semua sangat panik karena kau tiba-tiba menghilang tanpa kabar, ponselmu juga tidak bisa dihubungi, kami sempat berpikir jika kau di culik atau dicelakai orang " Tutur Frans.
Kevin tersenyum tipis. "Memangnya siapa yang bisa melukaiku? Apa mereka cari mati?" ucapnya menimpali.
Frans mengangguk. "Benar juga, memangnya siapa yang berani menculik dan melukai iblis sepertimu." Ucapnya sambil melonggarkan pelukannya. Pupil mata Frans membulat sempurna melihat kondisi Kevin sekarang. "Ge, mata kirimu!!" kaget Frans sambil menggantung ucapannya.
"Aku pergi untuk ini. Sekarang sudah tidak ada lagi yang perlu kalian cemaskan. Ya, sudah. Aku pergi istirahat dulu." Ucap Kevin dan pergi begitu saja. Sedangkan Viona sudah pergi duluan karena dia kebelet pipis.
Hwan menghampiri Frans dan menepuk pelan bahunya. "Dia sudah pulang?" Frans mengangguk. "Syukurlah, aku ikut lega mendengarnya. Sebaiknya kau pergi istirahat juga, kau pasti lelah setelah seharian bekerja." Pinta Hwan dan di balas anggukan oleh Frans. Dia beranjak dari hadapan Hwan dan pergi begitu saja.
__ADS_1
xxx
Bersambung