
Viona tak henti-hentinya tersenyum. Air mata tampak menetes dari pelupuk matanya, dia begitu terharu dengan perhatian yang Kevin berikan untuk calon anak mereka. Jari-jari besarnya mengusap perut Viona dengan lembut, ada kehidupan di dalam sana yang sangat-sangat mereka nantikan kehadirannya.
"Hai, Nak. Bagaimana kabarmu hari ini? Baik-baik di dalam sana, jangan nakal-nakal dan jaga Mamamu dengan baik. Papa, teramat sangat menyayangimu, sampai jumpa 6 bulan ke depan." Ucap Kevin sambil terus mengusap perut Viona.
Kehamilan Viona baru memasuki bulan ketiga, yang artinya mereka harus menunggu selama 6 bulan lagi. Baik Viona maupun Kevin, mereka berdua sama-sama tidak sabar menanti kehadiran calon buah hatinya yang saat ini masih berada di perut Viona.
"Ge, apa kau bisa merasakannya?" tanya Viona dan dibalas anggukan oleh Kevin.
Wanita itu mengangkat tangannya. Jari-jari lentiknya mengusap perutnya dengan lembut. Senyum tak pudar sedikitpun dari wajah cantiknya, kebahagiaan yang dia rasakan membuat Viona tak henti-hentinya tersenyum.
"Rasanya aku sudah tidak sabar menunggu untuk bertemu dengannya. 6 bulan bukanlah waktu yang singkat, dan aku ingin hari itu cepat datang supaya kita bisa segera bertemu dengannya." Ucapnya dengan senyum yang sama. Pandangannya tetap tertuju pada perutnya, jari-jari lentiknya terus mengusap perut itu dengan lembut.
"Aku juga. Kita harus sedikit bersabar sampai waktu itu tiba." Kevin menggenggam tangan Viona sambil menatap manik Hazel-nya. Wanita itu menganggukkan kepala.
"Ge, kau ingin bayi laki-laki atau perempuan?" tanya Viona.
"Mau laki-laki ataupun perempuan bagiku sama saja dan tidak ada bedanya. Yang terpenting kalian berdua sama-sama sehat dan selamat, hanya itu yang aku inginkan." Jawab Kevin.
Bagi Kevin, gender tidaklah penting. Mau laki-laki ataupun perempuan baginya sama saja, yang terpenting adalah Ibu dan bayinya lahir dengan selamat dan sehat. Itu sudah lebih dari cukup untuknya. "Aku mandi dulu, kau ingin tetap di kamar atau jalan-jalan di taman?" tanya Kevin.
"Aku bosan terus-terusan di kamar. Aku akan pergi ke taman untuk memetik beberapa bunga. Bunga yang aku petik kemarin sudah layu, dan harus diganti." jawabnya dan dibalas anggukan oleh Kevin.
"Baiklah, aku nanti akan menyusul." Kevin mengecup singkat bibir Viona lalu pergi begitu sama.
Setelah Kevin masuk ke kamar mandi. Viona melenggang keluar meninggalkan kamarnya. Dia hendak pergi ke taman untuk memetik beberapa tangkai mawar, untuk menggantikan bunga yang mulai layu. Cuaca hari ini sangat bersahabat jadi Viona tidak perlu topi atau pelindung apapun untuk melindungi kepalanya dari sengatan matahari.
Seorang pelayan menghampiri Viona. "Nona, Anda mau pergi ke mana?" tanya pelayan itu.
"Siapkan gunting dan keranjang untukku, aku ingin memetik beberapa tangkai mawar di taman." Ucapnya dan dibalas anggukan oleh pelayan tersebut. Dan pelayan itu berniat untuk membantu dan menemaninya.
"Nona, Apa yang terjadi pada, Tuan Muda? Kenapa beliau pulang dalam keadaan terluka?" tanya pelayan itu penasaran. Dia terpaksa bertanya karena tidak ingin rasa penasaran semakin membuatnya tidak nyaman.
__ADS_1
Viona menoleh. Pelayan itu buru-buru menundukkan kepalanya, sepertinya dia sudah terlalu jauh dan membuat Nona nya marah. "Kevin Gege, mengalami insiden kecil ketika dalam perjalanan pulang. Dia mengalami kecelakaan tunggal karena seekor kucing. Tapi untungnya lukanya tidak terlalu parah, dan hanya luka ringan saja." Jawab Viona.
Pelayan itu mengangkat kepalanya yang sebelumnya tertunduk. Dia tidak menduga jika Viona akan menjawab pertanyaannya, bahkan dia memberitahunya alasan Kevin sampai mengalami kecelakaan, dan ternyata karena seekor kucing. Untungnya lukanya tidak parah apalagi yang berakibat fatal bagi keselamatannya.
Mereka berdua terus berbincang. Dan obrolan mereka sekarang seputar kehamilan. Viona menanyakan banyak hal pada pelayan itu yang sudah beberapa kali melahirkan. Pelayan itu sudah jauh lebih berpengalaman darinya, di wajar bila Viona banyak-banyak bertanya padanya, jika dirinya belum pernah melahirkan sekalipun.
"Apa kau bilang, melahirkan itu rasanya menyakitkan? Apa memang sesakit itu rasanya? Kata dokter rasanya tidak terlalu sakit hanya seperti orang yang mau buang air besar, Memangnya benar ya?" tanya Viona memastikan.
Pelayan itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia bingung harus menjawab apa dan menjelaskannya bagaimana. "Bagaimana , ya. Nona akan merasakannya sendiri saat tiba waktunya melahirkan. Saya benar-benar tidak bisa mendeskripsikan dengan kata-kata, nanti jika saatnya tiba pasti Nona juga akan merasakannya." Ujar pelayan tersebut menuturkan.
Dia benar-benar bingung harus menjawab apa dan menjelaskan bagaimana, karena rasanya ketika hendak melahirkan tidak bisa di deskripsikan dengan kata-kata.
Viona menghela nafas dan menganggukkan kepala. Selanjutnya kebersamaan mereka berdua diwarnai dengan keheningan, tidak ada lagi obrolan di antara Viona dan pelayan tersebut. Mereka berdua sama-sama diam dalam kebisuan.
xxx
Tepat saat Kevin keluar dari kamar mandi, tiba-tiba ponselnya berdering, menandakan ada panggilan masuk. Kevin meletakkan handuknya lalu mengambil ponsel tersebut. Nama Frans tertera dan menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Dia tidak tahu kenapa Frans tiba-tiba menghubunginya.
Tanpa berpikir panjang, kevin pun segera menerima panggilan tersebut. "Ada apa kau menghubungiku?" tanya Kevin tanpa basa-basi.
Kevin mendengus geli. "Tidak perlu berlebihan, aku baik-baik saja dan hanya luka kecil. Aku juga tidak mengalami patah tulang, apalagi luka yang sangat fatal. Aku masih sibuk, aku tutup dulu telponnya." Kevin memutuskan sambungan telepon itu begitu saja lalu meletakkannya di tempat semula.
Jika diteruskan akan sangat panjang, karena sudah pasti Frans akan banyak mengeluh padanya. Dan Kevin terlalu malas untuk mendengar semua keluhan-keluhannya. Dan dia berani bersumpah, pasti peran sedang ngomel-ngomel di seberang sana karena dia memutuskan sambungan telepon itu begitu saja. Tetapi Kevin tidak mau ambil pusing, dia masa bodoh. Yang penting dia mendapatkan ketenangan.
Setelah berpakaian lengkap. Kevin mengambil kotak p3k, dia hendak mengobati lukanya dan menganti perbannya dengan yang baru. Lukanya masih terlihat basah dan memerah, wajar saja karena luka itu dia peroleh siang tadi.
"Ge, biar aku saja yang melakukannya..." Viona tiba-tiba datang dan menghampiri Kevin. Wanita itu menghampiri suaminya setelah meletakkan bunga yang baru saja ia petik di atas meja.
"Kau sudah selesai?" Viona mengangguk. Kemudian wanita itu duduk berhadapan dengan Kevin.
Viona mengambil kapas bersih lalu melumuri dengan cairan obat yang kemudian dia arahkan pada luka di kening Kevin. Pria itu dengan reflek menutup matanya saat masakan peri yang luar biasa ketika kapas itu menyentuh lukanya. Viona menatap wajah suaminya yang tampak kesakitan.
__ADS_1
Dengan lembut, Viona meniup luka itu untuk mengurangi rasa sakit yang ditimbulkan setelah terkena cairan obat. Lalu melanjutkannya dengan mengoleskan salep luka, dan terakhir menutupnya kembali dengan perban.
"Apa kau yang memberitahu Frans jika aku baru saja mengalami kecelakaan?" tanya Kevin dan dibalas anggukan oleh wanita itu.
"Ya. Tadi dia menghubungiku dan menanyakan tentang keadaanmu, jadi aku jawab saja yang sebenarnya. Aku memberitahunya jika kau baru saja mengalami kecelakaan tunggal," jelas Viona. Kemudian dia mengangkat kepalanya dan menatap Kevin. "Apa dia menghubungimu dan memberitahumu jika aku yang memberitahunya?"
Kevin mengangguk. "Ya, bocah itu memberondong ku dengan beberapa pertanyaan dan otu membuat kepalaku semakin pusing."
Viona terkekeh. "Seperti kau tidak mengenalinya saja. Bukankah memang begitu dia, selalu bersikap berlebihan. Tapi asal kau tahu saja, itu adalah bentuk dari rasa peduli dan cintanya padamu," ucap Viona di tengah kesibukannya.
"Ya, aku tahu." Kevin menganggukkan kepala. "Tapi jujur saja aku sedikit terganggu dengan ocehan-ocehan dan pertanyaannya. Apalagi dengan keadaanku yang sekarang, itu malah membuat kepalaku terasa pening."
Lagi-lagi Viona terkekeh. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kesalnya Kevin jika Frans ada di sini. Pasti dia akan uring-uringan tidak jelas karena pertanyaan-pertanyaan yang nyeleneh bin aneh.
"Oya, Ge. Hari ini aku ingin makan yang segar-segar. Bisakah kau menemaniku keluar untuk membelinya? Mango stek rice, aku ingin makan itu tapi langsung dari Thailand, mau ya... Ayo kita ke sana, janji tidak akan lama dan hanya untuk memili itu saja." Rengek Viona sambil terus mengundang lengan terbuka Kevin.
Kevin menghela napas. "Memangnya harus ya terbang ke Thailand hanya untuk membeli Mango stek rice? Bukankah di sini juga banyak, tidak perlu ke sana kita beli di sini saja." Jawab Kevin. Dia menolak mentah-mentah ajakan Viona untuk pergi ke Thailand hanya untuk membeli mango stek rice.
Viona menggeleng. "Tidak mau!! Pokoknya Aku mau makan yang dari Thailand langsung, kalau kau tidak mau biar aku sendiri saja yang pergi ke sana, lagipula bukan permintaanku tetapi janin yang ada di perutku." Ujar Viona mulai pundung.
Lalu pandangannya bergulir pada perutnya. Viona mengusap perut itu sambil menangis. "Nak, kau sudah mendengarnya sendiri bukan? Papa, sudah tidak sayang lagi pada kita. Jadi saat kau dewasa nanti, kau tidak perlu menyayanginya, cukup sayangi Mama saja." Ucapnya sambil terus mengusap perutnya.
"Jangan mengatakan omong kosong pada anakku, Viona!!" Kevin mengeram sambil menatap Viona dengan sebal.
"Nah, kan. Dia malah memarahi, Mama. Padahal yang ingin memakannya bukan Mama tapi kau kan, Nak."
Kevin menghela napas. Sepertinya penderitaannya baru saja di mulai. Jika di tolak pasti Viona akan mengunakan segala macam cara untuk menyudutkan dirinya. Tapi jika dituruti... Sudahlah, lebih baik mengalah daripada harus berdebat dengan ibu hamil.
"Baiklah, kita pergi ke sana. Ganti pakaianmu dengan segera. Aku akan menunggumu di luar." Ucap Kevin dan membuat Viona tersenyum lebar.
Wanita itu menganggukkan kepala, dia segera bersiap-siap. Viona tahu Kevin tidak mungkin bisa menolaknya. Lagipula yang meminta makan dari Thailand langsung bukan dirinya, tapi janin yang berada di dalam perutnya.
__ADS_1
xxx
Bersambung