
Tubuh Sonny menegang dan dia tidak berkutik sama sekali saat berhadapan kembali dengan Kevin. Mereka duduk saling berhadapan, dan Sonny merasa seperti sedang ikut acara uji nyali berhadapan dengan laki-laki itu.
"Ma..Mau apa lagi kau datang menemui ku? Apa kau masih belum puas sudah membuatku menjadi seperti ini?" akhirnya sebuah pertanyaan meluncur dari bibir Sonny. Dia mati-matian menahan ketakutannya ketika berhadapan dengan Kevin.
Kevin menggeleng. "Belum," dan menjawab singkat. "Aku tidak pernah puas dengan apa yang sudah aku lakukan. Bahkan aku masih ingin memberimu hadiah tambahan. Namun sayangnya aku masih belum menemukan hadiah yang layak untukmu, dan aku sedang memikirkannya." Tukas Kevin.
Sonny tidak tahu hal gila apa apalagi yang sedang direncanakan oleh Kevin untuknya. Dia sangat was-was takut jika tiba-tiba Kevin akan menikam dirinya karena sedari tadi dia melirik kearah pisau kecil yang ada di atas buah.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?"
"Kematian mu," Kevin menjawab cepat.
Sonny mengepalkan tangannya. "Kau pikir nyawaku bisa kau ambil dengan mudah?! Sebelum kau berhasil melakukannya, anak buahku lebih dulu mengambil nyawamu!!" jawab Sonny menimpali.
Kevin menyeringai. "Benarkah? Kenapa kau bisa begitu yakin jika mereka yang akan membunuhku terlebih dulu, sementara mereka sudah mati sedari tadi." Ujar Kevin dengan santainya.
Pupil mata Sonny membulat sempurna. "Apa yang kau lakukan pada mereka?" dia menatap Kevin tajam.
"Membunuhnya, apa lagi?" jawab Kevin dengan santai.
"Kau benar-benar iblis!!"
"Lalu kenapa kau masih suka mencari masalah dan gara-gara denganku?!" sahut Kevin menimpali. "Oya, aku ingin menyampaikan satu hal padamu. Awalnya aku tidak pernah tertarik dengan harta milik keluarga Li, tetapi karena kau yang lebih dulu mengusikku. Maka aku akan mengambil kembali hak yang seharusnya menjadi milikku!!"
"Tidak bisa!! Aku tidak akan membiarkannya, selama ini aku yang mengelola semuanya dan sekarang kau ingin mengambilnya? Tidak akan aku biarkan!! Aku sudah memiliki hak paten atas harta keluarga Li!!" ujar Sonny menegaskan.
Kevin menyeringai. "Tapi aku adalah ahli warisnya. Jika kita bertarung di pengadilan sudah bisa di pastikan siapa yang akan jadi pemenangnya. Lagipula apa orang dengan riwayat memiliki gangguan jiwa bisa menang melawan orang sehat di pengadilan?" Kevin menyeringai.
__ADS_1
"Siapa yang memiliki riwayat gangguan jiwa? Siapa yang gila, aku normal dan sehat bugar. Jangan mengada-ada dan mengatakan omong kosong!!" bentak Sonny emosi.
Derap langkah kaki orang yang datang menyita perhatian Kevin. Pria itu melepas jas hitamnya lalu menggantinya dengan jas kedokteran yang sudah dia siapkan sebelumnya. Pintu di buka dari luar, beberapa orang masuk ke.dalam.
"Anda siapa? Dan apa yang Anda lakukan di ruang pasien, lalu apa yang terjadi dengan dua orang di depan pintu itu? Kenapa mereka bisa meninggal?" tanya salah seorang dari ketiga orang berpakaian perawat tersebut.
"Dia ~"
"Aku dokter Nam dari rumah sakit pusat. Dan aku datang untuk memeriksa kondisi pasien ini, kami mendapatkan laporan dari pihak keluarganya jika dia mengalami gangguan jiwa. Dan dia orang di depan pintu adalah bukti jika dia tidak waras. Dia membunuh mereka berdua dengan pistol itu," terang Kevin menjelaskan.
Pupil mata Sonny membulat sempurna. "Itu tidak benar. Aku bukan orang gila, aku sehat dan aku waras. Dia ini penjahat dan dialah yang menghabisi kedua orang itu. Dia penjahatnya dan aku adalah korban, aku korban!!" teriak Sonny. Dia berusaha meyakinkan ketiga perawat tersebut jika dirinya tidak gila dan Kevin adalah penjahat yang sebenarnya.
Bukannya mendengarkan Sonny. Ketiga perawat itu malah membungkukkan badan. "Dokter Nam, Anda sudah datang. Karena semua data-data dia sudah diurus , kita bisa langsung membawanya ke pergi ke rumah sakit jiiwa."
Sontak Sonny menoleh. "Apa-apaan kalian ini? Kenapa kalian malah mendengarkannya? Dia berbohong pada kalian, aku waras!! Aku tidak gila, kalian harus percaya padaku!!" teriak Sonny.
Guna memudahkan membawa Sonny. Mereka membiusnya dan membuatnya tidak sadarkan diri. Kevin menyeringai, rencananya berjalan dengan lancar. Jika uang berbicara, maka tidak ada uang mustahil baginya. Dan Kevin telah bekerja sama dengan orang-orang dari pihak rumah sakit jiiwa.
"Inilah akibatnya jika berani mencari masalah denganku, nikmati saja hidupmu di balik jeruji besi rumah sakit jiiwa!!"
Kevin tidak mengantarkannya sampai rumah sakit. Cukup orang-orangnya saja yang melakukannya. Dia hanya mengambil peran kecil untuk mempermudahkan jalan mereka. Tidak ada yang mustahil bagi Kevin.
.
.
"Viona, apa yang sedang kau lakukan di sini?"
__ADS_1
Kevin tidak bisa menahan keterkejutannya saat kembali ke parkiran dan mendapati Viona yang sedang nangkring diatas kap depan mobilnya.
Bukannya menjawab pertanyaan suaminya. Viona malah nyengir kuda memperlihatkan deretan gigi putihnya. Kevin menghela napas. "Jangan bilang jika kau mengikuti ku?!" tebak Kevin 100% benar.
"Bingo," Viona menganggukkan kepalanya. "Kau pergi begitu saja tanpa memberitahuku kemana akan pergi, jadi aku memutuskan untuk memata-matai mu." Jawabnya.
Kevin menghela napas untuk kesekian kalinya. Satu jitakan mendarat mulus pada kepala berhelaian coklat miliknya. Jika saja bukan Viona, pasti Kevin sudah memarahinya habis-habisan. Tapi masalahnya adalah Viona, jadi bagaimana dia bisa marah?
"Ge, cuaca hari ini lumayan bersahabat. Bagaimana kalau kita jalan-jalan? Kebetulan ada beberapa barang yang harus aku beli." Usul Viona yang kemudian di balas anggukan oleh Kevin.
Mereka pergi ke pusat perbelanjaan. Viona ingin membeli pakaian baru dan rekan-rekannya. Ini sudah memasuki musim dingin jadi Viona membutuhkan pakaian yang sesuai dengan musimnya. Dan kebetulan dia belum memiliki satu pun mantel hangat untuk menyambut musim dingin.
"Ge, apa tidak sebaiknya kita makan siang dulu? Sudah hampir jam 12 , perutku sudah mulai keroncongan. Kita makan siang dulu saja , ya." Usul Viona dan di balas anggukan oleh Kevin.
"Baiklah."
xxx
"Apa, di pindahkan ke rumah sakit jiwa?!"
Ella tidak dapat menahan keterkejutannya setelah mendengar kabar dari perawat jika Sonny telah di pindahkan ke rumah sakit jiiwa. Perawat itupun memberi alasan kenapa Sonny sampai harus di kirim ke sana. Namun Ella tidak mempercayai begitu saja, karena dia tahu jika suaminya tidak memiliki riwayat gangguan jiiwa.
"Di mana dia di rawat?" tanya Ella.
Setelah mendapatkan alamatnya. Ella pun bergegas pergi ke sana untuk menemui Sonny. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pasti ada orang yang sengaja melakukannya dan Ella yakin akan hal itu.
xxx
__ADS_1
Bersambung