Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Mimpi Buruk


__ADS_3

Viona duduk termenung sambil memandang bulan dari jendelanya. Sebentar lagi gerhananya akan mulai, akan ada gerhana bulan malam ini. Viona melihat beberapa orang duduk di luar dengan santai dan mengobrol untuk menikmati gerhana bersama.


Sebuah noda hitam kecil di pinggir bulan mulai tampak. Dan beberapa orang itu menunjuk ke langit. Viona pun tak mau ketinggalan. Sudah hampir sepuluh tahun Viona tidak melihat gerhana bulan, dan saat ada kesempatan dia tidak ingin melewatkannya.


"Kau menunggu gerhana muncul?" tegur seseorang dari belakang, Viona menoleh dan mendapati Kevin menghampirinya.


Viona memperhatikan penampilan pria itu dari ujung rambut sampai ujung kaki, ada berbeda pada penampilan Kevin malam ini. Sepertinya dia baru saja mengubah warna dan model rambutnya, Viona juga melihat tato baru di pergelangan tangan kanannya. Seperti ukuran nama.


"Paman, kau sudah pulang," ucap Viona menyambut Kevin. "Paman, kau baru mengganti warna dan model rambutmu, ya? Kau terlihat lebih tampan, fresh dan jauh lebih muda tiga tahun dari usiamu. Dan tato apa ini?" setelah melayangkan beberapa pertanyaan pada Kevin, Viona meraih tangan pria itu karena penasaran tato apa yang dia ukir di pergelangan tangan kanannya. "Eh, bukankah ini namaku? mengapa Paman mengukir namaku di sini?" tanya Viona penasaran.


Kevin menggeleng. "Tidak apa-apa. Hanya ingin saja. lagi pula tidak ada salahnya mengukir nama seseorang yang berharga bukan?" ucapnya menimpali.


"Apa aku berharga untuk, Paman?" tanya Viona sambil mengunci mata kanan milik Kevin.


"Bodoh!!" bukannya sebuah jawaban, malah jitakan yang dia dapatkan. "Apa masih perlu Paman menjelaskannya kepadamu , seberapa berharga kau bagi Paman." Tutur Kevin memberi jawaban.


Viona tertawa kecil, kemudian menyandarkan kepalanya pada bahu kanan Kevin dengan pandangan lurus ke langit malam. Bulan mulai tertutup , gerhana bulan sudah dimulai.


Untuk sesaat kebersamaan mereka berdua diwarnai keheningan, tak sepatah kata pun keluar dari bibir Kevin maupun Viona.


Udara malam yang berhembus membuat mata Viona makin lama, makin terasa berat. Dan tidak berapa lama, Viona sudah tertidur pulas. Merasa bahunya makin memberat, Kevin menoleh dan mendapati Viona sudah tertidur pulas. Pria itu menghela napas, pantas saja dia tidak bersuara sama sekali.


"Dasar kau ini," ucapnya lalu mengangkat tubuh Viona bridal style dan membaringkannya di tempat tidur lalu menyelimuti badannya dengan selimut sampai sebatas dada.


Kevin tidak langsung pergi. Dia duduk di samping Viona berbaring dan memandangi wajahnya dalam waktu yang lama.

__ADS_1


Memperhatikan setiap lekuk wajah cantik itu dengan saksama. Dia memiliki bulu mata yang lentik, hidung yang mancung dan bibir yang tipis. Tidak bisa pungkiri jika Viona benar-benar sangat cantik. Entah sejak kapan Kevin sudah jatuh dalam pesona seorang Viona Zhang.


Kevin mendekatkan wajahnya lalu mendaratkan satu kecupan lembut di kening Viona, mata kanannya terpejam dengan perlahan. Kevin membiarkan bibir di kening Viona dalam waktu yang lama, dan setelah beberapa detik Kevin menarik kembali wajahnya. Jari-jarinya mengusap lembut pipi tirusnya.


"Mimpi indah, Sayang." Bisiknya lembut. Kevin bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja, meninggalkan Viona sendirian di kamarnya.


Xxxx


Bulir-bulir keringat tampak bercucuran dari kening Viona. Dia tampak gelisah dalam tidurnya, beberapa kali Viona menggelengkan kepalanya. Kata demi kata berkali-kali keluar dari bibirnya.


"Paman, tidak!! Jangan, aku mohon. Kau tidak boleh melakukannya hanya untuk diriku, aku tahu nyawaku memang berharga tetapi matamu juga berharga. Paman, demi aku... Aku mohon. PAMAN!!"


Viona terbangun memanggil Kevin. Napasnya tersengal-sengal dan tubuhnya basah oleh keringat dingin. dia menyangga kepalanya di atas bantal saat memandang keluar jendela. Gerhananya hampir selesai, tetapi dia sudah yakin tidak akan mau tidur malam ini. Masih terlalu jelas semua mimpi yang barusan dia lihat. Kedua matanya berkaca-kaca.


Dia mengalami mimpi yang sangat buruk, mimpi yang begitu nyata. Bukan mimpi buruk sebenarnya, lebih tepatnya sepenggal ingatan Viona yang hilang. Karena mimpi buruk yang dia alami adalah bagian dari ingatannya yang dihapus oleh Kevin.


Viona terus terisak dalam diam. Air matanya jatuh bercucuran membasahi wajah cantiknya, sungguh... Viona sangat menyesali kejadian malam itu. Malam itu, Kevin merelakan kedua matanya di tukar dengan nyawanya. tetapi beruntung bantuan datang tepat waktu sehingga Kevin tidak sampai kehilangan kedua matanya.


"Viona,"


Dobrakan keras pada pintu mengejutkan Viona. Dia mengangkat wajahnya yang penuh air mata dan mendapati Kevin berlari menghampirinya, Viona berdiri dan langsung menubruk dada Kevin , memeluknya dengan erat.


Kevin merasakan sekujur tubuh Viona gemetar hebat, dan pakaian yang melekat di badannya pun basah kuyup oleh keringat. "Ada apa? Apa kau bermimpi buruk?" tanya Kevin. Jari-jarinya mengusap punggung Viona naik-turun. "Jangan takut, Paman di sini." Dan berbisik lirih.


Viona mengangkat wajahnya dari pelukan Kevin dan menatapnya dengan tatapan tak terartikan. "Paman, kau benar-benar bodoh, sangat bodoh!!" lirih Viona berbisik. Beberapa kali dia memukul dada Kevin sambil terus menangis tersedu-sedu, sebelum akhirnya kembali ke dalam.pelukannya.

__ADS_1


"Jangan pernah melakukan itu lagi, Paman. Aku tidak ingin Paman berkorban untukku lagi, aku tidak ingin Paman celaka hanya karena diriku. Aku tidak mau Paman berkorban lagi untukku, aku tidak mau." Ujar Viona. Viona menggelengkan kepalanya sambil mengeratkan pelukannya pada Kevin.


" Dasar Bodoh!! Untuk satu hal itu Aku tidak bisa janji kepadamu," jawab Kevin menimpali.


Kevin mengerti arah pembicaraan Viona dan apa yang di bahas olehnya. Viona mengungkit tentang kejadian beberapa tahun yang lalu, yang bisa dikatakan sebagai tahun paling kelam dalam hidupnya selain saat dia kehilangan keluarga angkatnya. Karena malam itu Kevin harus kehilangan mata kirinya, yang membuatnya mengalami cacatt secara permanen.


"Tetapi aku benar-benar tidak ingin Paman berkorban banyak lagi untukku. Sudah cukup pengorbanan Paman selama ini, terlalu banyak yang Paman korbankan untukku. Jadi sudah cukup, Paman. Jangan lagi, aku benar-benar tidak mau." Viona menggelengkan kepalanya.


"maaf Viona, Paman benar-benar tidak bisa janji kepadamu. Apalagi Paman pernah janji pada kedua orang tuamu, untuk menjagamu dengan baik." Ucap Kevin dengan lirih.


"Bukankah janji dibuat untuk diingkari. Bagaimana jika karena janji itu malah mengantarkan Paman pada.... Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa Paman, apalagi kau adalah satu-satunya keluarga yang aku miliki." Ujar Viona panjang lebar.


Kevin melonggarkan pelukannya dan menatap Viona langsung ke dalam mata Hazel-nya. Melihat tatapan memohon wanita itu membuatnya menghela napas.


"Baiklah, Paman janji." Lirih Kevin berbisik. Namun dia tidak benar-benar janji, karena dia mengatakan itu hanya untuk membuat Viona tenang. "Ini masih malam, sebaiknya tidur lagi. Paman, akan menemanimu di sini."


"Jangan pergi," mohon Viona.


Kevin menggeleng. "Tidak akan."


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2