
Kesabaran Kevin benar-benar sedang di uji. Dia yang biasanya tidak mengenal kata 'Sabar' sekarang benar-benar harus banyak sabar dalam menghadapi Viona yang sedang hamil muda.
Setelah merengek dan mengajaknya ke Thailand, sekarang mereka sedang dalam perjalanan menuju Eropa. Entah apa lagi yang Viona inginkan Kevin tidak tahu, dia hanya mengatakan ingin pergi ke Eropa tanpa memberikan kejelasan apapun padanya. Dan negara tujuannya adalah Swiss.
Selama perjalanan. Viona tidak henti-hentinya mengoceh dan membicarakan banyak hal. Dia begitu antusias , berbeda dengan Kevin yang tampak lelah. Bukan hanya fisiknya, tetapi juga batinnya. Semua yang ada di dalam dirinya di uji oleh Viona termasuk mentalnya.
"Ge, apa kau tidur?" tanya Viona melihat Kevin menutup mata, namun tidak ada jawaban. Membuat Viona berpikir jika Kevin benar-benar tidur.
Wanita itu menghela nafas, dia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi pesawat dan mulai menutup matanya. Rasa kantuk tiba-tiba mendera dirinya. Tidak butuh waktu lama untuk Viona benar-benar terlelap.
Mata Kevin yang sebelumnya tertutup rapat perlahan terbuka dan dia menemukan Viona sudah tertidur pulas. Pria itu menghela nafas dan menggelengkan kepala. Dengan lembut, Kevin mengangkat tubuh Viona lalu membaringkannya di tempat tidur. Jet pribadi milik mendiang Tuan Lu memiliki banyak fasilitas, salah satunya adalah tempat tidur. Dan tempat tidur itu sangat berguna bagi Viona yang sedang hamil muda.
Masih sekitar 3 jam lagi untuk tiba di Swiss. Kevin meninggalkan Viona dan kembali ke kursinya, membiarkan dia istirahat tanpa berniat untuk mengganggunya. Kevin ingin menikmati pemandangan dari ketinggian. Karena tidak setiap hari dia bisa menikmatinya.
xxx
"Bagaimana? Apa Kevin dan Viona sudah bisa di hubungi?" tanya Hwan.
Frans menggeleng. "Ponsel mereka berdua malah tidak aktif. Aku sudah mencoba menghubungi, Rico Hyung, dan dia memberitahuku jika mereka berdua sedang pergi ke luar negeri. Viona Nunna, sedang ngidam ingin makan Mango stek rice langsung di Thailand." Jawab Frans.
"Apa dia sedang hamil?" tanya Hwan memastikan.
Frans mengangguk. "Usia kehamilannya sekarang sudah memasuki bulan ke tiga, apa aku belum memberitahumu jika Viona Nunna sedang hamil muda?" tanya Frans dan di balas gelengan oleh Hwan.
__ADS_1
"Belum. kau tidak mengatakan apapun padaku tentang kehamilan Viona," jawabnya.
Frans menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menatap Hwan penuh sesal. "Maaf, Ge. Aku benar-benar lupa memberitahumu jika keluarga kita akan bertambah satu lagi anggotanya. Dan kita berdua akan di panggil Paman olehnya. Aku sudah tidak sabar, kira-kira anak Vio Nunna dan Kevin Ge cowok atau cewek ya? Kalau cewek mirip siapa, dan kalau cowok mirip siapa? Aku benar-benar penasaran tidak sabar untuk menunggunya." Ujar Frans panjang lebar.
Ini adalah kabar yang baik. Hwan harus segera mengucapkan selamat pada mereka berdua, meskipun terlambat setidaknya dia sudah mengucapkannya. Bukan salah Hwan, tapi salahkan Frans yang lupa memberitahunya tentang kehamilan Viona.
Tanpa mengatakan apapun, Hwan beranjak dari hadapan Frans dan pergi begitu saja. "Yak!! Ge, kau mau kemana? kenapa aku ditinggalkan sendirian? Ge, tunggu Aku!!" seru Frans dan bergegas menyusul Hwan yang semakin menjauh. Frans mendengus sebal, kenapa lama-lama sikap Hwan tidak ada bedanya dengan Kevin, mereka berdua sama-sama menyebalkan.
xxx
Setelah menempuh beberapa jam perjalanan Thailand-Swiss, akhirnya Kevin dan Viona menapakkan kaki mereka di Zürich International Airport, Swiss. Mereka berdua melangkah keluar dari bandara sambil bergandengan tangan. Diantara banyaknya manusia yang berlalu-lalang, hanya mereka berdua yang tidak menenteng barang apapun, termasuk koper.
Mereka diam sejenak di luar bandara untuk menunggu kedatangan taksi yang sudah mereka pesan tadi. Kendaraan yang akan membawa mereka berdua menuju hotel. Tempat mereka akan menginap sampai dua hari dua malam.
Pria itu mengangguk tanpa mengatakan apapun, dan Viona pun tidak bertanya lagi. Dia percaya pada pilihan Kevin, karena pilihannya tidak pernah salah, apalagi mengecewakan.
.
.
Setelah kurang lebih 30 menit, mereka sampai di hotel tujuan mereka. Bern International Hotel. Hotel yang memiliki fasilitas bintang lima, namun masih cukup terjangkau untuk orang-orang berdompet tipis, bagi masyarakat Swiss. Ya, bagaimana tidak? Ruangan lantai satunya bisa dibilang cukup megah. Semua beraksen emas kuning. Lampu gantung yang megah nan mewah.
Sesampainya di kamar, Viona langsung membaringkan tubuhnya ke kasur king size yang terletak bersebelahan dengan jendela. Sedangkan Kevin langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang berkeringat.
__ADS_1
Viona meraih ponselnya yang ada di atas meja lalu menghidupkannya. Sedikitnya ada lima panggilan tak terjawab Dan 7 pesan yang belum dibaca, kemudian dia membukanya satu persatu sebelum akhirnya meletakkan kembali di tempat semula tanpa berniat untuk membalasnya. Dia terlalu malas, Viona kembali berbaring dengan wajah menghadap langit-langit kamar.
Sejenak dia menutup matanya dan menghela nafas. lalu pandangan Viona bergulir pada perutnya yang masih tampak rata. Jari-jari lentiknya mengusap perut itu dengan lembut dengan bibirnya menyunggingkan senyum tipis.
"Nak, Bagaimana kabarmu hari ini? Kau baik-baik saja kan di sana?" tanya Viona. Dia berbicara dengan janin di dalam perutnya, menciptakan interaksi dan ikatan diantara mereka berdua.
Cklekk...
Viona menoleh setelah mendengar suara pintu kamar mandi di buka. Kevin keluar dari dalam sana dengan berbalut handuk yang menutupi pinggang sampai lututnya. Aroma maskulin berkaur di hidung Viona saat Kevin keluar dari dalam sana.
Tiba-tiba wanita itu bangkit dari berbaringnya lalu menghampiri Kevin dan memeluk lehernya. Membuat pria itu sedikit terkejut dengan tindakan Viona yang begitu tiba-tiba. "Ge, apa kau lelah?" tanya Viona sambil menatap sepasang mutiara sehitam jelaga milik Kevin.
"Kenapa?" Kevin balik bertanya, kedua lengan kekarnya melingkari pinggang Viona.
"Bagaimana kalau malam ini kau menyapanya? Kau perlu memperkenalkan diri padanya," jawab Viona.
"Apa kau tidak lelah?" tanya Kevin, Viona menggeleng. "Tapi tidak lama-lama, aku tidak ingin menyiksanya."
Viona mengangkat bahunya. "Tidak sama sekali. Aku baik-baik saja. Dan tidak masalah meskipun hanya hitungan menit juga, yang penting kita melakukannya." Jawab Viona. Dia tidak bisa menahannya lebih lama lagi, lagipula tidak ada larangan bagi wanita hamil melakukan hubungan badann dengan suaminya, selama itu masih dalam batas wajar.
Kevin mengawalinya dengan mencium bibir Viona, memagut dan mellumatnya. Posisi tidak lagi berdiri, melainkan berbaring dengan Kevin berada diatas Viona dan mengungkungnya dengan kedua lengannya. Selanjutnya bukan hanya bibir mereka saja yang menyatu melainkan tubuh dan jiwa mereka juga.
xxx
__ADS_1
Bersambung