
Mimpi buruk benar-benar terjadi dalam hidup Aldo. Diusir keluar dari rumah yang selama ini dia tempati bersama ibu dan adiknya yang sebenarnya milik mantan istrinya, perusahaannya juga sedang bermasalah dan terancam bangkrut.
Jangankan mempertahankan perusahaannya yang berada diambang kehancuran, bahkan tempat tinggal yang layak saja Dia tidak punya. Mereka bertiga tinggal disebuah rumah petak yang jauh dari kata mewah.
Meskipun tidak ingin, tetapi itu adalah rumah satu-satunya yang bisa mereka tinggali untuk melindungi diri dari berlindung dari terjangan panas dan guyuran hujan.
"Kak, sampai kapan kita akan tinggal di rumah ini? Aku benar-benar sudah tidak tahan, rumah ini sangat sempit dan bau, aku ingin tinggal di rumah yang lebih besar juga mewah!!" ucap Amelia menyampaikan unek-uneknya.
Sontak Aldo mengangkat wajahnya dan menatap sang adik dengan tatapan tajam. "Jangan banyak menuntut, masih bagus kita memiliki pembuka tinggal daripada harus tinggal di bawah kolong jembatan. Jika kau memang tidak ingin tinggal di rumah ini, sebaiknya pergi saja dan tinggal di tempat lain tidak ada yang menahanmu!! Dan jika perlu, jual saja dirimu pada para hidung belang di luaran sana!!" pinta Aldo yang mulai dikuasai emosi karena ucapan Lia.
"KAKAK!!" bentak Lia tertahan. "Kau benar-benar menyebalkan, aku membencimu!!" Lia melemparkan sebuah bantal kearah Aldo dan pergi begitu saja.
"Lia, kau benar-benar kurang ajar!!" bentak Aldo emosi. Aldo menutup matanya dan menghela napas.
Banyaknya masalah yang terjadi akhir-akhir ini membuat Aldo menjadi lebih emosional. Dia menjadi lebih mudah marah dan tersinggung, dan orang-orang disekitarnya yang menjadi korban kemarahannya.
"ARKKHHH, SIAL!! VIONA, INI SEMUA KARENA DIRIMU!!" Aldo berteriak sambil mengepalkan tangannya. Dia pasti akan membalas wanita itu dan membuatnya menyesal karena telah meminta cerai darinya.
Aldo adalah tipe pria pendendam. Dan dia tidak akan membiarkan Viona menginjak-injak harga dirinya, dia pasti akan membalasnya dua kali lipat.
.
.
Viona menghentikan langkahnya ketika melewati kamar Kevin dan mendapati pintu kamarnya sedikit terbuka. Kebetulan kamar Kevin dan Viona bersebelahan, jadi ketika hendak pergi ke lantai satu Viona pasti melewati kamar Paman angkatnya tersebut.
Tubuh Viona terpaku di tempat ketika melihat punggung polos tanpa sehelai benang pun itu, memperlihatkan sebuah Tatto besar berbentuk naga di punggung sebelah kanannya. Tatto itu menyatu dengan yang ada di lengannya.
Entah kenapa Viona jadi ingin sekali menyentuh tatto-tatto itu, dia segera menepis keinginan konyolnya tersebut. Viona menggeleng lalu menepuk pipinya sendiri, bagaimana bisa dia memiliki keinginan konyol semacam itu.
__ADS_1
Dan keberadaan Viona rupanya disadari oleh Kevin. Kedua matanya membelalak sempurna karena tertangkap basah oleh Pamannya tersebut. Masih dalam keadaan bertellanjang dada, Kevin menghampiri Viona.
"Ada apa? Kenapa tidak masuk?" tanya Kevin jadi banyak Iya di depan Viona.
Viona menggeleng. "Paman, kakak memakai pakaianmu dulu?" pinta Viona dengan posisi memunggungi, Dia benar-benar tidak ingin terlihat konyol di depan Kevin.
Katakan sepatah kata pun, kevin beranjak dari hadapan Viona dan masuk ke kamarnya. Tidak sampai dua menit, Kevin kembali dengan sebuah kaos putih polos lengan terbuka berleher V-Neck membungkus tubuh atasnya.
"Sudah," ucap Kevin setibanya dia di depan Viona yang memunggunginya.
Kemudian Viona berbalik badan dan tersenyum lebar. "Nah, begini kan lebih baik. Oya, Paman. Hari ini kau sibuk tidak? Temani aku belanja, sudah lama kau tidak mentraktirku ini dan itu, mau ya." Rengek Viona memohon.
Sejak kecil Kevin selalu memanjakan Viona dan dia sangat menyayanginya. Apapun yang Viona inginkan, pasti Kevin menurutinya, dia selalu mengalah padanya asalkan itu bisa membuat senyum dibibir Viona mengembang lebar.
"Baiklah, setelah sarapan kita belanja. Kau boleh membeli apapun yang kau inginkan," ucap Kevin dan membuat Viona bersorak kegirangan.
Tanpa berkata apa-apa Viona berhambur ke pelukan Kevin. "Paman, kau memang yang terbaik. Bahkan ketika Papa masih ada dulu, dia tidak pernah memanjakan aku sepertimu." ucapnya sambil mengeratkan pelukannya.
Karena alasan itu pula yang membuat Viona akhirnya membenci ayahnya, bahkan dia tidak menangis sama sekali ketika kematiannya.
"Kau turunlah dulu, setelah ini kita sarapan sama-sama," ucap Kevin dan dibalas anggukan oleh Viona. Kemudian Viona beranjak dari hadapan Kevin dan pergi begitu saja.
.
.
"Kalian tidak perlu melayaninya, dia itu sudah dewasa dan sudah seharusnya bersikap mandiri. Jadi biarkan dia melakukan apapun sendiri,"
Kepala pelayan itu memberikan arahan pada bawahannya supaya tidak melayani Viona. Tentu saja mereka tidak berani melawan apalagi menolaknya mengingat posisinya yang sangat penting di kediaman Zhang, dia adalah pelayan senior yang sudah bekerja selama puluhan tahun di kediaman Zhang. Jadi tidak ada yang berani macam-macam dengannya.
__ADS_1
"Tapi kepala Choi, apa ini tidak keterlaluan? Nona Viona adalah Nona besar di keluarga Zhang, bukankah sudah menjadi tugas kita untuk melayaninya?" ucap salah seorang pelayan menentang arahan dari kepala Choi.
"Lancang!! Memangnya siapa yang memberimu ijin untuk bicara? Aku kepala pelayan disini, dan aku pula yang berhak mengambil keputusan serta memberikan arahan, jadi jangan sembarangan memprotes keputusanku ini!!" bentak Pelayan Choi , suaranya sedikit meninggi membuat pelayan itu menunduk ketakutan.
Derap langkah kaki seseorang yang datang menyita perhatian mereka semua. Terlihat Viona yang sedang menuruni tangga dengan anggunnya. Kontak mata antara Viona dan kepala pelayan itu pun tidak terhindarkan, keduanya saling menatap dengan tatapan tajam.
Tanpa menghiraukan Kepala Pelayan Choi, Viona kemudian duduk dimeja makan. Dia hendak mengambil jeruk namun di hentikan oleh Kepala Pelayan Choi.
"Nona tunggu!!" seru pelayan itu dan menghentikan gerakan tangan Viona. Lalu dia menoleh pada pelayan tersebut. "Jeruk ini saya beli khusus untuk, Tuan Muda. Jadi jika Anda ingin memakan jeruk, sebaiknya beli sendiri. Dan semua makanan yang ada diatas meja dimasak khusus untuk saya dan Tuan Muda, jika Anda ingin makan sebaiknya setelah kami saja, dan jika tidak terima silahkan sarapan diluar saja!!"
Sontak Viona mengangkat wajahnya dan menatap wanita itu tidak percaya."Aturan darimana jika aku tidak boleh ikut sarapan bersama Paman? Masalah buah fine, aku tidak mempermasalahkannya, tapi kau sudah semakin keterlaluan saja. Kau pikir kau itu siapa bisa berbuat seenaknya di rumah ini?! Ingat ya, kau itu bukan siapa-siapa, jadi jangan belagu!!" ujar Viona yang mulai tersulut emosinya.
Kepala Pelayan Choi menggebrak meja dengan keras. "Nona besar, jangan memaksa saya untuk berbuat yang tidak sopan kepada Anda," serunya dengan suara meninggi.
Tanpa berkata apa-apa, Viona mengambil satu persatu makanan yang sudah tersusun diatas meja lalu membantingnya ke lantai dan apa yang Viona lakukan tentu saja mengejutkan semua orang yang ada di sana termasuk Kevin yang baru tiba di meja makan.
"Nona Besar!! Apa-apaan Anda ini? Kenapa Anda membuang semua makanan yang ada dimeja? Apa Anda sudah tidak waras?!" bentak Kepala Pelayan Choi dengan emosi.
"Kau yang memaksaku melakukannya. Dan aku peringatkan padamu, jangan coba-coba membangunkan seekor Singa betina yang sedang tertidur pulas jika kau tidak ingin dalam masalah besar!" ucap Viona memperingatkan.
"Ada apa ini?" suara dingin terlewat datar itu mengalihkan perhatian orang-orang yang berkumpul di ruang makan, sontak mereka menoleh mendapati Kevin mendekat. Tidak ada yang berani bersuara, semua menunduk takut. "Viona, apa yang kau lakukan? Kenapa kau membuang makanan-makanan ini?" tanya Kevin meminta penjelasan.
"Paman, tanyakan saja pada wanita hebat ini!!" ucapnya dan pergi begitu saja. Dia sudah kehilangan selera makannya karena wanita itu.
"Viona, tunggu!!"
.
.
__ADS_1
Bersambung