Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Saatnya Jadi Mata-Mata


__ADS_3

Kabar tentang Sonny Li yang di temukan salam keadaan mengenaskan tersebar sampai ke seluruh penjuru negeri. Bukannya simpatik yang dia dapatkan, malah cemoohan. Bahkan banyak yang mengucapkan terimakasih pada dia yang telah melakukannya.


Selama ini Sonny di kenal dengan kekejamannya. Tidak jarang dia membuat orang lain mengalami kesulitan karena perbuatannya. Sonny yang memiliki kekuasaan besar malah menyalahgunakannya untuk berbuat semena-mena dan menindas yang lemah.


Tidak ada yang berani melawan apalagi membalas perbuatannya Karena jika mereka melakukannya maka akan fatal akibatnya. Dan sekarang dia tidak mungkin bisa berbuat semena-mena lagi seperti dulu.


"Sepertinya kau memiliki reputasi yang benar-benar buruk, Sonny. Sampai-sampai banyak orang yang bersorak atas kejadian ini. Bahkan tidak sedikit yang menyumpahi dirimu mati. Benar-benar di luar dugaan." Ujar Agnes saat membaca berbagai komentar netizen.


"Semua gara-gara bajingan itu, jika bukan karenanya. Aku tidak mungkin berakhir seperti ini." Ujar Sonny dengan geram.


"Apa kau akan membalas perbuatannya?" tanya Agnes memastikan.


Sonny menoleh. "Tentu saja. Dia tidak akan pernah jera jika tidak di beri peringatan keras." Jawabnya.


Agnes menghela napas. "Kau benar-benar cari mati, ya?! Sudah tahu hampir mati di tangannya, tapi masih saja ingin mencari masalah dengan orang itu. Apa kau memang berniat menemui ajalmu dengan cepat?!"


Bahkan Agnes saja tahu jika Kevin adalah orang yang sangat berbahaya. Dia bisa menyimpulkan dari peristiwa yang dialami oleh Sonny. Padahal dia hampir mati di tangannya, tapi Sonny masih belum jera juga untuk mencari masalah dan gara-gara dengannya. Kali ini Agnes tidak akan ikut campur, dia tidak ingin mati konyol di tangan pria itu.


"Bukan aku yang mencari mati, tapi dia!! Semalam dia hanya beruntung saja. Saat aku menyerahkan semua anak buahku, sudah bisa di pastikan dia akan mati dalam satu tembakan saja. Lagipula aku memiliki banyak pasukan sementara dia hanya sendirian."


Agnes memutar matanya dengan jengah. "Percuma memiliki banyak anak buah jika satupun tidak ada yang berguna. Sudahlah, aku pergi dulu. Aku tidak ingin membuat istrimu yang pencemburu itu mengamuk lagi karena diriku." Agnes menyambar tasnya yang ada di atas meja dan pergi begitu saja.


Baru saja membuka pintu. Dia sudah harus berpapasan dengan Ella, Agnes memutar jengah matanya dan melewatinya begitu saja. Lebih baik dia pergi spa ke salon dan memanjakan dirinya dari pada harus berurusan dengan orang-orang menyebalkan seperti Sonny dan Ella. Dia tidak sudi!!


"Kevin Zhang, sebenarnya kau itu orang yang seperti apa? Kau benar-benar membuat diriku penasaran!!"

__ADS_1


xxx


Kevin menoleh saat mendengar suara Viona memanggilnya. Kemudian Kevin berbalik badan dan menghampirinya. Gelas berkaki tinggi yang sedari tadi dia pegang di letakkan begitu saja dia atas meja. Kevin hendak memastikan keadaan Viona.


"Ge, ini jam berapa?" tanya wanita itu setibanya Kevin di depannya.


"Delapan,"


Pupil mata Viona membelalak sempurna mendengar jawaban Kevin. "What, jam delapan? Lalu kenapa kau tidak membangunkan ku? Ge, kau benar-benar membuatku dalam masalah!!" teriak Viona dengan panik. Wanita itu menyibak selimutnya lalu melesat pergi ke kamar mandi.


Bagaimana Viona tidak panik. Dia bangun kesiangan di kediaman orang lain. Jika saja ini kediaman Zhang, pasti dia bersantai dulu sambil mengumpulkan nyawanya. Tapi masalahnya ini di kediaman Tuan Lu yang notabenenya adalah Kakek Kevin. Dan Viona tidak ingin di pandang sebelah mata oleh lelaki tua itu.


Meskipun hal itu tidaklah mungkin, Tuan Lu sudah terlanjur menyayangi Viona. Impiannya untuk memiliki cucu perempuan terwujud darinya. Lagipula mana berani dia melakukannya karena jika dia melakukannya pasti Tuan Lu akan berhadapan dengan Kevin.


"Bagaimana aku tidak panik. Ini rumah Kakekmu dan aku malah bangun kesiangan di hari pertamaku di sini, bagaimana jika dia malah memandangku sebelah mata? Ge, kau membuatku dalam masalah besar." Ujar Viona.


Kevin mendengus dan menatap Viona dengan geli."Pemikiran bodoh macam apa itu? Mana mungkin dia berani melakukannya, apa dia ingin dalam masalah besar? Lagi pula Kakek sedang tidak berada di rumah, pagi-pagi sekali dia sudah berangkat ke Jepang untuk perjalanan bisnis dan kemungkin baru kembali lusa depan." Tutur Kevin panjang lebar.


Sontak Viona menoleh dan menatap Kevin dengan sebal. "Lalu kenapa kau tidak memberitahuku dari tadi? Pasti kau sengaja, kan?" tuding Viona sambil mengacungkan jarinya di depan muka Kevin.


Kevin menghela napas. Dia tidak memberikan respon apa-apa untuk menyikapi Omelan Viona. Ternyata wanita saat sedang datang bulan sangat sensitif dan mudah sekali emosi. Dan baru kali ini Kevin melihatnya langsung.


"Ge, aku lapar." Rengek Viona sambil memegangi perutnya.


"Kebetulan aku membawakan mu sarapan." Kevin bangkit dari duduknya lalu mengambil sarapan Viona dan menyerahkan padanya. "Makan dulu, pelan-pelan saja tidak perlu terburu-buru."

__ADS_1


Viona tersenyum lebar. "Terimakasih , Ge." Ucap wanita itu dengan senyum yang sama. Selanjutnya Viona menyantap sarapannya dengan tenang. Tidak ada obrolan lagi diantara mereka berdua. Kevin tampak di sibukkan dengan ponselnya. Dia sedang berkirim pesan dengan seseorang.


Tiba-tiba Kevin bangkit dari duduknya. "Aku ada urusan sebentar. Baik-baik di rumah aku akan segara kembali." Kevin mengusap kepala Viona dan pergi begitu saja. Menimbulkan pertanyaan di benak Viona, kemana dan ada urusan penting apa sampai-sampai Kevin pergi dengan begitu terburu-buru.


"Sepertinya aku perlu menyelidiki sesuatu. Viona Zhang, sudah saatnya menjadi seorang mata-mata."


xxx


Mobil Kevin berhenti di sebuah rumah sakit. Setelah mendapatkan informasi dari salah satu anak buahnya jika Sonny Li kembali merencanakan sesuatu padanya. Jadi Kevin berinisiatif untuk datang mengunjunginya. Sepertinya dia belum jera juga mencari masalah dan gara-gara dengannya.


Lelaki itu memasuki rumah sakit dengan angkuh. Pakaian serba hitam yang melekat di tubuhnya serta tatapan dingin penuh intimidasi memberikan kesan misterius padanya. Belum lagi benda hitam bertali yang menutup mata kirinya, membuat sosoknya terlihat berbahaya.


"Di ruangan mana Sonny Li di rawat?" tanya Kevin pada bagian informasi. Dan setelah mendapatkan jawaban dari pertanyaannya. Kevin pun bergegas pergi menuju ruangan di mana Sonny di rawat. Dia hendak memberikan kejutan kecil pada pamannya tersebut.


Dua orang yang berjaga di depan ruangan inap Sonny menghalanginya untuk masuk ke dalam. Bukannya pergi seperti yang mereka perintahkan, Kevin malah menembak mati mereka berdua. Dan selanjutnya dia memasuki ruang inap Sonny dengan tenang.


Sonny sedang berbaring saat pintu ruang inapnya di buka dari luar. Sontak dia menoleh dan pupil matanya membulat sempurna melihat siapa yang datang.


"Kau~"


"Selamat pagi, Paman. Kita bertemu lagi..."


xxx


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2