
Aiden tiba di kamar dan mendapati Luna yang sudah tertidur pulas. Ditangannya menggenggam sebuah buku kecil dan selembar foto dirinya. Aiden mengambil buku kecil itu lalu membaca tulisan tangan Luna.
Aku ingin menjadi orang pertama yang kau pikirkan..
Saat kau terjaga dari lelapmu...
Dan aku ingin menjadi orang terakhir yang kau lihat...
Sebelum kau merangkai mimpi indah mu...
Aiden terdiam membaca kata-kata itu. Mungkinkah kata-kata itu Luna tujukan padanya? Rasanya tidak mungkin, tapi foto yang ada di dekapan Luna adalah foto dirinya. Lalu pandangan Aiden bergulir pada Luna yang sedang tertidur pulas, didekatinya gadis itu kemudian duduk disampingnya. Aiden mengangkat tangan kanannya diusapnya kepala Luna dengan lembut.
"Gadis bodoh," dia bergumam pelan.
"Ge, kau dimana? Cepat pulang," gadis itu mengigau. Dia meminta Aiden untuk pulang, bahkan Luna tetap memikirkannya di dalam tidurnya.
"Aku ada disini, Luna. Aku sudah pulang," bisik Aiden sambil menggenggam tangan Luna.
Kemudian dia berbaring disamping Luna dan memeluknya dari belakang. Aroma bunga sakura yang semerbak berkaur di hidung Aiden ketika dia menghirup dalam-dalam aroma tubuh Luna. Bukan aroma sabun, parfum ataupun lotion yang dia pakai, tetapi murni aroma tubuh Luna. Entah sejak kapan aroma tubuh Luna menjadi candu bagi Aiden.
Aiden menutup matanya yang semakin lama semakin memberat. Dalam hitungan menit, Aiden sudah menyusul Luna pergi ke alam mimpi.
.
.
Luna terbangun dari mimpi indahnya ketika ia merasakan sinar matahari yang masuk ke kamarnya melewati ventilasi jendela. Gadis cantik itu menggerakkan tubuhnya yang terasa berat karena sebuah lengan kekar menahan pergerakan tubuhnya.
Apa? Lengan kekar?
Luna terkesiap, ia membuka mata dan menatap lengan kekar yang melingkari dipinggang rampingnya. Seketika ia membalikkan tubuhnya menghadap si empunya lengan itu. Ia langsung berhadapan dengan seorang lelaki berwajah tampan yang pastinya adalah Aiden.
Sepasang mata tajam yang masih tertutup itu dinaungi oleh sepasang alis tebal, hidungnya mancung dan bibirnya tipis ditambah dengan garis rahang yang keras dan tegas membuat lelaki itu semakin tampan. Luna terkejut dan bertanya-tanya, kenapa Aiden bisa tidur sambil memeluknya?
Tiba-tiba Luna tertawa geli mengutuk kebodohannya. Hei, bagaimana bisa ia lupa jika lelaki tampan dihadapannya sejak semalam satu kamar dengannya.
Luna memperhatikan wajah tampan Aiden dengan seksama, mulai dari sepasang mata indahnya yang tersembunyi dibalik kelopaknya. Hidung mancung, bibir tipis dan rahang tegas. Tidak bisa Luna pungkiri jika Aiden memang sangat tampan.
__ADS_1
"Ge, apa aku egois jika berharap kau adalah orang pertama dan terakhir yang aku lihat sebelum dan setelah bangun tidur?" gumam Luna dengan lirih.
Wanita bersurai coklat terang itu kemudian mengangkat tangan kirinya membelai pipi kiri sang pria yang masih tertidur, ia tersenyum menatap wajah tenang dan damai sang kakak saat tidur.
"Luna.. kau mengganggu tidurku.."
Suara berat itu membuat gadis cantik itu terkejut, seketika ia melepaskan tangannya dari pipi Aiden. Sepasang mata yang tadi tertutup perlahan terbuka menampilkan onyx hitam menawan, menatap lembut gadis cantik dihadapannya.
"Ge, maaf aku membangunkan mu." Ucap Luna penuh sesal.
"Hn, bukan masalah. Sebaiknya cepat mandi setelah itu kita sarapan lalu cake out." suara berat itu terdengar sexy ketika bangun tidur, ditambah dengan tatapan itu membuat pipi Luna memanas.
"Ka..Kau saja yang mandi duluan. Aku masih ingin tidur lima menit lagi." Ucap Luna lalu menyelimuti sekujur tubuhnya dengan selimut tebal. Luna tidak ingin Aiden melihat wajahnya yang memerah.
Aiden menghela napas. "Baiklah kalau begitu. Aku mandi dulu," dia bangkit dari duduknya dan melenggang pergi ke kamar mandi.
Selepas kepergian Aiden. Luna membuka kembali selimutnya dan menghela napas lega. Tiba-tiba Luna teringat sesuatu. Gadis itu menyibak selimutnya, mencari buku diary dan foto Aiden yang ia peluk sebelum ketiduran semalam.
Luna terus mencari kedua benda itu ditempat tidur namun tidak menemukannya. Dia ingat betul jika semalam ia memeluk diary dan foto itu di dadanya, seharusnya jatuh pun ditempat tidur, tapi malah tidak ada.
Gadis itu menyapukan pandangannya dan menemukan kedua benda itu tergeletak diatas meja. "Omo!! Kenapa bisa ada disini? Seingat ku aku tidak meletakkannya di sana." Ujar Luna bergumam. Pupil mata Luna membulat sempurna. "Omo!! Jangan-jangan itu adalah... Gawat, bagaimana kalau Gege sudah melihat dan membaca tulisanku, apalagi ada fotonya di diary itu. Bagaimana ini, bagaimana ini?" Luna panik sendiri. Gadis itu bangkit dari tempat tidurnya lalu berjalan mondar-mandir seperti setrikaan.
Luna terlonjak kaget mendengar suara pintu kamar mandi dibuka dari dalam. Aiden keluar dari dalam sana dengan pakaian lengkap. Tidak seperti semalam yang hanya memakai handuk. Aiden memicingkan matanya dan menatap Luna dengan bingung.
"Kau kenapa?" tanya Aiden kebingungan.
Luna menggeleng. "Tidak apa-apa. Ge, aku mandi dulu." Kemudian dia melesat masuk ke kamar mandi. Aiden menghela napas, menggelengkan kepala melihat tingkah Luna yang seperti bocah.
"Ada-ada saja tingkahnya." Ucapnya bergumam.
Aiden mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas kecil samping tempat tidur. Ada beberapa pesan masuk dari teman-temannya juga kakak-kakaknya yang menanyakan keberadaan Luna. Alih-alih membalas pesan itu satu persatu, Aiden malah membiarkannya begitu saja.
Ketukan pada pintu mengalihkan perhatiannya. Aiden berjalan kearah pintu untuk melihat siapa yang datang. Ternyata pegawai Hotel yang datang membawakan pakaiannya dan Luna yang selesai di laundry. Setelah memberikan tips pada orang itu, Aiden membawa pakaian itu ke dalam.
Aiden tidak mengganti pakaiannya dan hanya menambahkan Leather Vest hitamnya sebagai luaran kemeja yang ia pakai.
"Luna, aku keluar dulu sebentar. Jangan kemana-mana, aku akan segara kembali dan setelah ini kita sarapan sama-sama." seru Aiden dengan suara meninggi. Supaya suaranya bisa di dengar oleh Luna.
__ADS_1
"Oke, Ge."
Aiden melenggang pergi meninggalkan kamar hotel tempatnya menginap setelah mendengar jawaban Luna. Ade sesuatu yang harus dia lakukan sekarang. Dan dia akan kembali sebelum waktu sarapan tiba. Masih ada 45 menit lagi, dan itu lebih dari cukup untuk Aiden menyelesaikan urusannya.
xxx
"Apa Aiden membalas pesan kalian dan memberitahu Luna ada dimana?"
Eric dan Alex menggeleng. "Tidak Pa, dia sudah membaca pesannya tapi tidak ada balasan dari bocah itu. Entah kesibukan apa yang sedang dia lakukan sekarang sampai-sampai Aiden tidak sempat untuk mengangkat telfon ataupun membalas pesan singkat kami." Jelas Eric.
"Lalu bagaimana dengan, Luna? Apa dia juga masih sulit untuk dihubungi?" tanya Deen Williams memastikan.
Keduanya mengangguk dengan kompak. "Ya," Dan menjawab singkat.
Deen Williams semakin frustasi memikirkan keberadaan putrinya saat ini. Luna tidak bisa dihubungi, begitu pun dengan Aiden. Kedua anaknya tidak ada kabar jadi bagaimana Deen Williams tidak panik dan cemas.
Jika Aiden pasti bisa menjaga dan melindungi dirinya sendiri, tapi Luna... Tuan Williams hanya bisa berdoa dan berharap jika mereka berdua baik-baik saja, Luna terutama.
"Pa, bagaimana jika Mama dan suami barunya yang kurang ajar itu menculik Luna lalu menjualnya pada hidung belang untuk melunasi hutang-hutangnya, aku dengar mereka memiliki hutang yang sangat besar pada lintahh darat. Pa, bagaimana ini?" Eric mulai tidak tenang.
"Jangan berpikir macam-macam. Tidak mungkin mereka berdua bisa melakukan itu pada Luna, kau tahu sendiri kan adikmu itu gadis yang seperti apa. Luna, jago bela diri dan tidak mudah ditindas. Jadi sangat sulit untuk melakukan hal itu padanya, jadi kalian tenang saja."
Deen Williams menggigit bibirnya. Sebenarnya hal itu pula yang dia takutkan, tetapi Deen berusaha setenang mungkin agar tidak membuat kedua putranya semakin panik. Dia harus yakin dan percaya, jika saat ini ludah baik-baik saja. Di saat mereka bertiga mulai frustasi, tiba-tiba ponsel Alex berdering.
Seperti mendapatkan oase di tengah padang gurun yang tandus melihat nama Luna tertera dan menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. "Luna," seru Alex. "Dia menghubungiku." ucapnya dengan heboh.
"Kalau begitu cepat angkat dan tanyakan di mana dia sekarang," pinta Tuan Williams.
Alex pun langsung menarik akan keberadaannya. Dan dia merasa lega setelah mengetahui jika Luna baik-baik saja. Dia beralasan tidak menghubungi orang-orang rumah karena ponselnya habis batere dan baru di cas. Selain itu, luna juga tidak memberitahu mereka jika semalam ia menginap di hotel bersama Aiden.
"Ya sudah kalau begitu. Cepat pulang, Papa sangat mencemaskan mu." Pinta Alex. Kemudian dia mengakhiri sambungan telfon itu begitu saja , sekarang mereka bertiga bisa bernafas lega setelah mengetahui Luna baik-baik saja.
"Bagaimana? Apa yang dia katakan?" katanya Tuan William setelah Alex mengakhiri sambungan teleponnya.
"Papa, tidak perlu cemas, dia baik-baik saja semalam menginap di rumah temannya. Ponselnya habis batere dan baru selesai di cas. lagipula semalam hujan lebat jadi Luna terpenjara di sana dan tidak bisa pulang." Jelas Alex menuturkan.
"Ya sudah, sebaiknya sekarang kita sarapan. Luna tidak apa-apa dan baik-baik saja, itu sudah menjadi kabar yang sangat menggembirakan." Ujar Deen Williams.
__ADS_1
Mereka berdua mengangguk. Kemudian ketiga ayah dan anak itu pun pergi ke meja makan untuk menyantap sarapannya.
xxx