Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Season 2: Aku Trauma


__ADS_3

Kabar tentang Luna yang diikuti oleh orang tidak dikenal telah sampai ke telinga Aiden. Brian sudah memberitahunya tentang peristiwa yang mereka berdua alami alami tadi. Tentu saja Aiden sangat marah mendengar sang adik tercinta berada dalam bahaya hingga nyawanya terancam.


Aiden pun segera menjatuhkan perintah untuk menangkap dua dalang utama dibalik kejadian itu. Dia akan memberikan hukuman yang setimpal pada mereka berdua.


"Ge...!!" perhatian Aiden sedikit teralihkan karena kemunculan Luna. Gadis itu melangkahkan kakinya memasuki kamar sang kakak dengan langkah terburu-buru.


Aiden meletakkan gelas berisi red wine itu di atas meja lalu menatap Luna penasaran. "Ada apa, Lun?" tanya Aiden tanpa basa-basi.


"Ge, apa benar kau menyuruh seseorang untuk menangkap Mama dan suami barunya?" tanya Luna memastikan.


"Ya," Aiden mengangguk dan membenarkannya.


"Untuk apa?" Luna bertanya lagi.


"Untuk memberikan efek jera pada mereka berdua. Karena jika tetap dibiarkan tanpa ada peringatan, mereka pasti akan tetap mengulanginya lagi dan lagi. Aku tidak bisa mengambil resiko dan membiarkanmu berada dalam bahaya. Segala cara akan aku lakukan untuk melindungimu." Tukas Aiden panjang lebar.


Luna terdiam mendengar apa yang baru saja Aiden katakan. Otaknya sedang berpikir keras, melihat dari cara dia berbicara sepertinya Aiden sudah mengetahui apa yang terjadi, dan Luna berani bersumpah jika Brian lah yang sudah memberitahunya.


Gadis mengambil napas panjang dan menghelanya. Luna mengangkat kepalanya dan menatap Aiden yang menatap lurus ke depan. "Apa rencanamu, Ge?" tanya Luna.

__ADS_1


"Aku masih memikirkannya. Yang jelas hukuman itu harus sepadan dengan apa yang telah mereka perbuat padamu," jawab Aiden.


Aiden menghisap batang rokoknya yang sudah hampir tak tersisa lagi lalu membuangnya, pandangannya bergulir pada Luna. Tatapan mereka bertemu. Aiden menatap mata Hazel itu selama beberapa detik, membuat bola mata itu bergerak dengan gusar, si empunya mutiara Hazel itu gugup karena ditatap sedalam itu oleh Aiden.


Buru-buru Luna mengakhiri kontak diantara mereka berdua. Dia tidak sanggup menatap mata Aiden terlalu lama, Luna gugup. "Kenapa kau tidak memberitahuku jika kalian tadi diikuti?" tanya Aiden tanpa mengakhiri kontak matanya dengan Luna. Namun tidak ada jawaban dari Luna, karena dia bingung harus menjawab apa.


"Jawab pertanyaanku, Luna." pinta Aiden menuntut. Dia benar-benar membutuhkan penjelasan dari Luna.


"Aku...."


Luna menggantung kalimatnya, dia benar-benar bingung harus memberikan penjelasan yang bagaimana. Tidak mungkin dia mengatakan jika tidak ingin terus-terusan menjadi beban baginya, karena pada kenyataannya Luna adalah beban bagi Aiden.


"Ge, bisakah kita tidak usah membahasnya lagi? Toh, kejadiannya juga sudah. Aku juga baik-baik saja dan tidak terluka sama sekali, Jadi untuk apa dibahas lagi?" tandas Luna.


Jujur saja Aiden sedikit kecewa dengan sikap Luna. Namun disisi lain dia juga tidak bisa menyalakan sikapnya, mungkin Luna memiliki alasan sampai-sampai dia tidak mengatakan apapun padanya.


Gyuttt...


Luna menggepalkan tangannya sambil menutup matanya rapat-rapat. Sepertinya ini adalah saatnya menyampaikan semua uneg-uneg di hatinya pada Aiden tentang bagaimana orang lain menilainya.

__ADS_1


"Karena aku hanya beban, begitulah yang mereka katakan tentang diriku. Mereka selalu menyebutku beban, tidak berguna dan merepotkan. Mereka merasa kasihan padamu karena memiliki adik super beban sepertiku. Kata-kata itu begitu menyakitkan, aku hanya ingin menjadi adik yang berguna yang kerjaannya bulan merepotkan kakaknya saja. Supaya mereka tidak menyebutku sebagai beban lagi." Ujar Luna panjang lebar.


Aiden terkejut mendengar apa yang baru saja Luna katakan. Dia benar-benar tidak tahu jika selama ini Luna mengalami pembullyan dari orang lain yang membuatnya sampai trauma. Dan tugas Aiden adalah menemukan orang-orang itu dan memberikan pelajaran pada mereka.


"Katakan siapa yang menyebutmu beban? Biar aku beri pelajaran mereka semua," geram Aiden, dia benar-benar tidak terima atas apa yang telah mereka perbuat pada Luna.


Luna menggeleng. "Tidak perlu. Aku sudah memberikan pelajaran pada mereka semua. Sekarang mereka sudah tidak bisa berkata macam-macam lagi tentang diriku, karena aku sudah membuat mereka tidur dengan tenang." Tutur Luna.


Aiden memicingkan matanya dan menatap Luna dengan pandangan menyelidik. "Membuat mereka tidur dengan tenang?" Luna menganggukkan kepala. Pupil mata Aiden membulat sempurna. "Jangan bilang jika kau sudah menghabisi mereka?" tebaknya 100% benar.


"Bingo, seratus untukmu, Ge. Ya, aku sudah menghabisi mereka semua dan mengirimnya ke neraka. suruh mereka berani mencari masalah dan gara-gara denganku. Lagipula apa yang aku lakukan bukanlah sebuah perbuatan kriminal, jadi Tidak seorangpun bisa menangkap ku meskipun sudah menghabisi nyawa mereka semua, aku hanya berusaha mendapatkan keadilan untuk diriku sendiri." Ujar Luna panjang lebar.


Aiden memijat pelipisnya yang terasa pening. "Siapa yang mengajarimu menjadi mengerikan seperti ini, Luna?" tanya Aiden. Dia benar-benar ingin tahu siapa yang sudah membawa pengaruh buruk bagi Luna.


"Kau~" Luna menunjuk Aiden dengan jari telunjuknya. "Jika bukan karena kau yang mengajariku menjadi perempuan harus kuat, aku tidak mungkin melakukan tindakan mengerikan seperti itu. Jadi jika kau ingin membuat perhitungan, maka buat saja perhitungan dengan dirimu sendiri." Tukas Luna.


"Luna, kau~"


Luna terkekeh. "Sudahlah, lupakan apa yang sudah terjadi. Ge, Aku lapar jadi temani aku makan di luar." pinta Luna sambil memeluk lengan Aiden lalu membawanya keluar meninggalkan rumahnya. Tidak ada penolakan dari pria itu, Aiden hanya menganggukkan kepala dan menuruti keinginan Luna.

__ADS_1


xxx


Bersambung


__ADS_2