Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Paman Kenapa


__ADS_3

Viona memicingkan matanya melihat keadaan rumah yang tampak sepi dan lenggang, seperti tak berpenghuni. Barang hidung Kevin pun tak terlihat dimana pun padahal mobilnya terparkir di halaman depan.


Berpikir jika Kevin ada di kamarnya. Viona berjalan santai menuju kamar pria itu yang berada di lantai dua, dan benar dugaannya jika Kevin ternyata ada di kamarnya.


"Paman, tumben jam segini sudah pulang? Aku pikir kau lembur," ucap Viona sambil melangkahkan kakinya menghampiri Kevin.


"Dari mana saja kau, kenapa jam segini baru pulang?" Kevin menoleh dan menatap Viona dengan tajam.


"Paman, Ada apa dengan? Tidak biasanya kau bertanya kemana dan darimana aku pergi, kau anah!!" ucapnya lalu mendaratkan pantatnya di samping Kevin. "Aku tadi pergi untuk bertemu dengan teman lamaku, dia baru saja kembali dari luar negeri dan kami makan malam bersama,"


Kevin menoleh, dan matanya bersirobok dengan mata Viona. "Pria?" tebaknya 100% benar. Viona mengangguk.


"Ya,"


Lalu pandangan Kevin lurus kembali ke depan. "Apa kalian sangat dekat?" Kevin bertanya memastikan. Viona mengangguk. "Seberapa dekat?" kembali dia menatap mata Viona.


"Sangat dekat. Tapi kenapa Paman tiba-tiba ingin tahu?" Viona menatap Kevin dengan bingung , karena tidak biasanya dia bersikap seperti ini.


Kevin menggeleng. "Tidak apa-apa, aku hanya ingin memastikan jika temanmu itu adalah pria baik-baik. Dan aku tidak bisa menjamin nyawa dan tubuhnya tetap menyatu jika dia sampai berani macam-macam padamu, aku akan menghabisinya!!" ucapnya datar.


Bulu kuduk Viona seketika berdiri melihat tatapan tajam Kevin yang begitu mengintimidasi, sampai-sampai Viona menggigil kedinginan karena suhu udara yang tiba-tiba menurun drastis. Dan hal itu dipengaruhi oleh tatapan Kevin yang sangat tajam.


"Paman tenang saja, dia bukan orang yang jahat kok. Temanku adalah orang yang sangat baik, dia yang selalu ada untukku ketika aku sedang sedih selama berada diluar negeri, dia adalah orang yang sangat berjasa untukku pada saat itu." Ujar Viona.


Mendengar Viona memuji pria lain di depannya membuat Kevin kesal setengah mati. Memangnya apa hebatnya orang itu sampai-sampai Viona begitu memujinya? Membuat Kevin sangat penasaran dan ingin bertemu dengannya.


"Tidak usah menjanjikan sesuatu yang membuatku tidak yakin. Kau mengatakan dia baik, tapi belum tentu dia benar-benar baik!! Keluarlah, Paman lelah dan ingin beristirahat," Kevin bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja, bahkan Kevin tidak melirik sedikit pun pada Viona.


Wanita itu memiringkan kepalanya dan menatap Kevin dengan bingung. Viona benar-benar heran dengan sikap Kevin saat ini, dia memang sangat menyebalkan, tapi baru kali ini pamannya itu bersikap benar-benar menyebalkan. Membuat Viona kebingungan dan dia tidak habis pikir dengannya.


"Paman, sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kau jadi bersikap aneh seperti ini?" tanya Viona. Dia menghampiri Kevin yang sedang berbaring di ranjangnya, lagi-lagi Kevin tak menghiraukannya. "Paman, aku bertanya padamu dan kenapa kau malah mengabaikanku?!" Viona naik keatas tempat tidur Kevin lalu duduk diatas perutnya.

__ADS_1


"Viona, apa yang kau lakukan? Cepat turun!!" pintarnya menuntut.


Viona menggelengkan kepala. "Tidak mau!! Aku tidak akan turun sebelum Paman memberikan alasan kenapa tiba-tiba bersikap menyebalkan seperti ini!!" ucapnya sambil bersidekap dada. Viona memalingkan wajahnya dan menoleh kearah lain.


Kevin menghela nafas. "Turun sekarang juga, Viona!!" tuntut Kevin dengan suara sedikit meninggi, membuat Viona tersentak dibuatnya, pasalnya baru kali ini Kevin bersikap acuh apalagi sampai membentaknya.


"Paman, kenapa harus membentakku?" ucap Viona dengan suara paraunya, dia berusaha untuk menahan tangis.


"Tidak ada yang membentakmu karena aku memang seperti ini. Turunlah dan pergilah ke kamarmu, aku lelah dan ingin istirahat," ucap Kevin datar. Dia memalingkan wajahnya dari Viona.


Wanita itu menghela nafas lalu turun dari atas perut Kevin dan melenggang keluar. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan Pamannya itu, memangnya pagi ini Kevin salah Minum obat apa sampai-sampai dia bersikap sangat menyebalkan.


Kevin bangkit dari berbaringnya dan menatap kepergian Viona dengan tatapan tak terbaca, dia memijit pelipisnya sendiri yang terasa sedikit pening. Kevin tidak tau apa yang terjadi pada dirinya, kenapa dia bisa sampai sekesal ini hanya karena mendengar Viona memuji pria lain di depan matanya.


"Ck, benar-benar merepotkan!!" dia menggerutu lalu merebahkan kembali tubuhnya, sebisa mungkin Kevin mencoba untuk tidur lebih awal karena besok pagi dia ada pertemuan penting dengan beberapa koleganya yang dari luar negeri.


.


.


Di salah satu kamar di sebuah Mansion mewah, seorang wanita terlihat sibuk merias dirinya di depan cermin. Tubuh rampingnya dalam balutan dress bermotif bunga sepanjang lutut, rambut panjangnya dia biarkan tergerai dan jatuh di atas punggungnya, tak ketinggalan polesan make up tipis yang kian menyempurnakan penampilannya.


Setelah memastikan tak ada yang kurang pada penampilannya, wanita itu menyambar tasnya yang tergeletak di atas tempat tidurnya lalu melenggang keluar meninggalkan kamarnya.


Hari ini dia ada janji dengan temannya, iya berencana untuk menemaninya mencari tempat tinggal baru karena tempat tinggal lamanya sedang direnovasi.


"Bi, kalau Paman bangun bilang padanya aku keluar karena ada urusan," wanita itu 'Viona' menghentikan langkahnya, dia berpesan pada pembantunya supaya menyampaikan pada Kevin jika ia ada urusan makanya pergi pagi-pagi sekali.


Awalnya Viona berniat untuk ijin terlebih dulu padanya, tapi melihat pintunya masih tertutup rapat jadi dia berpikir jika pamannya belum bangun. Jadi Viona mengurungkan niatnya untuk menemui Kevin belum pergi.


"Baik Nona," jawab wanita itu sambil membungkuk di depan Viona yang kemudian melewatinya begitu saja.

__ADS_1


Masih di tempat yang sama namun di lokasi berbeda, seorang pria berdiri di dekat jendela kamarnya sambil menatap kepergian Viona dengan seorang laki-laki asing dengan pandangan tidak suka. Dia bukan pria yang ia lihat kemarin di cafe, wajah mereka berbeda begitupula dengan postur tubuhnya.


Pria itu mengepalkan tangannya, sorot matanya dingin dan tajam menatap pada laki-laki itu. Sekilas laki-laki itu mengangkat wajahnya yang membuat pandangan mereka tidak sengaja saling bersirobok. Laki-laki itu terlihat membungkuk sekilas kearah Kevin sebelum masuk ke dalam mobilnya.


Dan dalam hitungan detik saja mobil tersebut melaju kencang meninggalkan kediaman Zhang.


"Ck, ada apa denganku? Kenapa melihatnya bersama pria lain membuatku kesal begini? Benar-benar merepotkan!!" Kevin beranjak dari posisinya dan melenggang menuju kamar mandi. Sudah siang dia harus bersiap sekarang.


.


.


"Daniel, kita sudah mengelilingi kota hampir seharian tapi kita belum juga menemukan tempat tinggal untukmu. Daripada pusing-pusing, bagaimana jika untuk sementara kau tinggal di rumahku saja sampai rumahmu selesai direnovasi?" usul Viona.


Viona mendaratkan pantatnya pada kursi panjang yang ada di trotoar jalan. Mereka sudah berputar dan mengelilingi kota hampir seharian tetapi belum juga menemukan tempat tinggal untuk sahabatnya tersebut, Kevin.


"Tapi, Vi. Apa tidak terlalu merepotkan? Aku tidak enak pada keluargamu jika harus menumpang di sana." Ucap Daniel.


Viona menggeleng. "Masalah itu kau tenang saja, aku hanya tinggal bersama Pamanku saja dan beberapa pelayan yang bekerja di rumah. Sebenarnya Pamanku adalah orang yang baik, meskipun sifatnya seperti Kutub Utara. Dan kau tenang saja, aku yang akan meminta ijin padanya. Jika Paman tidak mengijinkannya maka aku akan memaksa dia supaya mengijinkanmu untuk tinggal bersama kami sementara waktu, kau hanya tinggal menjawab iya atau tidak."


Daniel menganggukkan kepala. "Baiklah, aku mau. Karena harus merepotkanmu," ucap Daniel penuh Sesal.


Viona menggeleng. "Santai saja, bukan masalah yang besar kok. Ayo kita berangkat sekarang," ucapnya dan dibalas anggukan oleh Daniel.


"Baiklah,"


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2