
"KEVIN!!"
Tuan Lu tidak bisa menahan keterkejutannya setelah mengetahui Siapa orang yang ditemui oleh Viona. Ternyata bukan orang lain, tapi orang itu adalah Kevin. Dan kemunculan Tuan Lu tentu saja mengejutkan mereka berdua, Viona terutama. Dia tidak menyangka jika Tuan Lu akan mengikutinya.
"Kakek, apa yang sedang kau lakukan di sini? Jangan bilang jika kau mengikuti ku sampai kemarin?" tebak Viona 100% benar.
Tuan Lu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maaf, Vio. Kakek hanya penasaran siapa sebenarnya yang kau temui, sampai-sampai kau berdandan secantik ini." Jawab Tuan Lu.
Jadi benar firasatnya tadi, dia benar-benar sedang diikuti. Dan siapa yang menduga jika yang mengikutinya adalah Kakek mertuanya sendiri. "Aku memang merasa sedang diikuti, tapi aku tidak menduga jika orang itu adalah, Kakek. Kakek, kau benar-benar keterlaluan!!" ujar Viona dengan kesal.
Dari Viona, pandangan Tuan Lu kemudian bergulir pada Kevin. Tuan Lu menunjukkan reaksi yang sama seperti yang di tunjukkan oleh Viona ketika melihat kondisi Kevin sekarang. Tuan Lu mendekati Kevin dan menatapnya dengan mata berkaca-kaca, dia terharu, sangat-sangat terharu.
"Kevin, matamu." Ucap Tuan Lu. "Apa kau pergi untuk ini?"
Kevin mengangguk. "Ya," dan menjawab singkat.
Tuan Lu menyeka kembali air matanya. Dia masih belum bisa percaya dengan apa yang dilihat oleh matanya. Untuk meyakinkan dirinya jika yang di lihat itu benar, Tuan Lu sampai mencubit lengannya sendiri, dan terasa sakit. Itu artinya dia tidak sedang bermimpi. Dan ternyata Kevin lebih tampan dengan matanya yang sempurna.
"Kalian duduklah, biar Kakek yang mentraktir kalian berdua. Viona, kau boleh memesan apapun yang ingin kamu makan, anggap saja ini sebagai permintaan maaf kakek karena sudah mengikuti mu secara diam-diam," ujar Tuan Lu.
Viona tersenyum lebar. "Dengan senang hati, Kakek. Karena rejeki seperti ini tidak boleh ditolak, kalau begitu aku akan memesan sekarang dan tidak akan sungkan-sungkan." ucap wanita itu dengan semangat.
Seburuk apapun moodnya, jika sudah menyangkut tentang makanan, pasti dia akan kembali bersemangat. Sedangkan Kevin hanya menghela nafas dan menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya. Ada saja tingkahnya yang membuat Kevin menggelengkan kepala.
__ADS_1
Obrolan mereka bertiga diinterupsi oleh kedatangan pelayan yang datang mengantarkan pesanan mereka. Dan semua makanan yang di pesan oleh Viona adalah makanan-makanan mewah nan mahal yang harganya mampu menguras isi dompet.
Tuan Lu tidak merasa keberatan, meskipun makanan-makanan yang di pesan oleh Viona berharga mahal, namun tidak sampai membuatnya kehabisan uang apalagi jatuh miskin. Selanjutnya, makan malam mereka bertiga jalani dengan tenang.
xxx
"Donny, apa kau yakin dengan yang kau katakan ini? Hwan, dia menjadi CEO di Lu Corp?" tanya seorang pria paruh baya pada Donny.
Donny mengangguk. "Ya, Pa. Beberapa kali aku bertemu dengannya, dan terakhir dia malah mengusirku dan membatalkan semua kontrak kerjasama Kita dengan, Lu Corp. Anak itu sekarang menjadi sangat berani, mentang-mentang posisinya jauh lebih tinggi dari kita, jadi dia bisa berbuat semena-mena. Pa, kita harus memberi pelajaran padanya." Ujar Donny.
Paruh baya itu mengangguk. "Ya, itu juga yang Papa pikirkan. Sebaiknya kau tidak perlu menemuinya lagi, biar Papa sendiri saja yang pergi menemuinya. Papa, ingin melihat seberapa hebat dia sekarang, sampai-sampai dia begitu berani pada kita." Tutur paruh baya itu.
"Sebaiknya Papa berhati-hati. Sekarang Dia memiliki seorang pelindung, tidak hanya siap untuk membelanya, tapi juga siap untuk melawan juga. Aku hanya mengingatkan sebelum Papa kena mental saat menghadapinya." Ujar Donny mengingatkan.
Paruh baya itu menjadi semakin penasaran. Dia ingin melihat sehebat apa Hwan sekarang, sampai-sampai dia berani bersikap sombong dan angkuh. Bagaimana pun juga dia adalah ayahnya, seharusnya dia menghormatinya sebagai seorang anak.
xxx
Hampir dua juta uang yang harus Tuan Lu keluarkan hanya untuk beberapa porsi makanan. Namun angka-angka itu tentu bukan masalah bagi pemilik Lu Corp yang menduduki peringkat ke 5 sebagai perusahaan terbesar di Asia.
"Kek, terima kasih untuk makan malam mewahnya." Ucap Viona sambil tersenyum lebar.
"Sama-sama, Sayang. Yang penting kau senang dan tidak dendam pada Kakek karena sudah mengikuti mu tadi. Oya, Key. Sebaiknya hubungi, Frans. Dia sempat menangis selama satu hari satu malam karena kau tiba-tiba menghilang, dia sangat mencemaskan mu." ucap Tuan Lu memberi saran.
__ADS_1
Kevin mengangguk. "Aku sudah menghubunginya dan memberitahunya jika pulang hari ini." Jawab Kevin.
"Ya, sudah. Kalian pasti ingin saling melepaskan rindu, Kalau begitu Kakak pergi dulu." Tuan Lu bangkit dari kursinya dan pergi begitu saja, meninggalkan Kevin dan Viona berdua di sana.
Pandangan Kevin lalu bergulir pada Viona. Pria itu menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis, membuat Viona ikut tersenyum juga. Kevin meraih tangan Viona lalu menggenggam jari-jari lentiknya dengan lembut.
"Ge, rasanya aku masih tidak percaya melihatmu dengan penglihatan lengkap seperti ini. Memangnya Apa yang membuatmu memutuskan untuk melakukan operasi? Bukankah selama ini kau acuh dan tidak begitu peduli, bahkan ketika orang-orang menyebutmu cacat. Aku sangat penasaran,"
"Anak-anak kita. Dulu aku memang tidak peduli dan tidak terlalu ambil pusing dengan kondisiku, tapi setelah menikahi mu aku jadi memiliki banyak sekali pertimbangan. Suatu hari kita pasti memiliki anak, mereka akan tumbuh dewasa dan masuk sekolah. Aku tidak ingin mereka menjadi bahan olok-olokan teman-temannya hanya karena kondisi ayahnya yang tidak sempurna. Aku tidak ingin anak-anakku menjadi korban bullying, itulah yang akhirnya membuatku memutuskan untuk operasi." Tutur Kevin panjang lebar.
Viona tersenyum menanggapi ucapan Kevin. Ternyata dia sudah berpikir jauh ke depan, bahkan tentang masa depan anak-anak mereka kelak, dan hal itu membuat Viona terharu, sampai-sampai dia menitihkan air mata.
"Ge, terimakasih untuk apa yang telah kau lakukan ini. Kau membuatku terharu, maaf karena aku sempat memaki dan menghujani mu dengan berbagai sumpah serapah ku. Tapi bukan salahku juga, siapa suruh kau tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Dan percayalah aku tidak bermaksud begitu, aku hanya emosi sesaat," Ujar Viona.
"Aku bisa mengerti, karena memang aku yang bersalah. Ini sudah malam. Ayo, sebaiknya kita pulang sekarang."
Viona menggeleng. Aku masih belum ingin pulang. "Ge, bagaimana jika kita jalan-jalan sebentar? Aku ingin menikmati keindahan kota Beijing saat malam hari bersamamu. Sejak kau menghilang, aku tidak pernah pergi ke mana pun, setiap hari aku hanya menjadi penghuni kamar dan itu membuatku bosan." Ujar Viona panjang lebar.
"Memangnya kau ingin pergi ke mana?" tanya Kevin.
Viona menggeleng. "Entah, aku sendiri tidak tahu. Yang penting jalan-jalan saja berkeliling kota juga tidak masalah," jawabnya.
"Ya, sudah. Ayo pergi," Kevin mengulurkan tangannya pada Viona yang dengan senang hati disambut olehnya. Kemudian mereka berdua melenggang pergi meninggalkan Star Hotel's.
__ADS_1
xxx
Bersambung