
Setelah melakukan perjalanan panjang dan melelahkan, akhirnya Kevin, Viona dan Frans di Korea. Pesawat mereka baru saja mendarat, dan sebuah sedan hitam langsung menyambut kedatangan mereka di bandara.
Tanpa menghiraukan Kevin dan Viona. Frans berlari menuruni tangga pesawat kemudian menghampiri Rico dan melompat ke pelukannya. Membuat Rico membelalakkan kedua matanya. Karena tidak siap dan hilang keseimbangan , mereka roboh dalam posisi berpelukan.
"Ahhh," terdengar pekikan keras dari keduanya.
"Frans, Rico," seru Kevin sambil berjalan dengan buru-buru menghampiri mereka berdua. "Kalian ini apa-apaan?" omel sambil membantu mereka berdua berdiri.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Viona memastikan.
Rico menggeleng. "Aku tidak baik-baik saja, Nona. Punggung dan pantatku terasa sakit akibat benturan barusan." Jawab Rico. Pandangan Rico bergulir pada Frans dan menatapnya dengan horor. "Frans, kau cari mati, ya?!"
"Ma..Maaf, aku hanya terlalu bersemangat karena bisa bertemu lagi denganmu." Jelas Frans sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Rico menghela napas. "Baiklah, kali ini kau aku maafkan. Tapi awas jika lain kali seperti ini lagi!!" ucap Rico sedikit mengancam.
"Ya, aku berjanji. Tapi, Kak. Aku sangat merindukanmu. Kemarilah dan biarkan aku memelukmu." Ucap Frans sambil merentangkan kedua tangannya, meminta supaya Rico memeluknya.
Mengabaikan drama menggelikan mereka berdua, Viona dan Kevin memilih untuk langsung masuk ke dalam mobil. Mereka terlalu malas melihat drama Frans dan Rico yang sangat-sangat menggelikan.
"Paman, bagaimana kalau kita tinggalkan saja mereka berdua? Aku lelah dan sangat-sangat merindukan tempat tidur," ucap Viona memohon.
Kevin mengangguk. Tidak masalah meninggalkan mereka berdua. Toh baik Frans maupun Rico memiliki ponsel, mereka bisa meminta anak buahnya untuk menjemput di bandara atau mungkin mereka bisa pulang dengan menggunakan taksi. Toh mereka berdua juga tidak kekurangan uang.
Frans menoleh dan tampak kebingungan. "Eh, kemana perginya mobilmu tadi?" dia menoleh dan menatap Rico dengan bingung.
Rico menggeleng. "Aku juga tidak tahu." jawabnya singkat.
Mereka berdua membulatkan matanya sambil bertukar pandang. "Jangan-jangan kita... DI TINGGALKAN!!"
__ADS_1
xxx
Gerbang tinggi itu terbuka saat sebuah sedan hitam tampak dari kejauhan. Dua penjaga yang berjaga di depan pintu buru-buru membungkuk saat mobil itu melewati mereka. Sedan hitam itu berhenti di halaman luas sebuah mansion mewah yang memiliki tiga lantai.
Dua orang, seorang pria dan wanita tampak keluar dari mobil tersebut. "Akhirnya kita sampai juga," seru si wanita yang pastinya adalah Viona. Setelah berminggu-minggu meninggalkan kediaman Zhang, akhirnya dia kembali ke rumah tempat dia dilahirkan dan dibesarkan.
"Ya, sudah ayo masuk." Kevin merangkul punggung Viona dan mengajaknya masuk ke dalam.
Setibanya di dalam. Kedatangan mereka di sambut oleh seorang wanita yang tengah sibuk merubah dekor rumah, mulai mengganti sofa dan semua properti yang ada di mansion Zhang. Melihat hal tersebut Viona pun tidak tinggal diam, apalagi orang yang mendesain seisi rumah adalah mendiang Ibunya.
"APA YANG KAU LAKUKAN PADA RUMAHKU?!" teriak Viona dengan marah. Sontak Wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Cintia menoleh ke belakang.
"Siapa kau? Dan kenapa kau bisa masuk ke rumah ini?" bukannya menjawab pertanyaan Viona, Cintia malah balik bertanya.
PLAKKK...
Bukannya sebuah jawaban. Tamparanlah yang Cintia dapatkan. Viona benar-benar diliputi emosi dan amarah melihat orang asing bersikap seenaknya. "Apa-apaan kau ini, kenapa menamparku?!" bentak Cintia dengan emosi.
Pandangan Cintia lalu bergulir pada Kevin yang baru saja tiba. "Kevin," serunya dan berlari menghampiri pria itu. Kevin menyingkir ketika Cintia hendak memeluknya, hingga tubuhnya tersungkur ke depan.
Sontak Cintia menoleh dan menatap Kevin. "Kenapa kau menghindar?" tanya Cintia sambil menatap pria itu.
"Lalu?"
Cintia menatap Kevin tak percaya. "Lalu kau bilang? Kevin, aku adalah wanitamu dan seharusnya kau melindungi ku!!"
"Siapa yang mengijinkan dia masuk dan menginjakkan kakinya lagi di rumah ini?" tanya Kevin pada para pelayan.
Mereka saling bertukar pandang dan menggelengkan kepala. "Kami juga tidak tahu, Tuan. Karena tidak ada di antara kami yang mengijinkan dia masuk kemari, tiba-tiba dia datang bersama mobil property. Sopir mobil itu mengatakan jika Anda yang membelinya makanya penjaga membukakan gerbang untuk mereka. Kami sudah berusaha untuk mencegah nyonya Cintia melakukannya, tapi dia bilang itu perintah Tuan." Dengan menahan rasa takut dibawah ancaman Cintia, salah seorang pelayan memberanikan diri memberikan penjelasan pada Kevin.
__ADS_1
"Aku tidak mau tahu, pokoknya kembalikan semuanya seperti sedia kala!!" pinta Viona menuntut.
"Aku tidak bisa. Desain lama terlalu kuno dan tidak cocok dengan mansion mewah seperti ini. Lagi pula memangnya kau siapa, sampai-sampai berani mengaturku yang merupakan calon Nyonya besar di rumah ini!!" ujar Cintia.
"Sebaiknya jika bermimpi jangan terlalu tinggi. Bangun, karena saat kau terjatuh itu rasanya sangat menyakitkan. Aku akan memberimu waktu beberapa jam untuk mengembalikan semuanya seperti sedia kala. Jika kau tidak sanggup, maka aku akan membawa masalah ini ke kantor polisi!!" tegas Viona memberi ancaman.
Pandangan Cintia lalu bergulir pada Kevin. "Kevin," ucapnya memohon.
"Lakukan saja sesuai perintahnya," Ucap Kevin dan pergi begitu saja.
Kevin menyusul Viona yang pergi menuju kamar mereka di lantai dua. Dia tahu suasana hatinya sedang tidak baik, dan Kevin berusaha untuk sedikit membujuknya.
.
.
"Paman, sebenarnya siapa wanita itu? Kenapa dia lancang sekali di rumah ini? Sudah begitu malah bersikap sok akrab lagi denganmu!!" kesal terlihat dari raut wajah Viona. Dia terlihat kesal Setengah Mati.
Kevin mendekati Viona lalu berhenti di depannya. Dari raut wajahnya Kevin bisa melihat dengan jelas jika dia sedang kesal dan marah. "Namanya Cintia, dan dia adalah mantan kekasihku. Aku tidak tahu kenapa dia tiba-tiba kembali dan berusaha mengusik hidupku lagi," ujar Kevin memberi penjelasan. Dia tidak ingin menyembunyikan apapun dari Viona, termasuk masa lalunya.
Sontak Viona mengangkat kepalanya. "Mantan Kekasihmu? Dia sangat cantik, apa kau akan kembali padanya dan meninggalkanku?" tanya Viona memastikan.
"Bodoh!! Tentu saja tidak, untuk apa aku membuang butiran berlian hanya demi batu kerikil." Balas Kevin.
Viona berhambur ke dalam pelukan Kevin setengah mendengar jawaban darinya. Sekarang Viona merasa lega.
Seharusnya Viona tidka perlu meragukan perasaan Kevin padanya. Meskipun sikapnya selalu dingin, dan terkadang membuatnya kesal, tapi satu hal yang pasti... Jika laki-laki itu benar-benar tulus mencintainya. Dan beberapa Viona sangat beruntung memilikinya.
xxx
__ADS_1
Bersambung