
Kenangan demi kenangan masa lalunya bersama Viona kembali berputar diingatan Aldo, seperti roll film yang selalu berakhir setiap episodenya. Masa-masa indahnya bersama Viona meninggalkan kenangan nyata yang tertinggal dihatinya.
"Viona, Andaikan saja kau masih ada di sini dan masih sama-sama seperti dahulu, mungkin duniaku tidak akan sampah ini. Viona, aku merindukanmu." Ucap Aldo sambil memandangi potret Viona yang tersimpan di ponselnya.
Apakah Aldo menyesal karena telah berpisah dengan Viona? Maka jawabannya iya , Aldo sangat-sangat menyesali perpisahan mereka. Dan jika waktu bisa diputar kembali, Aldo ingin kembali ke masa lalu dan memperbaiki hubungannya dengan Viona. Namun sayangnya semua itu sudah tidak mungkin.
"Aldo, apa yang sedang kau pikirkan?" pertanyaan itu mengalihkan perhatian Aldo yang sedang menatap langit malam bertabur bintang. Aldo menoleh dan mendapati sang Ibu berjalan menghampirinya.
Aldo menggeleng. "Tidak ada, aku tidak sedang memikirkan apa-apa." Jawabnya berdusta. Tidak mungkin Aldo mengatakan pada ibunya Jika dia sedang memikirkan Viona. Bisa-bisa dia malah memarahinya habis-habisan.
"Hari ini kita akan kedatangan tamu, jadi persiapkan dirimu untuk menyambutnya."
Aldo memicingkan matanya dan menatap ibunya dengan bingung. "mengapa harus aku?" tanya Aldo.
"Kau akan mengetahuinya nanti.Audha jangan banyak tanya lagi ,cepat siap-siap sekarang. Karena dia akan segera tiba di sini. Kalau begitu Mama keluar dahulu," ucap Rossa dan pergi begitu saja.
Kehidupan ekonomi mereka yang sempat memburuk karena perusahaan milik Aldo terlilit utang dalam jumlah besar, perlahan membaik setelah dia berhasil mendapatkan kontrak kerja sama dengan perusahaan dari luar negeri.
Dan dari hasil yang mereka dapatkan, Aldo bisa membeli sebuah rumah yang kemudian dia tinggali bersama ibu dan adiknya. Meskipun tidak terlalu besar dan mewah tetapi rumah itu memiliki dua lantai, 4 kamar tidur, satu ruang tamu, satu ruang keluarga, dapur dan pekarangan yang luas.
Rumah itu lebih dari cukup untuk melindungi mereka dari terjangan panas dan hujan, rumah itu juga jauh lebih baik daripada rumah yang mereka tempati sebelumnya.
"Ma, aku ingin rujuk kembali dengan Viona." langkah kaki Rossa berhenti detik itu juga setelah mendengar apa yang baru saja Aldo katakan. Menoleh
Sontak rossa menoleh dan menatap Aldo dengan pandangan bertanya. "Apa maksudmu, Aldo?" tanya Nyonya Rossa meminta penjelasan.
__ADS_1
Aldo menghela napas panjang. "Aku masih mencintai Viona, dan aku ingin rujuk dengannya." jawab Aldo menegaskan.
Entah Aldo memiliki keberanian dari mana, sampai-sampai dia berani mengatakan terang-terangan pada ibunya Jika dia ingin rujuk Kembali dengan Viona.
Rossa menggelengkan kepala. "Tidak Aldo, apa pun alasanmu Mama tidak setuju kau kembali dengan wanita itu. Viona bukanlah wanita baik-baik yang cocok untuk bersanding denganmu, sebaiknya lupakan keinginanmu untuk rujuk kembali dengannya, karena sampai kapan pun Mama tidak akan pernah mengijinkannya!!" ucap Nyonya Rossa menegaskan.
Rossa tidak akan menelan ludahnya sendiri dengan menerima Viona kembali ke keluarganya, meskipun sebenarnya sangat disayangkan jika Aldo tidak bisa kembali padanya.
Ternyata dugaannya salah tentang Viona selama ini, dia pikir Viona berasal dari keluarga miskin yang keluarganya tidak memiliki apa-apa, tetapi pada kenyataannya Viona adalah seorang Nona besar yang berasal dari keluarga kaya raya.
tetapi nasi telah menjadi bubur, percuma juga menyesali apa yang terjadi, karena semua sudah telanjur terjadi.
"Apa sebenci itu Mama padanya? Sampai-sampai Mama tidak menyetujui keinginanku untuk rujuk kembali dengannya. Aku Masih Mencintainya Ma, dan aku sangat menyesali apa yang sudah terjadi di antara kami. Jika waktu bisa diputar kembali, aku ingin memperbaiki kesalahanku pada masa agar kami tidak pernah berpisah." ujar Aldo panjang lebar.
"Dan ingat baik-baik yang akan mama katakan ini, jangan pernah mengharapkan apa pun, apalagi restu dariku untuk dirimu kembali padanya. Karena sampai kapan pun Mama tidak akan merestuinya, amora akan Setelah tiba jadi segera persiapkan dirimu untuk menyambutnya!!" ujar Nyonya Rossa panjang lebar. Kemudian dia beranjak dari kamar Aldo dan pergi begitu saja.
Aldo tidak tahu Apa alasan ibunya sangat membenci Jessica, sampai-sampai dia begitu menentang hubungan mereka berdua. Dan sejak awal rossa tidak pernah merestui dirinya menikahi wanita itu, padahal Aldo sangat mencintainya.
.
.
Hachuuu....
Tidak ada hujan tidak ada angin tiba-tiba Viona bersin, dan hal itu mengejutkan Kevin. Buru-buru Kevin menghampiri wanita itu sambil melepaskan jasnya, lalu menyampirkan pada pundak Viona.
__ADS_1
"Apa kau sakit?" tanya Kevin memastikan.
Viona menggelengkan kepala. "Tidak, aku baik-baik saja Paman. Sepertinya ada yang sedang membicarakanku, makanya aku bersin." ucapnya menimpali, karena sebenarnya dirinya memang tidak apa-apa.
"Udara sangat dingin, sebaiknya Ayo masuk." seru Kevin mengajak wanita itu untuk masuk ke dalam, sekarang keduanya sedang berada di taman belakang kediaman Zhang.
Lagi-lagi Viona menggelengkan kepalanya. "Tidak mau, ingin di sini Paman. Jika Paman masuk masuk, masuk saja duluan. Aku masih ingin di sini menikmati Angin Malam," ucap menimpali.
Kevin mendesah berat. "Baiklah, kalau begitu Paman akan menemanimu di sini." ucapnya dan dibalas anggukan oleh Viona, karena tidak mungkin Kevin meninggalkannya sendirian di taman.
Viona menyandarkan kepalanya pada bahu kanan Kevin, pandangannya lurus pada langit malam bertabur bintang. Viona tidak bisa tidak bisa tidur sampai selarut ini , dan Kevin menemaninya untuk tetap terjaga.
"Paman, aku merindukan Mama. Semalam aku bermimpi tentangnya, hidupku rasanya sangat hampa tanpa kehadirannya. Andaikan saja saat ini Mama masih ada disini dan bersama-sama dengan kita, pasti hidupnya akan terasa lebih sempurna." Ujar Viona dengan suara parau seperti menahan tangis.
Kevin merengkuh tubuh Viona dan mendekapnya dengan erat. "Jangan ditangisi apalagi disesali kepergiannya, lagipula kau masih memiliki Paman. Paman akan selalu menjagamu seperti Kakak ipar menjaga dirimu." Ucap Kevin berbisik. Sebelah tangannya menggenggam jari-jari lentik Viona dengan lembut namun erat.
Dan rasa sedih yang Viona rasakan karena merindukan ibunya hilang seketika. Kehangatan pelukan Kevin selalu membuatnya merasa tenang, nyaman dan terlindungi. Bahkan lebih hangat dari pelukan ayahnya, karena sejak Kecil Viona tidak pernah merasakan bagaimana hangatnya pelukan seorang ayah.
Beruntung dia memiliki Kevin yang selalu ada untuknya dan menjaganya setiap waktu, mungkin hidupnya akan selalu dipenuhi kesedihan jika tidak ada Kevin.
.
.
Bersambung
__ADS_1