Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Tetap Pamanku


__ADS_3

Keheningan kembali menyelimuti kebersamaan Kevin dan Viona. Saat ini mereka sedang berada di sebuah restoran mewah yang berada di kawasan kota. Viona memperhatikan penampilan Kevin dan menghela napas.


"Paman, sebenarnya apa yang terjadi padamu selama beberapa tahun kita berpisah? Kenapa kau berubah drastis seperti ini?" tanya Viona mengakhiri keheningan diantara mereka berdua.


Ada tatto di lengan kanan Kevin, benda hitam bertali yang entah sejak kapan menutupi mata kirinya, dan masih banyak lagi perubahan-perubahan pada Kevin yang Viona rasakan termasuk aura suram yang melingkupi dirinya.


Viona tahu jika Paman angkatnya itu adalah orang yang sangat berbahaya, tapi dia tidak pernah tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sehingga Kevin berubah 180° dari yang dulu dia kenal.


"Aku adalah orang yang cacatt sekarang, dan apapun yang terjadi padaku selama beberapa tahun berpisah itu tidak ada hubungannya sama sekali denganmu. Intinya, Paman bukan lagi pria sempurna seperti yang kau kenal selama ini," ucap Kevin sambil menutup rapat-rapat matanya.


Viona meraih tangan kanan Kevin dan membuatnya sedikit tersentak. "Aku tidak peduli bagaimanapun keadaan Paman saat ini, mau cacatt kek mau jadi wariia sekalipun, aku sama sekali tidak peduli. Karena yang aku tahu, kau itu Pamanku, satu-satunya keluarga yang aku miliki saat ini dan juga orang yang paling aku pedulikan," ujar Viona.


Kevin menepuk kepala Viona lalu menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis. "Ternyata gadis kecil Paman sudah tumbuh menjadi perempuan dewasa. Ya sudah, jangan bicara lagi, sebaiknya segera habiskan makananmu sebelum dingin." pinta Nathan dan dibalas anggukan oleh Viona.


Selanjutnya makan siang mereka lewati dengan tenang. Tidak ada obrolan lagi seperti tadi, dan yang terdengar hanya suara denting sendok dan piring yang saling bersentuhan.


.


.


Aldo, Rossa dan Amelia hanya mampu terpaku melihat rumah yang selama ini mereka tempati sekarang rata menjadi tanah. Mereka benar-benar tidak habis pikir dengan Viona, bagaimana bisa wanita itu menghancurkan dunia sendiri tanpa mempedulikan kerugian yang dia alami.


Tidak ada lagi yang tersisa dari rumah itu selain puing-puingnya yang berserakan di tanah. "Aaarrkkhh... Viona, kau benar-benar sialan!!" teriak Aldo dengan marah, dia terlihat sangat frustasi.

__ADS_1


Aldo tidak tahu lagi kemana harus pergi setelah ini, karena mereka sudah tidak memiliki tempat tinggal lagi. Rumah peninggalan ayahnya Aldo jual setelah menikah dengan Viona, karena dia tidak berpikir jika akan ada masalah seperti ini. Dan sekarang dia baru menyesalinya.


"Kak, jangan hanya berteriak saja, sebaiknya segera pikirkan cara tentang bagaimana kita keluar dari masalah ini. Sekarang kita sudah tidak memiliki tempat tinggal lagi, masa iya harus tidur di kolong jembatan, dan sebagai anak laki-laki seharusnya aku memikirkan nasib keluargamu!!" ujar Amelia.


Bukannya terenyuh mendengar perkataan adiknya. Aldo justru marah mendengar perkataannya, dia tersinggung dengan ucapan Amelia yang seolah-olah menyudutkan dirinya.


"Diamlah kau, Amelia!! Apa kau tidak tahu jika selama ini dirimu itu hanyalah beban keluarga!! Jadi jangan banyak bertingkah," ucap Aldo dengan garam.


"Sudah cukup kalian berdua!! Kenapa kalian malah bertengkar dan saling menyalahkan?!" bentak Rossa menengahi pertengkaran kedua anaknya. Ibu dua anak itu menatap mereka berdua bergantian. "Tidak ada gunanya lagi kalian bertengkar seperti ini, sebaiknya sekarang kita sama-sama memikirkan cara untuk menemukan tempat tinggal, karena tidak mungkin kita tidur dibawa kolong jembattan!!" imbuhnya menegaskan.


Aldo menarik napas panjang dan menghelanya, dia berusaha untuk meredam emosinya yang meluap-luap. "Sebaiknya ambil barang-barang kalian, untuk sementara kita bisa tinggal di rumah yang disediakan kantor untuk para karyawannya." ucap Aldo. Aldo meraih kopernya dan melenggang pergi, meninggalkan ibu dan adiknya begitu saja.


"Kenapa aku dan Lia malah ditinggal? Aldo tunggu!!"


.


.


"Setelah bertahun-tahun, akhirnya aku menginjakan kembali kakiku di rumah ini," ucap Viona serayu menjatuhkan tubuhnya pada sofa empur di ruang keluarga.


"Sebaiknya pergi saja ke kamarmu dan segera istirahat. Paman, ke kamar dulu," ucap Kevin dan pergi begitu saja.


Selepas kepergian Kevin, beberapa pelayan menghampiri Viona, mereka kemudian membungkuk di depan perempuan itu. "Selamat datang kembali di rumah ini, Nona Besar," ucap wanita yang berdiri di barisan paling depan, dia adalah kepala pelayan di Mansion ini.

__ADS_1


"Kalian boleh pergi," pinta Viona sambil mengibaskan tangannya.


Beberapa pelayan pergi meninggalkan Viona dan menyusahkan kepala pelayan. "Nona, ada beberapa hal yang harus saya sampaikan pada Anda,"


Viona mengangkat kepalanya dan menatap wanita itu dengan bingung. "Apa? Katakan saja," pintanya.


"Seperti aturan yang telah dibuat oleh mendiang Nyonya Besar, seorang wanita harus bangun lebih awal dan menyiapkan sarapan, tidak peduli apa posisinya di rumah ini. Kedua, Anda harus menghormati saya sebagai tetua di rumah ini karena bagaimanapun juga saya yang lebih dulu tinggal di rumah ini daripada Anda. Ketiga, jangan pernah merepotkan dan membebani para pelayan untuk melayani Anda, karena mereka dibayar untuk bekerja bukan untuk melayani Anda!!" ujar wanita itu. Dia bicara panjang lebar yang menurut Viona semuanya tidak masuk akal.


Viona mengangkat wajahnya dan menatap wanita itu dengan senyum meremehkan. Dia benar-benar geli sendiri, Viona pikir hal semacam itu hanya ada di drama saja, tetapi di dunia nyata pun ada.


"Aturan macam apa itu? Benar-benar konyol dan tidak masuk akal, lagipula bukankah sebuah aturan dibuat untuk dilanggar? Dan asal kau tau saja ya, aku tidak suka mengikuti aturan itu. Pelayan saja tingkahnya seperti Nyonya, benar-benar menjijikkan!!" gerutu Viona. Perempuan itu bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.


Viona tidak akan mengikuti aturan bodoh semacam itu. Lagipula posisinya dan pelayan itu jelas lebih tinggi dirinya, tapi dengan seenak jidat dia malah memberikan aturan-aturan konyol padanya.


Gyuttt...


Wanita itu mengepalkan kedua tangannya dan menatap kepergian Viona dengan marah. Dia benar-benar tidak menduga jika perempuan itu akan melawan dan menimpali perkataannya. Ia pun tidak akan tinggal diam, dia pasti akan memberikan pelajaran pada Viona supaya dia mau mengikuti aturan yang sudah ada sejak jaman Neneknya.


"Kau benar-benar perlu diberi pelajaran, Nona Besar!!" ucapnya dengan tangan terkepal kuat.


Dia akan membuat Viona menyesal karena berani mencari masalah dengannya. Wanita itu akan menunjukkan pada Viona siapa yang lebih berkuasa, dan dia paling tidak suka dibantah, dia ingin selalu di dengarkan bukan diabaikan.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2