
Satu persatu tubuh-tubuh itu terkapar tanpa nyawa, setelah Aiden dan Kai melepaskan beberapa tembakan kearah mereka. Dengan membabi-buta, mereka menghabisi setiap orang yang maju menyerang.
Sedikitnya Dua puluh nyawa melayang sia-sia di tangan Aiden dan Kai. "Kai kau urus disini, aku akan masuk dan membuat perhitungan dengan bajjingan itu." Ucap Aiden dan dibalas anggukan oleh Kai.
Aiden meninggalkan pertempuran dan masuk ke dalam bangunan mewah berlantai dua tersebut. Dia akan membuat perhitungan dengan Andrew, dialah penyebab utamanya, jika bukan karena dia Luna tidak akan kritis sekarang.
BRAKKK...
Dobrakan keras pada pintu mengejutkan Andrew yang sedang berbaring di tempat tidurnya, dan keterkejutannya semakin berlipat-lipat setelah melihat siapa yang datang.
"Kau, bagaimana bisa masuk kemari? Penjaga... Penjaga...Penjaga.."
"Percuma saja, kau mau berteriak sampai suaramu habis sekalipun, tidak akan ada orang yang datang menyelamatkanmu." ucap Aiden. Seringai tampak disudut bibirnya.
Andrew panik melihat Aiden menghampirinya sambil membawa senjata ditangan kanannya.
Seringai mematikan yang tercetak di sudut bibirnya membuat Andrew semakin ketakutan. Bagaimana tidak, dia tidak bisa bergerak dan melawan, tidak ada satupun anak buahnya yang bisa menolongnya, karena semua orang sudah dihabisi oleh Aiden dan Kai.
"Apa yang kau inginkan? Kenapa kau datang dan membuat keributan?" tanya Andrew pada Aiden.
Lagi-lagi seringai terpatri disudut bibirnya. "Kau bertanya kenapa dan apa yang aku inginkan? Aku hanya memiliki satu jawaban, yakni menghabisi mu." Jawab Aiden dengan penuh keseriusan.
Kai masuk dan menghampiri Aiden. Aiden segera memberi kode yang langsung dipahami oleh Kai. Pria berkulit Tan itu mengangguk. Andrew ditarik turun dari tempat tidurnya lalu diseret sebelum akhirnya diposisikan di depan Aiden yang sedang duduk di sebuah kursi kayu.
"Jika kau ingin membunuhku, kenapa tidak langsung saja?"
Aiden menghisap rokoknya lalu menghembuskan asapnya dari sela-sela bibirnya. Wajahnya yang terlihat angkuh tak menunjukkan ekspresi sama sekali, datar. Sepasang mata hitamnya menatap pada Andrew yang sedang berlutut dihadapannya.
Pria itu gemetar dan peluh membasahi hampir di sekujur tubuhnya, ketakutan terlihat dari sorot matanya. Meskipun panik dan ketakutan, sebisa mungkin Andrew mencoba untuk tetap bersikap tenang.
Derit suara kursi membuat tubuhnya menegang. Pria dengan kemeja hitam dan gulungan tembakau yang menempel di bibirnya itu terlihat bangkit dari posisinya dan berjalan menghampiri Andrew yang tampak ketakutan tersebut. Seringai dingin nan tajam yang tersungging di sudut bibirnya membuatnya seperti sedang melakukan uji nyali.
"Kau benar-benar iblis-"
"Memangnya siapa yang mengijinkan mu untuk bicara di sini?" sahutnya dingin. Aiden maju semakin dekat. Salah satu tangannya mencengkram rahang Aiden dengan kuat. "Aku akan memberimu dua pilihan. Mati dengan cepat atau secara perlahan? Aku akan sangat berbaik hati mengabulkan keinginan itu."
Andrew mengambil sebuah vas bunga yang sedari dia genggam di tangannya lalu menghantamkan pada Aiden, membuat darah segar seketika keluar dari luka terbuka di pelipis kanannya yang jahitannya kembali terbuka. Dan apa yang Andrew lakukan membuat Aiden sangat marah.
"Berani sekali kau!!" geramnya marah.
"Aku tidak Sudi untuk mati di tanganmu. Kau tidak bisa membunuhku, lagipula Kakakku juga tidak akan tinggal diam saat mengetahui diriku berada dalam bahaya, kau pasti akan mati ditangannya."
__ADS_1
Aiden menyeringai sinis. "Kenapa kau percaya diri sekali dia akan datang menyelamatkanmu? Bahkan aku sendiri tidak yakin dia masih hidup atau sudah mati." Jawab Aiden menimpali.
Pupil mata Andrew membulat sempurna setelah mendengar apa yang Aiden katakan. "Apa yang kau lakukan pada kakakku?" tanya Andrew.
"Tidak ada, hanya memberikan sedikit pelajaran padanya karena berani membuat adikku sekarat. Dan hal yang sama akan aku lakukan padamu." Jawab Aiden dengan santainya.
Tiba-tiba Andrew diam. Tangannya terkepal kuat dan dia menggigit bibir bawahnya dengan keras. "Jangan membunuhku, aku... masih ingin hidup."
"Sayang aku bukan tipe orang yang akan memberikan kesempatan kedua pada bajiingan sepertimu." Aiden kembali mencengkram rahang pria dihadapannya dan membuka lebar-lebar mulutnya.
Andrew menggeleng kuat saat pria dihadapannya memasukkan ujung pistoll ke dalam mullutnya. "Selamat tinggal,"
DORR...
DORR...
Dua tembakkan beruntun dia lepaskan. Dan Andrew pun matii seketika setelah dua timah panas menembus organ dalamnya. Aiden hanya melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Dan harga mahal yang harus Andrew bayar adalah kematian.
"Kita harus segera kembali ke rumah sakit, Max Hyung baru saja menghubungiku dan mengatakan kondisi Luna Nunna semakin memburuk. Dia dalam keadaan sekarat, pisau itu menembus jantungnya,"
Deggg...
Susah payah Kai menelan saliva nya dan peluh membasahi hampir di sekujur tubuhnya. Mulutnya terus komat-kamit, rasanya ia ingin sekali menghujani Aiden dengan sumpah serapahnya karena tindakan gilanya.
Aiden melirik Kai dari Ekor matanya, tanpa menghiraukan wajah tegang Kai, Aiden menambah lagi kecepatan pada mobilnya. Ia tidak peduli meskipun akhirnya menjadi buruan polisi, yang ia pikirkan adalah bagaimana cara agar bisa segera tiba di rumah sakit tempat Luna dirawat.
.
.
Aiden memarkirkan mobilnya diparkiran rumah sakit, tanpa menghiraukan Kai yang sedang menumpahkan semua isi dalam perutnya, ia segera bergegas menuju ruang gawat darurat tempat Luna berada dan sumpah serapah akhirnya keluar dari mulut pria berkulit Tan tersebut.
"Dasar Bos gila, tidak waras, apa dia sudah kehilangan akal sehatnya!" Kai memegangi perutnya yang kembali mual, laki-laki itu berlari ke semak-semak untuk mengeluarkan semua isi perutnya. Dia berani mengucapkan sumpah serapahnya setelah Aiden menghilang dari jangkauan matanya.
Sementara itu, kedatangan Aiden disambut oleh Alex dan Eric yang langsung memeluknya sebelum pria itu mengatakan sesuatu.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Aiden dengan nada rendah dan datar.
"....." hampa, tidak ada jawaban.
"Kenapa diam? Aku tanya, BAGAIMANA KEADAANNYA?!" Aiden mendorong kedua kakaknya hingga pelukan itu terlepas dan menatapnya tajam.
__ADS_1
Alex tetap tidak bersuara, laki-laki itu diam seraya menundukkan wajahnya. lalu Aiden menatap mereka semua satu persatu dengan tatapan yang sama, tajam.
"Apa semua orang yang ada diruangan ini tuli dan bisu? Sampai-sampai tidak ada yang mau menjawab dan memberitahuku kondisinya sekarang," Aiden mulai kehilangan kesabarannya, pria itu mulai kehilangan kendali lagi atas dirinya sendiri. Deen Williams menghela nafas, ayah empat anak itu bangkit dari duduknya dan menghampiri Aiden.
Deen Williams mengusap bahu Aiden mencoba memberikan kekuatan padanya. Dia sebenarnya juga hancur, tapi sebisa mungkin Deen bersikap tenang.
"Hanya keajaiban yang bisa membawanya kembali, Dokter sudah angkat tangan pada kondisi Luna. Terjadi kebocoran pada janttungnya akibat tusukan itu," ujar Tuan Williams memaparkan. Aiden mengeratkan gigi-giginya, bangkit dari duduknya lalu memukul tembok yang ada dihadapannya.
"AARRRKKKHHHH...."
Kai yang baru saja tiba melihat Aiden bersimpuh dilantai dengan punggung bersandar pada tembok, kedua tangannya bertumpu pada lututnya yang ditekuk. Aiden benar-benar terlihat kacau. Dia tidak habis pikir dengan takdir yang terus mempermainkan hidupnya. Apa takdir tidak bisa membiarkan dirinya hidup tenang bersama cintanya tanpa ada tragedi-tragedi menyakitkan seperti itu.
"Aaarrrkkkkk," Aiden kembali menggeram meluapkan semua emosinya.
"Sebaiknya kau segera masuk dan temui dia, Luna sangat membutuhkan dirimu disampingnya!" ucap Alex seraya mengulurkan tangannya.
Aiden menatap kakak tertuanya itu sejenak kemudian menerima uluran tangan laki-laki itu. Dia menarik nafas panjang dan menghelanya. Sebelum masuk menemui Luna, tak lupa Aiden memakai pakaian khusus yang disiapkan oleh pihak rumah sakit.
Pria itu memejamkan matanya, mencoba menenangkan dirinya sendiri yang masih sangat dikuasi oleh emosi. Aiden tidak ingin menemui Luna dalam keadaannya yang seperti ini, dan membuat gadis itu menjadi sedih.
Cklekkk.... !!
Pintu itu terbuka, sosok Luna terbaring dengan berbagai peralatan medis yang menompang kehidupannya. Hati Aiden berdenyut nyeri melihat keadaan sang adik saat ini. Dengan berat, Aiden melangkahkan kakinya menghampiri Luna, air mata yang sejak tadi tertahan dipelupuknya perlahan turun membasahi wajah tampannya. Aiden meraih tangan Luna yang terasa dingin.
"Luna, aku disini. Sampai kapan kau akan tidur dan membiarkanku sendiri?" bisik Aiden dengan suara parau nya. "Luna, aku.." bisik Aiden di depan Luna yang sedang berbaring "Takut.." lanjutnya sambil menggenggam erat tangan Luna dengan erat.
Hening... hanya kehampaan yang menjawab ucapan Aiden di depan tubuh adik tercintanya yang terbaring tak berdaya. Detik jam, dan cairan infus menjadi saksi bisu kepedihan hatinya. Dan Luna masih terlelap dalam damainya.
"Belum genap satu malam kau terbaring disini, tapi aku merasa begitu kesepian tanpamu. Luna, apa ini juga yang kau rasakan ketika aku tidak berada di sampinmu? Seperti inikah rasa sakit yang kau rasakan saat itu? Bangun Luna . Aku mohon buka matamu!" mohon Aiden tanpa melepaskan genggaman tangannya pada tangan Luna.
Aiden menegadahkan wajahnya, mencoba menghalau cairan yang kembali menggenang di pelupuk matanya. Ia berusaha untuk tidak menangis di depan Luna, namun air mata itu jatuh begitu saja dan tidak bisa dihentikan.
Pria itu mendekatkan wajahnya dan mendaratkan satu ciuman pada kening Luna. Aiden membiarkan bibirnya disana lama, lalu menarik dirinya saat merasakan tepukan pada bahunya.
Aiden menoleh dan mendapati Eric berdiri dibelakangnya. "Biarkan dia beristirahat, sebaiknya sekarang kita keluar!" kata Eric yang kemudian dibalas anggukan oleh Aiden. Keduanya pun berjalan beriringan meninggalkan ruang inap Luna, meskipun rasanya sangat berat namun Aiden tetap melakukannya.
.
.
Bersambung
__ADS_1