Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Aku Papa Kalian!!


__ADS_3

Air mata Viona jatuh tanpa mampu di cegah ketika dia melihat Kevin menjadi samsak anak buah pria paruh baya tersebut. Tubuhnya di penuhi luka dan darah. Membuat Viona merasa tidak tega sekaligus ketakutan setengah mati.


Viona tidak tahu kenapa Kevin begitu bodoh. Merelakan tubuhnya sendiri menjadi samsak dan bulan-bulanan mereka bertiga. Di pukul, di tentang, itulah yang Kevin alami bertubi-tubi. Dan dia rela menerima semua pukulan dan tendangan itu hanya untuk melindunginya.


Wanita itu menggeleng. "Hentikan, Aku mohon jangan memukulnya lagi." Pinta Viona memohon. Namun sayangnya permintaan Viona tidak dihiraukan oleh mereka bertiga.


"Teruskan, jangan berhenti. Pukul dia sampai mati, hahahh..."


Viona mengepalkan tangannya. Dia membenci dirinya yang sangat lemah. Jika saja dirinya tidak sedang hamil muda, pasti Viona sudah menghajar mereka sampai mati. Namun sekarang dia benar-benar tid.bisa berbuat apa-apa.


Melihat Viona yang terus menangis membuat hati Kevin seperti teriris-iris. Dia rela menjadi samsak untuk melindunginya. Bahkan Frans dan anak buahnya pun tidak berani mengambil resiko dengan menghentikan mereka memukul Kevin, karena ujung pistol pria paruh baya itu ada di kepala Viona.


Sebuah benda berkilau yang menggantung di leher Kevin membuat pria paruh baya itu terhenyak kaget. Dia pun segara memberi kode pada anak buahnya supaya berhenti dan tidak memukulnya lagi. Pria itu menghampiri Kevin dengan terburu-buru .


"Mau apa kau?" tanya Kevin sambil menahan tangan paruh baya itu yang hendak memegang kalungnya.


"Biarkan aku melihat kalung mu." pinta paruh baya itu.


Kevin menyentak tangannya dengan kasar. "Jangan bermimpi!!" balas Kevin menimpali . Kevin tidak mengijinkannya untuk melihat kalung tersebut. Karena itu adalah satu-satunya benda berharga peninggalan orang tuanya.


"Sekali saja, biarkan aku melihatnya." Pinta pria itu memohon. Dia memohon pada Kevin untuk melihat kalung tersebut.


"Jangan memaksa kakakku jika dia tidak mau. Kau boleh melihat kalung milikku sebagai gantinya, karena aku dan dia memiliki kalung yang sama!!" sahut Frans sambil menghampiri pria paruh baya tersebut.


Pria itu menoleh. Seorang lelaki tampan menghampirinya. Matanya sedikit membulat saat melihat wajah tampan itu yang sekilas mirip dengan mendiang istrinya. Kemudian Frans memberikan kalung miliknya lada paruh baya tersebut.


Dengan gemetar, pria itu mengambil kalung yang Frans sodorkan padanya. Jantungnya serasa berhenti detik itu juga setelah melihat foto di dalam liontin kalung tersebut. Lalu pandangannya bergulir pada Kevin yang sedang menatap tajam kearahnya.


"ANAKKU!!" tiba-tiba pria itu berteriak histeris lalu berlari menghampiri Kevin dan langsung memeluknya. "Luis, ini Papa Nak. Ini Papa," ucap pria paruh baya itu yang ternyata adalah Roy.

__ADS_1


Pupil mata Kevin membulat sempurna mendengar apa yang baru saja di katakan oleh pria itu. Luis, itu adalah nama aslinya dan hanya keluarganya yang tahu nama masa kecilnya. Tapi benarkah pria yang memeluknya ini benar-benar ayahnya? Kevin menggeleng.


Bukan, ayahnya adalah pria yang lembut dan penuh kasih sayang. Namun yang ada di hadapannya ini adalah monster yang sangat mengerikan.


Kevin mendorong pria itu hingga pelikan itu terlepas ,dengan tajam Kevin menatapnya.


"Bukan, kau bukan ayah kami tapi monster yang sangat mengerikan. Dia adalah orang yang hangat dan penuh kasih sayang, tidak sepertimu!!" ucap Kevin dengan suara dingin.


Dengan susah payah Kevin beranjak dari posisinya. Berjalan tertatih-tatih menghampiri Viona yang tampak kesakitan. Pupil matanya sedikit membulat melihat cairan merah mengalir dari sela-sela kakinya.


"Paman, sakit."Lirih Viona sambil menutup rapat-rapat matanya.


"Tenanglah, kita akan ke rumah sakit sekarang. Aku tidak akan membiarkannya kenapa-kenapa," lirih Kevin berbisik.


Frans dan Rico berlari menghampiri Kevin dan Viona. Kemudian mereka membantu dia melepaskan ikatan pada tubuh Viona. "Tuan, biar saya saja yang membopong Nona." Ucap Rico dan dibalas anggukan oleh Kevin. Tidak mungkin juga Kevin bisa mengangkatnya karena kondisinya sendiri sangat buruk. Sedangkan Frans membantu Kevin dan memapahnya.


"Minggir Lah, kau menghalangi jalan kami. Kakakku harus segera mendapatkan pertolongan," ucap Frans dengan suara dingin.


Frans tidak kuasa menahan air matanya melihat keadaan Kevin saat ini. Tubuhnya di penuhi luka dan berdarah-darah. Dadanya sesak melihat kakaknya terluka parah begini, dan yang lebih menyakitkan lagi adalah fakta jika Kevin terluka parah di tangan ayah mereka sendiri.


"Bodoh, apa yang kau tangisi? Aku tidak akan mati semudah itu." Ucap Kevin dengan lirih.


Buru-buru Frans menyeka air matanya. "Siapa yang menangis? Aku hanya sedikit kelilipan saja. Ge, apa dia benar-benar ayah kita?" tanya Frans memastikan.


Kevin menatap Frans dengan sendu kemudian menganggukkan kepala. "Ya," dia menjawab singkat. Kevin tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Frans saat ini.


Selama puluhan tahun dia hidup dan besar tanpa seorang ayah, sekalinya bertemu sosok yang seharusnya bisa melindungi dan mengayomi justru berwujud iblis yang sangat mengerikan. Dan yang Kevin ingat, ayahnya bukanlah orang seperti itu. Dia pria yang penuh dengan kelembutan.


"Aku jadi takut padanya. Ge, ingatlah jika aku hanya memilikimu saja dan tidak punya ayah." Ucap Frans dengan ocehannya. Kevin menutup matanya dan mengangguk.

__ADS_1


Sementara itu. Tuan Roy hanya mampu diam membatu di tempat tanpa bisa bergerak satu inci pun. Dia menatap tangannya dengan gemetar, penyesalan terlihat jelas dari sepasang mata hitamnya.


"Alexa, pasti kau tidak akan bisa memaafkan ku. Aku, telah menyakiti putra-putra kita. Alexa, maafkan aku." lirih Tuan Roy sambil menatap lurus pada langit malam yang gelap dan pekat. Dia sungguh menyesali kebodohannya.


xxx


Kevin mencabut selang infusnya dan memaksakan diri untuk meninggalkan ruang inapnya. Dia tidak bisa berbaring seperti orang yang hampir mati sementara kondisi Viona dan calon anak mereka masih belum di ketahui hingga kini.


Kemunculan Kevin membuat Frans terkejut. Dia menghampiri sang kakak. "Ge, kau mau kemana? Kau tidak boleh pergi kemana-mana dan harus berbaring,"


"Jangan berlebihan. Aku tidak apa-apa, bahkan aku masih bisa berdiri dengan tegak. Bagaimana kondisi Viona dan janinnya? Semua baik-baik saja bukan?" tanya Kevin memastikan. Ketakutan terlihat dari mata kanannya yang dingin.


Membahas tentang bagaimana kondisi Viona saat ini membuat Frans terdiam. Dia bingung harus menjawab apa pada Kevin, dia juga bingung bagaimana harus menjelaskannya. Tapi bagaimana pun juga dia harus memberitahunya tentang kondisi Viona saat ini.


"Kenapa diam saja, Frans? Aku memintamu untuk menjawab, bukan diam. Bagaimana keadaan Viona dan janin di dalam perutnya? Mereka baik-baik saja bukan?" sekali lagi Kevin bertanya. Dia menuntut jawaban dari Frans.


Frans menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Dengan kaku dia menganggukkan kepala. "Ya, Viona Nunna baik-baik saja dan dia telah melewati masa kritisnya. Dan dokter bilang kita bisa menemuinya nanti setelah dia sadar, sekarang masih dalam pengaruh obat bius." jelasnya.


Kevin terdiam. Kenapa hanya Viona yang Frans bahas? Lalu bagaimana dengan janin di dalam perutnya? Apa itu artinya dia tidak selamat dan benar-benar gugur?


"Lalu bagaimana dengan janinnya?" tanya Kevin lagi.


Frans menggeleng lemah. "Calon anak kalian tidak selamat. Viona Nunna ,dia mengalami keguguran."


Pupil mata kanan Kevin membulat sempurna. "Apa, keguguran?!"


xxx


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2