
"Nunna, jangan-jangan kau hamil?"
Kata-kata itu terus terngiang di benak Viona. Apa yang dikatakan oleh Frans semalam masih segar di ingatannya. Viona mencoba browsing di internet untuk mencari tahu ciri-ciri orang hamil muda.
Dan semua gejala yang dia tunjukkan adalah tanda-tanda wanita yang sedang hamil muda. Mulai dari mual, malas di pagi hari sampai perutnya tidak bisa menerima makanan tertentu.
"Mudah-mudahan memang benar aku hamil." Ucap Viona. Dia sedang melakukan tes untuk membuktikan apakah dirinya benar-benar hamil atau tidak.
Setelah menunggu beberapa detik. Hasilnya akhirnya keluar dan dua garis merah tampak pada testpack tersebut. Yang artinya Viona benar-benar positif hamil.
"Ya Tuhan, aku benar-benar hamil." Ucap Viona sambil membungkam mulutnya dengan telapak tangan kanannya.
Air mata terlihat di pelupuknya. Dan Viona sudah tidak sabar untuk memberitahu Kevin tentang kehamilannya. Namun ada satu hal yang perlu Viona lakukan sekarang sebelum memberitahu tentang kehamilannya pada Kevin, yakni menyingkirkan benalu dari rumah ini.
Viona meninggalkan kamar mandi dan pergi menemui Cintia. Wanita itu sedang duduk santai taman belakang kediaman Zhang. Dan kedatangan Viona sedikit mengalihkan perhatiannya.
"Ada perlu apa Nona besar mencariku kemari?" tanya Cintia sambil memainkan gelas wine-nya.
"Aku tidak akan basa-basi lagi. Kemasi semua barang-barang mu dan tinggalkan rumah ini sekarang juga. Aku tidak bisa lagi menampung mu di sini, dan sebaiknya buang jauh-jauh keinginanmu untuk bisa kembali pada Paman Kevin karena aku tidak akan membiarkannya!!" tukas Viona.
"Aku tidak mau!! Bukankah kau sendiri yang memintaku untuk tetap di sini, lagipula tidak seorangpun bisa mengusirku keluar dari sini karena aku adalah Nyonya besar di rumah ini!!" ucap Cintia menegaskan.
"Jika bermimpi Jangan terlalu tinggi. Di dalam sebuah rumah hanya ada satu Nyonya, dan orang itu adalah aku. Asal kau tahu saja, aku sudah menikah dengan Paman dan status kami adalah suami-istri." Terang Viona menuturkan.
Kedua mata Cintia membulat sempurna setelah mendengar apa yang Viona katakan. "Apa kau bilang? Jadi sebenarnya kau dan Kevin sudah menikah, lalu kau memanfaatkan diriku sebagai Babu dengan membiarkan aku tinggal disini, begitu?" tebak Cintia 100% benar.
"Bingo, kau sangat bodoh sehingga mudah untuk dibodohi. Kemasi semua barang-barangmu sekarang juga dan tinggal rumah ini secara suka rela, jika kau tetap bersikeras untuk tinggal maka aku tidak akan segan-segan memanggil security untuk menyeretmu pergi!!" tutur Viona panjang lebar.
__ADS_1
Cintia mengepalkan tangannya dan menatap Viona dengan marah. Tanpa sepatah katapun Cintia pergi begitu saja dari hadapan Viona dan menuju kamarnya untuk membereskan semua barang-barang miliknya.
"Satu masalah telah selesai." Ucapnya lalu berbalik badan dan melenggang pergi ke ruang kerja Kevin. Karena jam segini suaminya itu pasti berada di ruang kerjanya bersama Frans dan Rico untuk membalas sesuatu yang tak Viona pahami sama sekali.
.
.
"Ternyata orang itu memiliki dendam pribadi pada keluarga ini, dia menganggap jika Tuan Jordan adalah penyebab kematian keluarganya. Untuk itu dia ingin melakukan balas dendam dengan menghancurkan keluarga ini. Selain itu, dia telah melakukan operasi plastik sehingga wajah aslinya tidak di ketahui sama sekali." ujar Frans menjelaskan.
Mereka sedang membahas tentang orang yang sering menghubungi Kevin. Sebenarnya Kevin tidak tahu siapa orang itu dan masalah apa yang dia miliki dengan keluarga Zhang, sampai-sampai dia begitu dendam.
Dan setelah menyelidikinya lebih dalam, akhirnya Kevin menemukan alasan kenapa orang itu sangat dendam pada keluarga angkatnya. Dia beranggapan jika orang tua angkat Kevin lah penyebab dari kematian seluruh keluarganya.
"Jadi itu masalah sebenarnya?" ucap Kevin dan dibalas anggukan oleh Frans.
"Itu juga yang aku cemaskan. Apalagi dia sering pergi keluar tanpa ada penjagaan," tutur Kevin. Keadaan benar-benar sudah tidak kondusif, dan keamanan Viona sekarang yang paling utama.
BRAKK..
Dobrakan keras pada pintu mengejutkan Kevin dan Frans. Bahkan Frans sampai terlonjak dari duduknya akibat ulah Viona. Wanita itu tersenyum tiga jari menunjukkan deretan giginya yang putih. Tanpa menghiraukan Frans, Viona menghampiri Kevin dan langsung memeluknya.
Merasa hanya jadi obat nyamuk. Frans pun memilih untuk mengundurkan diri dan meninggalkan ruang kerja kakaknya. Dia tidak mau tersiksa karena ulah mereka berdua.
"Paman, aku memiliki kabar yang sangat menggembirakan." Ucap Viona.
"Memangnya kabar baik Apa yang ingin kau sampaikan padaku? Sampai-sampai kau terlihat begitu gembira?" tanya Kevin penasaran.
__ADS_1
Viona tersenyum dan menatap Kevin dengan penuh arti. "Coba tebak," pinta Viona memberi teka-teki.
Kevin menggeleng. "Aku tidak tahu. Mungkin kau baru saja memberi gaun baru, tas baru atau mungkin sepatu baru." Kevin mencoba menebak, tapi sayangnya tebakan Kevin salah semua.
"Bukan semuanya," jawab Viona sambil menggelengkan kepala.
"Lalu apa? Jangan membuatku penasaran, Viona. Katakan saja jangan bermain teka-teki," pinta Kevin.
Viona tersenyum lebar. Kemudian dia mengeluarkan sesuatu yang sedari tadi sembunyikan lalu menunjukkannya pada Kevin. "Ini," kabar baik inilah yang ingin aku sampaikan padamu." Ucap Viona sambil memberikan sebuah testpack pada Kevin.
Mata kanan Kevin membulat sempurna. "Viona, ini~" Kevin menggantung ucapannya lalu menatap Viona dengan pandangan tak percaya. "Apa ini sungguhan? Kau benar-benar hamil?" tanya Kevin memastikan.
Viona mengangguk. "Ya," jawabnya membenarkan. "Aku hamil, Paman. Di dalam sini ada buah cinta kita." Ucap Viona sambil mengusap perutnya yang masih rata.
Tanpa mengucapkan satu kalimat pun, Kevin menarik tengkuk Viona dan mencium bibirnya. Tangan Kevin menelusup diantara helaian panjang Viona, bibirnya terus memagut dan melumatt bibir wanita itu dengan lembut. Ciuman yang begitu panjang namun bukan ciuman penuh nafsu seperti yang biasa mereka lakukan.
Tidak sampai satu menit. Ciuman itu berakhir. Kemudian Kevin menarik Viona ke dalam pelukannya dan mendekapnya dengan erat. Dia benar-benar tidak bisa menggambarkan kebahagiaan yang dirasakan saat ini , kabar dari Viona benar-benar membawa angin segar dalam hidupnya.
"Terimakasih, Sayang. Karena telah menyempurnakan hidupku, aku pasti akan melindungi mu dan janin di dalam perutmu." Ujar Kevin sambil mencium kepala Viona berkali-kali.
Kehamilan Viona adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan padanya. Yang akan selalu Kevin jaga dan lindungi dengan nyawanya. Tidak akan Kevin biarkan bahaya apapun mengintainya, dia akan melindunginya dengan segenap jiwa dan raga.
"Sama-sama,"
.
.
__ADS_1
Bersambung