Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Resmi Pacaran


__ADS_3

Tak sedikit pun Kevin meloloskan pandangannya dari Viona. Mata hitamnya yang tajam terus menatapnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Tatapan itu terfokus, tulus dan tidak teralihkan sedikit pun. Membuat Frans yang berdiri disebelahnya sebelahnya langsung menyadari satu hal, jika Kevin telah jatuh cinta pada Viona.


"Tuan, saya perhatikan dari tadi Anda terus memperhatikan Nona, apakah Ada sudah jatuh cinta padanya?" tanya Frans mengakhiri keheningan.


Kevin menoleh dan membalas tatapan Frans."Kenapa kau berpikir seperti itu?" tanya Kevin.


"Jangan salah paham dulu, Tuan. Saya hanya bertanya, lagipula apa salahnya jika Anda benar-benar jatuh cinta pada Nona. Anda masih muda, Nona juga masih muda. Dan perasaan seperti itu adalah hal yang sangat manusiawi." Ujar Frans.


Kevin menghela nafas berat. "Entah, bahkan aku sendiri tidak tahu perasaan apa yang aku rasakan saat ini. Ini cinta atau bukan, aku tidak berani memastikannya." Tutur Kevin.


"Cepat atau lambat pasti Anda akan mengetahuinya, Tuan. Itu cinta atau bukan, hanya waktu yang bisa menjawab semuanya." Ucap Frans.


Frans berbicara seolah-olah dia begitu memahami cinta. Tapi memang itu faktanya, karena dibandingkan dengan Kevin, Frans tentu jauh lebih berpengalaman soal percintaan.


Dia sudah sepuluh kali patah hati, dan lima kali dia menjalin hubungan percintaan dengan lawan jenisnya. Dan dua kali dia hampir menikah, tapi sayangnya rencana itu gagal. Sedangkan Kevin hanya satu kali dan itupun sudah kandas sejak lima tahun yang lalu.


Malas mendengar ocehan Frans tentang cinta, Kevin pun beranjak dan meninggalkannya begitu saja. Dia menghampiri Viona yang sedang serius dengan novel ditangannya. Membuat Kevin sangat penasaran, sebenarnya novel apa yang sedang dia baca, sampai-sampai membuat Viona tampak begitu serius.


xxx


Tidak ada yang memperlihatkan cinta seperti memikirkan seseorang di pikiran hal pertama di hari itu. Jadi, tunjukkan cintamu pada kekasih hatimu dengan mengirimkan kata-kata selamat pagi penuh cinta.


Viona begitu larut dalam dunianya, sampai-sampai dia tidak menyadari kedatangan Seseorang di kamarnya. Dia sedang asik membaca novel romansa penuh cinta, yang menggambarkan hari seorang wanita yang sedang jatuh cinta.


Perasaan cinta itu seperti fajar yang baru dan segar. Keduanya memiliki angin sejuk yang membuatmu tenang, keduanya memiliki sinar matahari yang membuatmu merasakan kehangatan, dan ini adalah waktu terbaik dalam sehari untuk mengingat orang yang kamu cintai dan mengingatkannya bahwa kamu memikirkan dia.


Kata-kata romantis yang tertuang dalam novel tersebut membuat batin Viona bergejolak hebat, menimbulkan perasaan tak biasa namun kasat mata. Membuatnya mendambakan kehangatan dan curahan kasih sayang yang nyata dari seseorang yang mencintainya.


"Serius sekali, memangnya Apa yang sedang kau baca?" pertanyaan itu mengejutkan Viona, sontak dia menoleh dan mendapati Kevin berdiri di sampingnya.


"Omo!! Paman, kenapa kau mengejutkanku? Memangnya sejak kapan kau berdiri di situ?" tanya Viona memastikan.


"Beberapa detik yang lalu." jawab Kevin


"Lalu kenapa aku tidak menyadari kedatangan?" Viona menatap Kevin penasaran.


Kevin menghela nafas. "Itu karena kau terlalu asik dengan duniamu sendiri, memangnya novel Apa yang sedang kau baca? Sampai-sampai kau tidak menyadari kedatanganku?" tanya Kevin penasaran.


"Bukan apa-apa. Hanya novel biasa yang menceritakan gambaran hati seorang wanita yang mencintai pria idamannya dengan tulus, meskipun perasaannya tidak pernah terhiraukan apalagi tersentuh oleh pria itu, cintanya begitu tulus dan murni seperti embun di pagi hari." Tutur Viona.


"Tidak biasanya kau membaca novel Romansa, apa kau sedang jatuh cinta?" tanya Kevin memastikan.


Viona mengangkat bahunya dengan acuh. "Entah, bahkan aku sendiri tidak tahu. Yang aku rasakan itu adalah cinta atau bukan, karena perasaan itu masih abu-abu." Tutur Viona.


"Memangnya pada siapa kau merasakan perasaan itu?" tanya Kevin memastikan.


"Pada Paman," jawab Viona, dia mengatakannya tanpa beban sedikitpun. "Aku tidak tau sejak kapan aku merasakan perasaan tidak wajar ini pada, Paman. Berkali-kali aku mencoba mengingkarinya dan menyakinkan pada diriku sendiri jika perasaan ini salah. Tapi yang ada aku justru merasa tidak nyaman, mungkinkah aku benar-benar jatuh cinta pada Paman?" tanya Viona sambil mengunci mata kanan milik Kevin.


Kevin mengangkat tangan Viona lalu mengarahkan pada dadanya. Dengan jelas, Viona dapat merasakan detak jantung Kevin yang berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Viona mengangkat kepalanya dan matanya bersirobok dengan mata kanan milik Kevin.


"Apa kau merasakannya? Setiap hari, ketika bersamamu, ketika melihat senyummu, ketika menyentuhmu, jantung ini selalu berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Aku juga sering merasakan perasaan-perasaan tidak wajar setiap kali menatap matamu, dan apa sekarang kau mengerti apa yang aku rasakan padamu selama ini?" ucap Kevin tanpa mengakhiri kontak mata diantara mereka.


"Paman, kau~" Viona tak melanjutkan ucapannya. Dia menatap Kevin tanpa melepaskan sedikit pun pandangannya. Mata berbeda warna milik mereka saling mengunci, dan saling menatap untuk menyelami keindahan mata masing-masing. "Paman, bisakah kita...?"


"Tentu," Kevin meraih tengkuk Viona lalu mengecup singkat bibirnya. "Tidak ada hukum yang bisa melarang kita untuk bersama, karena kau dan aku hanya saudara angkat. Tidak ada darah yang sama mengalir di dalam tubuh kita." Ucap Kevin sesaat setelah melepaskan tautan bibirnya.


"Kalau begitu sekarang kita adalah sepasang kekasih. Tapi aku memiliki satu permintaan untukmu, biarkan aku tetap memanggilmu Paman seperti biasanya. Karena aku masih belum terbiasa untuk memanggilmu dengan sebutan nama," pinta Viona.

__ADS_1


Kevin mengangkat bahunya. "Aku rasa itu bukan masalah. Kau bisa memanggilku Paman dengan sesuka hatimu, kau bebas melakukannya." Ucap Kevin dan kembali menyatukan bibir mereka.


Mereka baru saja mengungkapkan perasaan masing-masing, saling terbuka dengan perasaan yang mereka rasakan selama ini. Dan ternyata, mereka berdua benar-benar saling mencintai. Sungguh tidak terduga.


Kevin menekan tengkuk Viona untuk memperdalam ciumannya. Tidak ada penolakan, Viona menerima ciuman tersebut dengan baik. Ciuman mereka yang awalnya hanya pagutan-pagutan kecil tanpa arti berubah menjadi ciuman panjang yang menuntut.


Tangan Viona kini memeluk leher Kevin ketika dia memperdalam ciumannya. Membuat Viona terhanyut dalam ciuman tersebut. Dan ciuman itu berakhir ketika Kevin merasakan dering pada ponselnya, meskipun tidak tetapi dia terpaksa mengakhiri ciuman tersebut.


"Sebentar, aku akan segera kembali." Ucap Kevin lalu beranjak dan meninggalkan Viona begitu saja. Kevin keluar untuk menerima panggilan teleponan tersebut.


Meskipun penasaran siapa yang menghubungi Kevin. Tetapi Viona tidak mau ambil pusing dan memikirkannya. Dia tidak akan melewati batasannya apalagi ikut campur dalam masalah pribadi Kevin, karena bagaimanapun juga dia membutuhkan privasi.


xxx


Seorang pria dalam balutan jas hitam rapi lihat memasuki sebuah pemakaman umum, di tangannya menggenggam beberapa tangkai bunga lili putih, bunga kesukaan orang yang hendak dia kunjungi.


Tapi...


Pria itu menghentikan langkahnya di depan sebuah makam bertuliskan nama 'Alexa' kemudian dia berlutut lalu meletakkan bunga itu diatas pusaranya.


"Alexa, aku datang mengunjungimu. Maafkan aku karena baru sempat mendatangi rumahmu, akhir-akhir ini aku selalu sibuk untuk membalaskan dendam keluarga kita. Aku harap kau bisa memahaminya." Ujar pria itu sambil menyentuh bisan istrinya.


Pria itu melepas kacamatanya dan menghapus air mata yang mengalir dari Peluknya. Dia tidak bisa membendung kesedihannya ketika berhadapan dengan gundukan tanah yang menjadi tempat peristirahatan terakhir wanita yang paling dia cintai.


"Lexa, apa kau merindukanku? Berikan isyarat padaku, jika dirimu juga merindukanmu," pinta pria itu.


Dan setelah dia mengatakan kalimat tersebut, sebuah bunga jatuh diatas pangkuannya. Pria itu tersenyum lebar, bunga itu adalah pertanda jika almarhum istrinya juga sangat merindukannya. Iya sungguh menyesalkan apa yang telah terjadi.


Jika saja tragedi itu tidak pernah terjadi, pasti istrinya masih ada, dia tidak akan terpisah dari kedua putranya, dan mereka berempat hidup dengan bahagia. Namun sayangnya tragedi itu merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya, yang membuatnya ingin membalas dendam pada orang yang telah membantai keluarganya.


Sebenarnya dia ingin sekali berlama-lama di sana, menceritakan banyak hal pada sang istri. Tapi sayangnya dia tidak bisa melakukannya karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.


xxx


Marco menghentikan mobilnya di sebuah cafe yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Dia sayang untuk makan siang sekaligus bertemu dengan kawan lamanya. Namun langkahnya terhenti ketika dia melihat ke seberang jalan dan mendapati Viona baru saja keluar dari toko bunga.


"Viona" dia bergumam lirih.


Buru-buru Marco menyeberang jalan supaya bisa bertemu dengan Viona. Tapi sayangnya dia lebih dulu masuk ke dalam mobil yang sepertinya memang sedang menunggunya.


"Sial! Pasti si cacatt itu lagi, benar kata Papa jika dia adalah penghalang besar. Tidak bisa, aku tidak bisa seperti ini terus. Aku harus bisa menyingkirkannya!!" Marco mengepalkan tangannya dan menatap mobil itu dengan tatapan tajam penuh kebencian


Marco bersumpah akan mendapatkan Viona bagaimana pun caranya. Dia akan menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkannya. Dan bukan Marco namanya jika dia sampai menyerah begitu saja, karena apa yang dia inginkan haruslah dia dapatkan.


"Cacatt, tunggu saja bagaimana aku akan merebutnya darimu!! Viona , pasti akan menjadi milikku!!"


xxx


Kevin menghentikan Mobilnya di area pemakaman. Terlihat Viona turun dari pintu samping kemudi, yang kemudian diikuti oleh Kevin.


Sambil bergandengan tangan, keduanya memasuki pemakaman tersebut. Viona merindukan ibunya dan Kevin mengajaknya untuk mengunjunginya.


Ditengah langkahnya , kevin terus memperhatikan makam-makam yang berada di sisi kanan dan kirinya. Begitu banyak yang terkubur ditempat ini, namun tak ada satupun yang dia kenal kecuali kakak angkatnya.


Sampai akhirnya Kevin melihat sebuah foto yang begitu familiar menghiasi salah satu makan yang sedang dia lewati. Membuat langkahnya seketika terhenti.


"Paman, ada apa? Kenapa tiba-tiba berhenti?" tanya Viona kebingungan.

__ADS_1


Alih-alih menjawab pertanyaan Viona, kevin malah meninggalkannya begitu saja. Dia menghampiri makam tersebut untuk memastikan jika penglihatannya tidak salah. Dan pupil mata itu membulat sempurna melihat foto dan nama yang tertera pada batu nisan di depannya.


"Mama," Kevin bergumam lirih.


Viona memicingkan matanya. "Mama," dan mengulangi ucapan Kevin. "Maksud Paman adalah malam ini adalah..." Viona tak melanjutkan ucapannya ketika melihat anggukan Kevin.


"Aku sungguh tidak menduga, akan menemukan makam Mama. Aku sudah mencarinya selama puluhan tahun, di mana dia beristirahat, tetapi tidak pernah membuahkan hasil, dan hari ini makam ini muncul dengan sendirinya di depan mataku." Ujar Kevin panjang lebar.


Viona menatap Kevin tidak percaya. "Jadi maksud Paman, makam ini adalah Makam orang tua kandungmu?!" ucapnya dan dibalas anggukan oleh Kevin.


"Ya," dia menjawab singkat.


Kemudian Viona memberikan berapa tangkai bunga Lily yang dia genggam pada Kevin. Dia pasti bahagia, melihat putranya datang membawakan bunga untuknya." Ucap Viona. Kevin menoleh, dia ikut tersenyum melihat senyum lebar dibibir Viona. Kemudian Kevin menerima bunga tersebut.


Mama sangat menyukai bunga Lily, Lily adalah bunga kesukaannya saat dia masih hidup. Selain Lily, Mama juga sangat menyukai bunga mawar. Sedikit kenangan masa lalu tentang dia yang aku ingat." Tutur Kevin.


Viona menatap Kevin dengan sendu. Dia meraih tangan Kevin lalu menggenggamnya. "Tidak perlu bersedih, Paman. Bukankah sekarang kau sudah memilikiku, aku adalah keluargamu dan orang yang harus kau lindungi. Untuk itu jangan pernah menundukkan kelemahanmu di depan mataku, mengerti?!" ucap Viona tanpa mengakhiri kontak mata antara ia dan Kevin.


Kevin tersenyum lembut. Jari-jarinya menepuk kepala Viona dengan penuh sayang lalu mengambil bunga itu dari tangannya. "Terimakasih, Sayang." Ucapnya lalu meletakkan bunga itu diatas makam ibunya.


Gerakan tangan Kevin terhenti ketika melihat bunga Lily segar yang di letakkan diatas makam.


Dalam hatinya dia bertanya-tanya siapa yang datang kemari , dilihat dari bunganya yang masih baru, pasti orang itu baru saja pergi. Namun Kevin tidak ingin ambil pusing, kemudian dia meletakkan bunga tersebut diatas makam.


"Ma, akhirnya aku menemukanmu. Jika adikku masih hidup, aku pasti akan menemukannya, meskipun aku sendiri tidak tau itu kapan. Tapi aku janji padamu, akan menemukannya dan berkumpul kembali dengannya." Ujar Kevin membatin.


Setelah itu, mereka pergi ke makam orang tua Viona. Karena tujuan awal mereka datang kemari adalah untuk mengunjungi makam kakak angkatnya, yang tak lain dan tak bukan adalah orang tua Viona.


.


.


Setelah dari makam. Kevin dan Viona memutuskan untuk tidak langsung pulang, tetapi jalan-jalan terlebih dulu. Viona mengatakan Jika dia ingin makan ice cream, cuaca malam hari ini terlalu terik, jadi dia membutuhkan sesuatu yang menyegarkan.


"Paman, berikan tiga rasa untukku dan rasa Macha untuknya." Ucap Viona pada Paman pemilik kedai.


"Baik, Nona. Silahkan duduk dan tunggu pesanan Anda datang." pinta Paman pemilik kedai ice cream tersebut. Viona mengangguk lalu kembali ke mejanya.


Hari ini kedai tidak terlalu ramai jadi Viona tidak perlu mengantri untuk mendapatkan ice creamnya. Hari ini benar-benar hari keberuntungannya, karena biasanya butuh 30 menit untuk mendapatkannya karena antriannya lumayan panjang.


"Baiklah, segera temukan barang itu dan jangan sampai ada kegagalan!!" Kevin mengakhiri sambungan teleponnya ketika melihat Viona berjalan menghampirinya.


Viona tidak tahu siapa yang dihubungi oleh Kevin, tetapi kelihatannya sangat serius. Dari ekspresi wajahnya, Viona tahu jika Kevin sedang marah. Viona kemudian mendekatinya.


"Ada apa, Paman? Kenapa kau terlihat kesal? Memangnya siapa yang menghubungimu?" tanya Viona setelah kembali duduk di kursinya.


"Frans, anak buahnya menghilangkan barangku , dan itu barang penting. Jika barang itu sampai tidak ditemukan, maka aku akan mengalami kerugian yang sangat besar." Jelas Kevin.


"Paman, percayakan saja pada Frans. Aku yakin dia bisa menanganinya. Karena kita sama-sama tahu jika Frans adalah orang yang selalu bisa diandalkan." Ujar Viona menuturkan.


Kevin mengangguk. "Ya, aku harap juga begitu."


Kevin pasti tidak akan melepaskan orang-orang itu jika barangnya yang dicuri sampai tidak bisa ditemukan. Dia juga akan meminta Frans untuk bertanggungjawab, karena memang dia yang bertanggung jawab atas keamanan barang tersebut.


xxx


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2