
"KYYYAAA!!"
Suara gaduh yang berasal dari kamar Viona mengejutkan semua orang, termasuk Kevin. Buru-buru Kevin bergegas ke kamar Viona untuk melihat apa yang terjadi, sekaligus memastikan dia baik-baik saja.
"Viona ada apa? Kenapa kau berteriak?" tanya Kevin setibanya dia di sana.
Bukan hanya Kevin, Frans dan beberapa pelayan juga mendatangi kamar Viona. Mereka juga penasaran, takut sesuatu yang buruk menimpa Nona-nya.
Dan setibanya di sana, mereka justru melihat hal yang sangat menggelikan. Viona naik ke atas meja samping tempat tidurnya sambil memegang gagang sapu.
"Paman, ada cicak di tempat tidurku. Cicak itu jatuh dan merambat di kakiku tadi. Cepat tangkap cicak itu sekarang juga, aku benar-benar geli melihatnya." Terang Viona.
Kevin mendengus dan menatap Viona dengan geli. Dia pikir ada Bahaya apa sampai-sampai Viona berteriak sekencang itu, namun ternyata dia berteriak hanya karena seekor cicak.
"Turunlah," Kevin mengulurkan tangannya pada Viona dan memintanya untuk turun.
"Paman, aku takut." Rengek Viona sambil memeluk Kevin.
"Cari cicak itu sampai ketemu dan buang keluar tidak perlu di bunuh." perintah Kevin pada beberapa pelayan yang berdiri di belakangnya. "Ayo keluar, biar mereka yang memburu cicak itu." Ucap Kevin, Viona mengangguk.
Sebenarnya Viona tidak takut pada cicak, dia hanya geli saja. Makanya dia sampai berteriak dan baik keatas meja.
__ADS_1
Dan disini mereka sekarang. Mereka berdua di kamar Kevin. Kevin sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantor. "Paman, aku bosan. Bolehkan aku ikut denganmu ke kantor?" tanya Viona sambil menatap Kevin penuh harap.
Kevin melirik kebelakang, menatap Viona dari ekor matanya. "Untuk apa ikut? Kau akan semakin bosan di sana. Sebaiknya pergi jalan-jalan keluar, biar Frans menemanimu." Ucapnya.
Viona menggeleng. "Tidak mau!! Aku maunya ikut ke kantor bersama Paman, boleh ya." Rengek Viona memohon. Dia begitu memaksa ikut ke kantor dengan Kevin. Membuat dia tidak memiliki pilihan selain mengijinkannya.
"Baiklah, kau boleh ikut. Tapi jangan membuat keributan apalagi terlibat masalah dengan karyawan seperti yang sudah-sudah," ucap Kevin memberi peringatan.
Viona mengangguk dengan antuasias. "Baiklah, aku berjanji." Ucapnya bersungguh-sungguh.
Tidak hanya sekali dua kali Viona terlibat masalah dengan karyawan Kelvin di kantornya. Tetapi kejadian itu sudah lama, sekitar empat-lima tahun yang lalu. Sebelum tragedi yang membuat Kevin kehilangan salah satu matanya.
"Kita sarapan dulu,"
Viona menggeleng. "Sarapan diluar saja, sudah lama kita tidak sarapan diluar." Ucap Viona.
Kevin menghela napas, kemudian dia menganggukkan kepala. "Baiklah." Dan menyetujui usulan Viona. Kevin tidak bisa menolaknya. Selama itu bisa membuat Viona tersenyum lebar, jika dia mampu pasti akan Kevin lakukan.
xxx
Marco menghampiri ayah angkatnya dan menatap paruh baya itu dengan bingung. Dia sedang menyiapkan sebuah bingkisan yang Marco sendiri tidak tahu apa isinya.
__ADS_1
"Apa yang sedang Papa lakukan? Bingkisan-bingkisan apa ini?" tanya Marco penasaran.
"Kejutan manis untuk musuh tercinta kita. Dan Papa menyiapkan semua ini untuknya, lebih tepatnya untuk semua orang yang ada di sana." jawab pria itu.
"Keluarga Zhang?" tanya Marco memastikan.
Paruh baya itu menganggukkan kepala. "Ya," dan menjawab singkat.
"Memangnya dendam apa yang Papa miliki pada mereka? Sepertinya dendam itu sudah mendarah daging, tanya aku lihat hanya kebencian di mata Papa ketika mengungkit tentang keluarga itu." Ucap Marco.
Paruh baya itu mengambil nafas panjang dan menghelanya. "Ya, dendam yang sangat besar. Dan sebaiknya kau tidak usah banyak bertanya, lebih baik bantu papa satu persatu bingkisan ini ke sana. Karena lebih cepat diterima maka lebih baik," jawabnya menimpali.
"Tapi tidak sekarang, aku akan mengirimnya malam ini. Jika siang hari terlalu mencolok dan bisa mengundang perhatian banyak orang, jadi sebaiknya malam nanti saja." Ujar Marco menimpali.
Paruh baya itu mengangkat bahunya dengan acuh. "Tidak masalah, kau atur saja. Papa, harus pergi sekarang. Membuat pencitraan dan terlihat baik di depan musuh adalah hal yang paling penting untuk dilakukan. Baiklah, Papa pergi dulu." Pria itu menepuk bahu Marco dan pergi begitu saja.
Marco menoleh dan menatap kepergian ayah angkatnya itu dengan tatapan yang sulit di jelaskan. Jika bukan karena memiliki hutang Budi padanya, Marco tidak akan Sudi menuruti semua perintah darinya.
xxx
Bersambung
__ADS_1