
Kebahagiaan terpancar jelas dari sorot mata Kevin saat mutiara Hitamnya melihat seorang wanita cantik tengah berada di taman yang terletak di belakang kediaman Lu untuk memetik bunga. Viona tidak sendirian, ada Barbara yang menemaninya.
Pria itu berdiri di depan jendela kaca berukuran besar yang menghubungkan langsung dengan taman belakang. Dari situ, Kevin dapat melihat dengan jelas bagaimana bahagianya Viona saat berada ditengah-tengah taman mawar. Dia begitu serius sampai ia merasakan tepukan pada bahunya. Kevin menoleh dan mendapati Frans berdiri disampingnya dengan senyum tulus.
"Rasanya baru kemarin kita dilanda duka saat Vio Nunna mengalami keguguran dan kehilangan janinnya. Tapi siapa yang menyangka jika Tuhan akan mengembalikan kebahagiaan kalian dalam waktu yang begitu singkat. Usia kehamilan Vio Nunna sudah memasuki bulan kelima, yang artinya empat bulan lagi kita semua akan bertemu dengan si jabang bayi," ujar Frans sambil menatap Viona.
Kevin tersenyum miris, mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu membuat hatinya berdenyut sakit. Apalagi ketika melihat dia hancur saat mengetahui jika janinnya telah tiada dan tdiak bisa diselamatkan.
"Jangan ingatkan aku pada tragedi mengerikan itu. Jika diingat-ingat, rasanya begitu sesak, Viona sangat hancur saat itu begitupun dengan diriku. Untuk itu aku tidak ingin mengingatnya lagi," tutur Kevin seraya menghela nafas panjang. Frans tersenyum dan mengangguk.
Perbincangan keduanya berakhir saat Viona melambaikan tangannya pada mereka berdua dan mengisyaratkan pada Kevin agar menghampirinya. Kevin menepuk bahu Frans dan berlalu begitu saja,
Frans menatap pasangan itu dengan hati yang berbunga-bunga. Melihat kebahagiaan mereka membuat dia ikut merasakan kebahagiaan yang di rasakan oleh Kevin dan Viona.
Dan terkadang ada rasa iri dihatinya setiap kali melihat kemesraan Kakak dan kakak iparnya, buatkan ingin segera menemukan pasangan juga, namun sayangnya Tuhan masih belum memberikannya belahan jiwa untuknya hingga detik ini. Namun dia bersumpah akan segera menemukan cintanya, cinta sejati yang akan menjadi pelabuhan hatinya nanti.
.
.
Melihat kedatangan Kevin. Barbara pun memutuskan untuk meninggalkan Viona. Dia tidak ingin mengganggu pasangan muda tersebut, lebih baik dia masuk dan melakukan hal yang lain.
Kevin meminta Barbara dan David Lu untuk tinggal di kediaman Lu. Mereka berdua memutuskan untuk rujuk dan kembali. Teresa memilih untuk kembali ke London, sedangkan Jackie bekerja di Lu Corp sebagai manager pemasaran. Kevin telah memberikan hak milik David Lu, dia melepaskan warisan miliknya untuk pria tua itu, karena Kevin berpikir jika dia juga berhak untuk memiliki harta tersebut.
"Ge, bagaimana bunga-bunga ini? Cantik tidak?" Viona menunjukkan bunga-bunga cantik yang dia petik bersama Barbara pada Kevin.
"Ya, sudah banyak bunga yang kau petik. Sebaiknya kita masuk ke dalam," ajak Kevin dan dibalas anggukan oleh Viona.
Kevin tidak ingin jika Viona sampai muntah-muntah lagi karena terlalu lama terkena matahari seperti beberapa hari yang lalu. mereka berdua kemudian berjalan beriringan meninggalkan taman dan masuk ke dalam rumah. Dan setibanya di dalam, Kevin dan Viona di suguhi dengan pemandangan yang bisa dibilang sangat menggelikan. Di mana Jackie yang sedang menangis tersedu-sedu akibat dikerjai oleh Frans.
Dan ini bukan pertama kalinya dia menjadi korban kejahilan Frans. "Ma, kau harus memberinya pelajaran. Masa iya aku di jodohkan dengan wanita jelek. Mama, kau harus membantuku!!" tangis Jackie pecah di dalam pelukan ibunya. Barbara hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala.
"Dasar kau ini, kalau tidak suka ya tolak saja, bukannya malah menangis seperti anak kecil. Seharusnya kau berterima kasih padanya karena Frans memiliki niat baik untuk mencarikan mu jodoh, bukannya malah menangis seperti bocah!!" ujar Barbara.
"Nah, Nenek saja mendukungku. Paman, Dora itu sangat cantik dan dia menjadi rebutan di kantor. Seharusnya kau berterimakasih karena aku jodohkan kau dengan gadis seperti dia."
"Berterimakasih gundul mu, kalau dia popular kenapa tidak kau saja yang jadi dengannya. Aku tidak mau, dia untukmu saja!!" Jackie tetap pada keputusannya, dia tidak mau wanita itu 'Dora'
"Dia bukan jodohku, lagi pula aku dan dia tidak cocok. Usia kami berbeda jauh dan kau yang lebih cocok dengannya dibandingkan aku," jawab Frans tak mau kalah.
Kevin dan Viona mendengus berat. Malas mendengar pemandangan konyol tersebut. Mereka berdua memutuskan untuk pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua. Viona hendak menyusun bunga-bunga itu untuk menggantikan bunga lama yang telah layu.
.
.
Viona terlonjak kaget saat merasakan ada sepasang tangan kekar yang melingkari perutnya yang mulai membuncit. Tanpa melihatnya pun tentu Viona sudah tau siapa orang itu. Jari-jemarinya menggenggam tangan Kevin dan kepala belakangnya bersandar pada dada bidangnya.
"Ge, kenapa kau suka sekali membuatku terkejut?" protes Viona di tengah kesibukannya merangkai bunga.
"Aku merindukan saat-saat seperti ini," bisik Kevin tanpa melepaskan pelukannya. Kevin menyandarkan dagunya diatas bahu kanan Viona, mencium aroma bunga sakura yang menguar dari tubuh wanitanya.
Viona menoleh ke belakang dan menatap Kevin dari ekor matanya. "Bukankah kita sering melakukannya? Ge, ayo kita pulang saja ke Korea, aku ingin melahirkan di sana." ucap Viona.
__ADS_1
Kevin melepaskan pelukannya kemudian memutar tubuh Viona, posisi mereka saling berhadapan"Kenapa tiba-tiba kau ingin kembali ke Korea?" tanya Kevin dengan bingung.
"Aku ingin melahirkan di sana. Jujur saja aku lebih nyaman di Korea daripada di sini, itu jika kau tidak keberatan." Jawab Viona.
Kevin menggeleng. "Tidak!! Kau melahirkan di sini saja, aku tidak ingin mengambil resiko dengan membawamu terbang jarak jauh. Di sini ada Nenek yang bisa membantuku menjagamu, apalagi dia sudah berpengalaman dalam urusan melahirkan. Jadi kita tetap di sini sampai kau melahirkan, dan mengertilah jika ini demi kebaikanmu juga." Ujar Kevin
Kevin kemudian merengkuh Viona ke dalam pelukannya. Viona tersenyum, dengan senang hati ia membalas pelukan Kevin. Viona sangat beruntung karena bisa dicintai oleh pria seperti Kevin, meskipun dingin namun dia selalu memperhatikannya.
Kevin melepas pelukannya kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku celananya lalu memberikannya pada Viona. Viona tidak kuasa menahan rasa harunya saat Kevin menyematkan cincin berlian di jari manisnya.
"Ge, ini untukku? Cincin ini sangat cantik dan aku menyukainya." Ucap Viona sambil menyeka air matanya. "Dan bagaimana kau bisa tahu kalau aku sangat menginginkan cincin ini?" tanya Viona sambil menatap Kevin penasaran.
Kevin tersenyum lebar. "Tentu saja tahu karena aku adalah suamimu." Jawabnya. Kemudian Viona berhambur ke dalam pelukan Kevin. .
"Terimakasih, Ge. Aku menyukainya," ucap Viona seraya mengeratkan pelukannya.
Berkali-kali Viona menyusut air matanya. Bukan air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan, Dia sangat-sangat bahagia dan terharu. Rasanya dunia seperti berada di genggamannya. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari apa yang dia rasakan sekarang.
"Jangan menangis lagi. Kau terlihat sangat jelek. Aku ada urusan sebentar, aku pergi dulu. Baik-baik di rumah dan jangan membuat masalah, Nenek dan Kakek yang akan menjagamu menggantikan ku selama aku tidak ada."
Viona mengangguk. "Jangan pulang terlalu malam, jangan mengebut apalagi ugal-ugalan di jalanan. Kalau ada preman atau berandalan yang mencoba mencari gara-gara denganmu, sebaiknya tidak usah di gubris dan hindari saja."
"Aku tahu, aku pergi dulu." Kevin mengecup kening Viona dan pergi begitu saja.
xxx
Aldo menatap kobaran api di depannya dengan pandangan Hampa. Untuk melupakan Viona bakar semua kenangan bersamanya. Jodoh di antara mereka telah selesai, dan Aldo harus menerima kenyataan jika dia dan Viona tidak di takdirkan untuk bersama.
Aku telah memutuskan, untuk menghapus semua kenanganku bersamanya. Jodohku dan dia telah berakhir, dan sekarang hanya ada kau dan aku. Aku berjanji padamu, akan selalu mencintai dan menyayangimu." Aldo menatap mata hitam itu dengan tatapan lembut. Aldo baru saja menikahi seorang wanita bernama Yuri dua bulan yang lalu.
Yuri menggenggam tangan Aldo dan mengangguk. Pernikahan Aldo dan Yuri bukan dilandasi oleh cinta melainkan hanyalah hubungan saling menguntungkan antara dua perusahaan. Meskipun demikian, Aldo mencoba untuk menjaga perasaan Yuri, dia tidak sanggup untuk menyakiti orang yang sangat baik padanya.
"Aku tidak akan memaksamu untuk melupakannya, karena aku juga masih memiliki masa lalu yang tidak bisa aku lupakan. Kita jalani saja hubungan ini, bagaimana endingnya kita serahkan saja pada waktu, karena waktu yang bisa menjawab semuanya." Ujar Yuri.
Aldo mengangguk sambil tersenyum. Dia menepuk tangan Yuri yang menggenggam lengannya dengan lembut. Yuri dan Aldo kemudian berjalan beriringan meninggalkan taman dan masuk ke dalam.
"Aldo, kenapa kau menikahi wanita ini tanpa persetujuan dari Mama?!"
Langkah kaki mereka terhenti oleh teguran itu. Keduanya menoleh, pupil mata Aldo membulat sempurna melihat siapa yang datang. "Mama, kenapa kau bisa ada di sini?!" tanya Aldo sambil menatap sang ibu dengan bingung.
Bukannya sebuah jawaban, malah tamparan keras yang Aldo dapatkan. Saking kerasnya tamparan tersebut, sampai-sampai membuat wajah Aldo menoleh ke samping. Aldo mengangkat kembali wajahnya dan menatap ibunya dengan marah. "Ma, kenapa kau malah menamparku?!" bentak Aldo dengan suara meninggi.
"Supaya kau bisa segera sadar. Apa kau tahu siapa wanita yang kau nikahi itu , Aldo? dia adalah ular betina berkepala tiga, tak seharusnya kau menikahi wanita seperti itu!! Mama, tidak mau tahu, pokoknya kau harus segera menceraikannya atau..."
"...Atau apa, Ma?" Aldo menyela ucapan Ibunya dan menatapnya dengan tajam. "Sudah cukup kau mengaturku selama ini. Aku tidak ingin kau kembalikan lagi seperti dulu, karena aku bukanlah Aldo yang dulu kau kenal, yang mudah kau peralatan dan kau kendalikan supaya mengikuti aturanmu. Apapun alasannya, Aku tidak akan pernah menceraikannya!! Yuri, ayo pergi." Aldo meraih tangan Yuri dan membawanya menuju kamar mereka yang berada di lantai dua.
Bahkan Aldo tidak menghiraukan teriakan dan amukan ibunya. Rossa begitu marah karena Aldo tidak mau lagi mendengarkan dirinya. Wanita itu mengepalkan tangannya dan menghentakkan kakinya dengan kesal. dia berpikir jika Aldo menjadi sangat kurang ajar karena pengaruh Yuri. Dengan memendam amarah di dalam hatinya, Rossa melenggang pergi meninggalkan kediaman putranya.
Yuri menoleh ke belakang dan menatap kepergian Ibu mertuanya. "Aldo, Apa kau belum memberitahunya jika kita sudah menikah?" tanya Yuri memastikan.
"Aku tahu harus semacam ini pasti akan terjadi. Itulah kenapa aku memutuskan untuk tidak memberitahunya, jangan terlalu menghiraukannya, ya memang begitu. Rumah tanggaku yang terdahulu hancur juga karena dia," ujar Aldo.
Yuri mengangguk mengerti Sekali lagi Yuri menoleh ke belakang dan menatap kepergian Rossa dengan tatapan tak terbaca. Dia mencoba mengabaikan sikap kejam wanita itu. Lagipula yang dia nikahi adalah putranya, bukan ibunya!!
__ADS_1
"Untuk sementara kita tinggal di kediamanku saja. Bukan apa-apa, Aldo. Hanya saja Aku ingin hidup dengan tenang tanpa ada gangguan, kau mengartikan apa maksudku?" Yuri menatap Aldo dengan tatapan penuh harap. dia berharap Aldo bisa mengerti dan memahami yang ia rasakan saat ini.
Aldo mengangguk. "Tentu saja aku paham!!"
xxx
Viona keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang menutup dada sampai atas lututnya. Terlihat Kevin yang sudah selesai berganti pakaian duduk di sisi tempat tidurnya untuk mengikat tali sepatunya. Kevin terlihat tampan dengan jeans hitam, kaos putih polos yang melekat pas di tubuhnya di balut kemeja hitam bergaris putih yang lengannya di gulung sampai siku. Viona begitu terpanah melihat penampilan suaminya hari ini.
"Sampai kapan kau akan berdiri di sana dan memandang suamimu sendiri, Nyonya Zhang." tegur Kevin seraya bangkit dari posisi membungkuknya lalu berdiri.
Alih-alih menjawab teguran Kevin, Viona justru mengalungkan kedua tangannya pada leher pria itu, dan melumatt singkat bibirnya. "Mana kiss untukku." rengek Viona sambil mengedipkan matanya.
"Hm, apa kau ingin membangunkan seekor Singa yang sedang tidur, sayang?" tanya Kevin. Laki-laki itu memiringkan kepalanya lalu menyatukan bibir mereka dan melumatt lembut bibir atas Viona.
Liidah Kevin menekan belahan biibir Viona untuk meminta aksen lebih, dan senang hati Viona mengabulkannya. Kevin menyeringai puas, pria itu mulai mengabsen satu per satu gigi putih Viona dan melilitkan liddahnya pada liidah sang istri. Hingga keluar dessahan-dessahan yang membuat Kevin semakin bersemangat untuk melahap habis bibir tipis itu.
Viona begitu terlena dan terbuai oleh permainan bibir Kevin yang seketika membangkitkan gaiirahnya. Jari-jarinya dengan lincah melepas kemeja berlengan Kevin dan menanggalkan dari tubuh kekar sang suami. Menyisakan kaos putih polos lengan terbuka, kedua tangan Viona meremas lengan terbuka Kevin saat laki-laki itu menekan tengkuknya untuk semakin memperdalam ciumannya.
Kevin menarik handuk yang melilit tubbuh Viona lalu menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang tanpa mengakhiri ciumannya. Bibir Kevin terus melumatt bibir ranum itu dengan ganas. Kedua tangan Kevin mengunci tangan Viona, setelah puas dengan bibiirnya. Biibir Kevin bergerak turun menuju leher jenjang Viona, kemudian turun menuju payyudaraanya. Mengullumnya dan meninggalkan jejak kepemilikan di sana
Lagi dan lagi, tubuh memberikan respon luar biasa pada setiap sentuhan bibir Kevin pada setiap jengkal tubbuh polosnya. Dan yang terjadi selanjutnya adalah pergulatan panas di antara mereka pun tidak dapat terhindarkan. Mereka saling bergulat panas menumpahkan hasrat masing-masing, hasrat membara yang membakar gelora di dalam tubuh mereka.
Dessahan demi dessahan meluncur bebas dari bibir berdua. Kevin membekap bibir Viona dengan bibirnya untuk meredam dessahan wanita itu. Viona mencengkram punggung Kevin yang tidak terbalut sehelai benang pun, sama-sama mendongakkan wajahnya ketika Kevin menumpahkan semua miliknya di dalam rahiimnya.
Nafas mereka sama-sama menderu. Keringat membanjiri tubuh mereka, raut lelah terlihat jelas di wajah Kevin maupun Viona. Namun kali ini permainan mereka teramat sangat singkat, mungkin tidak ingin mengambil resiko dengan bermain terlalu lama dan membahayakan janin di dalam perut Viona.
Senyum lembut menghiasi wajah Kevin, satu kecupan singkat dia daratkan pada bibir Viona lalu berpindah pada keningnya "Ugghhh... sepertinya aku harus mandi lagi." kata Viona terkekeh.
Kevin menyeringai misterius. "Ahhh.." Viona menjerit saat Kevin tiba-tiba saja mengangkat tubuh bulatnya lalu membawanya menuju kamar mandi. "Ge, apa yang kau lakukan? Cepat turunkan aku!!" pinta Viona menuntut.
"Kita akan mandi sama-sama sayang," bisik Kevin,
Viona menyeringai nakal. Wanita itu mengalungkan kedua tangannya pada leher sang suami."Bagaimana jika kita lanjutkan di kamar mandi??" Dia memberikan sebuah usul gila pada Kevin.
Kevin memicingkan matanya, menatap sang wanita penuh selidik. "Kau yakin??" wanita itu mengangguk mantab "Tapi bagaimana dengan bayi di dalam perutmu? apa tidak terlalu berbahaya jika kita melakukannya terlalu sering?" Kevin menatap Fiona dengan cemas.
Wanita itu menggeleng. "Tentu saja, tidak selama kita melakukannya dengan hati-hati dan perlahan-lahan." Jawab Viona.
"Oke, bukan masalah. Sampai besok pagi pun aku akan menemanimu bermain Sayang, jika kau memang menginginkannya." bisik Kevin.
Viona mendengus kecewa. "Tapi sayangnya kita harus bergegas pergi, karena cacing-cacing di dalam perutku sudah meronta-ronta minta segera di isi." Ucapnya.
Kevin gemas sendiri melihat ekspresi kecewa Viona yang menurutnya sangat menggemaskan itu."Bukankah masih banyak waktu." Ucap Kevin lalu mengecup singkat bibir Viona.
Wanita itu mengangguk setuju "Ya. Sudah ayo berangkat." Viona meraih tasnya yang ada di atas tempat tidur dan pergi begitu saja.
Kevin menepati janjinya untuk pulang cepat, buktinya dia pulang sebelum jam makan malam tiba, dan Kevin mengajaknya untuk makan malam di luar karena dia tahu Viona sangat bosan terlalu lama berdiam di rumah tanpa melakukan apa-apa. Dan tentu saja dia teramat sangat kegirangan, karena Viona memang ingin makan malam di luar.
.
.
Bersambung
__ADS_1