Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Season 2: Kebenaran Yang Terungkap


__ADS_3

"Luna,"


Langkah kaki gadis itu terhenti setelah mendengar seseorang memanggil namanya. Dia menoleh dan mendapati seorang lelaki paruh baya berjalan menghampirinya. Tanpa berkata-kata dia langsung memeluk Luna.


Luna tidak memberikan respon apa-apa. Hatinya berdenyut nyeri mendengar isakan ayahnya. Dan selama 23 tahun dia hidup. Ini pertama kalinya dia mendengarnya menangis.


"Luna, maafkan Papa jika selama ini selalu bersikap tidak adil padamu. Papa, sadari aku ini bukanlah ayah yang baik untuk kalian berempat, Tapi percayalah jika kalian selalu memiliki tempat terindah di hati Papa, Nak. Dan Papa baru menyadarinya betapa berarti dirimu dalam hidup ini setelah kau memutuskan untuk meninggalkan rumah ini. Luna, Papa benar-benar minta maaf padamu." ujar Deen Williams penuh sesal.


Buliran-buliran air mata mengalir dari pelupuk mata Luna yang kemudian membasahi wajah cantiknya. Setiap kata yang keluar dari bibir ayahnya memiliki makna yang berbeda dalam baginya. Meskipun terkadang sikapnya begitu menyebalkan, namun tidak bisa Luna pungkiri jika ayahnya adalah pria yang sangat baik. Saking baiknya, sampai-sampai sering dimanfaatkan oleh kedua kakaknya, Eric dan Alex.


"Papa, jangan menangis. Bukannya sedih, aku malah ingin tertawa. Tapi anehnya aku tetap meneteskan air mata, jadi jangan menangis lagi." Lirih Luna memohon.


Deen Williams menggeleng. "Tidak, Luna. Papa, tidak menangis kok. Memangnya siapa yang menangis, yang bapak keluarkan bukanlah air mata, melainkan cairan yang menumpuk karena terlalu lama menggenang di pelupuk ini. Luna, jangan pergi lagi, Nak. Jangan tinggalkan, Papa. Papa, tidak bisa hidup tanpamu. Jangan pergi lagi, Luna, Papa mohon." Lirih Tuan Williams memohon.


"Aku tidak akan pernah pergi dari, Papa. Tapi untuk sementara waktu biarkan aku menenangkan diri dulu, setidaknya sampai pikiranku benar-benar tenang kembali. Papa, tenang saja, aku baik-baik di sana. Gege, melindungi ku dengan baik." ujar Luna.


Deen Williams melepaskan pelukannya dan menata putrinya itu penuh tanya. "Memangnya selama beberapa hari ini Kau tinggal di mana?" tanya sang ayah memastikan.


"Rumah pribadi milik, Sean Ge. Untuk sementara waktu aku akan tinggal di sana. Jadi Papa tidak perlu cemas, karena dia akan menjaga dan melindungi ku dengan baik." Ujar Luna.


Tiba-tiba Deen Williams terdiam. Apa mungkin ini saatnya dia mengatakan kebenaran itu pada Luna, jika sebenarnya Sean bukanlah kakak kandungnya, tetapi Tuan Williams takut jika Luna tidak siap menerima kenyataan jika kakak yang selama ini dia sayangi dengan sepenuh hati ternyata bukanlah kakak kandungnya.


Tapi bagaimanapun juga kebenaran tetaplah harus diungkap, dan Luna harus tahu jika sebenarnya Sean adalah anak angkat di keluarga William. "Kenapa Papa tiba-tiba diam?" tanya Luna. Dia menatap sang ayah dengan bingung.

__ADS_1


"Luna, ada hal penting yang harus Papa sampaikan padamu. Tapi kau harus berjanji satu hal pada Papa, jangan terkejut untuk mengetahui kebenaran ini." Ucap Deen Williams dan membuat Luna menjadi penasaran.


"Tentang apa itu, Pa? Omo!! jangan bilang jika Papa sudah memiliki kekasih baru dan siap untuk menikah lagi?!" tebak Luna.


Alhasil sebuah jitakan mendarat mulus pada kepala gadis itu. "Tentu saja bukan. Papa, masih trauma dan belum siap untuk menikah lagi. ini mengenai sebuah kebenaran yang selama ini papa sembunyikan dari kalian berempat, sebenarnya Sean dan Alex bukanlah kakak kandungmu. Papa, mengangkat mereka jadi bagian keluarga ini sejak mereka masih bayi."


"Maaf Luna, karena Papa baru memberitahumu sekarang. Papa harap, setelah kau mengetahui tentang kebenaran ini, perasaan dan sikapmu pada kedua kakakmu tetaplah tidak berubah, apalagi Sean. Dia adalah orang yang paling peduli dan menyayangimu lebih dari siapapun, termasuk Papa." Akhirnya Tuan Williams mengungkapkan kebenaran itu pada Luna.


Bukannya terkejut. Luna malah terdiam seperti patung, seketika Dia teringat dengan obrolan mendiang kakeknya dan Sean sebelum sang kakek meninggal. Jadi benar yang dia dengar hari itu, jika dia dan Sean bukanlah saudara kandung melainkan saudara angkat.


"Aku sudah tahu, Pa. Aku p tidak sengaja mendengar obrolan Kakek dan Sean Ge sebelum dia meninggal. Kakek, berpesan padanya supaya dia menjagaku dengan baik karena pada saat itu gila mu sedang kambuh."


"Bukan hanya itu saja, Kakek juga mengungkapkan tentang kebenaran yang selama ini kalian rahasiakan dari kami semua, jika Sean Gege bukanlah putra kandung keluarga Williams. Tapi Tetang Alex Gege aku benar-benar tidak tahu." Ujar Luna panjang lebar.


"Memangnya aku harus bagaimana. Dia mau kakak kandungku atau bukan, Sean Gege tetaplah bagian dari keluarga ini, dan aku hanya tahu jika dia adalah kakakku yang berharga." Ujar Luna.


Tuan Williams tersenyum setelah mendengar penuturan Luna. Paruh baya itu menganggukkan kepala, dia bangga pada putrinya yang memiliki hati seluas samudra.


"Itu benar, Nak. Papa, sangat bangga Putri sahabat dirimu, Luna. Kau adalah Putri kebanggaan dan kesayangan, Papa. Kau adalah penerang dalam keluarga kita, dan sebagai seorang ayah Papa akan selalu melindungimu. Seburuk-buruknya, Papa. Namun Papa tidak akan membiarkanmu tinggal bersama Mama dan ayah tirimu," ujar Deen Williams dan kembali memeluk Luna.


Diam-diam Alex mendengar obrolan mereka berdua. Dia tersenyum getir. Kemudian dia berbalik dan pergi begitu saja, Alex hendak pergi untuk menenangkan diri. Kebenaran yang baru ia ketahui memberikan pukulan hebat padanya, ternyata keluarganya bukan keluarga kandungnya.


Luna melepaskan pelukan ayahnya. "Aku ke kamar dulu." Ucapnya dan di balas anggukan oleh Tuan Williams. Dia akan mengijinkan Luna untuk tinggal bersama Sean, setidaknya sampai pikirannya benar-benar tenang.

__ADS_1


Meskipun Sean dan Alex bukanlah putra kandungnya tetapi dia menyayangi mereka dengan tulus, dan menganggap mereka putra kandungnya sendiri. Apalagi Alex lah yang membuatnya mendapatkan gelar sebagai ayah.


xxx


Ting...


Sebuah pesan masuk menginterupsi obrolan Sean dengan Kevin, ayahnya. Aiden membuka pesan tersebut yang ternyata dari Luna. Di dalam pesan singkat tersebut, Luna memberitahunya jika dia pergi ke kediaman Williams untuk mengambil beberapa barangnya.


Aiden segera mengetik pesan balasan untuk Luna."Kau tunggu aku di sana, aku akan menjemputmu." Kemudian mengirim pesan itu pada sang adik.


Pandangan Aiden kemudian bergulir pada ayahnya."Pa, aku harus pergi sekarang. Aku masih ada urusan." Ucapnya sambil bangkit dari kursinya.


"Tapi, Aiden. Mama, masih sangat merindukanmu, bahkan kau belum bertemu dengan Ailee. Apa tidak bisa jika malam ini kau menginap saja," mohon Viona.


"Aku akan datang lagi kemari. Mama, tidak perlu sedih. Meskipun kita tinggal terpisah, tapi aku akan lebih sering untuk mengunjungi mu. Sekarang aku harus pergi," ucap Aiden.


Viona menghela napas. Dengan berat hati dia membiarkan Aiden pergi. Dia tidak boleh bersikap egois. Lagipula putranya bukan anak kecil lagi. Tidak masalah Meskipun mereka harus tinggal terpisah darinya. Yang terpenting Aiden nya telah kembali ke dalam pelukannya dalam keadaan hidup dan utuh tanpa kekurangan satu pun, bahkan dia tumbuh menjadi pria yang sangat tampan .


"Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan."


Aiden mengangguk. Setelah memeluk ibunya dia pergi meninggalkan kediaman Zhang. Aiden tidak bisa membuat Luna menunggu dirinya terlalu lama.


xxx

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2