Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Season 2: Kepulangan Kedua Kakak Luna


__ADS_3

Sang Surya telah kembali dari peraduannya, ia datang untuk menggantikan posisi bulan yang sudah kehabisan waktu untuk mendampingi bumi.


Disebuah kamar mewah bernuansa putih kombinasi gold. Seorang gadis masih bergulat dengan selimut tebal miliknya, padahal matahari sudah membumbung tinggi di langit yang menandakan jika hari Mulai siang.


"My Sweet Heart, wake up baby. Ini sudah siang." Guncangan lembut pada lengannya membuat tidur nyenyak nya sedikit terusik. Dengan enggan dia membuka matanya yang masih terasa berat, dan mendapati keberadaan sang ayah yang sedang duduk di sampingnya.


"Pa," dia berkata dengan pelan.


"Bangunlah, kakak-kakak mu sudah menunggu untuk sarapan." Ucapnya pria paruh baya tersebut.


Gadis itu memicingkan matanya. Dia sedikit penasaran dengan kalimat 'Kakak-kakakmu' bukankah cuma Sean yang pulang, apa mungkin kedua kakaknya juga ikut pulang juga? Luna bertanya-tanya.


"Kenapa malah bengong? Cepat bangun terus mandi lalu pergi ke meja makan untuk sarapan." Pinta Tuan William sekali lagi. Luna mengangguk kemudian dia bangkit dari tempat tidurnya dan melenggang pergi ke kamar mandi. Dia hendak mandi dan membersihkan badannya yang terasa lengket oleh keringat.


Luna adalah satu-satunya perempuan di keluarga William setelah ayah dan ibunya berpisah. Dia memiliki tiga kakak laki-laki, namun dua diantaranya adalah kakak angkat yang sayangnya tidak di ketahui oleh Luna maupun kedua kakaknya.

__ADS_1


Yang Luna tahu, mereka adalah kakak-kakaknya yang sejak kecil tumbuh bersamanya hingga mereka sama-sama dewasa. Begitupun dengan mereka berdua, mereka juga tidak tahu jika sebenarnya dirinya hanyalah putra angkat , bukan kandung. Karena Tuan William dan mantan istrinya selalu memperlakukan mereka layaknya putra kandungnya sendiri.


Setelah mandi dan berpakaian lengkap serta berias. Luna pun segera turun untuk berkumpul bersama ayah dan kakak-kakaknya. Dan benar saja, ternyata kedua kakaknya juga sudah kembali dari luar negeri. Mereka adalah kakak pertama dan keduanya.


"Ge..." seru Luna sambil menuruni tangga.


"Hanny Bunny Sweety..." Kakak pertamanya bangkit dari kursinya dan berlari menghampiri Luna, begitupun dengan kakak keduanya yang juga tidak ingin kalah dari kakaknya.


"Ge, lepaskan!! Kalian berdua membuatku tidak bisa bernapas!!" teriak Luna sambil berusaha melepaskan pelukan kedua kakaknya. Alex dan Eric.


Luna menghela napas. Dia ingin protes pada Tuhan karena sudah memberinya kakak-kakak yang tidak beres semua.


Kakak pertamanya memiliki sifat messum akut yang hobinya membahas sesuatu yang berbau panas. Kakak keduanya yang selalu melankolis dan penuh drama, sedangkan kakak ketiganya memiliki sifat seperti kutub Utara, bermulut tajam dan sedikit irit bicara.


Tapi Luna tetap bersyukur karena bagaimana pun sikap mereka bertiga, yang jelas mereka sangat menyayanginya dan selalu memanjakannya. Dan Luna sangat-sangat berterimakasih pada Tuhan karena mengirimkan kakak-kakak seperti mereka.

__ADS_1


"Ge... Kenapa kau diam saja, selamatkan aku dari mereka berdua!!" seru Luna Memohon.


"Sean, kali ini kau jangan ikut campur, oke. Biarkan kita berdua menuntaskan rindu ini padanya." Sahut si sulung Alex.


"Ge, kau jangan dengarkan mereka. Aku hampir saja mati kehabisan napas karena ulah mereka berdua!!" teriak Luna sambil mengulurkan tangannya pada Sean, dia mencoba meminta pertolongan dari kakak ketiganya.


Sean menghela napas. Kemudian dia bangkit dari duduknya dan menghampiri mereka bertiga. "Ge, lepaskan dia, sebaiknya sekarang kita sarapan. Papa, sudah menunggu!!" ucap Sean seraya menarik Luna menjauh dari mereka berdua. Gadis itu pun bisa menghilang nafas lega setelah Sean turun tangan. Tatapan dinginnya membuat mereka berdua tak berkutik sama sekali.


Luna menjulurkan lidahnya pada kedua kakaknya lalu meninggalkan keduanya dan menuju meja makan. Sedangkan Tuan Williams hanya bisa menghela napas sambil menggelengkan kepala melihat tingkat 4 buah hatinya.


Dan selanjutnya sarapan mereka lalui dengan tenang. Tak ada lagi obrolan diantara mereka berlima, hanya terdengar suara sendok dan piring yang saling berdenting. Mereka menikmati sarapannya dengan tenang.


xxx


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2