
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 18.40. Tak terasa sudah hampir satu jam Luna Williams, gadis cantik berusia 23 tahun, mematut dirinya di depan cermin untuk memastikan gaun yang ia pakai benar-benar sempurna.
Padahal biasanya ia tak pernah menghabiskan waktu selama ini untuk bercermin. Tetapi hari ini semua berubah, karena Luna akan menghadiri acara Reuni bersama teman-teman semasa kuliahnya dulu. Itulah sebabnya mengapa ia ingin terlihat cantik dan sempurna, apalagi dia pergi bersama Aiden, dan Luna tidak ingin sampai mempermalukannya.
Luna berputar di depan cermin sekali lagi agar dapat melihat gaunnya dari berbagai sisi, dan memastikan gaun putih selutut dan syal tipis yang dililitkan di lehernya terlihat sempurna. Rambutnya yang berwarna coklat panjang itu itu dibiarkan tergerai dan jatuh diatas punggungnya. Ada hiasan Bandu dari Tiara yang kian menyempurnakan penampilannya.
Sekarang ia mulai memakai make up. Menaburkan bedak ke wajah cantiknya, memakai mascara dan sedikit eyeliner, juga memoleskan lipstik pink ke bibir peachnya. Sambil berdandan, inner Luna mulai beraksi.
"Bagaimana ya Rekasi mereka saat melihatku datang bersama pria yang sangat tampan, bukan-bukan... tapi tampan dan cantik."
"Semoga saja tidak ada yang mengenali Kakak, bisa bahaya jika mereka tahu yang aku bawa ke acara itu adalah Kakakku bukan kekasihku."
Luna menggeleng, semoga saja tidak ada yang mengenali Aiden sebagai kakaknya. Bukan karena Luna malu mengakui pria itu sebagai kakaknya, tapi karena dia tidak ingin disebut sebagai pembohong apalagi wanita yang tidak laku-laku.
Saat dirasa tidak ada yang kurang pada penampilannya. Luna mengambil sepasang heels yang sudah dia siapkan di samping tempat tidurnya. Heels setinggi 10cm tampak sempurna di kaki jenjang Luna. Gadis itu menyambar tasnya yang ada di atas tempat tidur lalu melenggang pergi meninggalkan kamarnya.
"Wow, kau cantik sekali Lun. Memangnya kau mau pergi kemana?" kedatangan Luna langsung disambut pertanyaan oleh Kakak keduanya, Eric.
"Aku dapat undangan untuk datang ke acara reuni dengan teman-teman kuliahku dulu." Jawab Luna.
"Lalu kau pergi dengan siapa?" kini giliran Alex yang bertanya.
"Ai Gege, aku akan pergi dengannya. Tidak mungkin aku membawa kalian berdua. Bisa-bisa aku malah dipermalukan oleh mereka karena datang bersama Kakakku, bukan pasanganku." Jelas Luna.
"Lalu dimana Aiden? Kenapa aku tidak melihat batang hidungnya sedari tadi? Jangan-jangan dia kabur karena tidak mau menemanimu datang ke acara begituan, kau seperti tidak mengenal kakak ketiga mu saja, dia kan paling anti datang ke acara-acara begituan." Tukas Eric.
Luna menggigit bibir bawahnya. Bagaimana dia bisa melupakan hal tersebut? Aiden, dia memang paling anti menghadiri acara-acara seperti itu. Bagaimana jika Aiden berubah pikiran dan tidak datang? Luna takut dengan pikirannya sendiri, dia berdoa semoga saja Aiden benar-benar mau menemaninya dan tidak berubah pikiran.
"Luna ,Luna, Luna," Eric mengibaskan tangannya di depan wajah Luna yang melamun. Dia pun segera tersadar dan kembali ke alam sadarnya.
"Ada apa , Ge?"
"Kenapa malah melamun? Memangnya apa yang kau lamun kan?" tanya Eric.
Luna menggeleng. "Tidak ada. Ya sudah aku pergi dulu. Aku langsung ke rumah Aiden Gege saja." Luna beranjak dari hadapan kedua kakaknya dan pergi begitu saja.
xxx
Aiden melirik kearah jam yang menggantung di dinding. Masih ada waktu untuk dia bersiap-siap sebelum menjemput Luna di kediaman Williams. Dia sudah berjanji pada gadis itu untuk menemaninya datang ke acara reuni dengan teman-teman kuliahnya dulu.
Setelah mandi dan berpakaian lengkap. Aiden mengambil kunci mobilnya yang ada di atas nakas kecil samping tempat tidurnya.
Tubuh kekarnya dalam balutan kemeja abu-abu gelap yang dipadukan dengan Vest V-Neck hitam yang senada dengan warna celana bahannya. Aiden masih tetap terlihat tampan meskipun perban belum mau beranjak dari pelipis kanannya. Dan sekarang dia hanya tinggal menjemput Luna.
"Luna, aku baru saja mau menjemputmu, tapi kau malah datang kesini." Ucap Aiden. Dia sedikit terkejut ketika membuka pintu kamarnya dan mendapati Luna berdiri di depan pintu.
"Ge, apa kau benar-benar akan menemaniku pergi ke acara itu? Aku takut membuatmu tidak nyaman di sana, kau kan paling benci datang ke acara semacam itu. Atau aku batalkan saja dan kita tidak usah pergi," tutur Luna.
Aiden menggeleng. "Tidak masalah. Aku sudah berjanji akan menemanimu pergi ke acara itu. Jika hanya sebentar aku rasa tidak masalah. Akan lebih bermasalah jika kau sampai tidak datang ke sana, bisa-bisa mereka membicarakan mu dan mengatakan hal-hal tidak baik tentangmu." Tutur Aiden.
Luna tersenyum lebar mendengar apa yang Aiden katakan. "Ge, kau memang yang paling mengerti diriku. Di antara kalian bertiga memang hanya dirimu yang memahami ku, itulah kenapa aku sangat-sangat takut kehilanganmu." Ujar Luna sambil mengunci mata hitam milik Aiden.
Pria itu menggeleng sambil membawa Luna ke dalam pelukannya. "Kau tidak akan pernah kehilangan diriku, Luna. Karena aku tidak akan pernah meninggalkanmu, apapun alasannya aku akan selalu berada di sisimu." Ujar Aiden setengah berbisik.
Luna memejamkan matanya. Dia mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Aiden. Pelukan yang begitu hangat, saking hangatnya pelukan itu, sampai-sampai Luna tidak ingin melepaskannya. Luna ingin bisa terus memeluk Aiden seperti ini, selamanya.
__ADS_1
xxx
Andrew mencoba menggerakkan kakinya tapi tidak bisa. Bahkan kaki kanannya terasa mati rasa, sedangkan kaki kirinya, dia masih bisa merasakan sedikit sakit ketika dokter memukulnya dengan palu.
Hal tersebut membuatnya menjadi sangat panik. Andrew takut sesuatu yang buruk terjadi pada kedua kakinya. "Dokter, apa yang terjadi? Kenapa kakiku terasa seperti mati rasa?" tanya Andrew pada dokter Kim.
"Apa benar-benar tidak terasa?" tanya dokter Kim memastikan.
Andrew menggeleng. "Sama sekali tidak. Dokter, apa yang terjadi?" tanya Andrew sekali lagi. Dia semakin panik. Bukan, tapi benar-benar panik.
Dokter Kim menghela napas. "Aku tidak mungkin salah diagnosa, kau mengalami kelumpuhan pada kedua kakimu. Tembakan itu merusak beberapa syaraf mu, dan itulah yang akhirnya membuatmu lumpuh." Jawab Dokter Kim menjelaskan.
Andrew menggeleng. "Tidak mungkin, aku tidak mungkin lumpuh. Dokter, kau jangan menakuti ku. Aku tidak mungkin lumpuh, aku tidak mungkin lumpuh, aku tidak mau lumpuh!!" teriak Andrew dengan emosi. Dia benar-benar tidak bisa menerima kenyataan, jika sekarang iya lumpuh.
Ramon mendekati Andrew dan mencoba menenangkan sang adik. Supaya tenang, dokter terpaksa memberinya obat penenang.
Gyuttt...
Ramon menggepalkan tangannya dengan erat. Amarah terlihat di kedua matanya. Dia bersumpah akan membalas Perbutan orang itu yang telah membuat adiknya lumpuh dan hancur. Andrew pasti akan menghancurkan orang itu sehancur-hancurnya.
xxx
Hujan adalah proses kondensasi dari uap yang menggumpal menjadi air di atmosfer dan jatuh ke daratan.
Bagi setiap orang, hujan memiliki makna yang berbeda-beda. Bagi seseorang, hujan menandakan kesuburan dan kemakmuran, bagi orang lain hujan mengingatkan mereka akan peristiwa kelam yang pernah mereka alami, bagi dua orang sejoli hujan membawa suasana romantis yang menghangatkan hubungan asmara mereka, sedangkan bagi anak-anak hujan merupakan saat yang paling dinanti untuk bermain dan bersenang-senang.
Tiba-tiba kota Seoul di guyur hujan yang sangat lebat, padahal setengah jam yang lalu langit masih tampak cerah dan dipenuhi bintang-bintang.
Namun tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya dan menghantam kota yang dipadati dengan aktifitas orang-orang yang hilir mudik di jalanan. Akibatnya mereka berhamburan untuk mencari tempat berteduh yang bisa melindungi dari terjangan ganas air hujan.
"Ya, sepertinya begitu. Lalu apa rencanamu sekarang, tetap pergi ke acara itu atau pulang saja?" tanya Aiden memastikan.
Tiba-tiba udara terasa dingin. Aiden segera menghidupkan penghangat supaya Luna tidak kedinginan. "Entah, aku sendiri bingung." Gadis itu menggelengkan kepala. Luna benar-benar bingung menentukan kemana dia sekarang. Tetap datang ke acara tersebut atau pulang.
"Kita makan malam saja. Sebaiknya kirim pesan singkat pada temanmu dan beritahu mereka kalau kau tidak bisa datang karena ada urusan," pinta Aiden dan di balas anggukan oleh Luna.
"Baiklah kalau begitu."
.
.
Aiden mengerutkan dahinya melihat Luna yang sedari tadi terus diam dan menatap keluar jendela sambil memainkan kuku-kukunya. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibir gadis itu, Ia hanya diam seperti orang bisu.
"Kau kenapa?" Tanya Aiden memecah keheningan, sontak saja Luna menoleh dan menatap sang kakak yang juga menatap padanya.
Luna menggeleng. "Tidak apa-apa." dan menjawab singkat.
"Tingkahmu sedikit aneh. Kita sudah sampai, cepat turun." Pinta Aiden dan dibalas anggukan oleh Luna. Mereka tiba di sebuah cafe yang letaknya tidak terlalu jauh dari taman Sungai Han.
Luna turun lebih dulu disusul Aiden yang kemudian berjalan mengekor dibelakang gadis itu. Luna menuju meja kosong dekat dengan jendela. Namun tiba-tiba langkah Luna terhenti karena seruan seseorang memanggilnya dan Aiden.
"Luna, Aiden.." seru seorang perempuan cantik sambil membalikan tangannya.
Luna menatap Aiden. "Ge, bukankah itu Ailee Jie-Jie, dan yang bersamanya itu seperti... HENRY GEGE!!" Luna memekik keras diakhir ucapannya. Meskipun dia berusaha menyembunyikan wajahnya namun Luna bisa mengenali kalau dia adalah Henry.
__ADS_1
"Aish, kenapa harus bertemu mereka sih?" gumam Henry setengah menggerutu.
"Ge, ayo." Luna memeluk lengan Aiden dan mengajaknya menghampiri mereka berdua.
Tiba-tiba Aiden menghentikan langkahnya saat dia merasakan ada seseorang yang tengah mengawasinya, pria itu menoleh dan menatap kebelakang menggunakan ekor matanya. Dan sikap Aiden membuat Luna bertanya-tanya.
"Ada apa, Ge?" tanya Luna.
Aiden menggeleng. "Tidak ada apa-apa. Kau duluan saja, tali sepatuku lepas, aku betulkan dulu." Ucapnya dan dibalas anggukan oleh Luna.
Insting Aiden sangat kuat, dan dia sadar jika mereka berdua sedang diikuti. Tidak ingin musuh mengetahui jika Ia telah mengetahui keberadaan mereka, Aiden berjongkok dan tangannya memegang senjata yang tersimpan dibalik pakaian yang membalut tubuhnya.
"Pasti mereka orang-orang suruhan Ramon. Sial, jangan sampai mereka melibatkan Luna ataupun Ailee." Gumam Aiden.
Menyadari masih tidak ada pergerakan dari orang-orang itu, Aiden melanjutkan langkahnya kemudian menghampiri Luna, Henry dan Ailee.
"YAKKK!! LUNA WILLIAMS, ITU MINUMANKU."
Dari arahnya berjalan, Aiden melihat dan mendengar Ailee yang berteriak pada Luna karena dia tiba-tiba saja menyambar minuman miliknya. Muncul tanda tanya besar dibenak Aiden, memangnya sejak kepan mereka menjadi dekat? Dia tidak mau ambil pusing.
Sementara itu, tidak ada penyesalan yang terlukis di wajah Luna meskipun dia telah menghabiskan minuman Ailee.
"Dasar rakus." Desis Ailee sambil mempoutkan bibirnya.
"Hehehe... Maaf Jie, aku akan mengganti minumanmu jadi jangan cemas. Aku akan memesankan lagi untukmu," ucap Luna.
Lalu pandangan Ailee bergulir pada Aiden. "Aiden, kau juga ada di sini?" Ailee berseru saat mendapati kehadiran Aiden di sana. "Bagaimana dengan lukamu, apa masih belum membaik?" tanya Ailee sambil menunjuk perban yang membebat pelipis Aiden.
"Sudah jauh lebih baik." Jawabnya meyakinkan.
"Kalian ngobrol saja. Aku ke toilet dulu," ucap Luna serata bangkit dari kursinya dan pergi begitu saja.
"Luna tunggu, aku ikut denganmu." Seru Ailee dan bergegas mengejar gadis itu. Menyisakan Aiden dan Henry berdua di sana.
"Sepertinya kalian berdua semakin lengket saja. Aku lihat Luna juga sangat dekat denganmu, dibandingkan kedua kakaknya yang lain, Sepertinya dia paling dekat dengan dirimu." Ucap Henry seraya menyeruput minuman di hadapannya.
"Ya. Luna memang tidak begitu dekat dengan Alex dan Eric, bahkan ketika ada apa-apa yang dia cari adalah aku." Balas Aiden.
"Lalu menurutmu Luna itu gadis yang seperti apa?" Tanya Henry, entah benar atau tidak, Henry melihat ada cinta Dimata Aiden untuk Luna. Tetapi dia tidak berani mengatakannya karena itu baru asumsinya saja.
"Manja, kekanakan, bar-bar, sulit di tebak, ceria dan cantik pastinya." jawab Aiden.
"Bukankah kau dan dia tidak memiliki hubungan darah,a pa tidak ada kemungkinan jika kalian berdua akhirnya akan saling jatuh cinta? Jujur saja aku sangat penasaran dengan hubungan kalian berdua, bahkan orang bisu pun akan mengatakan jika hubungan kalian lebih dari sekedar kakak-adik. Em, atau jangan-jangan kau sudah jatuh hati padanya?" Selidik Henry.
Aiden menatap Henry dengan tajam. "Ngaco, bagaimana pun juga Luna adalah adikku meskipun kami bukan suara kandung. Kami sudah bersama sejak kecil. Jadi tidak mungkin kami akan saling jatuh cinta." Tegasnya.
"Tidak ada yang tidak mungkin, Aiden. Kalian selalu bersama dalam keadaan apapun, bahkan kau sampai mati-matian melindunginya, jadi itu tidak menutup kemungkinan kalian akan saling jatuh cinta." Tutur Henry.
Aiden mengangkat bahunya. "Aku tidak mau memikirkannya. Bagaimana pun hubungan kami nantinya, biar waktu yang menjawabnya." Ujar Aiden.
Aiden kembali melirik ke belakang dan mendapati orang-orang itu masih berada di sana. Sepertinya mereka memang sedang mengikuti dirinya. Dia harus lebih waspada.
.
.
__ADS_1
Bersambung