Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Sangat Luar Biasa


__ADS_3

Sepasang tangan yang memeluknya dari belakang membuat perhatian Kevin teralihkan. Pria itu tersenyum lebar, dia melepaskan pelukan tersebut lalu berbalik badan. Posisinya dan orang yang memeluknya saling berhadapan. Senyum lebar kembali terpatri di bibir Kiss Able-nya, membentuk lengkungan indah di wajah tampannya.


"Ge, hari ini kau sangat tampa." Viona memberikan pujiannya pada penampilan Kevin . Sebenarnya tidak ada yang spesial pada penampilannya, tidak ada kemeja dan setelan jas rapi, tapi entah kenapa Viona memujinya sangat tampan.


Tubuh tegap itu dalam balutan celana hitam panjang, singlet putih dan Vest v-neck yang senada dengan warna celananya. Dan jika boleh jujur, Viona memang lebih menyukai Kevin yang seperti ini di bandingkan dengan memakai setelan jas rapi.


"Satu Minggu tidak bertemu, kau semakin manja saja, hem." Ucap Kevin sambil mencubit hidung Viona dengan gemas.


Wanita itu mempoutkan bibirnya. "Memangnya kenapa jika aku semakin manja? Memangnya tidak boleh?! Toh, aku manja pada suamiku sendiri, jadi tidak ada salahnya, kan. Kalau manjanya pada suami orang baru bisa dipertanyakan," ujar Viona.


Kevin menarik tengkuk Viona lalu mengecup singkat bibirnya. "Ya, benar yang kau katakan. Aku sangat merindukanmu, Viona. Sangat-sangat merindukanmu, dan aku ingin malam ini menjadi malam yang panjang untuk kita berdua, sepanjang malam kita akan saling menghangatkan," bisik Kevin. Jari-jari besarnya sudah menggerayangi punggung Viona yang masih tersembunyi di balik kain dress nya.


"Dengan senang hati," jawab Viona sambil mengalungkan kedua tangannya pada leher Kevin. Mata mereka sama-sama tertutup rapat ketika dua bibir itu saling bertemu, melumatt dan memagut.


Meskipun hanya sejenak, Viona ingin mendominasi bukan didominasi. Selama ini Kevin selalu berbuat tidak adil padanya, dia maunya mendominasi bukan didominasi. Dan kali ini Viona tidak akan mengalah padanya, apalagi membiarkan Kevin mendominasi dirinya.


Bibir mereka bergulat dengan begitu panasnya, posisi mereka tidak lagi berdiri. Kevin menindih Viona dan mengungkung wanita itu di bawah tubuhnya.


Kedua tangan Viona memeluk leher Kevin dan matanya tertutup rapat, wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Yang mereka lakukan benar-benar panas, namun Viona sangat menyukainya. Dan selama satu Minggu Kevin menghilang, bercinta adalah salah satu hal yang dia rindukan darinya. Dan selama itu pula Viona harus menahan diri meskipun bagian Miss-nya terus berkedut hebat.


Kevin menarik drinya sesaat untuk memandang Viona. Senyum lembut terpatri di sudut bibirnya, lelaki tampan namun juga cantik itu mengarahkan jari-jarinya pada wajah Viona dan menghapus peluh yang tampak pada keningnya. Wanitanya tampak begitu cantik dan menggoda ketika berkeringat seperti ini.

__ADS_1


"Kau menikmatinya, hm?" tanya Kevin dan di balas anggukan oleh Viona. Kevin melihat kabut kenikmatan di kedua mata hazel-nya.


"Ya, aku sangat-sangat menikmatinya. Malam ini begitu luar biasa. Ge, kau sangat luar biasa," ucap Viona sambil mengunci sepasang biner hitam milik Kevin.


Kevin kembali tersenyum. "Dan kau lebih luar biasa," bisiknya tepat di depan wajah Viona, kembali membenamkan bibirnya pada bibir Viona, melahapnya lagi seperti tadi.


Udara malam yang dingin justru terasa panas bagi mereka berdua. Di saat orang lain kedinginan karena udara malam yang minus derajat, mereka berdua justru kegerahan karena permainannya. Benar-benar sangat luar biasa.


xxx


"Uuugggghhh..."


Viona membuka matanya dan merasakan sakit yang luar biasa di bagian Miss-nya. Dia mencoba untuk mengingat-ingat apa yang terjadi semalam, dan wajahnya langsung memerah padam saat mengingat panasnya dengan Kevin tadi malam. Buru-buru Viona bersembunyi di dalam selimut tebal miliknya saat mendengar derap langkah kaki seseorang yang datang.


"Lalu di mana Tuan Muda-mu? Apa dia sedang keluar?" tanya Viona memastikan.


Pelayan itu menggelengkan kepala. "Tuan Muda sedang berbincang dengan Tuan Besar di bawah. Beliau meminta Anda supaya istirahat dan tidak perlu pergi kemana-mana," jawab pelayan itu.


Viona mengangguk. "Ya, kebetulan aku memang sedang kurang enak badan, dan tidak ingin pergi kemanapun." Ucapnya menimpali.


"Baiklah kalau begitu. Nona, saya permisi dulu." Pelayan itu membungkuk lalu melenggang pergi meninggalkan kamar Viona.

__ADS_1


Viona menghela napas. Untung saja Kevin pengertian, jadi Viona tidak perlu mencari banyak alasan karena cara jalannya yang aneh. Dan Dia tidak perlu berkeliaran di luar lalu mendapatkan cemoohan dari Frans karena jalan dengan cara ngangkang.


"Ge, kau memang yang paling mengerti diriku." Viona menatap makanan itu sambil tersenyum lebar. Dia sangat beruntung karena memiliki suami seperti Kevin. Dan Kevin adalah anugerah paling indah yang di berikan oleh Tuhan padanya.


Setelah mandi dan berpakaian lengkap. Viona menyantap sarapannya yang disiapkan oleh pelayan dengan tenang, kebetulan sekali dia memang sangat lapar setelah seluruh tenaganya terkuras habis semalam. Dia membutuhkan asupan makanan untuk mengembalikan tenaganya yang berkurang banyak akibat percintaannya dengan Kevin. Semalam benar-benar luar biasa, dan Viona sangat menikmatinya.


Khusus untuk hari ini. Viona tidak ingin pergi ke mana pun dan melakukan apapun, dia akan menghabiskan sepanjang harinya dengan bermalas-malasan di tempat tidur. Masa bodoh dengan hal-hal lain, yang Viona inginkan hanya bersantai dan tidak melakukan aktifitas apapun.


xxx


"Aku tidak gila, aku tidak gila, lepaskan aku dari sini!!"


Sonny terus berteriak. Mengatakan pada semua orang jika dia tidak gila dan meminta supaya dirinya dilepaskan. Namun tidak ada yang menggubris ucapannya, mereka mengabaikannya. Lagi pula di mana ada orang gila mengaku gila, pikir mereka. Mendengar Orang gila mengatakan jika dirinya waras adalah hal yang lumrah.


"Berhenti. Aku tidak gila, tolong bantu aku lepas dari sini. Aku benar-benar tidak gila, jadi aku mohon tolong aku." Sonny menghentikan Seorang perawat yang melintas di depan kamar rawatnya. Dia menahan lengan perawat tersebut dan memohon padanya.


Dengan kasar perawat itu menyentak tangan Sonny dari lengannya lalu meninggalkannya begitu saja. Dia tidak mengatakan apapun, karena menanggapi orang gila itu tidak ada gunanya. Lebih baik melanjutkan pekerjaannya daripada buang-buang waktu tidak untuk sesuatu yang tidak berguna.


"Awarrrkhhh!! Kenapa semua orang begitu menyebalkan?! Aku ini tidak gila, kenapa tidak ada yang mempercayaiku satupun?! Ini semua gara-gara orang itu, jika bukan karena dia aku tidak akan menderita seperti ini!!" ucap Sonny dengan emosi.


Apapun alasannya, dia tidak akan pernah memaafkan Kevin apapun alasannya, karena dia kini Sonny harus berakhir di rumah sakit jiwa. Karena menurut Kevin satu-satunya tempat yang tepat untuknya adalah tempat ini. Tidak ada tempat yang lebih layak bagi Sonny selain rumah sakit jiwa, begitulah menurut pendapat Kevin.

__ADS_1


xxx


Bersambung


__ADS_2