Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Season 2: Ciuman Pertama Luna


__ADS_3

Luna membasuh wajahnya yang terasa panas, entah kenapa akhir-akhir ini dia merasakan sesuatu yang aneh ketika dekat dengan Aiden atau saat menatap mata hitamnya. Dan sikap Luna membuat Ailee yang sedari tadi berdiri disampingnya kebingungan dan bertanya-tanya.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Ailee.


Luna mengangkat bahunya. "Entahlah. Aku merasa sedikit buruk, aku kepanasan." Balas Luna.


"Kau bersikap aneh malam ini. Jangan-jangan ini karena Aiden ya? Jangan bilang kalau kau sudah mulai jatuh cinta padanya, Luna?" tebak Ailee, gadis itu menatap Luna penuh selidik.


Alih-alih ingin membalas pertanyaan Ailee, Luna justru kembali membasuh wajahnya lalu menggeleng. "Itu tidak mungkin, Jie. Aiden Gege, adalah kakakku, jadi tidak mungkin jika aku sampai jatuh cinta padanya." Tutur Luna.


"Tapi kan kalian bukan saudara kandung, Luna. Lagipula kalian berdua terlihat sangat cocok. Aku, Mama dan Papa sangat-sangat setuju jika kalian berdua bersatu. Jadi kenapa tidak dicoba jalani dulu saja, setelah di rasa cocok baru maju ke jenjang yang lebih serius, pertunangan lalu pernikahan." Ujar Ailee.


Luna menghela napas. "Memangnya siapa yang jatuh cinta pada siapa, Jie? Lagipula aku masih ingin menikmati kesendirianku ini, jadi aku tidak mungkin bisa begitu saja jatuh cinta." Tukas Luna.


"Tapi Luna, sampai kapan kau akan terus sendiri seperti ini? Kau juga membutuhkan sandaran, Lagipula apa kau rela jika tiba-tiba Aiden memiliki kekasih dan kau bukan lagi menjadi prioritas utamanya? Saat itu kau baru menyadari seberapa penting arti kehadirannya di hidupmu. Jadi jangan sia-siakan waktu yang kau miliki bersamanya." Tukas Ailee panjang lebar.


"Jie, aku tahu maksudmu baik, tapi aku akan menyerahkan semuanya pada waktu saja. Bagaimana akhirnya hubungan kami biar waktu yang menjawabnya. Sudahlah, jangan bicara omong kosong lagi, sudah terlalu lama kiti di sini. Aku mau kembali." Ucap Luna dan berlalu begitu saja.


Ailee menghela napas. Meskipun baru mengenal Luna, tapi sedikit banyak dia mulai memahami gadis itu. Mungkin memang dirinya yang terlalu banyak bicara, Ailee hanya ingin membuat Luna sadar jika dia dan Aiden serasi bersama.


"Minggir, jangan halangi jalanku!!" Pinta Luna pada tiga perempuan di depannya.


Saat keluar dari toilet, Luna di halangi oleh tiga perempuan yang entah dari mana asalnya tiba-tiba saja berdiri dan menghalangi jalannya. Bukannya minggir dan menuruti permintaan gadis itu, salah satu dari ketiga perempuan itu justru menghampiri Luna.


"Tidak usah memasang wajah kesal seperti itu dan bersikaplah lebih santai sedikit, aku tidak akan menggigit kok. Aku hanya ingin bertanya dan mengatakan satu hal padamu." Ujar perempuan itu.


Luna memutar matanya dengan jengah mendengar perempuan itu hanya mengatakan kalimat yang berputar-putar saja. "Katakan, jangan muter-muter seperti kentut di dalam celana." Pinta Luna dingin.


"Apa kau yang bernama, Luna Williams?"


"Memangnya apa pentingnya untukku memberi taukan namaku padamu? Dan jika kau datang hanya untuk bertanya hal semacam ini, sebaiknya kau segera pergi. Lagipula aku tau kemana arah pembicaraanmu, dan aku tau jika kau adalah gadis yang meneror ku hari itu, aku tidak akan membuat perhitungan denganmu."


"Dan jika kau menemui ku hanya untuk membahas masalah itu, sebaiknya kau pergi saja. aku tidak tertarik sama sekali pada kekasihmu yang mata keranjang itu. Lagipula apa bagusnya dia? Asal kau tau saja ya, aku sudah seorang pria yang sangat sempurna. Dia lebih tampan dan lebih mapan, jadi untuk apa aku harus berebut pria yang tidak berbobot denganmu?" ujar Luna panjang lebar.


Perempuan itu menatap Luna dengan pandangan meremehkan. "Benarkah? Aku tahu kau hanya mengatakan omong kosong saja, memangnya siapa yang mau pada perempuan sepertimu? Aku benar-benar tidak yakin.


"Apa kau ingin aku membuktikannya? Baik, ikut aku." pinta Luna. Gadis itu menarik sudut bibirnya dan berlalu begitu saja.


Sementara itu, Ailee yang mendengar semua percakapan Luna dan perempuan itu menyipitkan matanya. Ia penasaran siapa orang yang di maksud oleh Luna, tidak ingin rasa penasaran semakin memenuhi perasaannya. Ailee pun segera mengejar Luna dan ketiga perempuan itu.


"Kau lihat dua pria tampan yang duduk di sana? Salah satunya adalah seseorang yang dekat denganku." Ucap Luna seraya menunjuk dua pria yang duduk di dekat jendela kaca.


Perempuan itu menatap Luna dengan pandangan meremehkan. "Benarkah? Meragukan sekali. Bualan apa yang kau umbar ini, eo? Kau pikir aku akan mempercayainya? Kau hanya seorang pengangguran, dan dia orang yang mapan. Jika begitu buktikan." Pinta perempuan itu menantang.


"Lihat ini." pinta Luna. Dengan langkah mantap. Luna menghampiri Aiden dan Henry yang sedang asik berbincang. Tanpa berkata-kata, Luna menarik Aiden untuk berdiri.


Aiden tersentak saat Luna tiba-tiba saja menariknya dan memeluk lengannya, sontak saja Aiden menoleh dan menatap Luna penuh tanda tanya. Dia tidak tahu apa yang sedang di rencanakan oleh gadis itu.


Pandangan Luna bergulir pada Aiden. "Ge, Aku benar-benar butuh bantuanmu, aku mohon." lirih Luna dengan tatapan memohon.


"Bantuan seperti apa?" Tanya Aiden penasaran. Dia memiliki firasat yang tidak baik.


"Kau melihat tiga perempuan yang berdiri di sana itu? Mereka meremehkan ku, bisakah kau berpura-pura menjadi orang yang sedang dekat denganku? Aku ingin mengenalkan mu padanya sebagai seseorang yang aku cintai, aku mohon." Aiden menatap Luna dalam, manik kelamnya mengunci manik Hazel milik gadis itu. Luna menatap Aiden penuh harap.


Aiden mendengus. "Kalau begitu kita hampiri mereka." Ucapnya dan membuat senyum di bibir Luna mengembang lebar. Dengan semangat itu menganggukkan kepala.

__ADS_1


Mereka berdua berjalan beriringan menghampiri ketiga perempuan itu. Aiden memeluk pinggang Luna dengan mesra. Gadis itu mendongak menatap Aiden yang juga menatap dirinya, tampak sudut bibirnya tertarik ke atas. Menciptakan lengkungan indah terlukis di wajah tampannya.


Jantung Luna tiba-tiba berdebar tidak karuan melihat senyum Aiden. Padahal ini bukan pertama kalinya dia melihat sang kakak tersenyum padanya, sepertinya jantung Luna benar-benar bermasalah.


"Kita harus memerankan peran ini sebaik mungkin agar lebih meyakinkan." Ucap Aiden, Luna mengangguk paham.


"Perkenalkan, ini Aiden Gege dan dia kekasihku." Luna memperkenalkan Aiden pada ketiga perempuan itu sebagai kekasihnya.


Sementara itu. Ketiganya hanya bisa tertegun melihat ketampanan Aiden, dia akui jika Aiden memang jauh lebih tampan dari kekasihnya. Namun Ia tidak akan mempercayainya begitu saja tanpa Luna bisa membuktikannya.


"Buktikan jika kalian memang sepasang kekasih, bisa saja kan jika kalian berdua hanya pasangan palsu." Ucap perempuan itu.


"Baik, aku akan membuktikannya padamu supaya kau percaya. Lihat ini." Tanpa ada keraguan sedikit pun, Luna menarik tengkuk Aiden lalu mencium bibirnya dan melumattnya singkat.


Dan apa yang gadis itu lakukan menyita perhatian semua yang ada di cafe itu terutama Ailee dan Henry. Mereka berdua hanya bisa terbelalak melihat apa yang terjadi di depan mata mereka.


"Omo!! Apa yang Luna lakukan, dia benar-benar mencium Aiden? Henry, apa itu?" Ucap Ailee sambil menunjuk mereka berdua yang masih berciuman.


Henry menggeleng. "Entahlah." Balasnya singkat.


30 detik telah berlalu. Namun ciuman di antara mereka masih belum berakhir, kedua mata Luna perlahan terbuka dan buru-buru dia mengakhiri ciuman itu.


Wajah Luna tertunduk dan memerah, Ia sungguh-sungguh malu melakukan hal itu. Namun Ia tidak memiliki pilihan lain, Ia ingin membuktikan pada ketiga perempuan itu jika Ia dan Aiden benar-benar pacaran.


Mata Luna terbelalak saat Aiden tiba-tiba saja menarik tengkuknya dan mendaratkan satu ciuman pada bibirnya. Luna hanya diam tidak memberikan reaksi apa-apa, kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya. Henry segera menutup mata Ailee agar gadis itu tidak menyaksikan adegan panas itu.


"Aisss mereka benar-benar sudah gila." Ucap Aiden sambil menggelengkan kepalanya.


"Yakk!! Kenapa kau malah menghalangiku untuk melihatnya? Ngomong-ngomong apa sudah selesai?" Tanya Ailee setelah melayangkan protesnya pada Henry.


"Aisss, kenapa lama sekali." Keluh Ailee. Namun di dalam hatinya dia bersorak bahagia.


Henry menurunkan tangannya dari mata Ailee melihat ciuman mereka berdua telah berakhir. Sudut bibir Aiden tertarik keatas, pria itu menyeka sisa air liurnya yang masih menempel di bibir Luna dengan jari-jarinya.


"A-a-ku percaya sekarang." Ucap perempuan itu terbata.


Luna tersenyum penuh kemenangan, dengan perasaan yang masih bercampur aduk dia segara berlalu begitu saja dan kembali pada Ailee dan Henry.


"Wow, itu sangat Hoot." Ucap Henry di iringi gerlingan nakal.


"Rupanya kau jago juga ya, Lun? Awas loh nelan lidah sendiri." Imbuh Ailee menggoda.


"Diamlah." Pinta Luna lalu menyambar tas yang ada di atas meja. Dia benar-benar kehilangan muka di depan Aiden atas insiden yang baru terjadi.


"Kau mau kemana?" seru Ailee.


"Pulang." Sahut Luna tanpa menghentikan langkahnya.


Mungkin untuk sementara dia harus menghindari Aiden. Luna benar-benar kehilangan muka untuk bertemu dengannya, dia telah menciumnya, tepat di bibirnya. Dan itu adalah ciuman pertama Luna. Aiden yang melihat Luna meninggalkan cafe buru-buru menyusulnya. Karena tidak mungkin dia membiarkannya pulang sendirian.


"Luna, tunggu!!"


Tiba-tiba ponsel Henry berdering. Max menghubunginya. Tanpa membuang banyak waktu, dia segera menerima panggilan tersebut.


"Baiklah, aku akan segara ke sana. Ailee, terjadi masalah sebaiknya aku antar kau pulang sekarang." Ucap Henry.

__ADS_1


Dia tidak memberikan penjelasan apapun pada Ailee, bahkan ketika dia bertanya sekalipun Henry tidak menjelaskannya. Henry hanya mengatakan terjadi sedikit masalah di rumahnya. Karena tidak mungkin dia mengatakan pada Ailee jika kediaman Aiden sedang di serang. Lagipula apa yang terjadi ada hubungannya sama sekali dengan Ailee.


xxx


"Ge, yang tadi aku benar-benar minta maaf, aku sudah lancang mencium bibirmu." Ucap Luna penuh penyesalan.


Luna menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap Aiden. Dia benar-benar merasa telah kehilangan muka di depan pria itu atas tindakannya tadi. Dan Luna merutuki kebodohannya yang membuatnya harus kehilangan muka di depan Aiden.


Aiden menggeleng. "Lupakan l saja dan tidak perlu diingat-ingat lagi. Lagipula jika tidak begitu, bagaimana mereka bisa percaya jika aku benar-benar kekasihmu. Kita sudah melakukan apa yang seharusnya di lakukan, jadi tidak perlu menyesali apa yang sudah terjadi." Tutur Aiden.


"Tapi tetap saja itu sangat tidak pantas dilakukan, aku benar-benar merasa tidak enak padamu." Ujar Luna dengan lirih.


Aiden mendengus. Dia benar-benar tidak suka dengan sikap Luna yang seperti ini. Dan Aiden sedikit menyesal kenapa harus mencium Luna dan memberikan beban padanya. Tapi nasi sudah menjadi bubur, apa yang sudah terjadi tidak seharusnya disesali. Karena disesali pun percuma saja, karena sudah terjadi.


"Pakai sabuk pengamanmu. Kita pulang sekarang, Papa bisa sangat cemas jika kita tidak segera pulang." Ucap Aiden dan di balas anggukan oleh Luna.


Luna mencoba menghilangkan bayang-bayang kejadian itu tapi tidak bisa. Setiap kali mengingatnya rasanya dia ingin pergi ke Antartika lalu bersembunyi di sana supaya tidak bisa bertemu dengan Aiden. Bahkan lembut dan manis bibir Aiden masih terasa di bibirnya.


Dan Luna sangat menyesali pertemuannya dengan ketiga perempuan menyebalkan itu. Jika bukan karena mereka, Luna tidak akan menanggung malu seperti ini. Dia bersumpah akan membalas mereka bertiga jika sampai ketemu lagi, terutama perempuan itu pastinya. Dia akan membalasnya.


xxx


Setibanya di kediaman Aiden, suasana begitu tegang dan mencekam. Banyak mayat yang bergelimpangan di tanah dengan keadaan bersimbah darah. Baik itu dari pihak lawan maupun kawan.


Keadaannya begitu kacau, dua kubu bertarung dan saling membbunuh. Tak ingin semakin banyak dari kubunya yang nyawanya melayang sia-sia, Henry segera bergabung dengan Max dan yang lainnya.


"Di mana, Anak ayam itu?" Tanya Henry saat tidak melihat keberadaan Logan.


"Si anak Ayam itu pasti kabur dan bersembunyi." Balas Tao menyahuti.


"Selalu saja seperti itu." Sahut Henry menimpali.


"Sudah jangan banyak mengeluh, Tao cepat hubungi Aiden dan minta dia untuk segera kembali, beritahu juga situasi di sini yang sangat buruk. Jumlah mereka lebih banyak dari perkiraanku, kita membutuhkan iblis berdarah dingin untuk menyelesaikan mereka semua, jadi segara hubungi dia." Pinta Max pada Tao..


Tao mengangguk. "Baik, Hyung."


Satu persatu lawan bisa di tumbangkan, beberapa telah roboh dan meregang nyawa di tangan Kai dan Tao. Mereka membantai musuhnya dengan sangat sadis, Kai dan Tao tidak segan-segan untuk menembak mati setiap musuh yang datang mendekat.


Bisa dikatakan mereka sama beringasnya seperti Aiden saat menghabisi musuh-musuhnya, jadi tidak salah jika Aiden mereka berdua sebagai tangan kirinya, karena mereka selalu bisa diandalkan seperti Max dan Henry yang merupakan tangan kanan Aiden. Sedangkan Logan, dia satu-satunya anak buah Aiden yang tidak pernah terjun langsung ke dalam perkelahian.


"Berani datang kemari, sama saja menghantarkan nyawa. Ayo maju kalian semua." Pinta Henry menantang.


Pria itu menyipitkan matanya, smrik mengerik tersungging di wajahnya. Dua senjata api sudah berada di tangannya, dan kali ini Ia tidak akan membiarkan musuh-musuhnya keluar dari Markas dengan selamat.


.


.


Bersambung


.


.


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2