Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Mencari Viona


__ADS_3

Kevin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan berharap bisa segera menemukan Viona. Kali ini dia melibatkan anak buahnya untuk mencari dan menemukan Viona, Kevin tidak bisa menunggu sampai dia celaka.


Dia tidak akan pernah memaafkan orang itu Jika sesuatu yang buruk sampai terjadi pada istrinya, dia pasti akan menghabisinya dengan cara yang sangat brutal.


Sedan hitam itu terus melaju. Membela keheningan malam kota Beijing yang mulai tertidur. Sepasang mata hitamnya yang dingin terus memperhatikan sekelilingnya, berharap dia bisa menemukan petunjuk tentang keberadaan Viona.


Kevin benar-benar frustasi karena tak kunjung menemukan istrinya, sudah lebih dari 2 jam namun masih belum ada titik terang. Sampai akhirnya dia melihat seorang wanita keluar dari mobil yang terparkir di tepi jalan. Asap keluar dari bagian depan mobil itu akibat berbenturan dengan pohon.


Pupil mata Kevin membelalak sempurna saat mengetahui Siapa wanita tersebut. "Viona," Kevin menambah kecepatan pada laju mobilnya dan menghampiri wanita itu yang dia yakini sebagai Viona. Buru-buru Kevin keluar dari mobilnya dan menangkap tubuh wanitanya yang mulai limbung.


"Viona..." seru Kevin menyebut nama itu.


Mata Viona sedikit terbuka dan senyum lega tampak di sudut bibirnya. "Ge, syukurlah aku masih bisa melihat..." dia jatuh pingsan sebelum menyelesaikan ucapannya. Tanpa berpikir panjang Kevin segara mengangkat tubuh Viona dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Selang beberapa saat, Kevin keluar lagi dari dari mobilnya untuk melihat siapa pelakunya, dia ingin tahu siapa orang yang sudah berani membuat wanitanya dalam bahaya. Dan Kevin sedikit terkejut setelah melihat siapa pelakunya, ternyata dia adalah Denada, Pelayan baru di kediaman Lu.


Kevin akan membuat Denada membayar mahal atas apa yang telah dia lakukan pada Viona. Kematian yang singkat tidak akan sebanding dengan apa yang telah dia perbuat. Kevin akan membuatnya mati secara perlahan sambil merasakan rasa sakit yang luar biasa pada sekujur tubuhnya.


Tanpa sadar Denada telah membangkitkan iblis dalam diri Kevin yang sudah lama pulas. Dan Iblis itu kembali mengamuk karena Denada sudah berani menempatkan wanitanya dalam bahaya.

__ADS_1


xxx


Viona membuka matanya sambil memegangi kepalanya yang serasa ingin pecah. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi namun tidak bisa, mungkin efek obat bius yang belum sepenuhnya hilang dari tubuhnya. Pandangannya lalu menyapu, Viona memperhatikan sekelilingnya dan ternyata dia berada di kamarnya. Itu artinya yang dia lihat tadi bukan mimpi.


Decitan suara pintu dibuka sedikit menyita perhatiannya. Viona menoleh dan mendapati Kevin memasuki kamar di mana dia berada. Senyum terpatri di wajah tampannya saat melihat Viona telah sadar dari pingsannya.


"Ge," seru Viona setibanya Kevin di depannya.


Kevin duduk di samping Viona sambil menatapnya dengan penuh kecemasan. "Aku lega kau baik-baik saja. Apa kau tahu bagaimana paniknya aku saat tiba-tiba kau menghilang dan tidak bisa aku temukan. Aku hampir gila karena berpikir telah kehilanganmu , tapi syukurlah karena Tuhan masih melindungi mu." Ujar Kevin sambil menggenggam tangan Viona.


Wanita itu berhambur ke pelukan Kevin. "Aku tadi sangat, tapi bukan pada kematian. Tetapi aku takut tidak bisa bertemu lagi denganmu, aku benar-benar takut meninggalkanmu sendirian," ujar Viona dengan suara serak seperti menahan tangis. Matanya tampak berkaca-kaca.


Kevin meletakkan dagunya diatas kepala berhelaian coklat milik Viona. Dia menutup matanya dengan perlahan, ketika merasakan kedua netranya mulai memanas. Kevin tidak mengatakan apapun, bahkan ketika Viona mulai menangis, karena Kevin sendiri bingung harus menjawab apa. Dia benar-benar kehabisan kata-kata karena rasa takutnya.


"Ge, lalu bagaimana dengan wanita itu? Dia masih hidup atau sudah mati? Ada kemungkinan mobil itu meledak, karena saat aku berusaha untuk keluar, bagian depannya terus mengeluarkan asap." tutur Viona.


Kevin menghela napas. "Dia sudah mati terpanggang bersama mobil itu. Karena tidak lama setelah kau berhasil keluar mobil itu tiba-tiba meledak, jadi wanita itu ikut terbakar di dalam mobil tersebut." Ujar Kevin.


Kevin memang sengaja tidak memberitahu Viona jika sebenarnya Denada masih hidup. Kevin tidak ingin Viona mengambil alih hukuman untuknya, jika tahu Denada masih hidup, pasti Viona akan melakukan segala cara untuk memberinya sebuah pelajaran yang berharga, Karena Kevin ingin menghukum wanita itu dengan tangannya sendiri.

__ADS_1


"Sayang sekali, padahal aku ingin sekali menggantungnya hidup-hidup di tengah kota dengan keadaan tellanjang. Dengan begitu dia tidak akan berani lagi menghadapi dunia, mentalnya rusak dan berakhir mengenaskan. Tapi sayang sekali dia harus mati dengan cara yang sangat mengenaskan," tutur Viona.


Ternyata rencana Viona jauh lebih brutal dan ekstrem darinya. Tapi ya sudahlah, sudah terlanjur juga dan sekarang Denada sedang merasakan akibat dari perbuatannya. Dan Kevin tidak akan melepaskannya, bahkan sampai dia tinggal tulang belulang saja.


"Ge, aku lapar. Bisakah kau meminta pelayan mengantarkan makanan kemari?" ucap Viona sambil menatap Kevin penuh harap.


Kevin mengangguk. "Tunggu sebentar, Aku akan segera meminta mereka mengantarkan makanan untukmu." ucapnya dan dibalas anggukan oleh Viona.


Efek obat bius yang masuk ke tubuhnya membuat Viona merasakan lapar yang luar biasa. Sebenarnya tidak ada pengaruhnya antara obat bius dan rasa lapar. Tapi anehnya memang itu yang dia rasakan, dan sebelum Viona sadar dari pingsannya, Kevin sudah meminta pelayan menyiapkan makanan untuk istrinya.


Tidak berselang lama, pelayan datang membawakan makanan untuk Viona. Wanita itu segera menyantap makan malamnya dengan tenang, Kevin tetap berada di sampingnya dan mendampinginya. Dia tidak rela meninggalkan Viona sendirian di kamarnya, masih ada rasa trauma yang membelenggu diri Kevin, sampai-sampai dia tidak ingin jauh dari istrinya.


"Ge, kau ingin mencobanya?" tawar Viona namun di balas gelengan oleh Kevin. "Enak loh, ayolah coba sedikit saja." rengek Viona memaksa. Kevin menghela napas, dengan terpaksa dia menerima sendok yang Viona ulurkan padanya. "Enak kan?"


"Terlalu manis," Kevin mengambil tisu yang ada di atas meja lalu mengeluarkan kembali makanan yang ada di mulutnya.


Viona merenggut kesal. "Padahal hanya sedikit manis. Ya sudahlah, aku habiskan sendiri saja." Viona kembali menyantap makannya dengan tenang.


Kevin menatap Viona dan mendengus berat. Pria itu menggelengkan kepala melihat tingkah wanitanya yang terkadang seperti bocah. Kevin menarik sudut bibirnya dan tersenyum, jari-jari besarnya mengusap kepala berhelaian coklat milik Viona dengan lembut. Hatinya menghangat melihat senyum lebar yang terpatri di bibir tipisnya.

__ADS_1


xxx


Bersambung


__ADS_2